
Sudah hampir dua minggu, keluarga Fanya menginap di apartemen Sakti. Itu artinya momen pernikahan sudah ada di depan mata. Dua hari lagi.
"Nak, ibu ngerasa nggak enak deh numpang di sini terlalu lama. Keluarga Sakti sudah berbaik hati menampung keluarga kita." kata Bu Anya.
"Fanya tau, tapi bagaimanapun kan Mas Sakti yang meminta kita semua tinggal di sini. Fanya juga ngerasa nggak enak, Bu. Kan sebelumnya Fanya pernah bilang ke Mas Sakti kalo ibu bapak dan keluarga Mas Fandi akan tinggal di tempat lain, yaitu sewa rumah untuk sementara. Tapi ya gitu, Mas Sakti menolak mentah-mentah rencana Fanya. Katanya lebih boros. Padahal kan kita semua jadi ngerepotin kan?" ujar Fanya.
"Mungkin pacarmu nggak mau membebanimu. Kamu taulah, kalo pria sudah menjatuhkan pilihan hatinya, maka akan senantiasa diperjuangkan bagaimanapun caranya. Termasuk membahagiakan keluarganya. Aku rasa begitu." kata Fandi.
"Mas Fandi gitu juga nggak Mbak?" tanya Fanya pada Lastri yang kebetulan ada di sana juga.
"Iya dong. Mas Fandi kan sayang sama keluarga." jawab Lastri.
"Pernikahanmu sudah mendekati hari H. Kamu kayaknya nggak gugup sama sekali?" tanya Pak Fahmi.
"Gugup sih pasti, Pak. Tapi Fanya nggak liatin aja. Ini jantung udah deg-degan dari kapan tau. Kira-kira Fanya bisa nggak sih jadi seorang istri yang baik untuk Mas Sakti nanti? Fanya kepikiran terus selama beberapa hari ini. Dibilang nggak siap, tapi persyaratan sudah lengkap dan niat sudah bulat. Dibilang siap, tapi rasa gugup dan ketakutan masih mendera. Gimana tuh Pak?".
"Ya kamu banyak-banyak berdoa dan beribadah. Persiapkan mental dan yakin bahwa kamu pasti bisa. Membina bahtera rumah tangga itu tidak sesulit dan semudah yang dibayangkan. Bisa jadi sulit, jika dilalui dengan rasa tidak percaya diri dan menganggap beban. Tapi bisa jadi mudah, jika dilalui dengan percaya diri dan menganggap ibadah. Kamu pasti bisa. Selama kalian saling menyayangi dan mencintai satu sama lain, semua akan terasa mudah. Percayalah, hidup hanya sekali. Jadi, buatlah cerita indah kalian berdua. Kami sebagai orang tua, senantiasa mendoakan kebaikan dan keberkahan pernikahan kalian agar selalu bahagia dunia akhirat. Aamiin." jawab Pak Fahmi.
"Iya, jalani semua dengan ikhlas." tukas Bu Anya.
Fanya mencoba mengerti penjelasan kedua orang tuanya.
"Hari ini kamu sengaja ambil cuti ya?" tanya Fandi.
"Iya Mas. Tante Syakira nyuruh aku ambil cuti aja. Toh kalo ada kerjaan dadakan, bisa dikerjain di rumah." jawab Fanya.
"Oh gitu. Enak ya." kata Fandi.
__ADS_1
"Kamu juga enak Mas. Dikasih cuti selama sebulan penuh kan sama Bossmu?" seru Lastri.
"Kok bisa? Bagaimana ceritanya?" tanya Fanya kepo.
"Bilang aja ada unsur orang dalam. Entah bagaimana ceritanya, Bossnya Mas ternyata temen lamanya Sakti. Dari situlah mungkin Mas dikasih cuti via jalur khusus." jawab Fandi.
"Enak juga yah." gumam Fanya.
"Kamu yang lebih enak. Kan kamu calon istrinya Sakti. Pasti banyak hal-hal menyenangkan yang akan kamu dapatkan. Habis gelap terbitlah terang. Jadi, untuk selanjutnya, kamu jangan takut pulang ya." ujar Fandi.
"Iya Mas. Mungkin Fanya akan lebih berani menatap masa depan jika statua Fanya sudah berubah. Selama ini, tepatnya beberapa tahun terakhir, Fanya masih trauma untuk pulang. Bukan karena tak kangen kalian semua. Fanya takut teringat kisah lama. Dimana Fanya dipermalukan sedemikian rupa. Tapi tanpa adanya cerita itu, mungkin Fanya belum tentu berjodoh dengan Sakti." kata Fanya sembari menghembuskan nafas kasar.
