Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Tanktop dan Rok Mini


__ADS_3

Clara. Salah satu sahabat Fanya yang sudah lama tak berkabar, akhirnya menghubungi Fanya. Mengajak ketemuan di sebuah tempat karaoke.


"Wah, keren! Akhirnya jadi juga sama Reno. Kapan nih diresmiinnya?" tanya Fanya setelah adegan cipika cipiki.


"Dua minggu lagi. Persiapan masih 75%. Doain aja yang terbaik." jawab Clara.


Clara mengambil gelas berisi jus jeruk kesukaannya. Meneguknya hingga tersisa setengah gelas. Lalu mencomot potongan buah semangka segar.


"Aku pasti mendoakan yang terbaik untukmu. Semoga kamu dan Reno selalu bahagia. Dia tau kamu maen ke sini?" tanya Fanya.


"Tidak. Aku hanya bilang, aku mau jalan sama kamu. Buat apa bilang aku mau kemana? Bukan kewajibanku kan? Kan belum sah jadi istri." jawab Clara.


Fanya menikmati potongan buah segar yang tersaji. Sesekali mengamati gaya pakaian Clara yang terlalu seksi. Clara yang diamati, merasa risih sendiri.


"Kenapa melihatku begitu?" tanya Clara.


"Gapapa. Hanya mikir kalo pakaianmu terlalu seksi. Udah itu aja." jawab Fanya.


"Ini gaya pakaian yang aku suka belakangan ini. Bodo amat dengan opini publik dan masyarakat sekitar, aku suka dengan gayaku sendiri. Kan hak azasi setiap manusia mau gimana asalkan tidak merugikan orang lain." ujar Clara penuh percaya diri.


"Pasti begini deh jawabnya. Yaudah mulai nyanyi aja gih. Aku mau jadi pendengar aja. Kondisi tenggorokanku lagi nggak bagus. Sepertinya radang. Kamu aja yah yang nyanyi!" pinta Fanya.


"Iya." ujar Clara.


Tak menunggu waktu lama, Clara memilih lagu untuk dinyanyikan. Ada banyak lagi sedih yang ia pilih. Ia menyanyi dengan penuh penghayatan.


Sebagai pendengar yang baik, Fanya ikut menikmati suara merdu Clara. Ia tak menyangka, sahabatnya memilih lagu yang sedih, padahal seharusnya lagu bahagia. Mengingat hari bahagia dalam waktu dekat.


Dua jam lebih, Fanya menemani Clara yang menumpahkan perasaannya dengan bernyanyi. Puas rasanya menghabiskan waktu meski hanya berpartisipasi sebagai pendengar setia. Clara pun demikian, hatinya cukup lega setelah bernyanyi.


"Sudah ya? Kita pulang apa gimana?" tanya Fanya.


"Aku masih belum ingin pulang. Bagaimana jika kita clubbing? Seru deh pasti!" ajak Clara.


"Ah tidak!" tolak Fanya.

__ADS_1


"Kenapa? Ayolah, Fanya! Sesekali kan gapapa. Kita kesana buat have fun aja. Bukan buat mabuk-mabukan kan? Mau ya? Ini permintaan terakhirku sebagai calon mempelai wanita. Bagaimana?" pinta Clara memohon.


"Aku nggak tau kondisi di dalam diskotik itu kayak gimana. Kecuali kalo suamiku yang ngajak kesana langsung, aku ikut deh. Ini kan kita wanita-wanita awam ya, nggak bisa bela diri juga. Siapa yang akan melindungi kita nanti? Oke, kita nggak bakal mabuk. Tapi kan kamu tau sendiri, di sana banyak orang gila atau berlagak gila. Nggak jaminan kita bakal aman di sana." ujar Fanya menolak.


"Yah, Fanya nggak asik!" keluh Clara.


Tiba-tiba seseorang tak dikenal mengguyur Fanya dengan minuman beralkohol.


"Yaaa....!!!" pekik Fanya kesal.


"Maaf yah. Istriku lagi mabuk. Tadi dia kebanyakan minum di dalam. Lihat saja, dia meracau tak jelas. Tolong maafkan dia!"


"Hey, bisa-bisanya Anda meminta maaf untuk orang yang hampir gila itu. Tolong ajari istri Anda dengan berperilaku baik. Mabuk boleh tapi bodoh jangan! Kalo udah tau mabuk, kenapa nggak diamanin aja tuh gelasnya. Nyari perkara aja. Tuh liat, baju temen saya jadi basah kuyup gitu. Mana bau alkohol lagi. Wajar nggak kalo temen saya marah?" seru Clara marah.


"Maaf Mbak. Saya akan bereskan masalah ini. Saya siap ganti rugi secara materi jika diperlukan. Mau dibayar berapa?" ujar pria bertubuh gendut yang mengaku sebagai suami dari wanita yang sedang mabuk.


