
Satya baru saja mendapat perintah penting dari bossnya. Siapa lagi kalo bukan dari Sakti.
"Hah, baru saja mau menikmati weekend bersama pacar. Eh ada aja perintah dadakan. Mau nggak mau ya harus jalan. Otomatis ngebatalin janji sama Marina. Haduh, serba salah. Tapi yaudahlah, Marina pasti ngerti kalo pacarnya ini sedang ada tugas negara. Iya." kata Satya pada dirinya sendiri.
Satya pun segera menghubungi Marina terkait pembatalan janji kencannya. Awalnya Marina tak terima janji mereka tiba-tiba batal. Tapi karena itu menyangkut Fanya, ia pun mengiyakan. Bahkan, Marina berniat ikut membantu Sakti untuk meluluhkan hati Fanya. Dengan demikian, bisa meringankan beban kerja Satya.
Langkah pertama yang Satya lakukan adalah dengan mendeteksi nomer asing yang mengirim pesan pada Fanya. Tentu sangat mudah dilakukan. Terlebih Satya punya koneksi dengan orang ahli bagian IT yang pasti mudah mendapat informasi terkait hal itu.
Tak butuh waktu lama, Satya berhasil mengantongi nama pelaku yang membuat Fanya salah paham. Satya pun berniat segera melaporkan identitas pelaku kepada Sakti. Tapi sebelum itu, upaya Satya dicegah oleh Marina yang tiba-tiba datang. Marina adalah orang pertama yang mendapat informasi dari Satya.
"Sebentar yah, aku mau menghubungi Tuan Sakti." kata Satya.
"Jangan Sayang. Kita harus memastikan dulu apa motif dan tujuan pelaku. Jangan gegabah!" ujar Marina meyakinkan.
"Baiklah." Satya akhirnya menuruti perkataan Marina.
Lantas mereka bergegas menemui pelaku. Butuh waktu satu jam untuk sampai ke kediaman pelaku.
"Apa mau kalian?" tanya wanita bernama Sonia begitu mereka bertemu.
"Nona, sebelumnya perkenalkan, namaku Marina dan ini pacarku Satya." kata Marina memperkenalkan diri.
"Oke. Aku Sonia Tunggadewi. Panggil aja Sonia. Uhm, aku sudah kenal dengan pacarmu. Satya si bodyguard tampan. Bukankah begitu? Apa mau kalian jauh-jauh ke sini? Aku tak punya waktu banyak untuk meladeni kalian." ujar Sonia.
Marina mengepalkan tangannya saat Satya disebut bodyguard tampan oleh Sonia.
__ADS_1
"Nona, maksud dan tujuan kami datang ke sini hanya untuk memastikan satu hal. Apa motif dan tujuan Nona Sonia mengirimkan pesan gambar kepada Fanya? Sekedar informasi, Fanya adalah pacar dari Sakti. Bagaimana tanggapan Anda?" tanya Marina.
"Cih! Bukannya wanita sialan itu yang bergegas mencari tau. Kenapa harus melibatkan suruhannya ke sini? Dasar tidak tau diri. Hah, aku akan menjelaskan. Wanita itu sangat tidak layak mendapatkan cinta dan kasih sayang dari seorang Sakti Dirgantara. Bagaimana bisa itu terjadi saat aku sedikit saja lengah? Kalian tau, Sakti adalah motifku berbuat seperti ini. Tujuanku adalah memisahkan hubungan mereka. Karena hanya akulah yang pantas bersanding dengan Sakti, bukan wanita murahan itu." jawab Sonia menggebu.
"Aku rasa Nona Fanya lebih baik daripada Anda yang hanya tau berbuat jahat. Nona Fanya adalah wanita baik, cerdas, lembut, dan yang pasti sangat sesuai dengan standar Tuan Sakti. Bahkan menurutku, Anda tak ada apa-apanya dibanding Nona Fanya. Untung saja aku sudah lebih dulu tergoda dengan pacarku ini, kalau tidak, mungkin aku sudah terpesona dengan kecantikan Nona Fanya." jelas Satya.
Lagi-lagi, Marina bertambah geram dengan penjelasan Satya. Namun ditahannya sesaat. Tak mungkin dirinya malah beradu pendapat dengan Satya di depan lawan, yang tak lain adalah Sonia.
"Wow, pendapat yang begitu jujur di depan pacarnya sendiri. Aku hargai itu. Lalu, kalian mau apa setelah tau bahwa akulah pelaku utama yang kalian cari?" tanya Sonia.
