Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Bermalam di Luar


__ADS_3

"Terima kasih sudah mengantarku. Karena sudah malam, kamu langsung pulang aja ya, Mas. Lain kali boleh mampir jika waktunya pas. Hati-hati di jalan yah. Sampai ketemu saat kencan selanjutnya ya. Selamat malam!" Fanya melambaikan tangan dan berjalan meninggalkan Sakti yang masih berada di mobilnya.


"Tunggu!" panggil Sakti yang membuat Fanya menoleh.


"Apa?" tanya Fanya.


"Masih ada yang ketinggalan! Cepat ke sini!" seru Sakti.


"Ah, tak ada. Sampai jumpa!" kata Fanya yakin.


"Ada." ujar Sakti melayangkan senyum manisnya.


"Apa sih? Aku nggak tau." gumam Fanya.


Karena Fanya masih terdiam di tempatnya, Sakti pun akhirnya keluar dari mobil. Menghampiri Fanya yang masih mematung. Sakti menatap Fanya yang juga menatapnya heran.


Cup! Sakti berhasil mendaratkan kecupan singkat di dahi Fanya. Sepersekian detik, Fanya bengong dengan apa yang dilakukan Sakti.


"Hah, apa yang barusan terjadi?" tanya Fanya bingung.


"Kecupan sekilas sebagai ucapan perpisahan sementara. Nah, sudah tak ada yang tertinggal. Kamu boleh kembali ke kostan. Aku pulang dulu ya Sayangku. Lain kali kita bertemu lagi. Setelah bersih-bersih badan, langsung tidur yah. Boleh mainin ponsel jika itu hanya memberiku kabar bahwa kamu akan segera tidur. Istirahat yang nyenyak. Selamat malam!" ujar Sakti mengakhiri pertemuan malamnya.


Fanya melambaikan tangannya pada Sakti. Lalu kembali ke kamar kostan. Sebelum itu, ia melewati jalan setapak yang temaram. Meskipun ada lampu jalanan, tapi tak cukup terang karena sebagian lampu ada yang mati. Saat sampai di depan pintu kamar kostan, ia mencari kunci pintu di tasnya. Tapi sudah hampir lima belas menit, kunci itu tak juga ditemukan. Fanya akhirnya putus asa. Ia pun memilih duduk di bangku kaya yang berada di teras kostan.


"Ya Tuhan, sepertinya aku banyak berdosa hari ini. Sampai kunci kostan pun, hilang entah kemana. Aku inget banget, tadi pagi aku nyimpen di tas ini. Masa iya jatuh di butik, di tempat makan tadi, atau di mobil Mas Sakti? Parahnya lagi jatuh di jalanan? Ah entahlah, aku sepertinya harus rela rebahan di bangku keras ini. Selamat tinggal kasur empuk! Malam ini aku tak bisa menidurimu. Selamat datang nyamuk-nyamuk ganas yang siap memangsaku." keluh Fanya.

__ADS_1


Fanya merebahkan tubuhnya di bangku kayu panjang itu. Berbantalkan handuk kering yang baru diangkatnya dari jemuran, ia mulai mencoba memejamkan matanya. Sebelumnya ia telah membersihkan sisa make up di wajahnya dengan air keran di depan kostan.


Sementara itu, Sakti yang bahkan belum sampai rumahnya, mendapatkan informasi penting dari anak buahnya. Tentu saja mendapat informasi terkini mengenai kondisi Fanya yang bisa dibilang tidak mengenaskan tapi lebih kepada memprihatinkan.


"Oke, terima kasih infonya. Kerja bagus!" Sakti memutus panggilan tersebut.


Sakti bergegas memutar haluan mobilnya. Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Untungnya jalanan sepi, jadi ia bisa bergerak lebih cepat tanpa macet.


"Kenapa dia tak menghubungiku? Apa yang dia pikirkan sekarang? Padahal aku pasti akan segera putar haluan dan menghampirinya. Mana bisa aku membiarkan wanitaku tidur di luar begitu? Apalagi sendirian tanpaku. Lebih baik itu dilakukan bersamaku bukan?" tanya Sakti pada dirinya sendiri.


Tak berselang lama, Sakti telah memarkirkan mobilnya di depan minimarket. Karena di tempat itulah tempat parkir terdekat dengan kostan Fanya. Lalu ia melewati gang kecil temaram sebelum sampai di kostan Fanya.


"Beginikah tidurmu? Malang sekali!" gumam Sakti setelah sampai di kostan Fanya.


Sakti tak tega membangunkan Fanya yang sudah terlelap dalam tidurnya. Sakti mengalungkan tas Fanya di lehernya. Ia mengangkat tubuh Fanya dengan perlahan. Fanya tak menyadari tubuhnya melayang dalam gendongan Sakti.


