
Fanya masih memandangi buket bunga mawar di tangannya. Sesekali mencium aroma wangi khas bunga mawar yang disukainya.
"Kok kamu tau aku suka bunga ini?" tanya Fanya tanpa menoleh ke arah Sakti.
"Hanya menebak saja. Bukankah kebanyakan wanita menyukainya? Ah tidak, hal penting yang membuatku memilih bunga mawar adalah karena keindahan dan kecantikannya. Meskipun berduri, tapi di tangan orang yang tepat, duri itu takkan melukai. Karena filosofi itulah aku memilihnya." jawab Sakti spontan.
"Wow, luar biasa!" seru Fanya.
Sementara itu, seorang wanita cantik yang tadi sempat bertabrakan dengan Sakti, melihat kebersamaan Fanya dan Sakti.
"Hai, kamu di sini? Boleh gabung?"
"Silakan!" balas Fanya sedikit sewot.
Sakti menyadari ada hawa panas yang kembali menyeruak pada diri Fanya. Kekesalan dan kemarahan.
"Kenalin, aku Nina. Aku adik dari pemilik cafe ini."
"Uhm, namamu Nina. Nama yang bagus. Tapi sayangnya kamu datang di saat yang tidak bagus." ujar Fanya disertai senyum.
"Nah kamu ganteng, siapa namamu?" tanya Nina dengan centilnya.
"Namanya Sakti Dirgantara." jawab Fanya dengan cepat.
"Oh seperti itu. Nama yang bagus untuk orang yang tampan. Perpaduan yang cocok." ujar Nina.
Sakti melihat Fanya mengepalkan telapak tangannya yang berada di bawah meja. Nina tak melihatnya.
"Maaf ya Nina. Aku dan istriku yang cantik ini, sepertinya harus segera pergi dari sini." kata Sakti.
Nina yang tadinya mengumbar senyum, beralih masam. Terlebih saat melihat Sakti menggandeng pinggang Fanya dengan mesra.
"Kenapa harus punya istri sih? Sayang banget, udah laku duluan." kata Nina pelan, tapi Fanya mendengar dengan jelas.
Fanya segera berbalik. Mendekati Nina dan menatapnya tajam.
"Buat apa punya wajah cantik, putih, dan tubuh seksi jika tak mampu mencari pasangan sendiri? Buat apa merebut sesuatu yang bukan miliknya?" tanya Fanya pelan.
"Bagaimana mungkin kamu..." ucapan Nina terpotong.
__ADS_1
"Sudahlah. Lebih baik kamu tak usah berpikiran suamiku akan jatuh ke dalam pelukanmu. Dia punya prinsip kok." ucap Fanya berusaha sabar.
"Ya nggak tau juga. Jodoh juga nggak kemana-mana. Yakin saja, semua akan kembali kepada orang yang tepat."
"Masih belum mau menyerah rupanya. Mas Sakti, kemarilah!" seru Fanya.
Sakti mendekati Fanya, lalu mencium kening Fanya.
"Nina, kamu tau kan resiko menyukai milik orang lain?" tanya Fanya frontal.
Nina mnggelengkan kepalanya. Tidak tau harus menjawab apa.
"Mas, apa kamu mau hidup bersama wanita cantik bernama Nina ini? Pastinya meninggalkanku..." ujar Fanya memasang muka sedih.
"Tidak! Aku sudah menjatuhkan pilihanku untuk hidup bersamamu. Menjalani hari-hari yang indah bersamamu. Tanpamu... aku tak tau harus bagaimana. Berpisah belum genap sehari saja, rasanya sulit bagiku." kata Sakti yang arah matanya tak lepas dari Fanya.
"Kamu dengar sendiri bukan? Sudah ya, kami permisi dulu!" seru Fanya ketus pada Nina yang masih melongo dengan pernyataan Sakti.
Fanya dan Sakti bergandengan tangan. Fanya sengaja membuktikan pada Nina bahwa Sakti adalah miliknya dan Sakti sangat bucin padanya.
'P**adahal aku tak harus melakukan itu. Apa aku keterlaluan? Tapi jika tak begini, aku akan kerepotan sendiri nantinya. Tak baik membiarkan seseorang berharap lebih untuk sesuatu yang bukan haknya. Aku masih berhak atas Mas Sakti karena dia suamiku. Aku sungguh mencintainya.' batin Fanya.
"Ada apa Sayang? Apa yang kamu pikirkan? Kamu lelah? Mau aku gendong? Mobil kita masih terparkir di halaman butik Mama." ujar Sakti.
