Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Ibu Syakira Yang Baik Hati


__ADS_3

"Bagaimana bisa kalian melewatkan kesempatan emas itu? Kalian bukannya tau, jika acara Trending Fashion Week itu adalah acara tahunan yang sering kita ikuti? Saya ingin tau, siapa dalang di balik pembatalan ikut acara tersebut?" tanya Ibu Syakira menahan emosi.


"Sebenarnya... sayalah yang membuat keputusan mendadak itu. Saya tau keputusan tersebut mungkin salah. Tapi saya punya alasan, Bu. Ibu ingat pesaing kita dari Henry Boutique? Mereka lebih dulu launching produk yang hampir mirip dengan produk baru kita. Lalu apakah yang akan terjadi jika kita tetap ikut Trending Fashion Week? Sudah pasti kita akan malu kan? Kita sih bukan peniru, tapi kan kita launching sesudah mereka?" jawab Lusi.


"Seharusnya kamu konsultasikan dulu dengan saya. Kenapa hal sepenting ini saya bahkan tak tau." kata Ibu Syakira lemas.


"Bu, menurut saya ada benarnya alasan dari Bu Lusi. Ya meski hanya kurang konfirmasi ke Ibu Syakira. Lebih baik kita tunda peluncuran produk baru kita, dengan perubahan sedikit tentunya. Itu lebih baik dilakukan daripada harus bertarung terang-terangan dengan pesaing, yang kita bahkan sudah tau ending-nya jika kita akan kalah. Selain itu, kita juga harus mengungkap ada sedikit misteri yang terselubung. Siapakah seseorang yang dengan berani membocorkan ide desain kita? Nah, itulah yang perlu kita cari tau dulu. Untuk urusan launching produk, kita bisa re-schedule. Dalam waktu dekat kan masih ada Iconic Fashion Week. Jadi masih keburu kok." penjelasan Fanya.


Hampir semua orang yang ikut dalam rapat, fokus menatap Fanya. Termasuk Bu Syakira yang sudah terlihat tenang.


"Maaf jika penjelasan saya terkesan tidak masuk akal. Saya hanya mengambil hikmah dari kejadian ini saja. Mohon maaf jika saya salah dalam berkata." ujar Fanya tak enak hati.


"Ah tidak. Apa yang kamu sampaikan masih masuk akal. Saya hargai itu. Jadi, untuk Lusi, tolong kamu selidiki siapa dalang di balik kebocoran desain kita. Saya tak mau tau, pokoknya dia harus segera menyerahkan diri. Yah, orang seperti itu selayaknya tidak bekerja di sini. Kamu tau kan apa yang harus kamu lakukan?" perintah Bu Syakira tegas.


"Baik Bu. Siap laksanakan!" seru Lusi semangat.


Rapat kembali dilanjutkan dengan agenda evaluasi bulanan.


"Siapa yah orangnya?" tanya Gina pada dirinya sendiri.


"Lo kali. Jangan sok nyari tau." celetuk Ica sewot.


"Eh mulut cabe rawit. Jaga tuh mulut!" seru Gina kesal.


"Udah sih. Kalian nggak usah berantem. Mungkin bukan salah satu dari kita. Kita perlu bahu-membahu mengusut kasus ini. Tanpa menyalahkan satu sama lain." ujar Henny menengahi.


"Benar Kak. Aku setuju. Jika kita saling membenci satu sama lain, bukankah itu memudahkan pelaku menghancurkan kekompakan kita? Selain itu, nggak ada salahnya kan jika kita cek cctv area butik ini? Mungkin bisa membantu penyelidikan kita? Ya nggak Bu Lusi?" kata Fanya.


"Eh, ide bagus. Aku setuju. Nanti akan aku cek cctv. Makasih Fanya. Idemu sangat membantu." ucap Lusi ramah.


"Wow, pinter juga kamu! Oke, yuk lanjut kerja lagi. Masih ada deadline tugas kan?" tanya Henny pada Ica dan Gina yang masih saling pandang.


"Ada kan? Yuk ah kerja lagi. Nggak baik berantem sesama tim." kata Henny lagi.


Tiba-tiba Sakti diikuti Satya datang. Semua mata tertuju pada mereka, khususnya Sakti. Tak terkecuali Fanya yang dibuat kesengsem oleh pesona Sakti. Sesaat mata Sakti dan Fanya bertemu. Sakti mengedipkan matanya, membuat Fanya luluh dibuai asmara.


"Jiyeeee....." goda Gina yang mulai bersahabat dengan Fanya.


Fanya tersipu malu, tapi bahagia bisa melihat pujaan hatinya di depan mata, meski hanya lewat sekilas.


"Pak Sakti tampan yah!" celetuk Gina pada Fanya.

__ADS_1


"Iyalah. Selalu. Tapi jangan keseringan muji pacar orang yah." bisik Fanya.


"Oke. Tapi ada apa yah, tumben-tumbenan Pak Sakti ke sini?" tanya Gina lagi.


"Yang jelas bukan urusan lo!" celetuk Ica.


"Iya sih." balas Gina.


"Kalian ini, masih aja." kata Henny geleng-geleng kepala.


"Hai guys, tadi Pak Sakti datang yah?" tanya Lusi.