"Terima kasih atas kejujuran Anda. Kami hanya perlu bukti pernyataan kejujuran dari Anda. Kami sudah merekamnya dan akan kami serahkan pada Tuan Sakti. Kami tak berniat melakukan apapun pada Anda. Biar saja dari Tuan Sakti yang memutuskan tindakan apa yang pantas untuk Anda. Permisi!" kata Satya yang bergegas mengajak Marina pergi.
"Hei, kalian!" seru Sonia kesal melihat dirinya ditinggalkan.
Marina memang mengikuti langkah kaki Satya menuju mobil. Tapi mimik mukanya menahan amarah yang tak sedikit.
Tak ada respon apapun dari Marina. Mukanya ditekuk, kesal, dan diam seribu bahasa. Satya yang menyadari kelakuan aneh Marina pun, tidak jadi mengemudikan mobil. Memilih menenangkan hati pacarnya dulu.
"Ada apa Sayang? Masih belum puas berdebat dengan Sonia itu?" tanya Satya.
'Dasar pria tidak peka!' gerutu Marina dalam hati.
"Kok mukanya manyun gitu sih? Apa perlu aku kasih asupan vitamin cium dulu?" goda Satya mencoba mencairkan suasana.
Bukannya mencair, suasana hati Marina semakin panas dan bertambah kesal.
__ADS_1
"Kamu tidak peka! Aku sedang kesal padamu!" seru Marina.
Satya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung menebak apa kesalahannya. Ia merasa tak melakukan kesalahan apapun.
"Salahku dimana?" tanya Satya bingung.
"Masih nanya? Kamu bukannya tadi muji pesona Fanya? Sudah cukup si Sakti aja yang bucin abis sama Fanya. Kenapa kamu ikutan terpesona juga dengan Fanya? Meski dia sahabatku dan kamu pacarku, nggak ada alasan untukku tidak kesal. Aku ngerasa nggak ada guna sama sekali sebagai pacarmu. Kayaknya kamu asal-asalan alias iseng aja memilihku jadi pacarmu. Karena target sebenarnya gagal kamu dapatkan. Aku hanya cadangan semata. Cadangan yang sewaktu-waktu bisa dibuang." jawab Marina dengan berurai air mata.
Satya ikut sedih mendengar curhatan Marina yang tulus dari hati.
"Tenanglah. Aku bilang demikian hanya untuk memanasi Sonia supaya tau diri dimana posisinya. Arti dirimu bagiku apa? Tentu saja kamu adalah belahan jiwaku. Aku bahkan selalu memikirkanmu sejak kita bertemu waktu itu. Pada pandangan pertama, dirimu berhasil merebut hatiku. Kamu tau kan betapa kerasnya aku? Betapa kakunya aku sebagai seorang manusia. Aku bekerja keras tanpa tau apa arti cinta. Dan, kamulah pemecah es batu hatiku. Bagaimana mungkin kamu tak ada artinya bagiku? Susah dijelaskan dengan kata-kata. Tapi ketahuilah, aku selalu mencintaimu." penjelasan Satya penuh makna.
"Masa?" tanya Marina memastikan dengan sesenggukan akibat tangisnya.
Satya hanya mengangguk, lalu memeluk tubuh Marina. Mereka berpelukan erat. Mencoba menyelami isi hati masing-masing. Betapa saling membutuhkan di antara mereka berdua.
"Jadi, kamu sama sekali tak tertarik dengan Fanya?" tanya Marina, lagi-lagi memastikan.
"Tidak sama sekali. Bagiku Nona Fanya adalah pacar Tuan Sakti yang harus aku hormati sebagaimana aku menghormati Tuan Sakti. Nggak ada alasan lain. Kamu lebih cantik dan mempesona daripada Nona Fanya. Di mataku seperti itu. Sudahlah, jangan menangis lagi. Tidak pantas wajah cantikmu menjadi sendu karena tangisan cemburu buta." ujar Satya.
"Aku tidak cemburu!" sanggah Marina mengusap derai air matanya.
"Tapi kan kamu nangis karena kesal aku memuji wanita lain. Itu namanya cemburu." ucap Satya sambil mengelus pucuk rambut Marina.
"Sekali lagi kamu memuji wanita lain, jangan harap senjata pamungkasmu selamat! Akan aku potong-potong dan aku tumis bareng cabe!" amcam Marina.
__ADS_1
...'Ikh ngeri amat! Sebiji-bijinya itu. Masa iya mau dipotong?' batin Satya bergidik ngeri....