
Pagi yang cerah. Sinar matahari menembus tirai jendela, membangunkan tidur Fanya. Fanya mengerjapkan matanya. Menyadarkan diri bahwa hari sudah berganti pagi. Saatnya beraktivitas kembali.
Meski ia masih merasa nyeri, ia mencoba duduk di ranjangnya. Menyandarkan punggungnya di bantal yang ditumpuknya. Lalu ia meraih ponselnya di nakas. Tak ada pesan dari Sakti. Hanya beberapa pesan dari Marina yang mengabarkan bahwa hari ini dia tak bisa datang menjenguknya.
Fanya menghubungi Sakti. Tapi tak diangkat. Bahkan setelahnya Sakti menonaktifkan ponselnya. Fanya yang frustasi, menaruh kembali ponselnya di nakas. Setelahnya ia sarapan dengan makanan yang baru saja diantarkan oleh perawat. Menu sehat yang menurut Fanya hanya kurang rasa. Terasa hambar di lidahnya yang terbiasa dengan gurih dan asin.
"Aku harus kuat. Bagaimanapun itu, Mas Sakti tak salah. Aku yang seharusnya sadar diri. Kalo aku bisa menjaganya dengan baik, keguguran itu takkan terjadi. Dan hubunganku dengan Mas Sakti pasti masih baik-baik saja." lirih Fanya menyesali kesalahannya.
Karena merasa sesak terus berada di kamar, Fanya memutuskan ke luar kamar. Dengan harapan mendapatkan udara segar. Ia berjalan dengan membawa selang infusnya. Ia duduk di bangku taman rumah sakit. Ada beberapa orang yang sedang berjemur atau sekedar bersenda gurau di sana.
Pandangan mata Fanya tertuju pada pasangan suami istri yang tengah sarapan bersama. Sang suami menyuapi istrinya yang sakit. Tampak bahagia meski mereka melakukan hal yang sederhana. Terlintas rasa iri di hati Fanya. Andai saja Sakti memperlakukan dirinya seperti itu.
"Nona Fanya!" panggil Satya.
Fanya menoleh ke arah sumber suara. Ia berharap Sakti yang datang. Tapi ternyata kenyataan tak sesuai bayangan dan harapan.
"Sat, kamu tau dimana Mas Sakti? Sejak kemaren, dia belum ke sini lagi. Bahkan ponselnya dimatikan. Apa dia tak mau berurusan denganku lagi? Aku kan istrinya, kenapa dia seolah menganggapku musuh?" Ah maaf, aku tak seharusnya curhat padamu. Anggap kau tak mendengar keluh kesahku." kata Fanya.
Satya merasa kasihan dengan apa yang dialami Fanya. Pasti berat memikul kesedihan seorang diri. Ia juga bingung bagaimana cara menenangkan Fanya. Memeluknya? Tak mungkin melakukan kontak fisik dengan istri bossnya. Menasehati? Dirinya siapa bisa memberikan nasihat sebab dirinya saja belum menikah. Satya duduk di sebelah Fanya. Ia tak mengatakan apapun selain diam.
"Menurutmu, apakah Mas Sakti akan menjauhiku setelah ini?" tanya Fanya.
"Saya rasa tidak. Tuan Sakti itu tipe pria yang setia. Dengan pekerjaannya saja dia setia, dengan wanitanya pun bahkan lebih setia!" jawab Satya.
"Lalu kenapa dia bersikap seperti kemaren? Pasti dia sangat terpukul dan kesal denganku. Gara-gara kesalahanku, aku membunuh calon anaknya. Jahat kan aku?"
"Maaf Nona, mungkin Tuan Sakti masih butuh waktu untuk sendiri. Jadi setelah hatinya tenang, saya yakin dia akan segera menemui Nona Fanya. Tuan Sakti kan sangat mencintai Nona. Dia nggak akan bisa jauh dari Nona." kata Satya
__ADS_1
Fanya tersenyum mendengar perkataan Satya yang sedikit menenangkannya.
"Terima kasih. Entah itu benar atau salah, hatiku sedikit tenang." ujar Fanya.
Dari jauh Sakti melihat interaksi antara Fanya dan Satya. Ia hendak mendekati Fanya, tapi kekesalan terhadap Fanya semakin besar. Terlebih Fanya tampak memberikan senyumannya untuk Satya. Meski ia tahu Satya tak akan melewati batas, cemburu sudah lebih dulu membakar hatinya.
