Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Perdebatan Kecil


__ADS_3

Fanya berjalan cepat menuju parkir mobil. Meski sebelumnya Sakti membelanya, tapi Fanya masih takut. Ia takut jika nantinya Sakti akan membencinya.


"Tunggu Fanya!" teriak Sakti.


Fanya berpura-pura tak mendengar teriakan Sakti. Ia terus berjalan ke depan hingga hampir sampai pada mobil Sakti yang terparkir.


"Ada apa sebenarnya? Aku tak mempermasalahkan masa lalumu. Toh bukan aib yang harus kamu tutupi. Aku sangat paham bagaimana perasaanmu. Kamu tak perlu menyembunyikannya lagi dariku. Aku tak akan menghakimimu. Kebetulan aku tau kejadian aslinya. Sudah ya, jangan bersedih! Aku akan tetap membela dan memperjuangkanmu sampai titik darah penghabisan." ujar Sakti.


"Mas, maafkan aku. Aku belum cerita soal itu padamu. Aku malu jika kejadian memalukan itu diperdengarkan pada orang lain." kata Fanya.


"Sudahlah. Semua sudah terjadi. Tapi dengan kejadian barusan, si Tua itu takkan mengganggumu lagi." ucap Sakti.


"Iya Mas."


"Ayo kita masuk ke mobil. Kita harus segera pulang. Pastinya kamu butuh istirahat dan menenangkan pikiran." ajak Sakti.


"Iya Mas. Aku lelah berdebat dengan orang tadi. Seberapapun aku menolaknya, dia terus berusaha mendekat. Padahal aku sudah menunjukkan ketidaksukaanku padanya."


Fanya dan Sakti sudah masuk ke mobil.


"Tapi kenapa kamu sampai merahasiakan bahwa kamu sudah mengincarku sejak itu?" tanya Fanya.


"Aku belum punya alasan yang tepat untuk mendekatimu. Kamu tahu kan, aku pria kaku." jawab Sakti.


"Hanya itu?"

__ADS_1


"Uhm, aku menduga kamu masih berstatus pacar orang. Mana mungkin tiba-tiba aku menyela untuk menyatakan cinta?"


"Tapi Mas Sakti bisa memberitahuku setelah kita dekat atau saat kita berpacaran. Bisa kan? Aku kira pertemuan pertama kita di Cafe Monix. Ternyata bukan. Aku sedikit kecewa denganmu, Mas. Kamu tega membohongiku sekian lama. Hah, apa alasanmu demi menjaga hati? Apa sebelum kenal denganku, sikapmu juga begini dengan perempuan lain?"


"Cukup! Aku tak pernah sedekat itu dengan wanita lain. Hanya kamu saja yang ku perhitungkan sebagai pacar, teman dekat, bahkan ku jadikan istri. Aku tak punya pengalaman seintim itu dengan wanita lain selain dirimu." kata Sakti.


"Tapi aku tetap kesal. Aku yang sepertinya terbuka masa lalunya. Tapi kamu lebih tau segalanya. Aku kesal, Mas!" seru Fanya.


"Aku diam bukan berarti aku tak peduli. Sungguh, aku sangat peduli denganmu. Tapi kamu tak tahu kan? Kamu hanya menganggapku seperti pria bodoh yang membiarkan wanitanya berdebat dengan pria lain?"


"Iya. Kamu membelaku di detik-detik terakhir. Sedikit terlambat."


"Biar terlambat tapi tepat sasaran. Bukan begitu?"


"Hah, ayo kita pulang! Aku semakin kesal berdebat denganmu." ujar Fanya.


Selama perjalanan pulang, Fanya diam seribu bahasa. Berkali-kali Sakti mengajaknya mengobrol, tak ada sahutan dari Fanya. Sakti bahkan menduga jika Fanya sudah tertidur. Padahal Fanya masih sadar.


"Andai dia tau, bahwa aku ingin sekali menghajar pria yang berani menyebut nama indahmu. Andai dia tau, ingin sekali aku membunuhnya saat pria itu menjatuhkanmu. Ingin sekali aku melenyapkannya tanpa ampun. Aku diam bukan berarti aku mengalah. Aku hanya meredam hawa nafsuku untuk menghajarnya tanpa ampun. Andai dia tau semua itu. Dia pasti takkan mengajakku berdebat begini." ujar Sakti.


