Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Curhat Fanya


__ADS_3

Hari telah berganti pagi. Alarm sudah berbunyi, menandakan jam menunjukkan pukul 5 pagi. Fanya terbangun dari tidurnya. Perlahan, ia mematikan alarm itu. Kemudian melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Usai mandi dan ibadah, ia segera menyiapkan sarapan. Segelas susu coklat manis dan roti lapis. Ia juga menyiapkan bekal roti lapis untuk cemilannya di tempat kerja nanti. Tanpa dirasa, sudah jam setengah 7 dan itu artinya Fanya harus bersiap pergi kerja. Karena semakin siang, maka kendaraan umum akan susah didapat lantaran ramai penumpang lain pastinya.


Fanya bergegas menuju tempat pemberhentian bus. Hari ini ia tidak menggunakan jasa ojek online. Karena masih pagi, ia masih bisa berangkat kerja dengan santai dan nyaman. Hanya sekitar 45 menit, ia sudah sampai di butik dengan selamat.


"Selamat pagi Pak!" sapa Fanya pada petugas keamanan yang sedang berjaga.


"Selamat pagi Bu." balas petugas keamanan dengan ramah.


Fanya segera masuk ke ruang kerjanya. Masih sepi. Ia terlalu awal datang. Tapi lebih baik daripada terlambat. Lalu ia merapikan file-file kerjaannya yang masih berantakan tata letaknya. Tak lupa, ia mengirimkan pesan morning greeting kepada pacarnya, Sakti.


Fanya tak berharap bahwa pesannya akan segera dibalas oleh Sakti. Mengingat pacarnya bukan seorang pengangguran yang selalu santai. Ia paham betul bahwa pacarnya adalah orang penting di perusahaannya yang senantiasa sibuk dikejar deadline.


Beberapa saat kemudian, Gina datang dengan muka sebam dan merah. Gina yang biasanya setiap bertemu Fanya langsung berkoar hinaan dan ketidaksukaannya, kini diam seribu bahasa. Gina hanya menatap Fanya sekilas dan langsung duduk di kursi kerjanya. Menangkup wajahnya dan menangis tanpa suara.


Sebelumnya Fanya ingin membiarkan Gina begitu saja. Mengingat pasti Gina akan tambah benci padanya. Pasti akan jadi masalah besar jika dirinya ikut campur. Tapi karena suara tangisnya semakin terdengar keras, akhirnya Fanya memberanikan diri mendekati Gina. Barangkali dirinya bisa sedikit mengurangi beban hati Gina yang terluka.


"Gin, ada apa? Kamu kenapa?" tanya Fanya.


Gina hanya menggeleng. Tapi tangisnya semakin pecah.


"Apa ini ada hubungannya dengan Casandra?" tanya Fanya lagi.


Gina pun langsung mendongak. Menatap Fanya dengan penuh tanda tanya.


"Da... darimana lo tau?" kata Gina balik tanya.


Lantas Fanya pun menjelaskan kronologi dimana dirinya bertemu dengan Casandra. Dimana dirinya hampir diculik oleh bodyguard Casandra.


"Begitulah hampir sama ceritanya." ucap Gina pelan.


"Jadi itu benar?" hanya diangguki Gina dengan wajah yang masih sedih.


Fanya menyeka air mata Gina dengan tisu. Gina tak menolak.


"Aku sebenarnya tak mau berkomentar apa-apa. Tapi sebagai teman, aku sungguh menyayangkan kenapa hal seperti ini bisa terjadi padamu. Aku tau kamu adalah gadis baik-baik, jutekmu mungkin menyimpan sejuta alasan. Bagaimana hal buruk itu terjadi, mungkin suatu teguran agar kamu bisa lebih menjaga diri. Bisa membedakan yang mana urusan pekerjaan dan yang mana urusan pribadi. Oh ya, pria di dunia ini kan bukan suami Casandra seorang. Masih banyak pria lajang di luaran sana. Apa perlu aku carikan?".

__ADS_1


"Fan, terima kasih atas kepedulian lo sama gue. Gue emang udah jahat sama lo. Tapi lo bisa nasihatin gue secara bijak. Makasih. Tapi jujur, gue nggak ada perasaan apa-apa sama pria yang disebut sebagai suami Casandra itu. Gue hanya berperan sebagai pekerja saja dan pria itu sebagai tamu. Hanya hubungan itu. Mana maulah gue sama pria beristri. Yah meski kaya, tapi standar gue tinggi. Minimal setara sama Sakti. Eh maaf keceplosan!".


"Iya aku paham. Gapapa kalo emang standar tinggi yang kamu makaud adalah Sakti, pacarku. Asal kamu bukan penyintas hubunganku dengan Sakti. Bukan pelakor. Oh ya, lalu gimana reaksi Casandra pas kalian ketemu tadi? Apa dia melukaimu? Setauku dia memang cukup elegan, wanita berkelas. Tapi kalo tidak suka sama orang, sepertinya langsung nyuruh bodyguard-nya untuk membalaskan dendam. Dia punya uang untuk membalaskan rasa sakit hatinya." ujar Fanya.


