Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Marina Akan Dijodohkan


__ADS_3

Akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Satya telah sampai di kantor. Sakti turun terlebih dahulu, lalu disusul oleh Fanya. Sakti langsung menggandeng mesra Fanya menuju lift prioritas.


"Kau tak naik?" tanya Sakti pada Satya yang sibuk dengan ponselnya.


"Tuan, saya izin mau ke tempat Marina. Nanti saya akan kembali saat rapat itu dimulai. Apakah boleh?" pinta Satya dengan raut muka bingung.


"Yasudah. Urus saja masalahmu. Tak kembali juga tak masalah. Aku bisa sendiri. Atau kalau perlu, aku akan rapat ditemani istriku." ujar Sakti bijaksana.


"Terima kasih, Tuan." balas Satya.


Satya segera melangkahkan kakinya untuk pergi. Tapi sebelum itu ditahan oleh Sakti.


"Mau kemana? Pake saja mobilku! Biar cepat sampai. Tapi nanti jika sudah selesai, tolong kembali ke sini menjemput kami. Bisa?" kata Sakti.


"Bisa Tuan. Permisi!" ucap Satya.


Satya tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung tancap gas menuju cafe Monix.


...****************...


Marina sedang harap-harap cemas menunggu kedatangan Satya di cafenya. Ia berkali-kali membaca pesan dari orang tuanya. Sebuah pesan yang seakan mampu menghentikan dunia Marina seketika.


"Kau memanggilku? Ada apa? Masalah apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Satya tanpa basa-basi, bahkan lupa mengetuk pintu.


Marina bergegas berlari ke arah Satya. Memeluk Satya dengan erat. Begitu pun sebaliknya, Satya melakukan hal yang sama.


"Tidakkah kau berpikir bahwa aku sangat penting bagimu sekarang?" tanya Marina gusar.


"Sepenting itu sehingga aku buru-buru ke sini mendatangimu. Bahkan aku lupa sopan santun. Aku langsung ke sini tanpa permisi. Aku melupakan segalanya." jawab Satya.


"Aku ingin menikah denganmu!" seru Marina.


"Aku pun sama." balas Satya.


"Tapi ternyata itu sulit bagi kita." lirih Marina sembari mendongakkan kepalanya karena Satya terlalu tinggi tubuhnya.


"Kenapa? Apa yang sulit?" tanya Satya penasaran.


"Uhm, orang tuaku, lebih tepatnya Mamaku. Beliau sudah menetapkan pilihan calon suami untukku. Aku tak tau dia siapa. Yang jelas, Mamaku pernah menyekolahkan pria itu dan bahkan menjadikan pria itu sebagai sopirnya. Aku bahkan belum mengenalkanmu pada mereka. Bagaimana aku harus bersikap? Selama ini, aku tak pernah membantah perintah mereka. Rasanya sulit. Aku sulit melepasmu dan sulit mengabaikan perintah orang tuaku." jawab Marina yang mulai menitikkan air mata.


"Kapan mereka datang? Aku akan menghadapi mereka. Aku tak peduli siapa calon yang mereka bawa untukmu. Aku hanya ingin berjuang sebelum aku dinyatakan benar-benar kalah. Tak apa jika nanti aku kalah, aku terima saja. Tapi, aku akan membuktikan keseriusanku pada mereka. Satu hal, kamu mendukungku kan?" hanya diangguki Marina.

__ADS_1


"Aku penasaran orang seperti apa yang akan menggeser posisiku." kata Satya.


"Ayo kita duduk dulu, Sayang." ajak Marina.


Satya menuju sofa empuk yang berada di pojok ruang kerja Marina. Marina pun duduk di sebelahnya.


"Mau minum kopi?" tawar Marina.


"Boleh." ujar Satya.


Sembari menyeduhkan kopi, Satya menatap Marina dengan penuh cinta.


"Ada apa? Apa ada yang salah dengan penampilanku? Padahal aku udah berusaha tampil cantik di depanmu." tutur Marina.


"Tidak ada yang salah. Kamu cantik kok. Mau dandan atau enggak, tetap cantik di mataku." puji Satya.


"Mungkin hari ini mereka sudah ada di kota ini. Mereka merahasiakan waktu kedatangannya dariku. Aku hanya tau mereka akan ke sini. Aneh bukan? Aku saja yang katanya anak kandung mereka satu-satunya, serasa diabaikan begitu saja." ujar Marina.


