
Marina dan Satya menunggu di ruang tamu. Mereka saling diam untuk beberapa saat sebelum Marina membuka percakapan.
"Hari ini aku akan menemui orang tuaku. Kemungkinan mereka akan mengenalkanku pada pria pilihan yang akan dijodohkan padaku. Aku tak bisa berkata-kata lagi." ucap Marina.
"Yah, inilah yang harus kita hadapi. Aku akan tetap berupaya meyakinkan mereka bahwa aku pantas untukmu. Aku hanya belum mengenal mereka saja." kata Satya.
"Kamu sudah mengenal mereka." ujar Marina.
Satya langsung menatap Marina. Bingung apa maksud dari Marina.
"Aku bahkan belum sekalipun berjumpa dengan orang tuamu. Bagaimana bisa aku mengenalnya?" tanya Satya.
Lalu Marina membuka galeri di ponselnya. Dicarinya foto kedua orang tuanya. Lalu ditunjukkan kepada Satya.
"Itu kan Tuan Ilyas dan Nyonya Arin? Mereka orang tuamu?" tanya Satya lagi.
Marina mengangguk. Satya menepuk jidatnya. Ia mulai panik.
"Aku sangat mengenal mereka. Mereka bahkan sudah ku anggap sebagai orang tua angkatku. Jika kamu sudah dipilihkan dengan pria pilihan mereka, aku mana bisa menyanggahnya. Aku bahkan harus ikut menyetujui rencana mereka. Sungguh sulit." kata Satya.
"Aku harus bagaimana?" tanya Marina.
Pintu diketuk.
"Sebentar yah, aku buka pintu dulu!" kata Marina.
Marina bergegas membukakan pintu. Ternyata yang datang adalah Pak Ilyas dan Bu Arin, orang tua Marina.
"Mama dan Papa.... Mari kangen kalian.....!!!" seru Marina.
"Kamu masih manja begini. Padahal sudah Papa kasih Cafe Monix." ujar Pak Ilyas.
"Papa dan Mama jahat sih. Sudah beberapa hari di kota ini, kenapa tak menemui Mari. Mari kangen tau..." keluh Marina.
"Maaf Sayang. Kami jalan-jalan dulu. Kamu tqu kan kalo kami suka jalan-jalan?" ujar Bu Arin.
Lalu Marina mengajak orang tuanya masuk. Menemui Satya yang sudah menunggu.
"Pa, Ma, perkenalkan, ini pacarnya Mari. Namanya Satya!" kata Marina.
"Satya Prawira? Itu kamu, Nak?" tanya Bu Arin.
"Iya Nyonya. Saya Satya Prawira." jawab Satya dengan senyumannya.
Bu Arin langsung memeluk Satya. Satya membalas pelukan itu.
__ADS_1
"Apa kabar Nyonya?" tanya Satya pelan.
Bu Arin melepas pelukannya. Ia menatap Satya dengan senyuman khasnya.
"Aku senang bisa melihatmu lagi. Sudah sekian lama kita tak bertemu. Kamu makin tampan yah!" ujar Bu Arin.
"Ma, gantian Papa dong yang peluk Satya!" seru Pak Ilyas.
Gantian Satya yang memeluk pria paruh baya itu. Pak Ilyas menepuk-nepuk bahu Satya.
"Kami kangen denganmu. Kamu tumbuh menjadi pria dewasa." ujar Pak Ilyas.
"Tuan Ilyas terlalu memuji saya. Saya hanya pria biasa yang belum bisa apa-apa." kata Satya merendah.
"Sampai kapan kalian bermanja-manja dengan pacarku?" tanya Marina merajuk.
"Maaf, kami hanya kangen dengan Satya." jawab Bu Arin.
Mereka berempat duduk di sofa. Bu Arin duduk bersebelahan dengan Pak Ilyas. Sedangkan Satya duduk bersebelahan dengan Marina. Mereka saling berhadapan.
"Sejak kapan kalian menjalin hubungan?" tanya Pak Ilyas mode serius.
"Biar aku yang jawab! Kami menjalin hubungan belum lama ini. Sudah kenal lama padahal. Papa dan Mama kalo mau jodohin Mari dengan pria lain selain Satya, mending dipikir ulang. Anak kalian yang manja ini, hanya cinta sama Satya." jawab Marina sembari menundukkan kepalanya.
"Padahal kami ingin mengenalkanmu dengan seseorang. Ternyata kamu selangkah lebih maju." ujar Pak Ilyas.
"Maafkan saya Tuan, saya seperti menghianati kepercayaan Tuan. Seharusnya saya tak melewati batas. Tapi apa daya, cinta kami sulit dibendung dan dihentikan." ucap Satya serius.
