Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Rahasia Marina Dulu


__ADS_3

Marina masih berada di apartemen Satya. Ia menemani Satya yang masih sakit. Meski ia tidak begitu ahli mengurus rumah tangga, sebisa mungkin ia siaga menyediakan apa yang Satya butuhkan. Ia menyiapkan makanan dan membantu Satya minum obat yang sudah dikirim oleh anak buah Sakti.


"Apa kamu tak lelah?" tanya Satya.


"Tidak. Ini bukan hal besar untuk membuatku lelah. Yang penting kamu sembuh dulu. Aku inginnya kamu yang senantiasa jagain aku." jawab Marina.


Satya mengambil ponselnya. Ia membuka galeri ponselnya. Menunjukkan pada Marina betapa lucunya ia semasa kecil. Menunjukkan saat ia masih remaja dan beranjak dewasa.


"Ini kamu kan?" tanya Marina pada sebuah foto keluarga.


"Iya. Itu aku. Kenapa? Ganteng ya?" kata Satya balik tanya.


"Iya jelas, kamu ganteng. Tapi kamu kenal sama mereka?" Marina menunjuk pasangan suami istri.


"Mereka adalah majikanku sebelum aku kerja pada Tuan Sakti. Mereka itu bagaikan orang tua angkat bagiku. Aku banyak berhutang budi pada mereka." ujar Satya.


"Lalu kemana mereka?" tanya Marina lagi.


"Entahlah. Mereka hanya bilang mau menetap di luar negeri. Beberapa tahun yang lalu. Sudah lama sekali aku tak bertemu mereka lagi. Kangen juga dengan mereka. Kira-kira bagaimana ya kabar mereka sekarang?"


"Oh begitu. Mereka pasti baik-baik saja." kata Marina sambil tersenyum.


"Jika mungkin, aku ingin memperkenalkanmu pada mereka. Pasti mereka senang. Mereka juga punya seorang anak perempuan. Tapi aku belum pernah bertemu. Mungkin seumuran denganmu." ucap Satya.


"Apa mereka yang menyekolahkanmu sampai lulus Magister?"


"Iya benar. Meski kami berpisah bahkan sebelum aku lulus Sarjana, tapi mereka sudah memberikanku tabungan pendidikan yang bisa ku gunakan sampai lulus Magister. Betapa beruntungnya aku bukan? Padahal aku hanya seorang sopir pribadi tamatan SMA yang bahkan tak punya keahlian apa-apa." cerita Satya mengenang masa lalu.


"Yah, kamu beruntung. Tak banyak pria beruntung seperti kamu. Dan kamu juga bisa memanfaatkan keberuntunganmu dengan baik. Terima kasih sebelumnya." kata Marina.


"Terima kasih dalam hal apa?" tanya Satya.

__ADS_1


"Adalah pokoknya." jawab Marina.


"Gini ya, kalau diingat-ingat, dulu aku pernah mau dijodohkan sama putri semata wayang mereka. Waktu itu putri mereka sedang bersekolah di luar negeri. Ikut nenek dan kakeknya yang menetap lebih dulu di luar negeri. Tentu saja putri mereka menolakku meski kami belum pernah bertemu. Mana mungkin gadis itu belum punya pacar bukan? Ibunya saja cantik, pasti putrinya juga tak kalah cantik. Nggak tau kenapa, aku yakin dia adalah gadis cantik. Meski kami belum pernah bertemu." kata Satya.


"Yah, gadis itu sudah punya pacar. Makanya menolak keras dijodohkan."


"Padahal jika pun kami cocok dengan perjodohan itu, aku takkan berani langsung meminangnya. Aku ingin sukses dulu. Aku tak mau menyusahkannya. Tapi itu hanya cerita masa lalu. Sekarang, aku sudah bahagia denganmu." ujar Satya sembari mengelus pucuk rambut Marina.


"Apakah kamu berniat bertemu gadis itu?" tanya Marina penasaran.


"Tidak. Aku sudah bertemu orang yang tepat. Biar saja dia bahagia dengan hidupnya. Aku juga akan bahagia dengan hidupku sendiri. Bersamamu...." jawab Satya.


"Wah, kamu cukup bijaksana. Sekali lagi terima kasih. Kamu tak terjebak kehidupan masa lalumu." tutur Marina.


Satya kembali merebahkan tubuhnya di ranjangnya. Marina membantu Satya memposisikan diri.


