
Fanya dan Clara tampak bahagia dengan menenteng tas baru mereka. Mereka berjalan bergandengan tangan. Sakti dan Satya berjalan di belakang mereka bagaikan bodyguard yang sedang bertugas.
"Tuan Sakti pintar membahagiakan mereka." celetuk Satya.
"Sat, kan Fanya istriku. Sebisa mungkin aku harus membuatnya selalu bahagia." ujar Sakti.
"Iya Tuan."
"Mas, aku mau mampir ke toko cokelat dulu yah! Soalnya Clara-ku ini lagi galau, jadi butuh yang manis-manis. Boleh ya Mas?" pinta Fanya.
"Boleh Sayang." kata Sakti.
Fanya dan Clara masuk ke dalam toko yang full musik. Keduanya mengelilingi seisi toko untuk mencari cokelat yang akan dibeli. Sementara itu, Sakti dan Satya tak ikut masuk ke dalam toko cokelat. Mereka menunggu di depan toko saja.
Clara yang notabene penyuka cokelat baik dari segi rasa, bau, dan bentuknya, benar-benar bahagia meski hanya melihatnya saja. Ia dibantu Fanya memilih aneka varian cokelat yang dirasa enak dan manis. Tapi mendadak Clara terdiam dan mematung di tempatnya.
"Ada apa?" tanya Fanya.
Masih dalam posisi yang sama. Bedanya, kali ini Clara mengarahkan telunjuknya ke depan. Ia menunjuk sepasang pria dan wanita yang tengah sibuk memilih cokelat.
"Coba lihat, apakah pria dan wanita di depan sana adalah Mas Robi dan Dila, mantan pacarnya?" tanya Clara dengan wajah sedihnya.
Fanya menatap ke arah yang ditunjuk oleh Clara. Dan memang benar yang dimaksud Clara adalah Mas Robi beserta wanita yang Fanya sendiri tak mengenalnya.
"Iya itu Mas Robi, suamimu. Oh jadi itu wanita yang bernama Dila. Yang katanya Mas Robi pernah dijodohin sama wanita itu kan?"
"Fanya.... Aku harus gimana? Di depan mata kepalaku, aku memergoki suamiku tengah jalan bareng alias kencan dengan mantan pacarnya. Aku harus gimana? Labrak jangan?" keluh Clara mulai menitikkan air mata.
"Katamu mereka lagi ngomongin pekerjaan? Mungkin meeting-nya di sekitaran sini. Jadi sekalian belanja di sini. Mas Sakti aja ketemu kliennya di sini kok. Jadi belum tentu mereka berselingkuh kan?"
"Selingkuh. Mereka pasti diam-diam berselingkuh!" gumam Clara.
"Clara, belum tentu apa yang kamu pikirkan benar. Siapa tau memang murni masalah pekerjaan." kata Fanya.
Clara berjalan ke arah suaminya berada. Tapi Fanya berkali-kali menahan Clara agar tak sembarangan menuduh Robi.
"Jangan dulu. Biarkan mereka seperti itu. Tak ada gestur mereka melakukan adegan romantis seperti pasangan kekasih. Mereka tampak seperti rekan kerja biasa." ujar Fanya.
"Bagiku mereka seperti sedang berselingkuh!" ujar Clara.
__ADS_1
"Jangan berisik! Nanti mereka mendengarnya. Atau kita bisa menyelidikinya dengan mengikuti mereka diam-diam? Bagaimana?"
"Aku sedang kesal dan marah. Aku ingin menghentikan mereka sekarang juga." ujar Clara.
"Pake cara cantik dong. Kalo kamu benar, ya Mas Robi pantas dipermalukan di depan umum. Nah kalo kamu salah, asal main tuduh aja, kamu loh yang bakal malu." nasihat Fanya.
"Tapi kan..."
"Ikuti saja mereka dulu. Nanti eksekuai jika ada bukti konkret yang pasti." kata Fanya.
Akhirnya Fanya dan Clara mengendap-endap mengamati gerak-gerik Robi dan Dila dari dekat. Mereka melupakan tujuan awal mereka untuk membeli cokelat.
"Eh kalian mau kemana?" tanya Sakti bingung.
"Mas diem aja yah. Aku sama Clara mau ngikutin suaminya Clara. Dia lagi jalan sama mantan pacarnya." jawab Fanya pelan.