Bu Arin menggelengkan kepalanya. Ekspresi wajahnya antara sedih dan bahagia.
"Kalian memang ditakdirkan berjodoh. Kamulah yang ingin kami jodohkan dengan putri semata wayang kami, Marina. Ternyata kamu lebih dulu memacari putriku. Mau bagaimana lagi. Kami merestui kalian!" kata Pak Ilyas sembari tersenyum.
"Terima kasih Tuan. Sebelum mengenal putri Tuan yang sebenarnya, saya tadinya memang penasaran bagaimana rupa putri Tuan. Mengingat tak pernah ada foto Marina selama saya bekerja pada Tuan dan Nyonya." ujar Satya.
"Nak, kami sengaja tak menunjukkannya padamu. Kami ingin jika suatu saat kalian bertemu, pertemuan kalian memang alami. Bukan tau dari foto." kata Bu Arin.
"Mama dan Papa tinggal bersama setelah sekian lama. Kenapa nggak cerita sama sekali? Trus selalu mencari alasan jika aku hanya boleh pulang jika kalian sudah menentukan jadwal. Apa jadwal yang kalian maksudkan adalah jadwal kalian menyembunyikan Satya?" tanya Marina.
"Benar, Mari. Kami memang seperti itu. Berdasarkan pengalaman sebelum kami mempekerjakan Satya, memang ada anak muda yang melihat fotomu saat ia bekerja di tempat Papa. Lalu apa yang dia lakukan? Ia terus-terusan menciumi fotomu yang ia potret di ponselnya. Kan kami tak terima. Ibarat seperti pelecehan." kata PaK Ilyas.
"Jadi benar kalian akan merestui hubungan Mari dengan Satya? Jika demikian, kami tak mau menunggu lama lagi. Izinkan kami menikah! Kami akan menikah secara sederhana saja." ujar Satya.
"Baiklah. Kalian atur saja tanggalnya. Kami akan bantu persiapan pernikahan kalian." ujar Pak Ilyas.
"Makasih Tuan. Tapi apa memang semudah ini mendapatkan restu kalian?" tanya Satya.
__ADS_1
"Kamu nggak mau direstui?" tanya Marina.
"Bukan begitu Sayang..." bisik Satya.
"Kami sudah mengenalmu, Nak. Bahkan tadinya aku berniat mengadopsimu. Tapi untunglah tak jadi. Jika sudah sah diadopsi kan hubungan percintaan kalian akan terputus begitu saja. Akan rumit pastinya." kata Bu Arin.
"Iya juga Mah. Untunglah itu tak terjadi." kata Pak Ilyas.
"Lalu Marina, pada saat melihat foto waktu itu, kenapa tak bilang padaku bahwa mereka orang tuamu?" tanya Satya.
"Ah, itu karena aku ingin tau bagaimana reaksimu sekarang ini. Pasti kaget. Ternyata iya. Kamu gugup gitu kan." ujar Marina.
"Yang pasti kaget. Bagaimana bisa dunia sesempit ini. Kalau tau akhirnya hubungan kita seperti ini, mungkin sudah sejak dulu aku meminta bertemu denganmu." kata Satya.
Keluarlah Sakti dan Fanya. Bergandengan. Bu Arin dan Pak Ilyas bingung melihat mereka.
"Ah, ini pasti orang tua Marina. Perkenalkan, saya Fanya, teman Marina. Dan ini suami saya." kata Fanya memperkenalkan diri.
"Oh iya. Silakan duduk! Kami senang karena ternyata Marina punya teman." kata Pak Ilyas.
"Pa..." rengek Marina.
"Kalian sudah lama menikah?" tanya Bu Arin.
"Belum genap setahun, baru beberapa bulan saja." jawab Sakti.
"Pantas saja. Seperti masih pacaran." ujar Bu Arin.
"Ma, mereka pasangan yang serasi kan?" tanya Marina.
"Iya. Pria tampan jika bersanding dengan wanita cantik, serasi. Seperti kamu dan Satya." jawab Bu Arin.
"Wah, akhirnya Satya dapat restu!" seru Fanya.
"Iya dong. Satya kan pria pilihan Papa dan Mamaku...." kata Marina bangga.
"Selamat ya Sat!" kata Sakti.
"Terima kasih Tuan." kata Satya.
"Kamu udah masak apa, Mari? Kebetulan kami belum makan. Ada makanan yang bisa dimakan?" tanya Pak Ilyas.
"Uhm, belum ada Pa. Aku pesan aja yah!" jawab Marina.
Seketika Pak Ilyas menepuk jidatnya.
__ADS_1