
Fanya dan Sakti benar-benar menikmati sarapan spesial masakan Bik Ani. Sudah piring kedua yang berhasil dihabiskan oleh Fanya.
"Mas, aku sudah kenyang. Enak sekali masakan Bik Ani. Aku pingin nambah lagi cuma sudah penuh isi perutku." ujar Fanya sambil memegangi perutnya.
"Iyalah. Udah piring kedua yang dihabiskan." gumam Sakti pelan.
"Ngomong apa kamu, Mas?" tanya Fanya memastikan.
"Nggak ngomong apa-apa. Kamu cantik." jawab Sakti.
"Ehm, makasih..." kata Fanya bahagia.
Fanya bergegas membereskan piring-piring kotor di meja. Selanjutnya dibawa ke wastafel untuk dicuci.
"Eh Non Fanya mau apa?" tanya Bik Ani yang baru muncul dari kebun belakang.
"Ah Bik Ani. Ini mau nyuci piring." jawab Fanya.
"Nggak usah Non. Biar Bibi aja. Non temenin Den Sakti aja di depan. Kasian Non kalo ditinggal sendirian Den Saktinya. Kan jarang-jarang quality time bareng Non Fanya. Udah gih, Non ke depan aja. Ini kan tugas Bibi." kata Bik Ani.
"Iya nih. Temenin aku dong. Aku bete sendirian tanpa belaian kasih sayangmu...." manja Sakti tiba-tiba.
"Yassalam, kamu ngagetin aja tiba-tiba muncul. Yaudah, Bik Ani aja yang nyuci piring. Tapi sebelumnya terima kasih banyak ya Bik. Aku sungguh keterlaluan. Udah dimasakin enak, makan banyak, eh giliran nyuci lepas tangan." keluh Fanya merasa bersalah.
"Gapapa Non. Udah gih pergi aja sama Den Sakti." kata Bik Ani.
Sakti menggandeng tangan Fanya. Membawanya ke ruang tengah untuk sekedar menghabiskan waktu santai berdua.
"Tante Syakira kemana?" tanya Fanya sambil mendekap setoples cemilan keripik singkong di tangannya.
"Lagi pergi. Eh, itu cemilan udah mau diembat aja. Apa kabar perut? Katanya udah kenyang. Lupa ya?" kata Sakti balik tanya.
"Eh iya. Kenyang sih perutku. Tapi gimana yah, aku masih pingin ngemil-ngemil cantik biar makin cantik. Ya kan?" ujar Fanya mengerlingkan mata ke arah Sakti yang sedang menatapnya juga.
__ADS_1
"Iya deh iya. Pacarku selalu cantik dan cantik." ucap Sakti.
"Masa sih? Ah aku nggak percaya. Kamu bukannya dulu jaman sekolah jadi idola cewek-cewek ya? Kamu playboy ya Mas?" tanya Fanya.
"Ah itu hoak. Aku mana pernah jadi idola. Aku kan pendiam anaknya. Cewek mana sih yang ngidolain aku? Aku taunya dan maunya kamu aja yang idolain aku." jawab Sakti mantap.
"Hmm, kenapa ya aku masih nggak percaya. Susah percaya dengan omongan orang tampan yang katanya bukan idola siapa-siapa."
"Coba deh tanya Mama, apa aku pernah ngenalin cewek ke Mama? Terlebih aku bawa pulang ke rumah ini. Tanya aja kalo nggak percaya!" ujar Sakti.
"Iya deh, nanti aku tanya."
"Den Sakti itu mana pernah bawa cewek ke rumah? Cuma ya itu, ada cewek bernama Mbak Sonia yang sering ke sini nanyain Den Sakti. Tapi Den Sakti nggak pernah mau nemuin kok Non. Karena tau kalo Mba Sonia itu kegatelan banget. Iyuhh, Bibi aja nggak demen liatnya." kata Bik Ani tiba-tiba.
"Kan.... Udah ah! Itu yang kelihatan aja paling!" keluh Fanya kesal.
"Bibik ngapain sih bilang gitu ke Fanya. Dia kan jadi salah paham. Fanya taunya aku ada hubungan sama cewek lain. Padahal kan nggak ada. Jangankan mikirin cewek, ngurusin kerjaan aja nggak ada habisnya. Ya sekarang ini aja baru sempet memikirkan cewek buat masa depan." ujar Sakti.