"Tidak Mas. Aku menikmati jalan kaki berdua denganmu kok. Hanya berpikir, bagaimana caranya menyingkirkan wanita-wanita cantik agar tak bersaing denganku. Aku hanya takut kalah saing. Secara, aku wanita biasa aja." kata Fanya tersenyum tipis.
"Jangan takut kalah saing. Bagiku, kamu tak bisa dibandingkan dengan wanita manapun. Kecuali satu ya, Mamaku. Kamu dan Mama sangat berharga bagiku." kata Sakti.
'Aku pernah mendengar kata pepatah, bahwa seorang laki-laki yang senantiasa memuliakan ibunya, dia akan memuliakan juga istrinya. Semoga saja pepatah itu benar dan terjadi pada Mas Saktiku.' batin Fanya.
"Nah, itu dia mobil kita. Ayo, kita naik! Aku mau mengajakmu ke kantorku." ucap Sakti.
"Loh kenapa? Ini masih jam kerja, Mas. Masa aku sesuka hati pergi ke tempatmu? Aku belum izin sama Mama dan teman-temanku." keluh Fanya.
"Tidak perlu. Tadi Satya sudah ku perintahkan untuk meminta izin pada rekan kerjamu. Kalo sama Mama kan tinggal telpon aja. Kenapa dibuat susah sih kalo bisa segampang ini. Lagi pula, aku udah kangen banget sama kamu. Pingin lagi..." kata Sakti manja.
"Ikh, Mas mikir apa sih? Malu tau!" seru Fanya.
"Aku mikir apa ya? Aku cuma mikir bagaimana caranya kita agar selalu bersama. Sedikit waktu terlalu berharga bagi kita. Jadi, aku tak mau melewatkannya begitu saja. Jika ada waktu, maka akan ku gunakan sebaik-baiknya. Karena meskipun ada kesempatan kedua, tapi kesempatan pertama lebih baik dan jangan sampai terlewat." bisik Sakti.
__ADS_1
"Baiklah. Ayo kita masuk mobil. Sepertinya Satya akan bosan menunggu kita." kata Fanya.
"Biarin aja. Salah sendiri masih betah dengan status pacaran. Padahal kan menikah itu nikmatnya luar biasa. Ya kan?" tanya Sakti dengan kedipan mata.
"Ah kamu nakal. Ayo!" ajak Fanya.
Begitu Sakti dan Fanya memasuki mobil, Satya segera memutuskan panggilan telponnya.
"Telponan sama siapa? Marina?" tanya Fanya.
Satya hanya mengangguk dan bersiap menyalakan mesin mobilnya.
"Kita kemana Tuan?" tanya Satya.
"Kembali ke kantor. Bukannya nanti sore ada zoom meeting dengan Mr. Kano? Membahas kelanjutan kerja sama." jawab Sakti.
"Uhm, iya. Lebih tepatnya dua jam dari sekarang jika tak ada perubahan jadwal." ujar Satya sembari membaca jadwal di note ponselnya.
"Oke." kata Sakti.
Satya segera melajukan mobilnya menuju kantor Sakti. Selama perjalanan, ia merasakan betapa hampanya hidupnya. Menyaksikan sendiri betapa manisnya kebersamaan Sakti dan Fanya.
Beberapa kali lirikan matanya mengarah pada spion mobil. Fanya menyadari itu dan mengisyaratkan pada Sakti untuk sedikit menjaga jarak.
"Kenapa? Kita kan pasangan halal yang bisa melakukan apa saja. Kalo Satya kan statusnya masih pacaran, jadi belum bisa ngapain aja." sindir Sakti.
Satya hanya mengelus dada, mencoba untuk bersabar. Memang apa yang dikatakan Sakti ada benarnya.
"Jadi apakah ada rencana kamu dan Marina meresmikan hubungan?" tanya Fanya to the point.
"Sebenarnya ingin secepatnya, tapi terhalang dengan restu orang tuanya Marina." jawab Satya.
"Orang tua Marina menolakmu?" tanya Fanya.
"Bukan begitu. Bahkan kami belum sempat bertemu. Rencananya nanti jika mereka sudah kembali dari luar negeri, saat itulah saya akan meminta restu secara langsung." jawab Satya.
"Oh jadi begitu. Iya sih, Miss Marina pernah bilang kalo ortunya menetap di luar negeri sejak beberapa tahun silam. Makanya Marina sudah lama tak bertemu orang tuanya. Yah, semoga saja mereka segera berkunjung ke Indonesia agar kamu bisa mendapatkan restu seperti yang kamu mau." kata Fanya.
"Iya, terima kasih Non Fanya." balas Satya.
__ADS_1