Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Belum Juga Usai


__ADS_3

Kondisi kaki Fanya semakin membaik. Kini bisa berjalan normal seperti sediakala. Fanya bersyukur untuk itu. Ia bisa kembali bekerja di butik milik mertuanya.


"Harus masuk kerja ya hari ini? Nggak pilih ikut aku aja ke kantorku? Kan bisa main-main denganku." ujar Sakti merajuk.


"Iya Mas. Aku harus kembali bekerja. Pekerjaanku banyak yang tertunda selama absen beberapa hari ini. Lagipula, aku udah kangen sama Mama, sama temen-temen di butik juga. Udah seminggu loh aku ikutin kamu mulu, Mas. Ntar dikira istri posesif. Padahal kan aku dipaksa kamu aja, Mas." kata Fanya.


"Biarin aja. Yang posesif kan sebenarnya aku." kata Sakti.


"Itu Mas tau. Yaudah yuk kita berangkat. Mas udah telat nih. Aku bisa naik taksi aja." ujar Fanya sembari menenteng tas selempangnya.


"Nggak boleh. Aku masih sempat mengantarmu. Urusan kantor bisa ditunda. Tapi urusan denganmu, no no no. Tetap dinomorsatukan!" seru Sakti.


"Oke deh. Ayo Mas!" ajak Fanya dengan menggandeng lengan Sakti.


Sakti mengantarkan Fanya ke butik milik mamanya. Seperti biasa, akan banyak pasang mata yang melihat interaksi Sakti dan Fanya. Bagaimana tidak, Sakti tak hanya mengantar Fanya sampai ke lobby butik saja. Ia bahkan mengantar Fanya sampai meja kerjanya. Mengecup kening dan pipi Fanya dengan penuh penghayatan. Lalu ia pergi setelahnya. Tentu saja setelah Fanya mencium tangannya. Selalu begitu.


Saat jam istirahat, Fanya dkk memilih makan siang di food court terdekat. Ada Henny dan Gina.


"Bagaimana kabar butik selama aku tak ada?" tanya Fanya di sela-sela makannya.


"Tak ada perubahan. Sama aja. Cuma aku kangen juga. Nggak ada yang bisa aku usilin." jawab Gina sekenanya.


"Perubahan pasti ada. Kamu kan sering uring-uringan nggak ada Fanya. Nggak ada temen curhatlah. Nggak ada yang bawain bekellah. Nggak ada yang traktir afternoon tea-lah. Banyak deh!" seru Henny.


"Kok pake disebutin juga. Jadi tengsin sendiri kan akunya. Kak Henny nggak bisa jaga rahasia." kata Gina manyun.


"Oh iya, kakimu sudah baikan?" tanya Henny.


"Sudah berangsur membaik, Kak. Hanya ngilu dikit kalo kena pencet. Tapi bisa buat jalan gini aja, aku udah bersyukur banget." jawab Fanya.


"Kok bisa begitu, awalnya gimana? Kepleset aja sampe separah itukah?" tanya Gina penasaran.


"Iya, awalnya kepleset. Cuma keseleo aja. Lalu, kena jegal seseorang hingga tambah bengkak. Gitulah ceritanya." jawab Fanya.


"Tega bener orang itu! Siapa dia? Masih ada aja orang yang mau nyakitin kamu." kata Gina sambil geleng-geleng kepala.


"Sonia. Yang pernah aku ceritain ke kalian itu." ucap Fanya.


"Oh yang katamu, dia pernah ngejar-ngejar Sakti itu ya? Apa dia belum move on?" tanya Gina.


"Aku nggak tau. Apa karena aku dan Jayden ketemuan, jadi dia kesal padaku." jawab Fanya.

__ADS_1


Lalu Fanya menceritakan kronologinya secara detail dan lengkap. Gina dan Henny mendengaykan dengan penuh perhatian.


"Lah, itu kan urusan Jayden. Salah sendiri belum bisa move on darimu. Masa iya, kamu disalahin terus? Namanya juga hati, nggak bisa dipaksain gitu aja. Trus si Sonia itu yah, pingin aku jambak aja rambutnya!" seru Gina.


"Udah-udah! Kamu kayak berani aja." ledek Henny.


"Lagian aku juga udah gapapa kan? Biarin aja. Ayo dimakan lagi. Kalo perlu nambah lagi aja. Aku yang bayar hari ini." kata Fanya.


"Serius? Mau nambah dessert aja yah buat dibungkus untuk cemilan di butik ntar. Boleh yah?" tanya Gina riang.