Sakti langsung mengangguk dan membiarkan Fanya dan Clara mengikuti Robi.
"Ayo Ra. Target sudah semakin jauh!" kata Fanya serius.
Fanya dan Clara bergegas mengikuti Robi dan Dila yang lebih dulu meninggalkan toko cokelat.
"Apa maksudmu. Mereka sudah pantas disebut detektif. Ayo kita ikuti mereka!" ajak Sakti.
Sakti dan Satya terpaksa mengikuti Fanya dan Clara yang mengejar Robi. Sampai akhirnya Robi berhenti di sebuah restoran cepat saji.
"Kan, mereka bahagia banget kelihatannya. Mas Robi ketawanya bisa lepas begitu. Trus tadi bawain semua barang-barang Dila itu. Tuh, ngapain duduknya dempetan gitu. Padahal bisa loh saling berhadapan. Ini yang gatel Mas Robi apa si Dila sih?" tanya Clara.
"Mungkin dua-duanya." sahut Fanya spontan.
"Apa?" seru Clara.
"Ups keceplosan. Nggaklah! Belum kelihatan ke arah selingkuh. Masih aman. Ayo fokus liat lagi!" ujar Fanya.
Fanya dan Clara ikut memesan makanan di restoran dimana Robi berada. Hanya saja duduk agak jauh dari Robi. Namun masih bisa terlihat jelas untuk pengamatan.
"Apa kami boleh duduk di sini?" tanya Sakti yang tiba-tiba muncul.
"Kenapa Mas ikut ke sini sih?" kata Fanya balik tanya.
__ADS_1
"Ya daripada di luar nunggunya." ujar Sakti.
"Kan bisa duduk di kursi lain. Nggak nimbrung bareng aku dan Clara juga kan?" seru Fanya kesal.
"Tapi tunggu dulu deh, Tuan dan Nona coba lihat ke arah suaminya Mba Clara!" kata Satya.
Baik Sakti, Fanya ataupun Clara langsung melihat ke arah Robi berada. Mereka kaget karena Robi juga menatap heran ke arah mereka. Lalu Robi dengan santainya berjalan ke arah mereka. Meninggalkan Dila yang sedang bertelepon.
"Ra, kamu di sini juga?" tanya Robi.
"Iya. Kenapa?"
"Kok ketus jawabnya. Kalo tau kamu mau ke sini, kan tadi sekalian aja ikut aku kan? Tadi aku ajak nggak mau, malah ngambek trus kabur gitu aja." penjelasan Robi.
"Gimana bisa aku ikut nimbrung sama mantan pacarmu? Nanti kamu keganggu selingkuhnya!" kata Clara geram.
"Siapa yang selingkuh? Aku sama Robi hanya bahas masalah pekerjaan kok. Kami nggak ada pembahasan masalah pribadi." kata Dila.
"Diam kamu!" seru Clara.
"Tapi memang benar. Aku dan Dila nggak ada apapun. Kami dikus membahas masalah pekerjaan." kata Robi.
"Halah, mana ada orang yang berselingkuh trus ngaku? Yang ada tuh beralibi sampai nggak ada alasan lagi buat bohong!" ujar Clara.
"Kamu hanya salah paham!" ujar Robi.
"Mas Robi tuh tega sama Clara! Kalo udah nggak mau sama Clara yaudah tinggalin dengan cara berkelas. Bukan dengan cara rendahan dan murahan begini. Sumpah, aku jijik sama Mas!" aeru Clara.
Setelah mengatakan itu, Clara langsung pergi meninggalkan restoran itu. Robi pun mengejarnya.
"Maaf, ini semua gara-gara aku. Tapi, aku dan Robi memang nggak ada apa-apa. Aku pun sudah punya pasangan yang ku cintai." kata Dila menjelaskan.
"Oke kami percaya. Tapi mungkin perlu waktu untuk berdamai dengan keadaan. Clara adalah anak broken home. Dia itu sensitif." kata Fanya.
Sakti menepuk punggung Fanya. Sebagai apresiasi bahwa apa yang Fanya katakan itu benar.
"Mas, apa perlu aku susulin Robi dan Clara?" tanya Fanya.
"Tidak perlu. Itu urusan mereka berdua. Pokoknya kamu kan sudah tau jika itu salah paham. Lebih baik kamu pesan makan yang banyak supaya kenyang." kata Sakti.
__ADS_1
Fanya menarik nafas kasar.