Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Melepas Kebersamaan


__ADS_3

Sudah seminggu Sakti dan Fanya menyandang status sebagai suami istri. Banyak hal manis yang mereka lalui, meskipun belum sempat menghabiskan bulan madu secara privasi. Tentunya sudah hampir sebulan keluarga Fanya berada di sana, tepatnya di apartemen Sakti. Sudah waktunya mereka berpamitan pulang kembali ke kampung halaman.


Fanya dan Sakti pun, turut mengantar keluarga Fanya sampai di bandara. Fanya tak henti-hentinya menangisi kepulangan keluarganya. Ia sebenarnya juga ingin ikut pulang, tapi keadaan tak memungkinkan. Prioritasnya sekarang adalah ikut Sakti sebagai suaminya. Jika meminta izin Sakti, maka sudah pasti akan diizinkan. Tapi Fanya tau persis bahwa Sakti tak bisa ditinggalkan walau sehari saja. Sakti bak perangko yang selalu menempel ke Fanya.


"Hati-hati ya Pak, Bu. Fanya sayang kalian. Maaf, Fanya belum bisa turut pulang bersama kalian." kata Fanya sesenggukan.


"Iya Nak. Kami paham kondisimu. Tidak masalah. Selalu berkabar ya. Bapak dan Ibu senantiasa mendoakan kebahagiaanmu." ujar Bu Anya sembari memeluk putrinya, Fanya.


"Benar. Kami tak akan putus mendoakan kebahagiaanmu. Pokoknya kalo kami kangen, kami akan usahakan datang ke sini lagi ya. Dan untukmu Nak Sakti, jaga Fanya baik-baik. Kami titipkan Fanya padamu." pesan Pak Fahmi.


"Baik Pak. Saya akan selalu menjaga dan menyayangi Fanya." balas Sakti.


"Mas, sampai jumpa. Sering-sering telpon Fanya yah. Trus selalu sayangi Mba Lastri dan Rian. Kalo ada kesempatan, maen ke sini lagi yah." kata Fanya pada Fandi.


"Iya Dik. Mas akan sering telpon kamu." kata Fandi seraya memeluk adik semata wayangnya.


"Fanya, semoga kamu selalu bahagia yah. Aku doakan kamu segera punya momongan sama Sakti. Biar Rian nanti ada temen maennya." ujar Lastri menimpali.


Dan perpisahan pun terjadi, Fanya harus melepas kebersamaan dengan keluarganya.


"Mas, aku sedih..." keluh Fanya begitu tinggal mereka berdua.


"Iya Sayang. Aku juga sedih melepas kepergian keluargamu. Mereka juga sudah jadi bagian keluargaku. Mas janji, suatu hari nanti, kita akan pergi menemui mereka. Tapi tidak sekarang ya." kata Sakti.


"Iya Mas. Janji ya!" seru Fanya.


"Iya Sayang. Ayo kita pulang!" ajak Sakti.

__ADS_1


Mereka pun meninggalkan bandara. Tapi saat akan memasuki mobil, tiba-tiba seseorang memanggil Fanya.


"Siapa?" tanya Sakti pada Fanya.


Fanya tak menjawab. Ia begitu takut dengan seseorang yang memanggilnya itu. Terlebih orang itu sudah mendekatinya dan Sakti. Fanya berusaha membuang muka, tapi sia-sia saja.


"Fanya apa kabar? Nggak nyangka kita bisa bertemu di sini." kata pria itu.


"Baik. Tapi aku harus segera pergi. Sampai jumpa!" kata Fanya hendak memasuki mobil.


"Tunggu dulu. Kamu nggak lupa sama aku kan?" tanya pria itu.


"Maaf, kamu siapa? Ada hubungan apa dengan istriku?" tanya Sakti menengahi.


"Oh sekarang kamu sudah bersuami. Selamat ya. Perkenalkan, aku Jayden. Teman masa kecil Fanya. Dulu, kami sempat dijodohkan keluarga kami. Tapi karena belum berjodoh saja, akhirnya Fanya berjodoh denganmu." jawab Jayden sengaja mengungkit masa lalu.


"Baiklah. Aku juga sudah ikhlas dengan kejadian itu. Yasudah, sampai jumpa!" seru Jayden yang langsung pergi meninggalkan Fanya dan Sakti.


Sakti pun meminta Fanya segera masuk ke mobil. Fanya pun diam seribu bahasa selama perjalanan pulang. Sakti menyadari istrinya punya masa lalu dengan pria bernama Jayden. Tapi enggan untuk menanyakannya. Ia menghargai privasi masa lalu istrinya.


"Kamu mau makan dimana?" tanya Sakti membuka percakapan.


"Aku belum laper Mas. Tapi bisakah Mas menepikan mobilnya dulu. Aku mau cerita ke Mas." ujar Fanya dengan raut muka sedih.


