
Sakti dan beberapa orang kepercayaannya bertemu di sebuah tempat makan bernuansa klasik. Sakti memilih ruang VIP agar pertemuannya tak diketahui publik.
"Jadi bagaimana, apakah ada berita penting yang bisa kalian laporkan padaku?" kata Sakti membuka pembicaraan.
"Bos, kami menemukan sederet informasi mengenai Ammar Haris. Ini berkasnya, silakan Bos lihat sendiri!"
Sakti menerima amplop coklat berisi kumpulan berkas Ammar Haris.
"Ini salinan data pribadi Ammar Haris?" tanya Sakti dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Pria kaya berusia 48 tahun. Duda sejak beberapa tahun yang lalu. Istrinya meninggal karena kecelakaan. Dia belum memiliki anak. Usahanya lumayan sukses. Bahkan memiliki beberapa lini perusahaan yang beromset ratusan juta rupiah. Lumayan kaya! Lalu ia merupakan teman dekat dari Om Ilyas, Papanya Marina. Pantas saja dia hadir di pernikahan Satya-Marina." ujar Sakti.
"Benar Bos. Ammar Haris juga memiliki wanita simpanan. Tapi kebanyakan hanya sebagai penghibur malam baginya. Bukan benar-benar akan dinikahi." kata salah seorang anak buah Sakti.
"Maksudmu dia tak ubahnya pria hidung belang? Tolong kalian jelaskan, bagaimana dia masih mengingat istriku?"
"Sebelumnya maaf Bos, orang itu menyimpan perasaan dalam terhadap istri Bos. Kami menemukan banyak foto Nona Fanya di kediamannya. Dan dari informasi yang kami dapatkan dari beberapa sumber, Ammar Haris ini terus mencari keberadaan Nona Fanya. Dia tak berani mengutarakan maksud dan tujuannya secara langsung. Jadi, hanya sebatas pengintaian. Selama ini, menurut pemilik bar yang sering ia kunjungi, ia sering meneguk minuman keras sembari menyebut nama istri Bos."
"Sedalam itukah? Luar biasa! Ku harap kalian menjaga istriku dari jarak tertentu. Pantau terus. Jangan sampai Ammar Haris lupa diri dan membahayakan istriku. Orang seperti dia lebih berbahaya daripada ular berbisa." kata Sakti.
"Baik Bos. Saya dan yang lainnya akan senantiasa menjaga Nona Fanya."
"Lalu apa kelemahannya?" tanya Sakti mode serius.
"Dia seorang yang perfeksionis. Dia senantiasan menjaga nama baik. Citra baik baginya adalah hal penting agar bisnis yang dijalaninya senantiasa lancar. Pernah suatu ketika ia terlibat skandal. Ia tak segan membayar mahal untuk itu."
"Dia punya anak buah atau bodyguard?"
"Punya. Tapi pengamanannya tak seketat itu. Hanya sesekali ketika diperlukan saja. Mungkin ia merasa tak memiliki musuh yang mengintainya."
Sakti menyudahi pertemuannya dan kembali ke kantornya. Ia sengaja tak mengajak Fanya agar rencananya tak diketahui Fanya. Bagaimanapun, ia ingin menjaga istri yang sangat dicintainya itu.
__ADS_1
Selama di kantor, ia cukup serius menyelesaikan pekerjaannya. Meski tak ada Satya, ia tetap seperti Sakti yang biasanya. Pekerja keras dan profesional kerja. Sebagai informasi, Satya masih dalam kondisi cuti menikah sampai tiga hari ke depan.
Sakti mengambil ponselnya. Ia menyalakan layar ponselnya. Muncul gambar dirinya dan Fanya yang berbahagia saat pernikahan mereka. Sakti tersenyum dan membayangkan senyum manis istrinya. Ia beruntung memiliki istri seperti Fanya.
Saat jam makan siang, Sakti memilih makan di kantin. Ada banyak pasang mata mengamatinya. Salah satu alasan utamanya, sebab Sakti jarang sekali makan siang di kantin. Ke kantin jika Fanya yang mengajaknya.
"Eh tumben yah Pak Sakti makan di sini. Dia kan anti banget makan di kantin." kata Dinda.
"Kayaknya lebih anti liat kamu deh, Din. Dia bukannya anti. Mungkin males jika meladeni orang-irang seperti kalian yang kepo urusan orang. Beberapa kali dia makan di kantin. Tapi pas ada istrinya, Bu Fanya. Kalo sendirian kan kayak gimana gitu. Ibarat kita kalo sendirian kan tengsin." kata Yuni.