"Iya. Lagi ke ruangan Bu Syakira tuh." kata Henny.


"Sama Pak Satya juga nggak sih?" tanya Lusi lagi.


"Yaiyalah. Kan asistennya." jawab Henny lagi.


"Astaga, aku harus siap-siap." kata Lusi antusias.


"Ibu suka sama Pak Satya yah? Tapi kan Pak Satya audah punya pacar?" tanya Fanya frontal.


"Kan namanya juga usaha." jawab Henny.


"Yah maaf ya Bu Lusi. Tapi kan aku berkata jujur. Aku taunya emang gitu. Daripada Bu Lusi lebih dalam patah hati." ujar Fanya.


"Kamu benar. Aku harusnya nggak langsung kegoda juga sama dia. Makasih yah Fanya. Aku pun kesal, patah hati, tapi ternyata lebih baik aku mendengarkan penjelasanmu." kata Lusi.


"Benar Bu. Bu Lusi kan cantik, baik hati, dan wanita karir yang cerdas, sudah pasti banyak laki-laki yang akan mengantre untuk Ibu." kata Ica.


"Aku setuju." kata Gina.


"Makasih ya guys. Aku nggak perlu sedih lagi. Kalian selalu support aku. Makasih." ucap Lusi.


Fanya kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia harus menyelesaikan laporan bulanan yang diminta oleh Bu Syakira. Tiba-tiba telpon berdering. Ada interkom dari Bu Syakira.


"Dengan Fanya di sini." kata Fanya saat mengangkat telpon.


Fanya terlihat serius mendengarkan.


"Baik Bu. Saya segera ke sana." kata Fanya lagi dan menutup telponnya.

__ADS_1


Fanya merapikan tatanan rambut dan pakaiannya. Ia ingin terlihat rapi. Terlebih sudah pasti ada kekasihnya juga di sana, Sakti Dirgantara.


"Masuk!" sesaat setelah Fanya mengetuk pintu ruangan Bu Syakira.


Fanya melangkah masuk. Ia langsung bisa melihat bagaimana Sakti tengah menatapnya juga. Memandangnya dengan pintu cinta.


"Ibu memanggil saya?" tanya Fanya yang sudah berdiri di sebelah Sakti yang duduk.


"Kalo nggak ada yang lain, panggil Tante aja. Panggil Mama juga boleh. Duduklah!" perintah Bu Syakira pada Fanya.


Fanya celingak-celinguk mencari tempat duduk. Tapi tak ada lagi selain sofa di pojok ruangan.


"Ah, saya berdiri saja, Tante." kata Fanya.


Sakti langsung menarik Fanya untuk duduk di pangkuannya.


"Loh Mas... Ini nggak baik." bisik Fanya mencoba menghindar.


"Yasudah tak apa-apa. Begitu saja. Sakti tak keberatan kok. Fanya, apakah ada kabar terbaru mengenai pelaku?" tanya Bu Syakira.


"Uhm, untuk sementara belum ada informasi penting yang saya dapatkan, Tante. Tapi Bu Lusi masih mengecek cctv apakah ada kemungkinan aksi pelaku tertangkap cctv." jawab Fanya gelisah, sebab tangan Sakti tak bisa dikondisikan.


"Jangan peluk-peluk aku sembarangan, Mas. Ini di kantor. Malu sama Mamamu." bisik Fanya pelan.


Sakti tak menghiraukan kata-kata Fanya. Ia bahkan sengaja bersandar di punggung Fanya. Sudah tak risih lagi dilihat oleh Satya bahkan Mamanya sendiri.


"Sakti, kamu lagi kasmaran sama Fanya yah? Tuh lihat, Fanya aja risih kamu uyel-uyel gitu." ledek Ibu Syakira alias Mama Sakti.


"Biarin. Cuma ada Mama. Satya juga udah biasa lihat kok, Ma." balas Sakti.


"Ya sudahlah. Fanya, kamu yang sabar yah. Dalam waktu dekat, Sakti akan melamarmu. Tante pastikan itu. Tante nggak mau ngelihat kamu abis diuyel-uyel Sakti." ujar Bu Syakira meyakinkan.


"Baik Tante." kata Fanya.


"Cuma Fanya yang bisa nakhlukkin hati anaknya Tante. Dari jaman dulu, nggak pernah tuh Tante lihat Sakti seagresif ini pada wanita. Hanya temen biasa. Nah, kalo sama kamu, kenapa bisa manja begitu yah. Kamu nggak pake pelet kan yah? Jangan salah paham dulu, Sakti soalnya jadi yah begitulah seperti yang kamu lihat sekarang. Malah nggak ada malunya." ujar Bu Syakira.


"Sakti emang kena pelet, Ma. Nggak bisa lepas nih dari Fanya. Buruan nikahin Sakti sama Fanya, Ma...." pinta Sakti memelas.


"Iya. Yang penting Fanya mau aja nikah sama kamu." tukas Bu Syakira.


"Ya maulah pasti. Wajahnya aja merona gini pas deket sama Sakti. Kamu mau kan nikah sama aku Sayang?" tanya Sakti pada Fanya.

__ADS_1


Fanya hanya mengangguk. Rona wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus. Malu banget pasti.


__ADS_2