
Fanya menyiapkan bekal suaminya. Bayangan Sakti memakannya dengan lahap, membuatnya bahagia.
"Sayang, apa bekalku hari ini?" tanya Sakti.
"Aku sudah menyiapkan bekal yang enak untukmu. Liat saja nanti pas makan siang. Oh iya, aku mau ke klinik kecantikan hari ini. Soalnya udah janjian sama dokternya. Jadi, nggak bisa ikut Mas Sakti ke kantor."
"Iya deh iya. Bebas deh untuk istriku yang mau perawatan lebih cantik."
"Mas, sarapan dulu yuk!" ajak Fanya.
Mereka sarapan dengan roti bakar isi selai cokelat dan segelas susu.
"Nanti jika kamu sudah selesai, mainlah ke kantor. Aku udah kebiasaan ditemani sama kamu soalnya." ujar Sakti.
"Iya Mas. Tapi nggak janji juga yah. Kadang-kadang sih kalo ketemu temen yang sefrekuensi, bisa jadi lanjut hangout. Gapapa kan?"
"Iya terserah kamu saja gimana baiknya. Mama juga katanya kangen sama kamu. Udah lama juga kan yah kita nggak nyambangin mama."
"Sudah lama sih. Libur akhir pekan saja kita ke rumah mama. Kita nginep di rumah mama. Bagaimana?"
"Boleh deh. Aku juga sempet kepikiran begitu." kata Sakti.
Seusai sarapan, mereka langsung pergi ke tujuan yang berbeda. Sakti menuju ke kantornya. Sementara Fanya menuju ke salah satu klinik kecantikan.
Sesampai di klinik, Fanya segera menuju bagian administrasi untuk melakukan pendaftaran.
"Selamat pagi, Bu Fanya. Apa kabar?" sapa ramah resepsionis bernama Tiara.
"Pagi juga Mbak Tiara. Kabar baik Mbak. Oh iya, Dokter Herlin apakah sudah sampai?"
"Uhm sudah. Barusan banget. Malah aku mikir Bu Fanya dan Dokter Herlin janjian berangkatnya. Satu mobil gitu."
"Ah enggak. Aku naik taksi."
"Bu Fanya harap menunggu dulu ya. Silakan sarapan dulu. Kami juga menyediakan camilan dan coffee break yang enak." kata Tiara.
"Oke Tiara, terima kasih."
Butuh waktu sekitar satu jam bagi Fanya untuk menunggu. Selama waktu itu, Fanya benar-benar dibuat bosan dan bingung mau ngapain. Karena jenuh, ia pun menuju area makan. Banyak camilan yang ia makan.
"Apa tak masalah aku makan sebanyak ini? Tapi kalo nggak makan, aku ngapain lagi?" tanya Fanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Bu Fanya silakan dinikmati hidangan kami. Kami jamin makanan yang kami sajikan adalah makanan sehat dengan nutrisi yang terjamin. Jangan takut gemuk yah." kata Bulan, ahli nutrisi.
"Eh iya Mbak Bulan. Makanannya enak-enak kok. Aku suka. Bahkan jika boleh, boleh nggak dibungkus buat nanti?"
"Boleh-boleh saja Bu Fanya. Memang kami menyediakan makanan ini untuk tamu VVIP seperti Bu Fanya. Bebas jika Bu Fanya mau membawanya pulang."
"Makasih ya."
Perawatan akhirnya telah selesai. Fanya tak langsung pulang. Ia kembali ke area makan. Bukan mau makan lagi. Kali ini ia membungkus makanan untuk dibawa pulang.
"Permisi, apakah aku boleh melihat sebentar gelang Anda?" tanya seorang wanita.
"Oh iya." jawab Fanya.
Wanita itu tampak antusias melihat gelang yang Fanya pakai.
"Apakah cantik gelangnya?" tanya Fanya.
"Bukan hanya cantik, tapi aku sepertinya pernah kenal dengan desain cantik ini. Rasanya familiar."
"Desainnya dibuat sendiri oleh suamiku. Cantik bukan?"
"Sangat cantik. Secantik pemakainya juga. Oh iya, namaku Bella. Kamu siapa?"
"Namaku Fanya. Tapi begitu mendengar namamu dan setelah melihat wajahmu yang sangat cantik, aku berpikir bahwa kamu adalah teman suamiku." kata Fanya.