"Kok tebakan lo bener sih? Iya, gue diancam habis-habisan sama dia. Gue udah bilang kalo gue bukan pelakor. Trus pacar gelap suaminya sebenarnya bukan gue. Adalah pokoknya. Casandra kenal orang itu. Nah, suaminya bilang ke Casandra alasan cerai karena gue. Padahal gue loh dideketin suaminya aja kagak. Demi ngelindungin kekasih gelapnya dari Casandra, gue yang dikorbankan. Lo nggak kasian sama gue?" Gina menangis lagi.


"Udah, tenang. Semua akan segera membaik. Waktu yang akan menjawab." Fanya memeluk Gina.


Pada saat yang bersamaan, Lusi CS datang.


"Kalian ngapain?" tanya Lusi.


"Iya, akrab banget. Biasanya udah kayak bawang merah dan bawang putih." ucap Ica.


"Kami hanya berbaikan aja kok. Ya kan Gin?" Fanya mengedipkan matanya ke Gina dan diangguki oleh Gina.


"Oh begitu. Bagus deh!" seru Ica.


"Makasih ya." bisik Gina pelan.


***


Di sore hari yang cerah, tepatnya pukul 5 sore, Fanya telah bersiap untuk pulang. Tidak seperti teman-temannya lain yang kebanyakan dijemput pasangannya, Fanya hanya berbesar hati menerima bahwa dirinya hanya sendirian.


'Sendiri lagi. Ah, sudah biasa....' batin Fanya sembari tersenyum melambaikan tangan pada teman-temannya yang pulang mendahuluinya.


Fanya menyalakan ponselnya. Sepi. Tak ada tanda-tanda Sakti menghubungi atau bahkan mengiriminya pesan. Fanya membuang nafas kasar. Kembali berbesar hati untuk terus bersabar.


"Sayang!".


Fanya terdiam, menghentikan langkah kakinya yang hendak menyeberang jalan. Ia cukup familiar dengan suara itu.


'Mungkin hanya halusinaku. Efek kangenku padanya.' pikir Fanya.


Kemudian Fanya bersiap melanjutkan kembali jalannya.


"Tunggu Sayang!" panggil Sakti lagi.

__ADS_1


Alhasil Fanya pun menoleh ke arah sumber suara di belakangnya. Dan tampaklah sosok pria pujaan hatinya yang beberapa hari ini membuatnya kangen.


"Mas Sakti..." kata Fanya pelan, tapi Sakti masih mendengarnya.


"Kemarilah!" ucap Sakti yang membentangkan kedua tangannya lebar-lebar.


Fanya yang terlanjur senang, buru-buru berlari menghampiri Sakti dan memeluknya erat.


"Aku kangen..." kata Fanya tak malu-malu lagi.


"Sama. Aku juga kangen. Tidak. Aku kangen banget sama kamu." bisik Sakti.


Mereka lupa jika berada di tempat umum. Banyak pasang mata yang kebetulan lewat sana, menatap haru kedua insan yang melepas rindu itu.


"Ah, ini tempat umum ya? Aku malu Mas..." bisik Fanya mulai menyadari keadaan sekitar.


"Baru sadar ya? Ayo, naik ke mobil! Mobilku ada di seberang jalan sana. Mari bergandengan tangan denganku!" ajak Sakti.


"Tentu saja. Ayo!" ucap Fanya berbinar bahagia.


Sesampai di mobil, Sakti tak langsung mengemudikan mobilnya. Karena ia parkir di bahu jalan yang bebas parkir, ia bisa leluasa berlama-lama parkir di sana.


"Mas, aku senang bisa bertemu denganmu. Karena selama kita tak bersama, banyak hal yang sudah aku lalui. Berat. Tapi untunglah Dewi Fortuna alias keberuntungan menghampiriku setelahnya." kata Fanya yang mengingat kembali flashback kejadian akhir-akhir ini.


"Cerita saja jika ada yang mau kamu ceritakan, Sayang!" perintah Sakti.


"Apakah boleh?" Sakti mengangguk yakin.


Fanya mulai bercerita rentetan kejadian yang menurutnya unik, berkesan, dan sulit dilupakan beberapa hari terakhir. Sakti mendengarkannya dengan seksama. Apakah sesuai dengan keadaan yang dilihatnya dari hasil tangkapan gambar dan video mata-mata oleh anak buahnya.


'Semua hal penting diceritakan secara detail. Tak ada yang terlewat.' batin Sakti senang.


"Ya begitulah. Aku hampir jadi korban penculikan jika gagal membuktikan bahwa aku bukan target sasaran orang-orang itu."


"Uhm, jadi begitu. Apakah kamu benci dengan Casandra yang menuduhmu sembarangan? Atau benci pada Gina yang kelakuannya hampir saja merugikanmu?" tanya Sakti serius.


"Tidak. Aku tak membenci mereka. Tapi daripada itu, aku lebih senang sudah bercerita padamu seperti ini." jawab Fanya.

__ADS_1


__ADS_2