
"Bolehkah aku selalu bercerita apapun permasalahan ataupun keluh kesahku padamu?" tanya Fanya serius.
"Yah, tentu saja. Suka dan dukamu boleh kamu ceritakan padaku. Dan aku aku menyimpannya sendiri. Cukup aku saja yang tau permasalahan pribadimu. Karena kan aku sudah berandai-andai kamu akan jadi milikku sepenuhnya. Tinggal tunggu waktu yang tepat." jawab Sakti tak kalah serius.
"Ah, aku jadi malu. Yaudah, kita jalan gih. Yuk kita kencan. Aku mau makan makanan manis hari ini. Habis gelap terbitlah terang. Setelah mengalami hal buruk, pasti akan muncul hal baik yang luar biasa. Ayo Mas, aku sudah tak sabar menghabiskan waktu kencanku bersamamu." kata Fanya bergelayut manja di bahu Sakti.
Sakti hanya tersenyum melihat pacarnya yang manja. Tak biasanya ia melihat seorang Fanya yang biasanya kaku menjadi manja.
"Eh, apa yang sedang ku lakukan? Sadar Fanya...." rutuk Fanya dan menjauhkan tubuhnya dari Sakti.
"Kenapa? Sini, mendekatlah!"
"Ish, aku kan jutek yah harusnya. Nggak pantes kan kalo bertingkah jadi manja gitu. Anggap saja itu tadi khilaf ya Mas. Fanya yang biasanya kan nggak gitu. Lupakan." ujar Fanya.
"Gapapa sih. Namanya wanita pasti punya sisi manja jika bertemu pria yang memanjakannya. Sini, aku peluk lagi!" ajak Sakti sambil tersenyum.
"Ih mesum, ogah!" tolak Fanya.
Tanpa menunggu persetujuan Fanya, Sakti langsung meraih badan Fanya. Dipeluknya erat seperti memeluk boneka teddy bear ukuran jumbo.
"Aku suka posisi ini. Aku bisa mencium aroma tubuhmu dari dekat." kata Sakti.
"Tapi kan aku belum mandi sore, Mas. Masih bau asem. Kecut." sanggah Fanya.
"Aku nggak nyium bau asem tuh. Wangi badan kamu tuh bener-bener buat aku terangsang tau. Eh maaf, keceplosan." Sakti menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Fanya mencebik, tapi buru-buru Sakti ******* bibir itu dengan ciuman. Fanya yang belum siap, hanya menerimanya dengan pasrah. Berusaha mengimbangi agar ia juga bisa menikmati arti ciuman yang sebenarnya.
Hanya sebatas ciuman. Tapi mereka melakukan itu sudah lebih dari lima belas menit. Dari posisi menyamping hingga posisi Fanya sudah duduk di pangkuan Sakti. Keduanya sangat menikmati pertukaran saliva itu. Sampai suatu ketika, aksi mereka terhenti oleh sebuah ketukan di kaca jendela.
"Ada orang Mas." kata Fanya yang beralih duduk di kursinya.
Sakti membuka kaca mobilnya setengah. Terlihat seorang polisi yang masih berpakaian lengkap tampak tersenyum pada Sakti.
"Maaf Pak. Apakah Bapak ada masalah dengan mobilnya? Karena saya melihat sudah lebih dari setengah jam Bapak parkir di bahu jalan. Apakah ada kendala?" tanya polisi itu ramah.
__ADS_1
Sakti menggelengkan kepalanya perlahan.
"Tidak ada permasalahan di mobil saya, Pak. Saya hanya mencoba menahan sakit kepala. Barusan saya juga sudah minum obat. Ini obatnya!" Sakti menunjukkan beberapa strip obat-obatan yang terbungkus di plastik.
Obat yang ditunjukkan oleh Sakti adalah benar obat sakit kepala. Tapi yang salah di sini adalah Sakti sudah berbohong. Kepalanya baik-baik saja dan tak ada gejala apapun.
"Oh baiklah. Apa perlu saya kawal sampai ke rumah Anda? Kebetulan beberapa waktu lalu, saya pernah ditugaskan untuk mengawal Bapak saat berkunjung ke luar kota." kata polisi itu.
"Wah, luar biasa! Tapi maaf, saya tak mengingat Anda. Kami berdua mau kencan, Pak. Masa iya harus dikawal sama Bapak?" ledek Sakti.
"Apa iya? Saya loh inget Mas.Yasudah jika tak mau dikawal. Tetep hati-hati dan jaga jarak. Terima kasih".
Akhirnya mereka bisa bernafas lega seusai kepergian polisi itu.
"Kan aku bilang, ayo jalan. Malah diajak ciuman. Kan berabe urusannya." keluh Fanya cemberut.
"Jangan cemberut gitu. Nanti aku cium lagi. Mau?" tanya Sakti.