Sakti tak jadi menemui Fanya. Ia berniat pergi lagi entah kemana. Tapi setelah Sakti berbalik badan, Fanya mengenalinya. Fanya pun meminta Satya menghentikan Sakti agar tidak pergi lagi. Ia ingin berbicara dengan Sakti. Karena lebih baik ia dimarahi daripada didiamkan dan ditinggal pergi.
Satya berhasil menghentikan Sakti. Kini, Sakti dan Fanya sudah duduk di kursi taman. Satya memantau keadaan agar Sakti tak pergi lagi.
"Mas..." panggil Fanya.
Sakti tak menyahut. Ia bahkan tak mau menatap wajah istrinya yang sebenarnya sangat dicintainya.
"Mas, aku tau kesalahanku tak termaafkan lagi olehmu. Kita sudah lama menantikan kehadiran buah hati. Dan saat Tuhan mempercayakan kehamilan padaku, aku menyia-nyiakannya. Aku salah!" kata Fanya.
"Lalu?"
"Aku tak sepenuhnya menyalahkanmu. Aku menganggapnya suratan takdir. Tapi setiap melihatmu bersedih, aku tak sanggup melihatnya. Makanya aku menghindarimu." Kata Sakti.
"Lalu sampai kapan? Aku bahkan membutuhkanmu saat seperti ini. Yah, aku tak menyalahkanmu. Tapi aku meminta tolong padamu. Setidaknya jangan menjauhiku. Aku butuh perhatianmu." keluh Fanya.
Sakti memeluk Fanya. Ia merutuki dirinya betapa bodohnya ia meninggalkan Fanya kemaren. Seharusnya ia menghibur dan menemani Fanya, tapi malah pergi tanpa kabar.
"Aku akan menemanimu. Aku takkan pergi lagi. Maafkan aku atas kebodohan dan keegoisanku kemaren. Aku tak memikirkan efeknya. Aku hanya memikirkan diriku sendiri. Mulai hari ini, aku akan lebih perhatian dan sayang lagi denganmu. Aku akan menjagamu." ujar Sakti tulus.
"Mas, janji yah!" kata Fanya.
__ADS_1
"Iya Sayangku. Eh, kamu udah sarapan? Udah minum obat?" tanya Sakti.
"Sudah Mas. Makanya aku ke sini setelah minum obat yang pahit. Trus ketemu Satya di sini. Mas Sakti udah sarapan?"
"Belum. Aku tak berselera." ujar Sakti.
"Astaga! Apa sejak semalam kamu belum makan sama sekali?" tanya Fanya khawatir.
"Iya belum. Tapi jangan khawatirkan aku. Aku tak apa-apa." jawab Sakti.
"Uhm, kamu harus makan yah! Aku pesenin makanan via aplikasi online aja yah. Aku juga mau makan lagi. Kamu tau nggak Mas, masakan di rumah sakit itu nggak enak! Rasanya hambar kayak kurang garam. Aku kan sensitif terhadap rasa." ujar Fanya.
"Iya. Pesanlah sesuka hatimu. Nikmati apa yang masih bisa kita nikmati. Yang penting kita selalu sehat dan bahagia." kata Sakti.
Fanya melepaskan pelukan Sakti. Ia menatap wajah suaminya yang tampak sayu.
"Kamu pucat sekali! Ayo kita kembali ke kamar!" ajak Fanya.
"Ke kamar mana?" tanya Sakti.
"Ke kamar inap tempatku dirawat, Mas. Mau kemana lagi?"
"Oh, aku pikir kita mau ke kamar hotel!" kata Fanya
Fanya langsung menjitak jidat Sakti dengan lumayan keras. Sakti hampir berteriak karena sakit.
"Aku aja masih nahan sakit dan nyeri. Mana bisa asik-asikan main di hotel." keluh Fanya.
__ADS_1
"Loh emangnya ke kamar hotel buat main panas aja? Buat tidur beneran maksudku. Aku taulah kamu abis pendarahan hebat, masa aku langsung tancap gas?"
"Iya sih Mas. Aku kejauhan mikirnya. Ayo kita ke kamar. Udara di sini sudah mulai panas. Aku kepanasan nih!" kata Fanya.