Sakti menepikan mobilnya ke bahu jalan. Ia menunggu Fanya membuka percakapan.


"Mas, sebelumnya aku minta maaf jika aku harus menutupi masa laluku darimu. Masa lalu yang ingin aku tutup rapat-rapat tanpa ingin aku kenang lagi. Dengan kejadian tadi, rasanya aku sangat bersalah jika tak jujur padamu. Oke, aku akan jujur sekarang. Sebenarnya, aku dan pria bernama Jayden tadi, sempat dijodohkan oleh orang tua kami. Aku tak tau kapan pastinya mereka menjodohkanku dengannya. Yang pasti, sejak lulus SMA, keluarganya datang untuk melamarku. Itu saat aku bertemu dengannya untuk pertama kalinya. Katanya, dia sudah sering mengamatiku tanpa sepengetahuanku. Entahlah. Aku tak terlalu peduli jika ia benar sudah mengamatiku atau tidak. Aku bingung waktu itu. Tak mengiyakan ataupun menolaknya. Aku hanya bilang, jika kami berjodoh maka kami akan bersatu." kata Fanya memulai cerita.

__ADS_1


Sakti menahan kesal, tapi mencoba tetap bersabar. Ia ingin istrinya menuntaskan ceritanya terlebih dahulu, baru berkomentar.


"Lepas acara lamaran itu, aku semakin waspada jika keluar rumah. Aku takut kalau tak sengaja bertemu pria itu. Menurut orang di sekitarku, aku beruntung dilamar pria kaya seperti dia. Dia dari keluarga terpandang. Bahkan dia populer di kalangan anak muda. Status sosialnya juga lumayan. Tapi namanya hati, siapa yang tau. Aku justru tak terpengaruh oleh itu semua. Menurutku, standar wanita yang diinginkannya mungkin bukan aku. Dan aku, mungkin bukan wanita yang tepat untuknya. Ada penghalang besar yang membatasi status kami." Fanya menghela nafas panjang.


"Lalu?" tanya Sakti.


"Setiap dia ke rumah, aku berusaha untuk tak menemuinya. Jika pun harus bertemu, aku selalu beralibi ada urusan di luar atau sedang tak enak badan. Jadi aku hanya menemuinya sebentar saja. Selalu begitu. Aku pikir, dia akan segera menyerah atas sikap acuhku. Nyatanya, ia semakin gencar mendekatiku. Seperti halnya Mas Sakti mencoba menggodaku dengan segala cara." jawab Fanya.


"Apa aku seburuk itu di matamu?" tanya Sakti, tak terima dengan pernyataan Fanya.


Sakti memukul setir mobil dengan tangannya. Kesal.


"Enggak. Mas Sakti masih dalam taraf wajar dan normal. Apa yang Mas Sakti lakukan, tak ada yang buruk dan salah di mataku. Semua mengalir seperti air. Aku pun terpengaruh oleh arus deras yang Mas alirkan. Sungguh, aku tergoda dengan segala cara yang Mas lakukan. Uhm, Mas pernah terpikir satu hal tidak, kenapa aku tidak mau pulang ke kampung halamanku sebelum aku bertemu dengan Mas? Bahkan pernikahan kakak kandungku satu-satunya pun, aku tak datang. Mas tau nggak alasanku apa?" tanya Fanya.


Sakti pun menggelengkan kepalanya.


"Karena aku takut pulang, Mas. Aku takut kejadian beberapa tahun silam. Dimana aku pernah diculik oleh pria itu." ucap Fanya gemeteran.


"Maksudmu Jayden itu? Berani sekali dia! Aku akan menghajarnya jika bertemu dengannya lagi!" seru Sakti dengan penuh amarah.


"Iya Mas. Dia menculikku agar aku menyetujui untuk menikah dengannya. Aku terus dipaksa, hingga aku terpaksa mengiyakannya. Dengan begitu, aku bisa lolos darinya. Saat aku diantarkan pulang olehnya, aku menceritakan kejadian penculikan uang dilakukan oleh Jayden. Alhasil, kakakku yang sebelumnya ku anggap sebagai orang tercuek di dunia, tak terima dan melaporkan Jayden kepada pihak yang berwajib. Polisi. Meski keluargaku membawa bukti kuat, nyatanya Jayden bisa bebas dengan mudahnya. Disitulah peran uang dan kekuasaan." Fanya meremas tangannya.


"Lalu bagaimana caramu bisa lepas darinya?" tanya Sakti.


"Aku melarikan diri Mas. Aku jauh-jauh dari kampung halamanku ke tempat seramai ini. Bukan bermaksud mengadu nasib, melainkan untuk membebaskan diri dari pria itu." jawab Fanya.


"Jadi sejak itu kalian sudah tak bertemu lagi? Lalu di bandara tadi kalian bertemu pertama kalinya untuk sekian lama?" tanya Sakti yang hanya diangguki oleh Fanya.

__ADS_1


__ADS_2