
Pagi kembali datang. Matahari sudah menunjukkan jati dirinya melalui sinarnya yang cerah berkilau. Burung-burung pun mulai bersautan menyibukkan diri.
Apa yang dilakukan Fanya? Tentu saja ia masih terkulai lemas di tempat tidurnya. Samar-samar ia melihat perbedaan antara kamar kostan dengan kamar yang ditempatinya sekarang.
"Dimana ini? Ini bukan kamarku. Kamar ini lebih luas dan berkelas. Wangi aroma kamarnya juga menambah semangat. Ini dimana? Oh ya ampun!" Fanya menemukan bingkai yang menunjukkan foto close up Sakti.
"Jadi ini di kamar Mas Sakti? Kok aku bisa di sini? Seingatku yah, aku lagi rebahan di bangku kayu panjang itu kan yah. Berbantalkan handuk kalo nggak salah. Kok bisa berpindah tempat ke sini? Apa ini masih mimpi? Ah, ini nggak benar! Aku harus kembali ke dunia nyata." seru Fanya.
Fanya mulai merebahkan tubuhnya lagi. Bersiap kembali menyelami dunia mimpi agar bisa kembali ke dunia nyata.
"Apa yang kamu lakukan? Bukankah ini sudah pagi?" tanya Sakti yang hanya berbalut handuk di pinggangnya.
"Oh mataku!" Fanya langsung menutup matanya, tapi masih mengintip sedikit.
"Kenapa?" kata Sakti balik tanya.
"Ke... kenapa katamu? Itu kamu mesum ya?".
"Tidak. Yang mesum kamulah. Aku hanya lewat sekilas. Kan abis mandi. Ini mau cari baju ganti. Lah kenapa masih dilihatin? Jadi yang mesum kamulah!" goda Sakti.
Fanya beringsut menyembunyikan diri di dalam selimut.
"Mas, cepat cari baju dan segera keluar dari sini!" seru Fanya samar-samar dari balik selimut.
"Ya, akan aku usahakan. Paling sejam lagi baru kelar. Aku kan lagi nyantai sekarang. Ini kan weekend." kata Sakti.
'Ah sial!, ini memang weekend. Kan semalam kami abis kencan malam Minggu. Oh Tuhan, kapan hamba-Mu ini bisa segera keluar dari sini dengan aman, nyaman, dan selamat?' batin Fanya.
"Bibi udah siapin sarapan untuk kita. Ayo lekas mandi dan sarapan! Aku tunggu di bawah ya!" ajak Sakti.
"Uhm, Tante Syakira kemana?".
"Mama ke tempat temennya. Katanya mau reunian bulanan. Arisan. Namanya juga ibu-ibu komplek." jawab Sakti.
__ADS_1
Sakti segera menyelesaikan ritual memakai baju. Ia santai memakai pakaian di depan Fanya. Sebenarnya di depan Fanya yang sedang menyembunyikan diri dalam selimut. Jadi, Fanya tak melihat apapun selain gelap.
"Aku turun yah! Kamu mandi!" perintah Sakti lalu keluar kamar.
Begitu terdengar pintu telah dibuka dan ditutup kembali, Fanya membuang selimutnya.
"Akhirnya. Aku harus segera mandi. Tapi aku kan tak bawa baju ganti? Uhm, pake baju baru yang dibeli Mas Sakti aja deh. Gapapa namanya kan darurat. Bukan aji mumpung. Ini karena keadaan yang mendesak. Hanya alasan itu. Baiklah!" ujar Fanya.
Sementara Sakti menuju ruang tengah. Ia memainkan ponselnya sembari menyesap kopi hangat yang tersaji.
"Den, tadi ada Mba Sonia. Tapi bentar aja. Begitu tau Den Sakti ada tamu, dia buru-buru balik. Bibi tanya apakah ada pesan, katanya nggak ada. Cuma minta Den Sakti hubungi Mba Sonia." kata Bik Ani, ART di rumah Sakti.
"Iya Bik. Makasih ya atas informasinya. Lain kali kalo dia datang lagi, bilang aja aku sudah mau menikah. Jadi, dia nggak akan ke sini lagi. Bibi pasti nggak nyaman juga kan kalo dia sering ke sini?" tanya Sakti.
"Iya sih Den. Mba Sonia itu orangnya gimana ya, kayak angkuh, sombong, dan sok berkelas gituloh Den. Bibi aja yang orang kalangan bawah aja, nggak demen liatnya, gimana Den Sakti ya." celetuk Bik Ani.
