
Fanya masih berdiri di depan cermin. Mengamati segala keanehan dirinya di cermin. Ia tak menyangka bahwa dirinya serasa beda jika memakai lingerie merah yang dibeli oleh Sakti.
"Ini aku? Kenapa bisa begini sih? Perasaan ada yang berubah. Tapi apa?" tanya Fanya pada dirinya sendiri.
Sementara itu, Sakti pun turut mengamati Fanya dari tepi ranjangnya. Ia menahan tawanya.
"Aku lihat loh! Mas nahan tawa yah? Apa selucu itu? Aku ganti deh ya. Ini bukan malam pertama, tapi aku masih grogi kalo pake ginian." ujar Fanya.
"Tidak Sayang. Aku justru senang melihatmu memakai pakaian pemberianku. Lagipula meski kamu malu memakainya, toh cuma aku saja yang melihatnya. Menyenangkan pasangan kan termasuk ibadah kan? Maka dari itu, aku berterima kasih padamu. Coba ke sini!"
Fanya pun mendekati Sakti yang masih memakai handuknya.
"Mas kenapa nggak ganti baju?" tanya Fanya.
"Sudah jelas kan? Nanti juga akan ada mandi lagi. Jadi percuma kalo pake baju sekarang." jawab Sakti.
"Oh begitu. Apa???" Fanya menatap Sakti.
"Kenapa?"
"Maksud Mas Sakti, apa kita harus melakukan 'itu' sekarang? Bahkan ini belum sore. Harus sekarang?" tanya Fanya.
Sakti mendekap Fanya yang masih berdiri di depannya.
"Kapanpun aku minta, pastikan kamu siap!" kata Sakti.
Fanya mengangguk dan duduk di salah satu paha Sakti.
"Apa benar di dada bidang ini, tersimpan jantung yang selalu berdetak lebih kencang jika berada di dekatku?" tanya Fanya dan diangguki oleh Sakti.
"Apa benar di dalam tubuh yang kekar ini, tersimpan hati yang senantiasa terukir namaku, wajahku, tubuhku, dan apapun tentangku?" tanya Fanya dan diangguki oleh Sakti.
__ADS_1
Lalu Fanya mencium pipi Sakti.
"Apa benar aku satu-satunya wanita yang akan menjadi pendamping hidupmu sampai maut memisahkan kita?" tanya Fanya lagi.
"Benar Sayangku. Aku sudah berjanji saat mengikrarkan sumpahku di depan orang tuamu dan disaksikan keluarga kita. Aku pun hanya ingin membahagiakanmu." jawab Sakti.
Mata mereka bertemu. Seakan mengisyaratkan sesuatu, hingga akhirnya bibir mereka bertemu. Bersatu dalam ciuman manis.
'Bahkan rasanya masih sama. Masih semanis dulu. Cita rasa yang akan selalu membuatku ketagihan untuk terus mengecupnya.' batin Sakti.
Fanya menyudahi ciumannya.
"Apa aku membuat kesalahan?" tanya Sakti yang masih ingin menikmati ciumannya.
"Uhm, tidak. Aku hanya takut menginginkan lebih. Abisnya semakin lama ciuman Mas Sakti semakin membuat tubuhku memanas." jawab Fanya sambil tertunduk malu.
Sakti meraih tengkuk Fanya. Lalu kembali mengecup bibir yang membuatnya semakin ketagihan.
Fanya berusaha mengimbangi ciuman Sakti. Kini, ia lebih aktif dan agresif. Bahkan tangan kirinya ikut bergerak memainkan junior Sakti yang sudah menegang.
Sebagai balasan atas perlakuan manis Fanya, Sakti pun mengelus gunung kembar yang ada di depannya. Karena menurut Sakti, keduanya sudah sangat menggodanya sejak ia mencium Fanya.
Keduanya, baik Sakti dan Fanya sudah terbawa suasana. Secara alami, mereka saling melakukan hal yang membuat pasangannya semakin bergairah. Terlebih suasana di luar sana sedang hujan. Cuaca saja ikut mendukung aktivitas panas mereka.
Sejam kemudian, keduanya sudah kelelahan dengan permainan mereka. Kaduanya bahkan belum beranjak dari ranjangnya. Masih merebahkan diri dalam keadaan polos. Terlebih Fanya yang sangat kelelahan dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Terima kasih. Tapi pasti sangat melelahkan bagimu. Nanti aku akan memberimu pijatan agar tubuhmu rileks kembali." ujar Sakti.
