Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Ditraktir Mas Sakti


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Fanya dan Sakti sudah berdamai dengan keadaan. Mereka kembali menjalani rumah tangga seperti biasanya. Tidak bersikukuh untuk segera mendapatkan anak. Mereka hanya ingin menghabiskan hari-hari mereka dengan bahagia.


Hari ini Fanya memasak sarapan dan bekal makan siang untuk Sakti. Tidak banyak yang ia masak berhubung Sakti harus berangkat kerja lebih pagi.


"Mas, aku udah siapin sarapan dan bekal makan siangmu." ujar Fanya.


"Iya Sayang. Sebentar lagi aku nyusul yah. Kamu sarapan duluan aja." kata Sakti.


Fanya ke ruang makan lebih dulu. Ia menyendokkan nasi dan lauk ke piringnya. Tapi tak langsung makan. Ia masih sabar menunggu Sakti bergabung dengannya.


"Kenapa diam saja? Kok nggak dimakan?" tanya Sakti yang mulai duduk di sebelah Fanya.


"Aku menunggu Mas Sakti. Kita kan cuma berdua. Masa aku sarapan duluan?"


"Oke, ayo kita mulai sarapan."


"Biar aku ambilkan, Mas!"


Fanya mengambilkan nasi beserta lauknya untuk Sakti.


"Segini cukup?" tanya Fanya.


"Iya cukup, Sayang." jawab Sakti.


Mereka makan dengan tenang. Seusai makan, Sakti segera berangkat ke kantor. Tak lupa ia membawa bekal yang sudah disiapkan oleh Fanya.


"Aku berangkat kerja dulu ya. Kamu gapapa kan di sini sendirian?"


"Iya Mas, gapapa. Aku di sini aja. Nanti Clara mau maen ke sini katanya. Jadi aku nggak akan kesepian. Atau kalo bosen, aku kan bisa langsung ke kantormu. Kamu semangat yah kerjanya. Cari duit yang banyak biar bisa jajan terus." ujar Fanya.


"Iya Sayang. Yaudah, aku berangkat yah!" ujar Sakti meninggalkan Fanya.


Fanya kembali ke kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya lagi. Ia merasa lelah. Beberapa bagian tubuhnya terasa pegal dan sakit.


"Tubuhku mulai rapuh. Kerja dikit aja udah lelah banget. Padahal cuma masak dan beberes dikit. Nggak bisa bayangin gimana kalo dipake buat kerja. Pasti udah kesakitan banget. Kayaknya aku butuh dipijit nih." ujar Fanya.


Beberapa saat kemudian bel apartemen berbunyi. Fanya segera berlarian menuju pintu dan membukanya. Ternyata Clara beneran datang. Ia sendirian.


"Sendirian aja? Katanya ngajak suami?" tanya Fanya.


"Iya nggak jadi. Dia malah ketemuan sama mantannya. Kan kesel!" jawab Clara sewot dan langsung masuk aja.


Fanya menutup pintu. Mengikuti Clara yang lebih dulu duduk di sofa.


"Mungkin ketemu untuk membahas masalah pekerjaan. Iya kan?"


"Ah kamu sok tau! Meskipun benar, menurutku tetep aja salah. Dia udah tau itu mantannya masih cinta sama dia. Kenapa juga diladenin. Mau sama-sama udah nikah, kalo ada kesempatan emas buat selingkuh bagaimana? Tetep selingkuh kan?" tanya Clara.


"Kamu curhat yah?"

__ADS_1


"Enggak sih. Ah pokoknya gitu. Aku sebel, Fanya! Mas Robi bikin aku kesel dari kemaren. Aku pingin jambak aja rambutnya. Tapi nggak tega juga. Aku masih cinta."


"Ra, kayaknya kamu butuh healing deh. Biar otak dan hati kamu lebih fresh. Biasanya kalo maennya kurang jauh suka ngelag gitu bawaannya." kata Fanya.


"Kamu suka bener kalo ngomong. Hayuk deh ajakin aku jalan! Mumpung aku lagi bawa mobil. Ayo!" ajak Clara.


"Ayo deh, aku juga butuh healing buat nyegerin pikiran." balas Fanya.


...****************...


Sakti dan Satya sedang melakukan pertemuan dengan klien. Mereka mengadakan pertemuan di sebuah restoran yang berada dalam mall kota. Bertemu klien sekaligus makan siang bersama.


Ada banyak pembicaraan bisnis yang mereka lakukan. Mengingat kerja sama antara dua perusahaan itu telah terjalin lebih dari lima tahun. Otomatis Sakti senantiasa memperlakukan kliennya sebaik mungkin. Saat makan siang tiba, obrolan tentang bisnis diakhiri. Mereka berganti topik dengan membicarakan kehidupan keluarga masing-masing.


