Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Semoga Saja


__ADS_3

"Jaga bicaramu! Aku hanya terlalu bucin padamu. Kenikmatan dunia yang telah aku dapatkan dari wanita bernama Sonia, hanya angan-anganku saja yang membayangkan dirimu. Aku tak peduli bagaimana statusmu. Kamu adalah istri seorang pengusaha sukses. Justru aku semakin tertantang untuk mendapatkanmu." ujar Jayden tanpa dosa.


Jarak antara Jayden dan Fanya semakin dekat. Jayden mengunci tubuh Fanya yang sudah tak bisa bergerak lagi.


"Tolong menjauhlah dariku! Ku mohon..." pinta Fanya memelas.


"Jangan takut. Aku tak akan melukaimu. Aku hanya ingin kedekatan kita bisa terjalin kembali. Aku ingin seperti dulu. Bukankah dulu kita pernah akrab satu sama lain?"


"Tidak pernah. Kapan aku akrab denganmu? Kita bertemu pun juga dalam kondisi pura-pura. Aku hanya terpaksa meladenimu. Mana sudi aku dekat apalagi akrab denganmu." ujar Fanya.


Jayden mencium rambut Fanya yang tergerai. Lalu menatap mata Fanya yang tampak tak bersahabat padanya.


"Lihat apa?" tanya Fanya kesal.


"Bisakah kamu lebih ramah padaku?" kata Jayden balik tanya.


"Tidak bisa. Bahkan jika kamu gunakan pistolmu untuk menembakku, aku takkan bisa ramah lagi padamu. Sungguh, aku tak terkesan padamu." ujar Fanya tak mau menatap wajah Jayden.


Jayden memegang dagu Fanya. Mencengkeramnya kuat. Mau tak mau Fanya menatap Jayden.


"Menjauhlah dariku. Ku mohon, kita tak berjodoh. Kamu pasti akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku. Percayalah!" kata Fanya.


"Tidak semudah itu ferguso. Cintaku padamu sudah menjadi obsesi terbesarku. Mana bisa beralih begitu saja? Pokoknya hari ini kamu temani aku di sini. Kita nostalgia masa lalu kita." ucap Jayden sumringah.


Tiba-tiba ponsel Fanya berdering. Ada panggilan masuk dari Sakti. Fanya hendak menerima panggilan, tapi dicegah oleh Jayden. Sebanyak 10 panggilan terlewat begitu saja. Fanya merasa tak enak hati pada Sakti.


"Biarkan saja. Biar dia tau bagaimana rasanya diabaikan. Masih bagus dia diabaikan hanya hari ini. Bagaimana denganku yang kamu abaikan selama bertahun-tahun? Hah?" keluh Jayden.


Jayden melepaskan cengkeramannya. Fanya bernafas lega, meski merasakan nyeri bagian dagunya.


"Sakit ya? Sini ku lihat!"


"Singkirkan tangan jahanammu!" teriak Fanya.


Jayden langsung memeluk Fanya begitu saja. Fanya berusaha melepaskan diri, tapi kekuatannya masih kalah jauh dari Jayden.


"Aku mencintaimu, Fanya...." bisik Jayden lembut.


Fanya terdiam. Rasanya percuma mencoba memberontak jika bergerak saja susah. Sesak rasanya dalam pelukan pria yang menurut Fanya sudah terdeteksi sebagai psikopat.

__ADS_1


"Tetaplah seperti ini. Aroma wangi tubuhmu sangat enak. Lebih wangi dari parfum mahal. Seandainya saja aku adalah pria yang kamu cintai, maka berbahagialah aku." ucap Jayden sembari mengelus rambut Fanya.


Jayden menciumi pucuk rambut Fanya. Jangan ditanya betapa risihnya Fanya. Ia kesulitan menghindari sentuhan Jayden.


"Jika aku berhasil memilikimu, maka sudah ku pastikan kamu akan aku kurung dalam kamar. Aku akan melindungimu dari jahatnya dunia." kata Jayden.


"Jangan berandai. Aku bahkan tak berpikiran untuk pisah dari suamiku. Bagiku, suamiku adalah segalanya. Aku sudah terlanjur mencintainya." kata Fanya.


Jayden melepaskan pelukannya. Ia sedikit bergeser menjauh dari Fanya. Akhirnya Fanya bisa bernafas lega.


"Aku yakin, kamu bukan pria jahat. Pasti akan ada cinta lain untukmu. Bukan aku. Cobalah buka hati." nasehat Fanya.


Jayden terdiam. Mencerna kembali ucapan Fanya.


"Aku bukan pria yang baik. Aku sudah menodai gadis yang tak seharusnya aku sakiti, Sonia. Meski dia sedikit manja, tapi dia adalah gadis polos yang gampang tergoda karena wajah."