"Nah itu Bik Ani tau. Beda kelas deh sama yang di atas ya Bik?".
"Iya Den. Kalo dibandingin sama Non Fanya, beda banget. Non Fanya udah ketauan cantiknya alami, lebih sopan, jelas bisa masak enak, dan orangnya nyenengin. Gimana Den Sakti nggak kesengsem sama gadis kayak Non Fanya? Bibi aja yang sesama wanita seneng liatnya." kata Bik Ani lagi.
"Yaudah, Bibi kembali ke halaman belakang ya Den. Mau rapiin kebun. Tadi Bibi udah siapin sarapan. Nanti kalo Den Sakti butuh apa-apa, panggil Bibi lagi ya. Permisi." kata Bik Ani.
"Iya Bik." balas Sakti.
Beberapa saat kemudian, Fanya sudah mandi dengan berganti baju yang sudah disiapkan Sakti di lemari khusus untuk Fanya.
"Mas Sakti!" panggil Fanya.
"Iya." balas Sakti.
Lalu Fanya duduk di sebelah Sakti.
"Aku bingung deh, kok Mas Sakti tau kalo aku nggak bisa masuk kamar kostan karena kunciku hilang. Aku aja nggak kepikiran ngehubungin Mas gegara aku sudah pasrah mau ngapain karena udah dilanda kantuk yang luar biasa. Kok Mas bisa tau? Bagaimana bisa?" tanya Fanya kepo.
__ADS_1
"Ah, mungkin kebetulan aja. Aku hanya ingin mastiin kamu sampai dengan aman aja, jadi aku balik lagi. Lain kali kamu hubungi aku yah kalo kejadian kayak gini lagi. Mau aku masih dekat atau udah jauh, ya pasti aku akan balik lagi nyamperin kamu. So, kamu jangan mikir kamu bakal ngerepotin aku atau gimana. Nggak perlu sungkan sama calon suami. Anggap aja gitu!" ujar Sakti serius.
Fanya hanya manggut-manggut mencoba mengerti.
"Oke, ayo kita sarapan. Aku udah laper nih!" ajak Sakti dengan menggandeng Fanya menuju ruang makan.
"Maaf ya Mas. Aku lelet mandinya. Abis asyik deh. Mandi di sini bisa sekalian berendam. Jadi lupa kalo Mas nungguin aku. Maaf ya...." kata Fanya.
"Iya gapapa. Ayo Sayangku!" Sakti mengeratkan pelukannya.
"Eh kenapa aku dipeluk?".
"Gapapa. Lagi pingin aja. Abis wangi, enak buat diuyel-uyel." goda Sakti.
"Apa sih Mas. Aish, malu dilihat orang!".
"Cuma kita berdua. Ada sih Bik Ani, tapi kan lagi di kebun belakang. Aman deh. Boleh cium nggak?".
"Ikh Mas Sakti mesum deh. Katanya udah laper, ayo kita makan aja. Biar otak Mas Sakti fresh. Ayo!" ajak Fanya.
"Ah nggak asik." ucap Sakti dan langsung menyambar pipi kanan Fanya dengan cepat sebelum terlambat karena Fanya mencoba melepaskan diri dari pelukan Sakti.
"Yey kena!" seru Sakti bahagia.
'Ah, kecolongan lagi. Kesel. Eh tapi aku seneng juga sih. Gimana sih?' batin Fanya.
Fanya berhasil melarikan diri dan segera menuju ruang makan.
"Ini banyak banget masakannya? Bik Ani bener-bener totalitas dalam menjamu tamunya. Aku sungguh terharu." kata Fanya sumringah saat melihat aneka hidangan yang tersaji di meja makan.
"Iya dong. Kamu kan tamu spesialku. Ya harus spesial dong. Ini mah masalah kecil, bukan apa-apa." kata Sakti yang sebenarnya juga takjub dengan hidangan yang disiapkan oleh Bik Ani.
Bagaimana tidak, Bik Ani tanpa disuruh pun sudah tau bagaimana cara menyambut tamu spesialnya Sakti.
__ADS_1
"Makan yang banyak yah! Ini jarang-jarang loh Bik Ani nyajiin hidangan sebanyak dan seenak ini." ujar Sakti.
"Iya." balas Fanya.