"Iya Nak. Kesabaranmu pasti akan dibayar dengan kebahagiaan." ujar Bu Anya.
***
"Sudah Tuan. Semua berkas sudah lengkap dan hanya menunggu pelaksanaan kerja sama aja. Bahkan perusahaan kita sudah transfer dana investasi." jawab Satya.
"Bagus. Lusa aku akan menikah, aku ingin urusan pekerjaan selesai sebagaimana mestinya." kata Sakti.
"Sebisa mungkin saya akan membantu Tuan menyelesaikan pekerjaan yang masih tertunda." ujar Satya.
"Oke, lanjutkan pekerjaanmu. Aku mau menghubungi pacarku, eh calon istriku." kata Sakti.
Satya meninggalkan ruangan Sakti.
"Sebenarnya larangan untukku melihat wajah Fanya meski hanya video call. Tapi gimana yah, aku kangen berat sama dia. Dipinggit seminggu rasanya bikin nyeri hati. Rindu berat aku tuh." keluh Sakti.
__ADS_1
Akhirnya Sakti hanya melakukan panggilan telepon biasa.
"Ya Sayang. Ada apa?" kata Fanya setelah menerima panggilan telepon.
"Aku kangen.... Tapi harus ku tahan. Nggak sabar nunggu dua minggu lagi. Masih lama aja rasanya" kata Sakti mode manja.
"Sabar Sayangku, Mas Sakti yang tampan. Aku juga kangen Mas. Kita nikmati aja kerinduan ini sampai momen halal menghampiri kita. Nggak lama kok dua minggu itu." kata Fanya dari seberang telepon.
"Iya. Kamu dan sekeluarga sehat kan? Baju yang dipesan, sudah datang kan?" tanya Sakti.
"Iya Mas. Sudah datang kemaren. Semua sudah mencobanya dan pas. Kebaya bahkan sangat cantik. Aku menyukainya. Aku nggak sabar sih menggenakannya. Pasti cantik deh. Kebayanya..." ujar Fanya.
"Kebaya rancangan dari Mama memang cantik. Sederhana tapi terkesan elegan dan unik. Kamu pasti cantik saat memakainya. Nanti jangan lupa berterima kasih sama Mama. Dia support system acara pernikahan kita." ujar Sakti.
"Pasti Sayang. Mamamu is the best pokoknya. Aku suka sekali kebaya rancangan Mamamu." balas Fanya.
"Bagus. Semoga acara sederhana kita berlangsung dengan khitmad dan lancar. Aku sangat menantikannya. Terlebih malam pertama. Pasti seru dan menegangkan. Aku terbayang-bayang meski belum tau bagaimana ceritanya nanti." ucap Sakti bahagia sambil berkhayal.
"Jangan banyak mengkhayal Mas. Nanti juga akan tau bagaimana rasanya. Oh iya, Mas udah makan siang?"
"Belum. Ini mau order dulu. Nanti kalo kamu udah sah jadi istriku, boleh dong yah sekali-kali dibawain makan siang?" tanya Sakti.
"Iya boleh. Aku akan lebih giat belajar masaknya dari Ibuku. Biar Mas nggak kecewa sama masakanku." jawab Fanya.
"Masakanmu udah enak kok. Kan waktu itu pernah masakin aku dan Mama juga. Pasti masih seenak itu. Tapi aku nggak nuntut banyak hal kok ke kamu. Kamu udah mau jadi istriku aja, aku udah bahagia. Bahkan kalo kamu nggak mau masakin aku pun, aku tak masalah. Kita bisa minta Bik Ani untuk masakin kita. Atau beli makanan cepat saji. Yang penting kamu melayaniku sepenuh hati dan sepenuh jiwa raga." kata Sakti.
"Iya, iya. Aku akan jadi istri yang baik untukmu. Udah dulu ya Mas, ini keponakanku lagi rewel. Tadi Mbak Lastri dan Mas Fandi nitipin ke aku. Mereka lagi keluar. Sementara ayah dan ibu lagi istirahat. Aku tutup dulu yah teleponnya. Lain kali kita ngobrol lagi. Bye Sayangku yang tampan..." kata Fanya mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
Sakti terpaksa harus rela mengakhiri obrolan manisnya dengan Fanya.