
Sakti sudah menyelesaikan rapatnya. Ia meraih ponselnya yang sebelumnya sudah disetting mode silent. Ia mendapat belasan notifikasi dari istrinya, Fanya.
"Apa ini? Kenapa aku sampai melupakan istriku sendiri demi rapat yang tak lebih berharga dari dia. Bagaimana ini? Aku coba telpon dia dulu deh!" kata Sakti yang langsung menghubungi istrinya.
Berkali-kali Sakti mencoba menghubungi Fanya, tapi tak ada respon. Fanya hanya membalas pesan bahwa dirinya masih di butik. Sakti langsung bergegas menuju butik tempat Fanya bekerja. Ia terus kepikiran bagaimana perasaan Fanya padanya. Sudah pasti kesal, marah, dan kecewa bercampur jadi satu.
"Dia istriku. Aku seharusnya lebih memperhatikannya. Ini sudah mau jam 9 dan aku baru menjemputnya. Suami macam apa aku ini? Bersiap sajalah untuk dimarahi olehnya. Ini memang salahku. Salah besar tak termaafkan. Maafin aku ya Sayangku..." ujar Sakti.
Begitu sampai di halaman butik, Sakti memarkirkan asal mobilnya. Segera berlari mendekati Fanya yang tengah berdiri dengan tatapan kosong. Sakti memeluknya dengan erat. Fanya hanya diam saja.
"Sayang, maafin aku yah! Aku tadi rapat trus HP aku silent, jadi tak tahu jika ada pesan dan telponmu. Maaf yah. Aku janji ini tak akan terulang lagi." ucap Sakti.
Fanya masih belum merespon. Entah apa yang dia pikirkan.
"Ayo kita pulang!" ajak Sakti.
Karena Fanya tak menjawab, maka Sakti menuntunnya untuk masuk ke dalam mobil.
"Aku tau menunggu adalah sesuatu yang menyebalkan. Tapi tolong jangan diamkan aku. Tapi aku tak menyalahkanmu. Itu bermula dari kesalahanku yang keterlaluan. Sekali lagi, aku mohon maaf." kata Sakti.
"Mas..." lirih Fanya.
"Iya Sayangku. Ada apa?" tanya Sakti.
"Gapapa. Aku masih kesal aja." jawab Fanya.
"Maaf ya. Gara-gara aku kamu jadi menunggu lama." ujar Sakti.
"Iya semua gara-gara Mas Sakti. Coba kalo Mas Sakti datang lebih cepat atau mengabariku tidak biaa menjemputku karena masih rapat, maka takkan ada petaka yang datang!" omel Fanya.
__ADS_1
"Petaka? Apa maksudnya?"
"Belum lama tadi, Jayden datang menemuiku. Katanya ia hanya lewat tanpa sengaja. Tapi setelah aku pikir-pikir, dia sengaja datang ke sini untuk memperingatiku. Bahwa aku harus bersiap untuk kembali bersamanya. Dia sudah gelap mata, tak peduli jika kita sudah menikah. Aku takut, Mas. Bersusah payah aku kabur darinya, dengan mudahnya dia menemukanku dan akan menangkapku lagi. Aku nggak mau!" seru Fanya.
"Itu takkan ku biarkan. Aku akan menjagamu semampuku. Mana mungkin aku rela melepasmu begitu saja. Terlalu sulit mendapatkanmu terlalu berat juga melepasmu. Mana mungkin aku merelakanmu begitu saja untuk pria bodoh itu. Tidak akan!" kata Sakti.
Fanya menatap nanar suaminya. Ia ingin menangis, tapi ditahannya sebisa mungkin.
"Baiklah, ayo kita pulang! Kamu pasti sangat lelah. Aku akan melayanimu nanti. Tidurlah jika memgantuk. Aku akan mengemudi dengan kecepatan sedang." ujar Sakti.
Fanya menurunkan sandaran kursinya. Lalu ia memejamkan matanya. Memang ia sudah sangat lelah dan mengantuk. Tak lama ia memejamkan mata, ia pun tertidur. Sakti yang sedang mengemudi di sebelahnya, hanya mengulas senyum melihat istrinya tertidur pulas.
"Bagaimanapun, kamu adalah milikku. Sampai kapanpun, kamu adalah milikku. Tidak akan kj biarkan pria macam Jayden itu mendekatimu lagi. Aku takkan membiarkan celah untuknya masuk. Siapa dia beraninya mengancammu? Apa melupakanku sebagai suamimu?" kata Sakti pelan.
Perjalanan terasa semakin sepi. Tak ada obrolan dan Sakti fokus menyetir. Namun tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sakti melihat ada nama Satya tertera di ponselnya.