Fanya mendengar semuanya. Ia mencoba mencerna kembali kata-kata Sakti. Kata 'membunuh' sangat menakutkan baginya. Ia jadi bertanya-tanya, benarkah Sakti yang dikenalkan sebrutal itu?


"Dia pasti sangat lelah hingga tidur begitu saja. Bahkan rambut panjangnya masih tergerai menutupi matanya. Aku akan membenarkannya. Lebih baik aku menepikan mobil dulu."


Sakti menepikan mobilnya di bahu jalan. Lalu ia mendekati Fanya. Betapa kagetnya Sakti saat mendapati Fanya yang menatapnya dengan sadar.

__ADS_1


"Jadi kamu tak tidur?" tanya Sakti.


"Tidak. Bahkan aku bisa mendengar semua perkataanmu. Bagian 'membunuh' adalah yang paling ku dengar dan ku ingat." jawab Fanya.


"Yah, setiap manusia saat dilanda kekesalan yang luar biasa, pastinya punya keinginan terpendam untuk membunuh seseorang yang membuatnya kesal. Termasuk aku. Aku bukan pria yang hanya mementingkan citra baik di depanmu. Aku juga pria yang akan membelamu sampai titik penghabisan jika orang lain meremehkanmu ataupun menyakitimu." ujar Sakti.


"Kamu benar, Mas. Aku juga pernah punya keinginan membunuh seseorang saat kegalauanku sudah maksimal. Sekarang aku mengerti maksudmu. Ayo kita segera pulang. Aku ingin segera tidur dan melepas segala penatku." kata Fanya.


"Baiklah. Tapi kamu tak marah padaku kan? Kamu memaafkanku kan?" tanya Sakti.


"Tidak. Apa salahmu, Mas? Aku bahkan berterima kasih padamu. Aku tadi mendiamkanmu bukan semata-mata kesal padamu. Tapi aku hanya mencoba meredam emosi sesaatku. Kamu taulah Mas bagaimana aku. Aku sangat menyanyangi dan mencintaimu. Bagaimana bisa aku berlama-lama kesal denganmu? Aku hanya kesal karena aku tak tau apa-apa dibandingkan dirimu." jawab Fanya.


"Begitu ya? Syukurlah. Aku sudah berprasangka tadi. Baiklah, kita pulang sekarang!" kata Sakti.


Mereka pulang ke apartemen. Fanya merasa lega akhirnya sudah berada di kawasan nyaman. Ia tak henti-hentinya berucap syukur dalam hatinya. Begitu dengan Sakti, ia merasa lega akhirnya bisa membawa Fanya pulang setelah melewati perdebatan kecil dengan seseorang.


"Aku lelah, Mas. Badanku sepertinya sakit semua. Aku nggak yakin malam ini bisa melayanimu atau tidak." ujar Fanya.


"Nggak perlu mikirin itu dulu. Bersihkan dulu badanmu, lalu istirahatlah dengan nyaman. Aku tak harus dilayani malam ini. Kamu perlu istirahat sekarang." kata Sakti.


"Terima kasih ya!" seru Fanya berbinar dan segera menuju kamar mandi.


Sakti meraih ponselnya yang sebelumnya ia simpan di jas hitamnya. Ia menghubungi salah satu bodyguard kepercayaannya. Lalu ia berjalan ke arah balkon setelah panggilannya tersambung.


"Aku punya tugas penting untukmu. Kamu selidiki seseorang bernama Ammar Haris. Aku akan kirimkan fotonya setelah ini. Selidiki apa motifnya mengungkit kembali masa lalu istriku. Dan tentunya, pastikan dia tak berani lagi mengganggu istriku. Cari tau juga, kelemahannya dari segi bisis yang ia jalankan. Itu saja!" kata Sakti.

__ADS_1


Sakti menutup panggilannya. Ia menaruh ponselnya di meja. Ia menatap langit yang mulai menurunkan hujannya. Ia tak bisa melihat apa-apa selain gelap.


__ADS_2