"Tidak perlu, Mas. Mas juga pasti kelelahan. Tapi kita harus segera membersihkan diri. Selanjutnya kita bisa tidur lagi." ucap Fanya.
"Baiklah. Aku akan menggendongmu. Kita mandi lagi sesuai rencana yang tadi aku sampaikan padamu." kata Sakti.
__ADS_1
"Ah iya. Rencana Mas Sakti selalu berhasil. Tapi seberapa lelahnya ini, aku menyukainya Mas. Aku tak akan kapok melakukannya denganmu. Terima kasih juga sudah memuaskanku hari ini. Semoga benih yang kamu tanam, tumbuh subur yah. Tidak berakhir sia-sia dan menghilang." kata Fanya.
"Iya. Kita kan sudah berusaha dan berdoa yang terbaik. Jika rezeki, pasti akan kembali jadi milik kita. Jika belum rezeki, artinya ada kesempatan untuk mencobanya lagi. Tak ada yang sia-sia. Bersiaplah, aku akan menggendongmu menuju kamar mandi. Kita mandi bersama lagi." ujar Sakti.
Mereka mandi siang untuk kedua kalinya. Bedanya, mandi kali ini lebih menyenangkan. Sebab aktivitas bercihta telah mengubah suasana hati mereka menjadi lebih bahagia.
"Mas, tolong gosok punggungku! Aku tak bisa melakukannya sendiri." pinta Fanya.
"Oke. Dengan senang hati, Sayangku. Adakah bagian lain yang perlu aku gosok lagi? Semisal gunung kembar atau semacamnya?" tanya Sakti.
"Kalo ini, aku bisa sendiri, Mas. Kan terjangkau. Tinggal liat bawah dan gosok, gosok, gosok..." jawab Fanya sambil memeragakan menggosok gunung kembarnya.
"Kirain sekalian. Mumpung tanganku sedang ingin bekerja." ujar Sakti menggoda Fanya.
"Mas ini, masih aja nyari kesempatan. Oh iya, bukankah hari ini ada agenda Mas bertemu klien yah?" tanya Fanya.
"Bagaimana kamu tau?"
"Aku nggak sengaja liat catatan di note kecil di meja kerja Mas Sakti."
"Oh itu, sudah aku reschedule untuk waktunya. Lagipula pertemuan di waktu weekend itu kurang efektif yah. Namanya juga sudah berkeluarga, weekend ya full quality time dengan pasangan dong. Masa bertemu klien? Kayak nggak ada waktu lain aja. Apalagi kliennya wanita. Ntar kamu salah paham lagi. Dikiranya aku lagi kencan dengan selingkuhan. Aku nggak mau dituduh macam-macam." kata Sakti.
Fanya tersenyum. Ia sadar betapa cemburunya ia saat melihat atau bahkan hanya mendengar Sakti sedang bersama wanita lain. Padahal kebersamaan yang Sakti lakukan bersama wanita lain pun, hanya sekedar meeting urusan pekerjaan. Tak lebih.
"Kan, inget? Aku tuh akan menghindari hal-hal seperti ini mulai ke depannya. Istriku lebih utama. Terserah kalo tanggapan klien bagaimana tentangku. Itu tak penting. Jika negosiasi gagal, aku masih punya klien lain. Masih bisa mencari klien lain lagi. Tapi tidak dengan istri. Istriku hanya satu dan memang satu-satunya. Sungguh sulit membayangkan jika istriku sedang marah. Bisa-bisa aku ditinggal kabur lagi." ujar Sakti.
"Siapa yang kabur? Aku hanya izin nginap ke tempat Miss Marina. Itupun cuma semalam. Sebab katanya ada yang kangen." kata Fanya.
"Susahlah tidur sendirian. Biasanya ada guling empuk yang senantiasa menemani sampai pagi. Lah semalam aku harus ganti meluk guling busa yang tak ada indah-indahnya sama sekali. Susah tidur." kata Sakti sambil memijat bahu Fanya.
"Enak ya Mas, jika sudah punya pasangan hidup. Bisa saling berbagi satu sama lain. Bisa saling meminta bantuan. Bisa saling berbagi kisah." ujar Fanya.
__ADS_1
"Paling enak kalo bisa melakukan 'itu'. Ya kan ya?" goda Sakti yang membuat Fanya tersipu.