Sesampai di mobil, Sakti menurunkan Fanya dengan hati-hati. Ia pun menghubungi Mamanya untuk mendapatkan persetujuan, dimana Fanya akan dibawa pulang oleh Sakti. Mama Sakti pun mengizikan karena tak mungkin membiarkan kedua pasangan kekasih itu tidur di mobil. Atau parahnya membiarkan Fanya tidur di luar dan kedinginan.


Sakti melajukan mobilnya perlahan. Sebisa mungkin meminimalisir suara dan gerakan agar tak membangunkan tidur pulas Fanya.


"Tidur aja cantik!" puji Sakti tersenyum melihat Fanya yang masih memejamkan matanya.


Butuh waktu hampir sejam untuk sampai di rumah. Sakti membawa Fanya masuk ke rumah setelah pintu dibukakan oleh Mama Sakti. Mama Sakti alias Ibu Syakira jelas menunggu kedatangan Sakti. Ia sudah terjaga sejak ditelpon oleh putranya, Sakti. Jadi sekalian saja menunggu kedatangan mereka.


"Tidurkan saja di kamarmu. Kamu tidur di sofa!" perintah Mamanya Sakti.

__ADS_1


"Ya Mama...." rengek Sakti.


"Maksudmu kamu mau tidur sekamar sama dia? Enak aja! Nanti dulu, jangan diapa-apain sebelum halal. Kamu ini!" Mama Sakti berubah kesal dan menjewer putranya.


"Bercanda Mama. Iya, Sakti bawa Fanya ke kamar Sakti." ujar Sakti menahan sakit.


Beberapa saat kemudian, Sakti keluar dari kamarnya. Tentu saja setelah selesai membersihkan badannya alias mandi.


"Wow, segar sekali ya anak Mama ini!" puji Mama Sakti bangga.


"Iya dong Ma. Badan Sakti jadi segar bugar kan? Abis mandi sekalian abis liat calon bidadari surga." ucap Sakti sumringah.


"Kok bisa ia tidur di luar?" tanya Mama Sakti.


"Karena kunci pintu kostan hilang. Jadi ya begitulah. Ini aja Sakti taunya dari si Tio, anak buah Sakti. Fanya kayaknya enggan minta bantuan Sakti. Padahal Sakti pun nggak bakal nolak Ma. Urusan Fanya adalah urusan nomer dua setelah Mama. Bagaimana Sakti bisa mengabaikannya?" jawab Sakti serius.


"Mama tau kamu sesayang itu sama Fanya. Mungkin dia tak mau menyusahkanmu. Harap dimaklumi aja. Mama dulu juga gitu pas muda. Nggak mau terlalu merepotkan Papamu. Kamu tau kan, dulu Papamu itu bucinnya kayak gimana? Pas muda juga lebih parah. Nggak jauh beda sama kamu ini. Yasudah, Mama mau ke kamar dulu. Udah ngantuk. Kamu tidur juga yah. Udah Mama siapin bantal dan selimut tuh! Atau kamu mau tidur di kamar tamu?" tanya Mama Sakti.


"Ah nggak perlu, Ma. Sakti tidur di sofa ini aja. Sofa ini posisinya lebih dekat dengan kamar Sakti, dimana disitu ada Fanya. Selamat tidur dan mimpi indah ya Mamaku Sayang!" Sakti memeluk Mamanya dan dibalas kecupan di kening oleh Mamanya.


"Selamat mimpi indah juga ya Sayangku. Oh iya, jangan lupa berdoa." kata Mama Sakti, lalu pergi ke kamarnya.


"Iya Mama." ucap Sakti.


Sebelum tidur, Sakti membuka ponselnya. Mengecek laporan kerjaan baik melalui pesan WA ataupun email.

__ADS_1


"Tak ada masalah yang perlu dikhawatirkan. Masih bisa dikerjakan esok hari. Saatnya rebahan. Berharap mimpi indah bareng Fanyaku Sayang...." kata Sakti.


Saat tengah malam, tiba-tiba Fanya merasa dilanda haus yang luar biasa. Ia terbangun. Meraih segelas air putih yang sudah disediakan Sakti di atas meja kecil dekat kasurnya. Ia meneguk cepat, lalu kembali melanjutkan mimpinya. Tak sempat ia menyadari keberadaannya. Sekilas ia merasa di tempat berbeda. Tapi ia segera meyakinkan dirinya bahwa ia masih dalam mode mimpi. Jadi, kondisi maupun situasi, sudah pasti dunia mimpi berbeda dengan dunia nyata.


__ADS_2