"Maaf Den. Bibi keceplosan." ujar Bik Ani merasa bersalah.
"Waduh, salah lagi. Permisi ya Den dan Non." kata Bik Ani undur diri. Takut semakin memperkeruh suasana.
"Trus hubunganmu sama si Sonia itu sudah sejauh mana?" tanya Fanya ketus.
Sakti hanya menggeleng. Lalu memainkan lagi ponselnya dengan santai.
"Ih kalo ditanya jawablah. Gimana sih Mas?".
"Aku harus jawab gimana? Sonia bukan siapa-siapa. Aku juga heran kenapa tuh cewek getol banget nyamperin mulu. Padahal udah jelas-jelas sering aku tolak. Trus nggak pernah lagi aku mau nemuin dia. Aku juga baru tau kalo tadi dia datang dari Bik Ani." jawab Sakti.
"Trus kenapa dia begitu terus? Aku aja yang katanya pacar kamu aja jarang tuh ke sini?" keluh Fanya memasang muka cemberut.
"Pertanyaannya tolong diganti. Seharusnya kamu nanya kenapa kamu jadi semakin sensi dan marah saat ada cewek lain memcoba mendekatiku?".
__ADS_1
"Ah nggak tau ah! Aku kesel aja!" kata Fanya meremas bantal sofa dengan geram.
"Kamu kalo kesel gitu, makin cantik tau. Itu tandanya kamu lagi cemburu. Wajar sih dalam hubungan ada cemburu, itu kan salah satu bumbu cinta. Aku sih bersyukur kamu bisa cemburu padaku. Kan tandanya kamu cinta dan sayang padaku."
"Tapi kamu punya banyak wanita masa lalu kan? Jujur aja sih! Nggak percaya aku kalo kamu nggak punya cerita indah masa lalu dengan wanita manapun."
"Ada sih. Beberapa tahun silam, saat aku masih menginjak bangku SMP kelas dua, aku pernah terpesona dengan seorang gadis cantik. Mungkin sekarang dia seumuran denganmu. Aku sudah lupa bagaimana rupanya. Tapi sepertinya aku masih menyimpan fotonya."
"Kan.... Ada aja kan. Yaudah tunjukin siapa dia. Kali aja aku kenal!"
"Buat apa juga? Kan masa lalu? Aku juga nggak mau bahas masa lalumu." ujar Sakti.
"Tapi aku mau tau! Aku udah kepo akut. Tunjukin sekarang!" seru Fanya.
"Baiklah. Tapi jangan marah-marah dong. Nanti cantiknya luntur. Senyum dulu!"
Fanya berkacak pinggang menantang Sakti.
"Oke. Ayo ikut ke kamar!" ajak Sakti.
"Kok ke kamar? Ngapain?" tanya Fanya curiga.
"Mengambil foto lama itu. Kan aku naruhnya di kamar. Kalo yang aku tatuh di sini... "Sakti menyentuh dadanya. "Sudah pasti ada kamu, Sayangku..."
Sakti mencoba menggoda Fanya agar pacar kesayangannya itu menyudahi ngambeknya.
"Gombal aja. Ayo!" ajak Fanya ketus.
Mereka menuju kamar Sakti. Sakti membuka salah satu laci yang sebelumnya terkunci. Ada beberapa tumpukan buku harian lama dan beberapa lembar foto yang tampak sedikit usang.
"Apa kamu yakin mau melihatnya?" tanya Sakti dan diangguki Fanya.
Lalu Sakti memberikan beberapa lembar foto usang yang telah diambilnya pada Fanya. Awalnya Fanya sedikit takut untuk melihatnya. Takut jika nanti hatinya akan terluka. Tapi berhubung ia juga penasaran, akhirnya dilihat juga foto itu dengan perasaan was-was.
__ADS_1
"Ini kan..." Fanya tak meneruskan ucapannya saat benar-benar melihat foto yang sudah berada dalam genggaman tangannya.
Fanya kemudian memandangi Sakti dengan tatapan tak percaya. Sakti langsung menunduk dan berbesar hati jika selanjutnya ia akan kena omelan dahsyat sang pacar.