Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Aku Pergi Saja


__ADS_3

Sakti terus berusaha membujuk agar Fanya tak mengambil hati tentang isi percakapan dirinya dengan wanita bernama Mela. Tapi apa daya, hati Fanya sudah luluh lantah terbakar api cemburu.


"Tolong izinkan aku pergi sekarang, Mas. Ku mohon! Aku ingin menjernihkan pikiranku. Aku ingin mencari ketenangan batin. Hatiku galau setelah tau kau ternyata mendua. Kamu tak seperti dulu lagi, Mas. Aku harus bagaimana? Aku masih cinta padamu, tapi begitu sulit menerima keadaan ini. Aku saja yang mengalah sebelum ada luka lain yang akan datang." ujar Fanya sesenggukan.


Sakti meraih tangan Fanya, tapi buru-buru ditepis oleh Fanya.


"Jangan sentuh aku. Rasanya aku akan menjauhimu sebelum perpisahan yang sebenarnya terjadi." kata Fanya.


"Apa maksudmu? Mana ada perpisahan? Aku tak ingin kamu pergi dariku!" seru Sakti.


"Apa aku tak salah dengar? Kamu berusaha mencegahku untuk pergi, tapi nyatanya kamu bahkan tak sanggup membuka aib hubunganmu dengan wanita itu. Drama macam apa lagi ini, Mas? Coba katakan sekali lagi padaku, apa ada wanita yang akan menerima pasangannya selingkuh? Entah selingkuh secara nyata ataupun secara virtual, mana ada?" seru Fanya.


"Mela? Dia bukan selingkuhan." kata Sakti.


"Lalu siapa?" tanya Fanya penuh emosi.


"Dia salah satu klien di perusahaanku. Salah satu investor dengan penyumbang dana terbesar. Dia istimewa untuk perusahaanku." jawab Sakti.


"Istimewa di hatimu juga kan ya?" tanya Fanya lagi.


"Tentu saja tidak! Masalah hati hanya aku yang tau." jawab Sakti.


"Justru karena hanya kamu yang tau, kemungkinan kamu berbohong itu sebesar 99 persen, Mas! Kamu saja nggak bisa menjamin kan seberapa besar tingkat kejujuranmu, kan?" teriak Fanya.


"Sayang, kamu jangan terbawa emosi. Aku bisa jelaskan baik-baik kok. Iya aku salah. Tapi sumpah, aku tak ada niat untuk berselingkuh atau bermain api denganmu. Apalagi mencampakkanmu dengan cara keji seperti itu. Tak pernah terlintas di benakku. Ku mohon, percayalah!" pinta Sakti.


Fanya menyeret koper besarnya. Berjalan ke arah pintu depan. Saat hendak membuka pintu, Sakti mencegahnya. Berharap Fanya tak pergi kemana-mana.


"Mungkin aku berdosa jika aku melangkahkan kakiku keluar dari tempat ini. Tapi aku sulit bernafas dengan baik di sini. Jadi, biarkan aku pergi saja. Aku tak pergi jauh. Hanya ke tempat Miss Marina. Dia bersedia menampungku sementara waktu. Selama aku mendapatkan kembali kostan yang tepat." ucap Fanya.


"Tolong jangan pergi!" cegah Sakti.


"Apa kamu sanggup melihatku dikuasai amarah dan kekecewaan setiap waktu? Apa kamu siap melihatku tak ramah lagi padamu? Aku sudah terlalu dalam terluka. Sampai rasanya bingung, apa masih ada obat sakit hati seperti rasaku ini?" tanya Fanya.


Sakti terdiam. Ia tetap ingin mencegah kepergian Fanya. Tetapi sepertinya keinginan Fanya terlalu kuat. Jadi ia membiarkan Fanya pergi ke tempat sahabatnya, Marina. Salah satu alternatif daripada Fanya harus pergi ke tempat asing.

__ADS_1


"Aku izinkan kamu pergi ke tempat Marina. Tenangkan dirimu dan nikmati hari-hariku sementara waktu tanpa aku. Aku akan bersabar menunggumu pulang. Janji ya untuk selalu jaga kesehatan. Dan tolong kabari aku begitu sampai. Aku akan senantiasa menunggu pesanmu." ujar Sakti.


Fanya menghela nafas panjang. Rasanya hari ini adalah hari terberat bagi Fanya.


...****************...


Fanya sudah sampai di rumah Marina. Ia kesana menggunakan ojek online. Sebeharnya Sakti menawarkan diri untuk mengantar, tapi ditolak oleh Fanya. Fanya sudah tak percaya lagi demgan suaminya sendiri.