"Mungkin surprise buatmu. Tunggu saja!" tutur Satya.


"Bagaimana ya, aku takut jika kita harus berpisah. Aneh nggak sih jika aku berharap sopir keluargaku dulu itu kamu. Kamu yang disekolahkan keluargaku. Dan pastinya, kamu juga yang dijodohkan keluargaku. Boleh nggak aku berharap begitu? Aku sudah kesal tapi aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku seperti berharap pada sebuah keajaiban. Aku ingin tetap bersamamu..."


Marina bersandar pada Satya. Memeluk Satya dari samping.


"Masih ada kesempatan untukku membuktikan diri. Jika pria itu memang ingin bersamamu juga, aku siap menjadi rivalnya." jawab Satya.


Satya mengelus pucuk rambut Marina. Sesekali mengecup kening Marina.


"Duduklah di pangkuanku!" perintah Satya.


Sesuai perintah, Marina bergegas duduk di pangkuan Satya. Ia memang suka duduk di pangkuan kekasihnya. Dari sini, mereka bisa saling menatap wajah dengan lebih intens.


"Betapa cantiknya pacarku!" puji Satya.


"Dan betapa tampannya pacarku!" puji Marina.


Sesaat ciuman bibir tak mampu dihindarkan lagi. Mereka menikmati momen itu meski hati mereka menahan perih.


"Setiap berdekatan denganmu, aku ingin lebih. Aku ingin menguasaimu. Aku ingin memilikimu seutuhnya. Bahkan hubungan terlarang pun, ingin aku lakukan sekarang juga. Ambisiku tak kalah besar dengan rasa cintaku padamu..." bisik Satya yang membuat Marina meremang.


"Apa perlu kita lakukan saja hubungan terlarang itu? Kita sudah sama-sama dewasa bukan? Bagaimana menurutmu?" tanya Marina.

__ADS_1


"Ku rasa itu bukan ide yang bagus. Aku tak mau merusakmu. Ibarat bunga yang sedang mekar dan berbau wangi, aku takkan ceroboh memetiknya." jawab Satya.


Marina membuka jaketnya. Hingga terpampanglah tubuh bagian atasnya yang hanya mengenakan tanktop tipis dengan warna bra yang sangat menerawang.


"Kan, kamu sangat seksi jika sudah begini." kata Satya, mencoba berpaling agar tak menatap tubuh Marina.


Marina sengaja melakukannya untuk menggoda Satya. Satya sebenarnya tergoda, tapi berusaha menguatkan diri. Terlebih saat melihat dua buah dada Marina yang menyembul, degupan detak jantung Satya semakin kencang.


"Aku gerah, makanya aku lepas jaketku!" seru Marina dengan tatapan nakal.


"Kamu sengaja ya? Aku tak tahan melihat tubuh orang yang aku cintai terpampang begini. Apalagi ini..." Satya mengelus gunung kembar Marina yang menyembul.


"Kamu suka Sayang?" goda Marina.


"Iya aku suka." kata Satya.


"Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Marina.


"Selanjutnya, kamu pakai lagi jaketmu. Aku tak tau sampai kapan aku bisa menahannya lagi." jawab Satya.


Marina tertawa mendengar jawaban Satya.


"Ternyata kamu adalah pria spesial. Semesum-mesumnya kamu, kamu masih tau diri. Nggak sembarangan bertindak. Tolong pakaikan lagi jaketku, Sayang!"


Satya memakaikan jaket untuk Marina. Pandangan matanya masih fokus dengan gunung kembar yang tepat berada di depan matanya.


"Terima kasih!" ujar Marina saat Satya selesai memakaikan jaket.


"Sama-sama. Jangan beranggapan aku lemah soal nafsu. Aku sangat bernafsu padamu. Karena itulah aku mencoba bertahan sampai titik darah penghabisan." ucap Satya.


"Iya deh. Aku percaya. Aku liat kok betapa tegangnya juniormu tadi. Ya gitu deh. Kamu pasti pria kuat." ujar Marina cekikikan.


"Juniorku? Kamu liat ya?" tanya Satya.


"Kelihatan dari balik celanamu..." jawab Marina pelan.


Satya pun langsung tertawa dengan kepolosan pacarnya.


"Aku cinta kamu...." bisik Marina.


"Aku juga cinta kamu, Marinaku..." balas Satya.

__ADS_1


Mereka pun kembali berpelukan.


__ADS_2