"Mau. Jangan! Eh mau. Jangan....!" teriak Fanya bimbang mau bilang iya tapi gengsi.
Sakti hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah pacarnya yang imut. Ia segera melajukan mobilnya. Memecah jalanan ibukota untuk menuju tempat kencan yang tidak direncanakan.
"Kita makan? Di sini?" tanya Fanya bingung.
"Kenapa? Kamu nggak suka makan di sini? Baiklah, aku carikan tempat makan yang lain."
"Bukan itu Mas. Aku suka tempat ini. Waktu itu pernah mau makan di sini sama Clara. Tapi tak jadi karena melihat ulasan tentang makanan di tempat ini."
"Uhm, kita cari lagi? Mau?"
"Ih bukan. Buat apa? Justru aku pingin nyobain makan di sini. Katanya makanannya enak, tapi ya gitu, mahal Mas. Aku belum sanggup traktir Mas Sakti saat ini." Fanya tampak sedih.
"Oh jangan khawatir. Biar Mas yang traktir kamu. Malu ah ditraktir cewek. Hehehee...." Sakti langsung menggandeng tangan Fanya.
Sakti memilih makan di ruang VIP. Ia hanya ingin kebersamaannya dengan sang pacar lebih privasi dan tanpa gangguan.
__ADS_1
"Kenapa harus di sini? Bukankah di bawah tadi banyak tempat duduk kosong? Kalo di sini kan pasti lebih mahal. Ya kan?" selidik Fanya.
Sakti menggeleng dengan cepat.
"Bagiku yang mahal adalah kebersamaanku denganmu. Waktu pertemuan kita terbatas, jadi itu lebih mahal daripada nominal rupiah yang harus ku bayar. Uang bisa dicari lagi. Tapi waktuku denganmu... Setiap kesempatan aku bisa bertemu denganmu adalah saat-saat yang istimewa. Makanya aku ingin selalu memanjakanmu. Kamu mau minta aku buatkan seribu candi pun dalam semalam, aku akan berusaha mewujudkannya." ucap Sakti sambil menggenggam tangan Fanya.
"Ya Tuhan, ujian apa lagi ini? Aku sangat terharu. Ingin rasanya aku berteriak." kata Fanya berbinar.
"Maaf Tuan dan Nona. Silakan dipilih menunya. Karena kalian adalah pasangan yang tengah berbahagia, saya sarankan untuk memilih paket cinta romantis." kata seorang pelayan wanita.
"Ah, maaf Mbak. Kami sampai tak menyadari kedatanganmu. Tapi boleh juga menu yang Mba sebutkan tadi." Sakti kemudian menatap Fanya.
"Kamu mau tambah pesan apa lagi Sayangku?" tanya Sakti pada Fanya.
"Aku apa aja sesuai pesananmu, Mas. Aku tak pandai memilih menu. Kalo menurutmu enak, pasti enak kok menurutku. Uhm, aku peaan minumnya lemon tea ice aja. Selebihnya Mas yang milih ya. Aku nurut aja!" ujar Fanya menampilkan senyuman manis.
"Oke. Aku pesan ini, ini, dan ini ya Mba." ucap Sakti pada pelayan wanita itu.
"Baik Tuan dan Nona. Silakan ditunggu untuk pesanannya." kata pelayan wanita itu, lalu undur diri.
Lima belas menit kemudian, pesanan menu utama baru datang. Kecuali minuman, sudah datang sesaat setelah pesan. Karena tempat makan yang lumayan berkelas tersebut, tak mungkin menelantarkan tamunya, terlebih tamu VIP seperti Sakti yang sudah berlangganan.
Sakti dan Fanya mulai menghadapi hidangan masing-masing. Fanya bahagia menikmati hidangan enak di depannya. Terlebih bisa makan bersama kekasih tercintanya yang tampan.
"Makan yang banyak ya. Nanti kalo mau tambah menu, bilang aja. Apapun yang kamu ingin makan, kamu pesan lagi ya. Aku suka cewek yang makannya banyak." tukas Sakti.
"Kalo nanti aku gendut gimana?" tanya Fanya.
"Gapapa. Mau langsing atau gendut, kamu tetep wanita yang ku cinta setelah Mamaku. Aku lebih peduli kamu sehat dan selalu bahagia." jawab Sakti.
"Oh so sweet banget kekasihku... Kan aku makin cinta jadinya. Eh, keceplosan." kata Fanya.
"Gapapa sih aku suka. Keceplosan aja terus biar aku seneng selalu dapetin pernyataan cinta darimu." kata Sakti.
"Udah ih. Aku jadi malu kalo ini berlanjut. Ayo makan lagi Sayangku! Eh...".
__ADS_1
"Kan....".
"Udah ah Mas." kata Fanya beringsut malu dan kembali melanjutkan makannya.