
Seperti biasa, Sakti mengantarkan Fanya menuju tempat kerjanya. Namun kali ini, Sakti tak mengantar sampai ke dalam. Ia hanya menurunkan Fanya persis di depan pintu masuk butik. Ia terburu-buru sebab rapat yang sebelumnya dijadwalkan pukul 9 menjadi pukul 8 pagi. Itu pun pemberitahuan secara mendadak.
"Maaf ya, aku cuma bisa mengantarmu sampai sini. Setengah jam lagi, rapatku dimulai." kata Sakti dengan raut muka sedih.
"Gapapa. Ini aja aku udah terima kasih banget, Mas Sakti udah mau anterin aku. Yaudah, Mas pergi aja. Tapi hati-hati yah. Ngebut boleh tapi dalam batas aman aja. Semoga selamat samoai tujuan. Jangan lupa berkabar ya Sayangku...." kata Fanya sembari melambaikan tangannya pada Sakti yang sudah siap tancap gas.
Sakti membalas lambaian tangan Fanya. Tersenyum manis yang membuat Fanya meleleh tak karuan.
"Nanti aku jemput. Nggak boleh pulang sendiri. Inget yah!" seru Sakti.
Kemudian Sakti melajukan mobilnya. Fanya pun segera memasuki butik dengan hati riang.
"Selamat pagi...." sapa Fanya begitu berpapasan pada siapa saja yang dilewatinya.
"Fanya....!!! Gawat, gawat, gawat! Ada berita heboh pagi ini. Kamu sudah tau belum ya?" seru Gina panik.
"Ada apa? Aku belum tau berita apa yang kamu maksudkan. Cerita dong!" ujar Fanya.
"Baru-baru ini, aku mendengar bahwa gaun buatan tim desain kita, terdapat kesamaan dengan gaun buatan Forisa. Kamu tau kan Forisa? Mereka levelnya bukan nasional lagi, bahkan sudah merambah dunia internasional." ucap Gina.
"Lalu?" tanya Fanya butuh penjelasan.
"Sekelas mereka menuduh gaun produk kita dengan sebutan gaun plagiat. Kamu tau kan, bagaimana mungkin kita disebut plagiat? Tim desain aja sampai lembur demi menciptakan gaun yang bagus itu. Plagiat dari mana? Apa pernah mereka menunjukkan lokasi pembuatan desain ataupun gaun jadi? Semua misterius. Lalu kenapa mereka menuduh kita seperti itu?"
"Aku nggak tau, Gin. Tapi hal seperti ini perlu diusut. Takutnya berdampak pada kepercayaan masyarakat pada kita. Akhirnya daya beli menurun. Kamu tau kan artinya apa jika sudah begitu? Aku nggak mau mengecewakan Bu Syakira." jelas Fanya.
"Lalu apa rencanamu?" tanya Lusi
"Kak Lusi!" seru Gina kaget.
"Kita perlu pastikan pelakunya aja. Karena dialah sumber masalah semua ini. Selebihnya kita siapkan bukti bahwa gaun itu memang punya kita. Orisinil dari tim desain kita." ujar Fanya serius.
"Sebenarnya bukan perkara siapa pencetus ide desain gaun. Yang jadi masalah adalah pelaku itu sendiri. Bayangkan saja, betapa riskannya jika orang itu masih berkeliaran di sekitar kita. Kita juga tak tau siapa dia. Apakah itu kamu, kamu, atau bahkan aku sendiri." kata Lusi.
__ADS_1
"Kamu benar, Lus. Ayo kita selidiki!" seru Henny.
"CCTV. Ya, itu dia! Kita harus periksa semuanya. Baik itu CCTV umum atau CCTV khusus alias privasi." kata Fanya.
"Bedanya apa?" tanya Gina.
"Pasti beda banget. CCTV umum kan bisa kita liat secara jelas yah kayak yang di pojok itu. Sementara kalo CCTV khusus hanya orang-orang tertentu yang bisa melihatnya. Bukannya kasat mata, tapi karena tata letak yang disembunyikan sedemikian rupa. Wajar saja, tak semua dari kita bisa melihatnya secara jelas. CCTV khusus ini tentu saja sangat membantu kita jika peran CCTV umum tak bisa diandalkan. Mungkin karena daerah blind spot atau juga karena manipulasi. Penghilangan barang bukti." penjelasan Fanya.
