
Beberapa hari terakhir, Marina tidak pernah absen untuk menemani kekasihnya bekerja. Ia rela meninggalkan cafe Monix hanya untuk bersantai menemani Satya.
Termasuk hari ini. Sejak pagi sudah standby bersama Satya. Bahkan meminta Satya menjemputnya dulu sebelum menuju ke tempat kerja.
"Kamu pernah bosan nggak sih kerja begini? Mikir terus nggak ada habisnya." tanya Marina.
"Tidak. Pekerjaan ini sudah seperti diriku sendiri. Tak ada kata bosan apalagi lelah. Untungnya, aku makin semangat setelah bertemu denganmu." jawab Satya.
Marina mendekati Satya, mengalungkan tangannya di leher Satya. Sepersekian menit mereka bertatapan. Marina dibuat kagum oleh ketampanan kekasihnya.
"Ah, kamu memang tampan..." ujar Marina pelan, tapi Satya masih cukup jelas mendengarnya.
"Kamu juga cantik!" seru Satya yang langsung merangkul pinggang kecil Marina.
"Apaan sih!" cegah Marina sambil menepuk dada Satya.
"Apa aku bercanda? Aku serius saat mengatakan bahwa kamu memang cantik. Sudah berkali-kali aku menatapmu seperti ini. Tapi tak ada rasa bosan. Aku semakin terpesona walau hanya melihatmu begini." kata Satya.
"Bagaimana kalo kita menikah saja? Apa kamu setuju?" tanya Marina.
"Aku setuju. Kapanpun kamu mau. Karena aku hidup sendiri tanpa keluarga, aku tak perlu izin lagi dari siapapun. Terlebih aku laki-laki, sang pengambil keputusan. Beda denganmu. Kamu masih butuh restu dari orang tuamu. Sebisa mungkin aku akan membujuk mereka agar mereka bersedia merestuiku sepenuhnya."
"Ah iya juga. Orang tuaku entah kapan bisa kembali ke sini. Tapi kamu harus siap sedia melamarku saat mereka kembali ke sini yah!"
"Iya Sayang."
"Aku lelah dan ngantuk. Pingin istirahat." ujar Marina.
Yasudah, kamu duduk di sofa lagi ya. Kalo ngantuk, tidur aja. Aku mau selesain pekerjaan ini dulu. Ehm, tapi aku butuh senyuman dan kecupan manis darimu juga. Boleh aku minta?"
Tanpa basa-basi, Marina bergegas mengecup pipi kanan dan pipi kiri Satya. Meski harus melakukannya dengan jinjit kaki karena Satya terlampau tinggi.
"Sudah?" tanya Marina seraya mengulas senyuman manis terbaiknya.
"Belum."
Satya pun memeluk Marina. Erat sekali. Sesekali menciumi leher Marina yang dibiarkan terlihat polos tanpa kerah.
"Sudah. Duduklah di sofa. Kamu bisa menatapku dari sana kan?" tanya Satya.
__ADS_1
"Tentu saja. Kembalilah bekerja. Uhm, tapi sepertinya aku akan rebahan di sofa itu. Aku sudah sangat mengantuk. Semalaman nonton drakor sampai menjelang pagi. Gapapa ya?"
"Iya, boleh. Istirahatlah sesukamu. Nanti aku akan membangunkanmu saat makan siang." ujar Satya.
Marina menuju sofa empuk di sudut ruangan. Ia segera merebahkan badannya senyaman mungkin.
"Tolong bangunkan aku jika pekerjaanmu sudah selesai. Aku nggak mau kamu menungguku terlalu lama. Sebab jika aku sudah pulas tidur, aku seperti orang mati. Susah dibangunkan." kata Marina.
"Baiklah." ucap Satya.
Marina tersenyum menatap Satya.
"Tidurlah. Semoga mimpi indah."
Marina memejamkan matanya. Tak menunggu waktu lama, dirinya benar-benar hanyut terbawa arus mimpi.
"Cepat sekali dia tertidur." kata Satya saat melihat Marina sudah terlelap tidur.
Satya meneruskan kembali pekerjaannya yang menumpuk. Tiba-tiba pintu diketuk dan masuklah Sakti.
"Bagaimana? Ada kendala?" tanya Sakti.
"Sejak kapan dia di sini?" tanya Sakti penasaran.