"Begitu ya? Aku tak yakin akan hal itu. Tapi siapa nama suamimu?" tanya Bella penasaran.
"Eh kita duduk di sofa sana yuk! Pegel juga ngobrol sambil berdiri!" ajak Fanya.
Fanya dan Bella duduk di sofa. Fanya merapikan bungkusan cemilannya dan memasukkannya ke dalam tasnya.
"Nama suamiku Sakti Dirgantara." ujar Fanya.
"Sakti? Sakti yang itu? Apakah aku boleh liat fotonya? Jangan-jangan memang dia temenku."
Fanya menunjukkan foto Sakti dan dirinya saat menikah. Sengaja agar Bella tau status mereka meski sebelumnya berkali-kali Fanya sudah menyebut Sakti sebagai suami.
"Ya benar. Dia memang Sakti yang itu. Nggak nyangka akhirnya aku bisa bertemu istrinya yang sangat cantik. Ternyata memang benar kata dunia. Di balik pria yang tak merespon wanita manapun, pasti ia sudah mengincar seorang dewi untuk dijadikan istri." ujar Bella seraya tersenyum.
"Apakah kalian dulu punya hubungan di masa lalu?" tanya Fanya.
__ADS_1
"Ah tidak sedekat itu hubungan kami. Aku dan dia hanya teman biasa. Dia sahabatan dengan pacarku yang sudah meninggal."
"Aku pernah mendengar cerita itu. Turut berduka cita ya!"
"Iya, terima kasih. Lagipula, itu sudah lama berlalu. Hidup kan terus berjalan tanpa henti. Makanya, aku tak terlalu memikirkannya. Cukup ku jadikan kenangan manis."
"Bella, apa kamu ada rasa dengan suamiku? Maksudku dulu." tanya Fanya frontal, terang-terangan.
"Pertanyaanmu dalam sekali. Tapi jujur iya. Sebelum jadian sama Kristian, aku memang sempat suka dengan Sakti. Bukan hanya aku saja yang suka. Banyak kok wanita yang mengidolakannya. Bagi kami, dia bintang. Wajah yang tampan, ditambah kemampuan olahraga yang di atas rata-rata. Siapa sih yang nggak suka? Hanya sebatas itu. Aku lebih mementingkan bagaimana kemajuan sekolah kami." cerita Bella.
"Sakti juga bercerita hal yang sama. Ternyata dia mengatakan yang sebenarnya." lirih Fanya.
"Apa kamu berpikir cemburu sebelum bertemu denganku?" tanya Bella.
"Ku rasa begitu." jawab Fanya.
"Tapi setelah tau aku, aku yakin kamu tak berpikir seperti itu lagi. Aku juga sudah berstatus istri. Suamiku juga tak kalah tampan dengan Saktimu itu. Percayalah!"
"Iya aku percaya. Aku tak terlalu gentar jika ada wanita cantik yang mendekati suamiku. Dia selalu kukuh dengan pendiriannya. Tipe pria setia. Meski kadang aku khawatir juga sih."
"Apa kita bisa makan bareng? Maksudku kita dan suami kita. Berempat. Pasti seru."
"Boleh jika mereka tak sibuk."
"Oh iya, setelah ini kamu mau kemana?" tanya Bella.
"Aku mau ke kantor suamiku. Tapi pingin belanja di mall sih." jawab Fanya.
"Yaudah, bagaimana kalo kita ngemall dulu? Aku juga ada yang pingin dibeli. Mau beli make up, tas baru, dan baju baru."
"Kamu tak ada kerjaan?" tanya Fanya.
"Kerjaanku cuma ngabisin duit suami." jawab Bella terkekeh.
"Kita sama." ujar Fanya sembari tersenyum.
"Ayo, mau nunggu apa lagi? Kita berangkat yuk! Naik mobilku aja yah?" ajak Bella riang.
"Kebetulan aku nggak bawa mobil hari ini. Oke deh, ayo!" seru Fanya.
Mereka beriringan ke luar klinik dengan canda tawa. Tiara, sang resepsionis tampak bingung dengan kedekatan mereka. Tiara terus memandangi keduanya sampai hilang tak terlihat olehnya.
__ADS_1
"Kok bisa mereka sedekat itu? Padahal kayaknya baru pertama bertemu. Ah sudahlah, aku mikir apa sih." kata Tiara.