"Wah, penjelasanmu keren sekali. Oke, Kak Lusi dan Kak Henny silakan bekerja untuk investigasi. Aku dan Fanya masih harus mengerjakan dateline laporan dan membalas komentar website." kata Gina.
"Oke deh!" seru Lusi.
...****************...
Sementara itu, Sakti dan Satya sudah selesai rapat dengan klien dari negara tetangga.
"Apa kita langsung kembali ke kantor, Tuan?" tanya Satya yang sudah sedia untuk menyetir.
Satya melirik sekilas ke arah Sakti. Memastikan bahwa semua baik-baik saja.
"Oh ya, tolong perketat penjagaan untuk istriku. Sebelumnya sempat kecolongan dengan tragedi di tempat karaoke. Aku nggak mau hal serupa terulang kembali. Awasi dia baik-baik! Pilih bodyguard yang bisa diandalkan. Memang bukan masalah besar, tapi gara-gara hal kecil itu, aku dan istriku sempat berselisih paham." ujar Sakti tanpa menatap lawan bicara.
"Baik Tuan." ucap Satya patuh.
'Dasar Tuan Sakti yang bucin dengan istrinya!' batin Satya.
Satya melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Mengingat tak ada dateline tugas yang harus dikerjakan di kantor.
Setelah memutari pusat kota, sampailah mereka di sebuah toko bunga yang elit. Belum sampai masuk ke area dalam toko, di halaman pun sudah berjejer aneka jenis bunga yang cantik.
"Kita sudah sampai, Tuan." kata Satya.
"Hmmm...." gumam Sakti.
__ADS_1
Sakti pun turun dari mobil dan masuk ke dalam toko. Sementara Satya tak ikut serta masuk ke dalam. Ia memilih mengirim pesan teks untuk Marina, kekasihnya. Saling berkabar yang menandakan bahwa komunikasi adalah hal penting untuk membangun cinta.
"Tolong buatkan satu buket bunga mawar kombinasi. Pilih jenis mawar terbaik dan masih segar!" pinta Sakti pada penjual bunga.
"Baik, Pak. Silakan menunggu beberapa saat. Tim kami akan segera mempersiapkan pesanan Anda." ujar penjual bunga ramah.
"Nggak lama kan ya?" tanya Sakti.
"Butuh waktu paling lama setengah jam." jawab penjual bunga.
"Uhm, apakah di sini bisa order minuman atau camilan?"
"Bisa, Pak. Oh iya, ini daftar menu yang kami punya."
Sakti memilih minuman dan camilan untuk dirinya dan Saktya.
"Silakan menunggu di kursi itu ya Pak. Saya akan menyiapkan pesanan Anda."
Sakti duduk di kursi tunggu dengan meja kecil di depannya. Ia menyuruh Satya untuk masuk juga karena ia sudah memesankan minum dan camilan untuk Satya juga.
"Padahal saya bisa menunggu Tuan di mobil saja." ujar Satya.
"Iya. Mumpung bisa beli minum." kata Sakti.
"Silakan dinikmati pesanannya." kata penjual bunga saat menyajikan minuman dan camilan sesuai yang Sakti pesan.
"Terima kasih!" ucap Sakti dan Satya bersamaan.
"Tuan, apakah perjanjian kerjasama tadi nggak ngerugiin perusahaan kita yah? Dari pasal yang mereka ajukan, banyak hal yang menguntungkan secara sepihak. Takutnya akan jadi bumerang untuk kita." ujar Satya cemas.
"Tak perlu khawatir, aku sudah memprediksi untuk kemungkinan itu. Tapi biarpun mereka paling diuntungkan, perusahaan kita akan dapat reward yang luar biasa. Bayangkan saja, kita tak perlu mengeluarkan anggaran dana promosi di luar negeri. Tim marketing dari perusahaan klien lah yang berusaha keras. Kita hanya menunggu hasil saja. Promosi dari mereka akan lebih efektif daripada kita yang notabene dimulai dari nol. Jadi, apakah kamu masih berpikir bahwa kita akan rugi?" tanya Sakti.
"Tidak." jawab Satya yang mulai paham maksud Sakti.
__ADS_1