"Sejak tadi pagi, Tuan. Dia sering ikut saya bekerja. Maaf jika kehadirannya mengganggu. Tapi saya pastikan dia hanya di ruangan ini saja." jawab Satya.
Satya gugup dengan pertanyaan yang dilontarkan Sakti. Ia tak ingin membuat Bossnya kecewa.
"Jangan khawatir. Aku tak mempermasalahkan kehadirannya selama pekerjaanmu beres. Yasudah, lanjutkan bekerja. Aku mau jemput istriku makan siang."
"Baik Tuan."
"Satu lagi. Kamu juga boleh pulang cepat jika pekerjaanku selesai lebih cepat. Semangat!" kata Sakti dan kemudian berlalu meninggalkan ruangan kerja Satya.
"Terima kasih, Tuan!" kata Satya.
'Hampir saja. Beruntung Tuan Sakti tak mempermasalahkan kehadiran Marina. Biasanya kan dia paling anti sama Marinaku ini. Mungkin karena Marina sudah tak mengejarnya lagi dan dia juga sudah beristri, jadi tak ada masalah. Semangat Satya! Ayo selesaikan pekerjaanmu. Kamu bisa pulang lebih cepat!' batin Satya.
***
__ADS_1
"Sayang, kamu kok ke sini lagi?" tanya Fanya begitu melihat suaminya sudah standby di ruang tunggu butik.
"Iya. Aku ingin mengajakmu makan siang." jawab Sakti dengan senyuman manisnya.
"Eh, tapi aku sudah janji mau makan siang bareng Kak Henny dan Gina." kata Fanya yang menatap tak enak pada Henny dan Gina.
"Kami bisa makan berdua. Makanlah dengan suamimu. Ya kan, Gin?" ujar Henny seraya mengedipkan mata pada Gina.
Gina langsung tanggap dengan kode yang diberikan Henny.
"Iya. Kalian makan sianglah bersama. Aku dan Kak Henny bisa makan berdua. Kalian kan pengantin baru. Sebisa mungkin menyempatkan diri berduaan. Yasudah, kami permisi dulu ya. Selamat bersenang-senang!" seru Gina seraya menarik tangan Henny.
Gina dan Henny bergegas keluar butik. Meninggalkan Fanya dan Sakti di ruang tunggu.
"Aku nggak enak sama mereka. Kamu sih nggak bilang dulu kalo mau kesini." gerutu Fanya.
"Kamu kesal aku datangi secara tiba-tiba ya?" tanya Sakti.
"Tidak. Bukan begitu. Aku senanglah didatangi oleh suami. Mana ada suami yang tampan begini? Hanya suaminya Fanya seorang. Eh!"
Fanya menyadari kedatangan Bu Syakira alias mama mertuanya. Ia beringsut malu dan memutuskan untuk diam saja.
"Loh, kamu ke sini? Sekalian ajak istrimu makan siang!" perintah Bu Syakira.
"Iya Mama. Sakti kan sengaja ke sini emang mau jemput istri Sakti buat makan siang. Mama juga boleh ikut kok! Biar Mama nggak kesepian."
"Ah, nggak usah. Mama belum laper. Nanti aja pesen online kalo laper. Makanlah kalian berdua. Inget yah, jangan lama-lama nyulik menantu Mama. Mama mau rapat sama Fanya dan tim setelah ini."
"Baik Mama. Beri anakmu waktu untuk membahagiakan menantumu yang cantik jelita ini." ujar Sakti.
"Ih Mas Sakti lebay. Kami permisi dulu ya, Ma." ujar Fanya.
"Iya. Cepat pergi cepat kembali!" seru Bu Syakira menggoda anak dan menantunya.
'Kalo mereka seperti itu, jadi inget mendiang Papa Sakti. Ah sudahlah. Aku tak boleh terlalu bersedih hati. Papa Sakti sudah bahagia di alam sana.' batin Bu Syakira.
"Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang resepsionis saat melihat Bu Syakira hampir menitikkan air mata.
"Tidak. Lanjutkan bekerja. Eh, silakan istirahat makan siang. Nanti baru dilanjut kerja lagi."
__ADS_1
Bu Syakira segera bergegas ke ruangan kerjanya. Ia tak ingin lebih banyak orang yang melihat kesedihan hatinya saat teringat mendiang Papa Sakti.