"Kamu sendiri? Mana suamimu?" tanya Marina begitu Fanya sudah sampai di rumahnya.


"Aku sendiri." jawab Fanya.


"Aku pikir diantar Sakti. Bagaimana kabarmu?" tanya Marina.


"Aku cukup baik. Tapi sepertinya mentalku tak baik. Jadi aku ke sini untuk menjernihkan pikiran. Kamu baik banget sudah ngizinin aku ke sini." ujar Fanya.


Marina menepuk bahu Fanya.


"Kali ini aku akan membantumu mengenalkan seorang cowok padamu. Mau ya?" tanya Marina.


"Eh bukan untuk membalas selingkuh. Aku pun benci dengan kata selingkuh. Tak mungkin aku menyarankanmu untuk selingkuh. Aku masih punya akal yang sehat." seru Marina.


"Lalu buat apa aku kenal cowok lain? Bahkan pria sebaik Sakti tak benar-behar baik untukku." ujar Fanya.


Marina tak bisa berkata lagi. Ia menyerah untuk mengenalkan Fanya pada pria lain. Padahal niatnya bukan untuk teman selingkuh. Tapi untuk berkonsultasi mengenai permasalahan yang dihadapi. Lalu Marina mempersilakan Fanya memasuki rumahnya.


"Kamu mau tidur di mana? Di kamar tamu apa di kamarku saja?" tanya Marina.


"Bolehkah aku di kamarmu saja? Aku takut sendirian di tempat yang luas ini. Boleh?" pinta Fanya.


"Boleh banget. Ayo ikut aku ke lantai dua!" ajak Marina.


Fanya mengekor mengikuti Marina yang lebih dulu berjalan menunjukkan dimana letak kamarnya berada.


"Wow, luar biasa. Betapa keren kamarmu, Marina! Desainnya sangat elegan. Ini pasti membutuhkan daya pikir yang kreatif. Mengesankan. Aku yang tak mengerti desain pun, berani memberi nilai 9/10. Sangat bagus!" puji Fanya.

__ADS_1


"Ayo masuklah!" ajak Marina.


" Terima kasih ya. Sudah bersedia aku repotkan selama beberapa hari ini. Nanti jika aku sudah mendapatkan tempat huni yang baru, aku akan pergi dari sini. Aku janji akan berusaha lebih cepat." ujar Fanya memberi kepastian.


"Jangan sungkan. Terserah seberapa lama kamu menetap di sini. Aku takkan melarangmu. Aku justru senang ada yang menemaniku di sini. Kamu tau kan, para ART di sini jarang ada yang mau menginap. Kebanyakan mereka pulang-pergi." ujar Marina.


"Sekali lagi terima kasih atas kebaikan hatimu." kata Fanya sambil memeluk Marina.


Marina menenangkan Fanya yang mulai menitikkan air mata.


"Istirahatlah selepas membersihkan diri. Kamar mandi di sebelah sana! Aku akan menyiapkan susu hangat untukmu. Tunggu ya!" kata Marina.


Fanya menuruti perkataan Marina. Ia segera menaruh kopernya di sudut ruangan. Lalu bergegas ke kamar mandi. Membersihkan wajahnya dan anggota tubuh lainnya.


"Aku letakkan di sini ya." seru Marina saat menaruh segelas susu hangat di atas nakas.


"Terima kasih. Aku akan meminumnya segera." ujar Fanya.


Marina tersenyum sekilas melihat Fanya sudah mulai terlihat segar.


"Oh iya, kamu sudah makan apa belum? Biar aku hangatkan lagi lauknya." tanya Marina.


"Aku sudah makan malam. Aku akan langsung tidur saja setelah menghabiskan susu buatanmu." jawab Fanya.


"Oh baik. Istirahatlah!" ujar Marina.


"Kamu mau kemana?" tanya Fanya.


"Aku mau ke ruang kerjaku sebentar. Mau menyelesaikan laporan bulanan seperti biasa. Kamu tidur duluan saja. Gapapa kan?" tanya Marina.


Fanya hanya mengangguk tanda setuju.


"Oh iya hampir lupa. Apa Sakti sudah tau kamu ke sini? Aku hanya khawatir ia cemas denganmu."


"Iya, dia pasti tau. Kamu tau kan, dia punya anak buah banyak banget. Salah satu pasti sudah melaporkan aku sedang berada di tempat ini. Lagipula, aku sudah meminta izinnya." tutur Fanya.

__ADS_1


__ADS_2