"Iya aja. Terserah kamu. Kak Henny juga, jangan malu-malu." ujar Fanya.


"Aku apa ya? Mau nambah minumannya aja. Aku nggak bisa makan banyak." ucap Henny.


"Oh yaudah." kata Fanya.


Sementara itu, ada seseorang yang tengah mengawasi mereka bertiga.


"Ayo kita kembali ke butik. Jam istirahat udah mau abis." ajak Henny.


"Iya Kak. Ayo!" seru Gina.


Tiba-tiba tanpa terduga, seseorang melajukan motor dengan gaya ugal-ugalan. Dan... memukul Fanya dari arah belakang. Lalu Fanya terjatuh.


"Awww.....!!!" pekik Fanya kesakitan.


Sontak Henny dan Gina menoleh ke belakang. Tapi Fanya sudah terjatuh dengan luka lecet di tangan kirinya. Tapi sang pemukul sudah kabur dengan motornya.


"Fanya kenapa?" tanya Gina panik.


"Kok bisa jatuh? Mana tanganmu berdarah lagi." kata Henny tak kalah panik.


"Tadi aku..." Fanya tak menceritakan apa yang terjadi.


"Kamu kenapa?" tanya Henny.


"Ah enggak! Aku kurang hati-hati. Sepertinya efek kekenyangan. Jadi jalannya nggak fokus. Yaudah yuk jalan lagi." kata Fanya.


"Mari aku bantu. Kamu pegangan aku aja yah!" kata Gina.


Fanya berpegangan pada Gina. Berjalan perlahan karena kakinya masih merasa ngilu. Terlebih bertambah nyeri pada tangan kirinya.

__ADS_1


'Ada apa ini? Sepertinya orang tadi sengaja menabrakku. Tadi siapa dan kenapa? Perasaan banyak banget yang membenciku. Padahal aku nggak tau udah buat kesalahan apa. Entahlah, semakin dipikirkan semakin membuatku sakit kepala. Kaki aja belum sembuh bener udah ditambah tangan sakit begini. Nanti gimana tanggapan Mas Sakti ya? Pasti ngomel lagi deh. Aduh....' batin Fanya.


Beberapa saat kemudian, seseorang mengguyur oli ke arah mereka bertiga. Lalu segera melarikan diri dengan motor balapnya.


"Sialan....!!!" pekik Gina marah.


"Ya Tuhan, apa ini? Kenapa orang itu menyiram kita dengan oli? Iseng banget!" keluh Henny.


'Masih berlanjut ya? Sepertinya masih orang yang sama. Buat apa berusaha mengerjai kami?' pikir Fanya dalam diam.


"Kau gapapa?" tanya Gina.


"Tidak. Ayo kita percepat langkah kembali ke butik!" ajak Fanya.


"Dengan pakaian penuh noda oli begini? Pasti jadi ejekan orang satu butik. Nggak habis pikir!" keluh Gina.


"Nanti kita ganti baju." kata Fanya.


"Aku lagi nggak bawa baju cadangan. Cucian aku aja belum aku cuci sejak seminggu yang lalu." ujar Gina manyun.


"Pakai baju aku aja. Aku bawa banyak cadangan. Ayo!" ajak Fanya.


Mereka bergegas menuju ke butik. Benar, sesampai di butik, semua pasang mata memandangi mereka dengan tatapan menahan tawa. Mungkin untuk Henny dan Gina iya, tapi sungkan menertawakan Fanya.


"Ayo, jangan hiraukan mereka." kata Fanya.


"Kenapa Sayang? Apa yang terjadi dengan bajumu, baju Henny dan Gina?" tanya Bu Syakira.


"Gapapa Mama. Ini hanya kecelakaan kecil." bohong Fanya.


"Fanya, tadi kan..." Gina setengah berbisik.


"Kami tadi nggak sengaja kecipratan oli, Ma. Kami mau bersih-bersih badan dulu ya, Ma." ujar Fanya yang langsung menarik Gina dan Henny.


Meski masih diliputi rasa penasaran, Bu Syakira akhirnya mengiyakan kata-kata Fanya begitu saja.


"Kok kamu bohong?" tanya Gina.


"Bukan gitu, aku nggak mau Mama mertua khawatir. Nanti takutnya cerita sama Mas Sakti. Kan jadinya aku dilarang kerja lagi. Yah, nggak enak dong absen lagi. Nanti kita nggak bisa makan siang bareng lagi." kata Fanya.


"Oh iya, bener juga." kata Gina.

__ADS_1


__ADS_2