"Iya halo!" kata Sakti setelah menerima panggilan.
"Baiklah. Segera urus masalah itu. Jangan sampai kita kecolongan lagi. Oh iya, besok adakan rapat dengan mereka. Cari cara agar pria aneh itu tak lagi berani mendekati istriku. Aku nggak mau mendengar cerita jika istriku ketakutan setelah bertemu dengannya. Uhm, cari tau apa motifnya yang sebenarnya. Dia benar-benar tertarik pada istriku atau ada hal lain yang dia sembunyikan. Mengerti?"
Panggilan pun terputus. Sakti menatap istrinya sekilas. Kemudian kembali fokus menyetir dengan segudang pemikiran bagaimana mengobati trauma istrinya.
***
"Kamu darimana?" tanya Sonia begitu Jayden sudah sampai di rumah Sonia.
"Baru menghirup udara segar. Ada apa? Kenapa menyuruhku ke sini?" kata Jayden balik tanya.
"Loh, bukannya kamu kangen aku yah?" jawab Sonia.
__ADS_1
'Kangen? Kapan aku mengatakan hal bodoh seperti itu? Aku sama sekali tak ada niat mendekatinya. Aku hanya menjadikannya alasan untuk mendekati Fanya. Fanya lebih baik dan cantik daripada ular macam wanita ini. Wanita di depanku ini hanya menang body seksi aja. Selebihnya, semuanya sampah! Bahkan aku tak akan mau dengannya jika hanya dia yang tersisa di muka bumi ini!' batin Jayden.
"Eh enggak ya? Aku kepedean berarti. Yasudah, mau minum apa?" tawar Sonia.
"Air dingin aja." kata Jayden malas.
Sonia bergegas ke dapur untuk menyiapkan air dingin beserta camilan untuk Jayden. Tapi saat ia menuangkan air dingin ke dalam gelas, seseorang memeluknya dari belakang. Siapa lagi kalo bukan Jayden.
"Ke... kenapa?" tanya Sonia.
"Hanya ingin saja. Boleh kan?" jawab Jayden yang hanya diangguki oleh Sonia.
'Hanya ini yang bisa ku lakukan. Aku ingin sekali memelukmu, Fanya. Tapi hanya ada dia yang ada di sini. Setidaknya ini bisa mengurangi kangenku padamu. Aku tak peduli seberapa sering kamu menolakku dan membenciku, aku akan terus menyerangmu agar kamu mau bersamaku. Pastinya, akan ku buat kamu dan Sakti bercerai berai dulu sebelum ku ambil alih. Masa bodoh kamu sudah jadi janda nanti, aku akan tetap menjadikanmu wanitaku satu-satunya.' batin Jayden.
Sonia begitu senang mendapat pelukan dari Jayden. Dia merasa tak ada salahnya mendapat perhatian lebih dari pria lain selain Sakti. Karena baginya, Sakti semakin sulit dijangkau, terlebih setelah menikah dengan Fanya.
Sonia memutar badannya. Ia bisa menatap wajah Jayden dengan jelas. Wajah tampan yang bisa membuatnya berkesan dan suka.
"Kamu tampan." bisik Sonia.
Entah karena Jayden terlalu dalam memikirkan Fanya, dalam pandangannya wajah Sonia pun berganti menjadi wajah Fanya. Ia sudah tak tahan lagi untuk menyalurkan hasratnya. Ia mengarahkan wajahnya untuk mendekati wajah Sonia. Dan terjadilah ciuman brutal.
Sonia hampir terkejut, tapi menerima ciuman dari Jayden. Meski baru kenal, Jayden termasuk salah satu pria idaman baginya. Tentu saja ia tak bisa menolak pesona Jayden.
"Aku menginginkanmu...." bisik Jayden di tengah ciuman panasnya.
"Lakukan!" kata Sonia yang sudah terbuai oleh pesona Jayden.
Tanpa basa-basi, Jayden meneruskan ciuman panasnya. Ia menggendong Sonia seperti koala. Membawanya ke kamar Sonia sesuai arahan Sonia. Sesampai di kamar Sonia, Jayden meletakkan Sonia di ranjangnya dengan hati-hati.
__ADS_1
Dalam bayangan Jayden, Sonia adalah Fanya. Jadi Jayden terbawa suasana untuk melakukan hal lebih kepada Sonia. Saat nafsu sudah memuncak, Jayden segera melepaskan pakaian yang dikenakannya. Begitu pun dengan Sonia. Keduanya sedang dimabuk nafsu yang menyesatkan. Lalu apakah yang terjadi saat kedua insan sama-sama sedang bertelanjang dan dilanda nafsu yang luar biasa? Bayangkan sendiri saja!