Clara mendekati wanita yang tengah mabuk. Ia mengendus aroma alkohol yang pekat. Si wanita mabuk yang setengah sadar, terus meracau tak jelas. Sesekali tertawa, lalu sedih secara tiba-tiba.


"Benar ini istrimu? Kok kayaknya nggak mungkin ya? Masa iya, suaminya sendiri ngijinin istrinya mabuk di tempat seperti ini. Trus si wanita kayaknya nggak nyaman deh dipeluk sama kamu. Apa ini semacam selingkuhan ya?" tanya Clara pelan dengan nada menyindir.


"Mau istri atau selingkuhan, apa bedanya? Toh, dia sudah aku beri uang yang berlimpah. Bebas dong untukku mengambil keuntungan dari dia. Kan aku berhak!" ujar pria itu.


Clara mengikuti Fanya yang bergegas menuju toilet. Sesampai di toilet, Fanya membersihkan bajunya yang terkena siraman minuman alkohol.


"Yah, mau dibersihin kayak gimana, tetep aja nggak bakal bersih kalo belum dicuci. Mana baunya nyengat banget. Fiks, aku harus ganti baju!" seru Fanya.


"Aku bawa baju ganti. Pakai punyaku aja yah!" tawar Clara.


Fanya hanya mengangguk. Lalu Clara mengeluarkan tanktop berikut rok mini dari dalam tas jinjingnya.


"Hah? Nggak salah?" Fanya bengong sekaligus tak percaya.


"Hanya ada ini. Pakai aja. Daripada pakai baju basah trus bau alkohol. Kan makin runyam masalahnya." kata Clara.


Dengan raut muka terpaksa, Fanya meraih tanktop dan rok mini itu. Ia segera masuk ke bilik toilet untuk ganti baju.

__ADS_1


"Ini nggak pantes untuk dikenakan. Bukan gayaku banget!" keluh Fanya cemberut.


"Tenang aja. Pantes kok! Kamu jadi kelihatan makin seksi tau nggak." ucap Clara dengan senyum merekah.


Clara menarik lengan Fanya. Fanya hanya menurut saja. Saat keluar dari toilet, mereka melewati koridor sempit di antara ruang karaoke. Beberapa pasang mata terutama pria, fokus ke arah Fanya. Membuat Fanya risih dan nggak nyaman.


"Aku pulang aja deh ya. Nggak nyaman dengan kostum begini. Aku telpon Mas Sakti aja deh buat jemput aku sekalian anterin kamu." ujar Fanya yang kembali masuk ke ruang karaoke.


"Yaudah. Kamu tunggu di sini dulu. Aku mau pesan makanan lagi. Aku ke resepsionis dulu ya. Jangan kemana-mana!" kata Clara.


"Iya." kata Fanya.


Fanya mencoba menghubungi Sakti untuk menjemputnya. Sakti yang kebetulan sedang rapat tak jauh dari lokasi Fanya, segera menuju ke tempat Fanya. Hanya butuh waktu kurang dari setengah jam, Sakti sudah berada di lokasi.


"Fanya!" panggil Sakti dengan nada kecewa.


Bagaimana tidak, ia melihat istrinya dengan pakaian kurang bahan dan dikelilingi beberapa pria asing bermuka mesum.


"Ayo pulang!" tarik Sakti dengan mencengkeram pergelangan tangan Fanya.


"Iya, tapi jangan terlalu erat. Tanganku sakit!" keluh Fanya meringis kesakitan.


"Bung, biarkan dia di sini. Menemani kami bersenang-senang. Kami akan membayar dengan harga yang pantas. Percayalah!" seru pria berbaju kemeja bahan flanel.


"Dia cantik. Sesuai seleara kita. Tubuhnya juga bagus. Cocok buat jadi cocolan menghabiskan sisa malam kami." ujar pria berkumis tebal.


'Ah, sialan!' batin Sakti yang emosinya kian mendidih.


"Bugh, bugh, bugh!!!" Sakti menghujamkan tinjunya kepada ketiga pria yang ada di sana.


"Mas...." lirih Fanya ketakutan.


Fanya baru melihat betapa marahnya Sakti. Terlebih mata Sakti yang sudah memerah diliputi api kemarahan yang tak sedikit.


"Jaga mulut kalian! Aku tak segan menghabisi kalian!" seru Sakti mengancam ketiga pria itu.

__ADS_1


Lalu Sakti kembali menarik tangan Fanya. Membawa Fanya masuk ke dalam mobil. Fanya hanya mengikuti Sakti dengan air mata yang sudah bercucuran.


Sebenarnya masih ada Clara di sana. Tapi saat mau masuk dan melihat Sakti menghajar ketiga pria tadi, ia buru-buru mencari tempat aman untuk menyembunyikan diri. Ia takut jadi sasaran Sakti selanjutnya.


__ADS_2