"Maaf ya, aku bercerita tentang masa laluku. Kamu pasti bosan mendengarnya." kata Satya.


"Bukan begitu Sayang. Aku bangga dengan kejujuranmu. Semua orang pasti punya masa lalu. Aku pun demikian. Jadi, tak masalah. Bukankah kita masih punya masa depan?"


Satya menguap, menandakan telah datang rasa kantuknya.


"Kamu mengantuk? Yasudah kamu istirahat dulu aja. Aku juga akan beres-beres dulu. Tadi belum sempet benahin cucian bekas makan siang kita. Aku tinggal dulu yah, kamu bobo aja." kata Marina.


Namun Satya menahan Marina saat Marina mulai beranjak.


"Tak perlu. Cukup kamu diam di sini bersamaku. Temani aku saja. Aku lebih butuh dirimu daripada cucian bersih. Jangan kemana-mana. Aku ingin ditemani kamu. Boleh ya?" rengek Satya manja.


"Baiklah." ujar Marina.


Marina pun ikut merebahkan dirinya di samping kiri Satya. Kesempatan yang takkan dilewatkan oleh Satya, ia langsung memeluk tubuh kecil Marina. Tubuh Marina tenggelam dalam pelukan Satya.

__ADS_1


"Loh, ini apa maksudnya?" tanya Marina bingung.


"Aku hanya ingin memelukmu. Biarlah begini. Aku takkan menuntut lebih. Dengan begini, hatiku sedikit tenang dan nyaman. Karena kamu adalah sumber obatku." jawab Satya.


"Cepet sembuh makanya. Aku tuh lebih suka kamu yang ekspresif dan agresif. Kalo lemes begini kan kurang menarik. Aku nggak bisa manja-manjaan padamu." ujar Marina.


Satya menciumi pipi Marina dengan gemas. Ia bahagia dengan perkataan Marina.


"Sayang, aku sangat bersyukur dipertemukan denganmu. Meski awalnya kamu sama sekali tak tertarik padaku, tapi gapapa. Toh kini kamu menyukaiku kan? Cinta aku kan?"


"Iya, aku cinta kamu, Sayangku..."


Satya yang masih memeluk Marina, sedikit melonggarkan pelukannya. Menatap wajah cantik Marina yang menatapnya juga.


"Aku sangat mengantuk. Efek obat yang kamu berikan tadi membuatku mengantuk berat. Sepertinya dalam beberapa menit ke depan, aku akan tidur pulas. Siap-siap aku bobo duluan yah. Kamu janji jangan kemana-mana ya? Temani aku." kata Satya.


"Bahkan aku nggak boleh ke toilet kalo kebelet pipis misalnya?" tanya Marina.


"Boleh, boleh. Tapi abis dari toilet, kamu langsung temani aku lagi. Pokoknya seharian ini mau nyantai pun, aku harus ditemani kamu." jawab Satya posesif.


"Begitu ya?" tanya Marina lagi.


"Iya. Aku bobo dulu ya...." ujar Satya yang mulai menutup mata.


Tak lama dari itu, Satya sudah terlihat pulas tidurnya. Marina bernafas lega melihatnya. Kini ia bisa mulai bersih-bersih sekaligus membersihkan diri.


"Lihat saja, aku akan membawa kejutan besar untukmu. Sesuatu yang bagimu mustahil akan berubah jadi nyata. Tiada yang tau kemana dan dimana takdir bermuara." ujar Marina.


Satya sebenarnya mendengar kata-kata Marina. Tapi tak memberikan tanggapan apa-apa selain diam dan pura-pura tidur karena sebenarnya dirinya memang sudah mengantuk.


"Dulu, aku benci dengan hidupku di masa lalu. Kurang kasih sayang orang tua. Aku sampai lupa bagaimana caranya bahagia. Uhm, liat aku yang sekarang. Beda banget kan sama aku yang dulu? Dari foto aja udah terlihat jelas kok!" kata Satya pelan.

__ADS_1


"Yang sekarang tambah ganteng. Sudah matang dan rasanya enak. Kalo dulu masih mentah kali ya. Umur masih belasan gitu." kata Marina.


Sepertinya Satya mulai terlelap. Marina tetap diam dan tak bersuara. Masih dalam pelukan erat Satya yang kadang membuatnya sesak.


__ADS_2