"Kamu harus bertanggung jawab. Aku tak bisa membayangkan bagaimana sakit hati seorang Sonia jika tau kamu lepas tangan begitu saja. Pasti dia akan hancur. Dibalik keangkuhan yang selalu ia ciptakan, aku yakin dia adalah gadis baik-baik. Buktinya, kamu bisa merasakan sendiri kan?"


"Iya aku tau. Aku sudah membuktikan bahwa dia memegang prinsip virginitas. Hanya saja, aku berhasil mengalahkannya. Oh Tuhan, kesalahanku tak bisa dimaafkan lagi." penyesalan Jayden.


"Jayden, sepertinya aku harus segera kembali. Pasti suamiku sedang uring-uringan mencariku. Aku pergi ya!" pamit Fanya.


"Baiklah. Maafkan aku. Semoga kalian berbahagia." kata Jayden bersedih.


"Sedang apa kau? Dasar ular! Tak cukup Sakti, masih saja menggoda Jayden. Rakus!" sindir Sonia.


Fanya tak bergeming. Tetap melanjutkan langkah kakinya menjauh dari Sonia. Tapi Sonia berhasil menjegal Fanya hingga tersungkur ke lantai.


"Aww... sakit...." rintih Fanya sambil memegangi bagian kakinya yang sakit.


"Pertunjukan yang bagus. Bye!" Sonia meninggalkan Fanya begitu saja.


Fanya berusaha bangkit dari jatuhnya. Ia merasakan sakit yang luar biasa.


"Fanya!" panggil Marina yang mengetahui Fanya kesulitan berdiri.


"Ayo ku bantu!" tawar Marina membantu Fanya.


"Aku mau ke kantor Mas Sakti. Kamu kesana lagi atau nggak?"

__ADS_1


"Tidak. Aku masih ada urusan di sini. Aku tak tenang selama masih ada rubah di ruangan VVIP tadi. Aku pesankan taksi ya?"


"Nggak usah. Aku sudah peaan tadi. Sebentar lagi mobilnya datang. Sepertinya kakiku bertambah sakit. Aku takut Mas Saktiku jadi khawatir denganku."


"Kamu tadi terjatuh lagi apa gimana sih?" tanya Marina sembari memapah Marina.


"Tadi dijegal sama Sonia." jawab Fanya.


"Siapa?"


"Teman kencannya Jayden. Dia ada di dalam sana."


"Mau aku hajar dia? Kebetulan emosiku sedang memuncak. Gimana?"


"Tak perlu. Biarkan saja. Percuma membalas dendam. Berarti aku sama naifnya dengan dia. Aku lebih baik menjauh dari orang seperti itu." kata Fanya.


"Itu taksimu sudah sampai. Ayo aku antarkan ke sana!" ajak Marina.


Fanya sudah memasuki taksi yang dipesannya. Sepanjang perjalanan ia hanya diam. Memikirkan bagaimana ia bisa terlepas dari Jayden. Memikirkan bagaimana caranya bisa merajut rumah tangga yang berbahagia bersama suami tercinta.


Butuh waktu setengah jam untuk sampai di kantor Sakti.


"Akhirnya kamu kembali, Sayang. Ayo ku bantu." kata Sakti menyambut iatrinya.


"Iya Mas. Maaf ya, aku kelamaan keluarnya. Tadi maen ke cafe Monix. Aku maksa untuk ikut Marina. Padahal dia sudah menolakku. Maaf ya!"


"Iya. Tapi, ada yang aneh. Aku melihat kakimu sedikit membengkak dari sebelumnya. Apa karena aku salah pijat apa bagaimana?"


Sakti nampak kebingungan. Fanya tak mau bercerita tentang tragedi dijegal oleh Sonia. Dia takut amarah Sakti akan memuncak saat tau apa yang terjadi.


"Tidak apa-apa. Namanya pemulihan biasanya seperti itu. Aku baik-baik aja kok." ujar Fanya.


"Aku akan ambilkan batu es untuk mengkompres kakimu. Tunggu ya!"


Sakti mengambil batu es di kulkas yang berada di pojok ruangan. Memasukkan batu es ke dalam plastik tebal.


"Harus dikompres ya?" tanya Fanya.


Tak ada jawaban dari Sakti. Ia fokus memangku kaki Fanya. Lalu menempelkan kumpulan batu es di atas kaki Fanya yang sudah bengkak.

__ADS_1


"Terima kasih." kata Fanya seraya memeluk Sakti.


"Sama-sama. Semoga kakimu lekas membaik. Aku tak tega melihatmu kesakitan begini. Pria mana yang tega melihat wanita kesayangannya menderita." ujar Sakti.


__ADS_2