"Iya sih Yun. Pak Sakti itu ngurang-ngurangi digoda sama karyawan ganjen macam Dinda." sahut Karim.
"Eh kamu ya! Mau aku timpuk pake sepatu high heels aku?" tantang Dinda.
"Ampun...!!!" teriak Karim pura-pura ketakutan.
"Udah sih. Kalian ini kayak anak kecil aja!" kata Jojo.
"Tolong jangan berisik yah. Kasian karyawan lain yang menikmati makan siangnya terganggu oleh keberisikan kalian." ujar Sakti.
"Oh iya, selepas makan siang, nanti berkumpul di ruang rapat yah. Ada hal penting yang perlu saya diskusikan bersama kalian. Paling lambat jam 2, semuanya harap berkumpul dengan membawa agenda kerja masing-masing." kata Sakti sebelum pergi.
"Baik." kata Yuni dan yang lainnya.
"Demi apa, Pak Sakti ngadain rapat dadakan dan ngomong langsung. Langka banget nggak sih ya?" seru Dinda.
"Kamu lebay banget, Din. Yuk ah kita selesain makan kita. Lalu mempersiapkan diri ke medan perang perjuangan. Berjuang melawan gempuran dan hantaman pertanyaan Pak Sakti yang mematikan." kata Jojo.
"Kamu nggak kalah lebay dibandingkan dengan Dinda." kata Yuni.
"Biasa aja tuh!" ucap Jojo.
__ADS_1
...****************...
Sementara itu, Fanya sibuk menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Sakti. Sebelumnya Sakti berjanji akan makan malam bersama Fanya. Betapa antusiasnya Fanya menyiapkan aneka hidangan yang sebagian besar kesukaan Sakti.
"Mas Sakti kapan pulangnya yah? Ini udah jam 7, tapi dia belum terlihat. Apa dia terpaksa lembur lagi? Karena Satya tentu saja masih dalam mode cuti selama beberapa hari. Dia pasti kesusahan. Aku ingin membantunya, tapi dia melarangku. Katanya, aku hanya perlu duduk manis di apartemen. Padahal seru jika duduk santai sambil menatapnya yang sibuk bekerja." kata Fanya.
Setengah jam kemudian, Sakti belum juga muncul. Fanya mulai bosan dalam penantiannya. Ia memutuskan untuk menghubungi Sakti via ponselnya. Tapi tak ada respon apapun. Bahkan setelahnya, ponsel Sakti dalam mode non aktif.
Fanya jadi cemas memikirkan suaminya yang tanpa kabar apapun, tapi tak kunjung datang. Ia bolak balik berjalan kebingungan. Sesekali mengecek ponselnya dan memghubungi Sakti kembali. Namun sia-sia, panggilan tak terhubung.
"Aku pulang!" seru Sakti yang sudah berdiri di belakang Fanya.
"Sayang... Kamu pulang akhirnya! Kenapa bisa telat? Apakah jalanan semacet itu?" tanya Fanya.
"Enggak. Tadi pulang agak telat. Rapat evaluasi dengan beberapa anggota tim. Apakah makan malam sudah siap?"
"Tentu saja sudah. Aku tak menjamin makanan di meja masih hangat. Pasti sudah dingin semua!"
"Tak masalah. Yang penting penerimaanmu masih hangat."
"Aku kaku yah? Itu karena aku sedari tadi mencemaskanmu. Mana kamu nggak bisa dihubungi. Kan aku makin gusar dan kepikiran." keluh Fanya.
"Iya maafkan aku. Ponselku juga mati. Aku lupa nge-charge tadi. Maaf yah!" pinta maaf Sakti.
"Oke. Kamu cuci tangan dulu gih. Sehabis itu kita makan bareng." kata Fanya.
Sakti menuruti perintah Fanya. Mencuci tangan di wastafel. Lalu segera bergabung dengan Fanya yang sudah duduk manis di meja makan.
"Apa ini? Sepertinya semua hidangan yang tersaji sangat lezat. Penyajian yang kamu tampilkan juga lumayan menarik. Rasanya pasti enak." puji Sakti.
"Makan aja dulu!" sahut Fanya kesal.
__ADS_1
"Baiklah. Ayo kita makan!" seru Sakti bersemangat.
Sakti menikmati makan malamnya. Ia bersyukur bisa menikmati sajian istimewa dari istrinya.