"Pak Sakti sudah punya anak berapa?" tanya klien bernama Pak Sanjaya.


"Belum punya, Pak. Doakan saja!" jawab Sakti.


"Oh maaf. Saya pikir sudah punya. Semoga Pak Sakti dan istri segera mendapat momongan yah." kata Pak Sanjaya.


"Iya terima kasih." ujar Sakti.


"Oiya, kalo Pak Satya apakah sudah punya calon istri?"


"Sudah Pak." jawab Satya.


"Maaf Pak." ujar Satya.


"Lalu kapan menikahnya? Ayolah, nanti jangan lupa undang saya yah! Saya akan pastikan untuk datang!" ujar Pak Sanjaya.


"Baik Pak." kata Satya.


"Uhm, Pak Sanjaya tumben dateng sendirian aja. Biasanya ngajak asistennya." ujar Sakti.


"Iya, si Bella atau si Noni kebetulan lagi ngurusin acara pameran. Jadi yah saya sendiri yang datang. Toh kalo ketemu sama Pak Sakti dan Pak Satya, bagi saya seperti bertemu keluarga sendiri. Bisa santai." kata Pak Sanjaya.


"Senang rasanya jika kami dianggap seperti keluarga sendiri oleh Pak Sanjaya." kata Sakti.


"Lain kali jika ada kesempatan seperti ini, kita bisa saling mengajak keluarga kita. Bagaimana?"


"Boleh Pak." ujar Sakti.


Pembicaraan semakin seru dengan cerita lucu dari Pak Sanjaya yang notabene suka humor.


"Tuan, masih ada waktu sedikit sebelum kita kembali ke kantor. Apa Tuan mau berbelanja dulu di sini?" tanya Satya.


"Tidak. Buat apa aku belanja?"


"Ah mungkin membelikan kado untuk Nona Fanya."

__ADS_1


"Tidak perlu. Belum lama ini aku sudah membelikannya perhiasan. Itupun hanya dia simpan. Lalu aku harus beli apa lagi?" tanya Sakti.


"Mungkin tas atau sepatu." jawab Satya.


"Oke. Ayo ke toko tas!" ajak Sakti.


Sakti diikuti Satya menuju ke sebuah toko tas. Bukan tas harga ratusan ribu, tapi sudah menembus harga jutaan bahkan ratusan juta. Sakti mengelilingi toko untuk mencari tas yang tepat untuk Fanya.


"Mas Sakti!" panggil Fanya.


"Loh, kamu di sini juga? Sendirian?" tanya Sakti.


"Aku sama Clara. Eh tapi dia kemana yah? Apa belum balik dari toilet yah? Kalo Mas Sakti ngapain di sini?"


"Aku abis ketemu klien di restoran sekitar sini. Ke sini sekalian mau beli tas buat kamu. Tapi malah ketemu kamu di sini. Yaudah, kamu udah dapet tas yang bagus belum?"


"Udah sih Mas. Tapi nggak jadi beli. Harganya mahal. Hampir dua puluh juta. Semahal-mahalnya aku beli paling cuma sejutaan." ujar Fanya.


"Kamu ambil apa yang kamu suka. Semahal apapun kalo aku masih sanggup, akan aku beliin." kata Sakti.


"Beneran ya Mas?" tanya Fanya.


"Iya." jawab Sakti.


Fanya bergegas menghampiri etalase dimana tas yang diincarnya berada. Setelahnya ia membawanya ke kasir untuk dibayarkan Sakti.


"Wah, akhirnya kebeli juga. Makasih ya Mas!" seru Fanya bahagia.


"Eh ada Mas Sakti juga." kata Clara saat sudah kembali dari toilet.


"Iya." kata Sakti.


"Wow, tasnya bagus!" seru Clara saat melihat tas mewah yang dipegang Fanya.


"Iya dong. Dibeliin sama Mas Sakti. Kamu mau?" tawar Fanya.


"Iya mau... Ah tapi aku lagi nggak pegang duit. Aku entaran aja deh belanjanya." ujar Clara.


"Yaudah kamu pilih yang kamu suka." kata Sakti.


"Iya Ra. Mumpung Mas Saktiku mau bayarin kamu. Tapi jangan yang mahal-mahal banget yah!" ucap Fanya.


"Iya deh. Tadi aku naksir tas yang harganya murah kok. Cuma lima jutaan kalo nggak salah!" kata Clara.


"Itu juga mahal." ujar Fanya.


"Gapapa Sayang. Boleh kok." kata Sakti.


"Kan boleh, Ra. Kamu beruntung loh hari ini!" kata Fanya.

__ADS_1


__ADS_2