Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Masa Lalu Sakti


__ADS_3

Sakti dan Fanya sudah tidur di ranjang mereka. Sakti sudah terlelap beberapa saat yang lalu. Sementara Fanya masih terjaga. Sepertinya sulit baginya untuk sekedar memejamkan matanya.


"Aku belum bisa tidur, Mas." rengek Fanya yang bergelayut manja di lengan Sakti.


Sakti tak bergeming, sebab ia sudah larut dalam buaian mimpi indahnya sendiri.


Fanya pun bangkit dari tidurnya. Menyalakan laptop milik Sakti. Bukan untuk mengali informasi Sakti, melainkan ingin berselancar dalam dunia maya.


"Tidakkah aku sedikit lebay dengan menyalakan laptop ini? Padahal aku bisa melakukannya meski hanya menggunakan ponsel pintarku." ujar Fanya.


Saat laptop sudah menyala, mata Fanya penasaran terhadap nama folder yang tertera di sana.


"Apa ini?"


Penasaran Fanya berbuntut untuk membuka isi folder itu. Di dalam folder pun, terdapat sub folder dengan berbagai nama unik. Iseng, Fanya pun membuka satu per satu.


Di folder pertama, Fanya menemukan informasi mengenai alur bisnis yang sudah berhasil Sakti jalankan. Fanya bangga dengan semua perolehan Sakti yang ternyata tidak instan dan tidak mudah.


Folder kedua, Fanya menemukan informasi seputar pria-pria yang mendekati Fanya. Termasuk Ammar Haris.


"Apa ini? Ups!" Fanya langsung membungkam mulutnya sendiri.

__ADS_1


Karena penasaran, Fanya pun membaca informasi mengenai Ammar Haris dan beberapa pria lain yang mendekatinya. Fanya cukup serius membacanya hingga selesai.


"Apa benar nama-nama pria itu semuanya mendekatiku? Sepertinya hanya kebetulan aku mengenalnya saja. Bahkan menurutku pria yang getol mendekatiku ya cuma kamu, Mas. Kenapa ada informasi menyesatkan begini. Sudah tau itu tak benar. Eh apa lagi ini?"


Fanya membuka folder lain yang ternyata berisi perjalanan hidup Sakti selama menghabiskan masa pendidikan sekolah dan kuliahnya. Memang tak banyak informasi yang diceritakan dalam tulisan itu. Yang paling berkesan bagi Fanya adalah persahabatan Sakti dan beberapa teman pria yang tergabung dalam satu tim basket.


"Oh jadi dulu Mas Sakti dan salah satu temannya ini pernah bertukar peran menjadi ketua tim basket. Saat menjabat sebagai tim basket, Mas Sakti pernah disukai oleh banyak teman wanitanya. Hanya saja, Sakti saat itu belum membuka hatinya. Cerita yang mengesankan. Tapi apa kabar wanita bernama Bella ini? Mas Sakti nggak banyak bercerita tentang dia. Tak mau dikisahkan atau memang tak ada kesan?"


"Kamu belum tidur?" tanya Sakti yang masih rebahan di ranjangnya.


"Iya Mas." jawab Fanya kaget dan bergegas mematikan laptop milik Sakti.


"Ayo tidur sini. Ini masih tengah malam. Besok lagi begadangnya!" perintah Sakti.


"Kamu sedang apa tadi?" tanya Sakti.


"Kamu marah nggak jika aku tau isi folder di laptopmu itu?" kata Fanya balik tanya.


"Enggak. Kamu bisa setiap hari membaca dan menghafalkan setiap isinya. Aku tak masalah. Lagipula, tak ada rahasia diantara kita. Aku juga tak merasa ada hal yang perlu disalahpahami. Semuanya transparan dan begitu adanya."


"Lalu bagaimana kabar terkini wanita bernama Bella. Teman wanitamu semasa SMA?" tanya Fanya.

__ADS_1


"Aku tak tau. Sudah lama kami tak berkomunikasi. Lagipula, selama kami masih satu sekolahan, aku tak intens berkomunikasi dengannya. Kami tak sedekat itu. Dia menyukaiku pun itu hanya rumor yang beredar. Aku taunya dia pacar sahabatku bernama Kristian. Apa kamu sangat ingin menemuinya? Aku bisa melacak keberadaannya jika kamu membutuhkan informasi tentangnya. Itu tak sulit!" jawab Sakti.


"Bukan begitu, Mas. Aku hanya kepo apakah di antara kalian tak ada hubungan percintaan? Hanya sebatas itu yang jadi pertanyaanku. Aku kan pingin tau, wanita mana saja yang pernah dekat dengan suamiku? Apakah aku lebih buruk dari mereka? Apakah...?"


"Tentu tidak, Sayang. Kamu lebih baik dari wanita manapun yang ku kenal. Aku sama sekali tak ada rasa dengannya. Aku menganggapnya seperti teman wanita yang lain. Hanya teman saja. Meski begitu, sepertinya aku masih berhutang budi dengan Bella itu. Dia banyak membantuku waktu itu. Dia itu anak dari yayasan sekolahku. Berkat dia, tim basket kami banyak mendapat support dana dari yayasan. Trus juga, kendala kami sebagai tim basket, seperti ketinggalan pelajaran dan sebagainya, dapat dengan mudah diatasi. Berkat dia juga tentunya. Selain cantik dan baik, dia juga pintar. Dia dengan senang hati mengajari kami. Maka tak heran jika aku menyimpan kenangan baik tentangnya. Maaf ya Sayang, jika aku terlalu banyak mengenang kebaikannya. Aku bersumpah bahwa aku tak mencintai atau menyukainya. Tidak!" penjelasan Sakti.


"Oh begitu. Iya, aku tak masalah. Jika pun kalian pernah menjalin cinta, aku pun tak masalah. Sebab aku pun pernah punya cinta di masa lalu. Yang terpenting kan kita masih diberikan hati untuk saling mencintai. Yaudah, kita tidur yuk!" ajak Fanya.


"Iya. Tidurlah dulu. Aku akan tidur setelah menidurkanmu." kata Sakti.


Beberapa saat kemudian, Fanya sudah terlelap dalam dekapan Sakti. Sementara Sakti tak mengantuk lagi. Matanya kembali segar. Pikiran Sakti menerawang jauh kembali ke masa lalu.


Saat SMA dulu, Sakti memang banyak dibantu oleh Bella. Bukan kenangan Bella yang terus terngiang di kepala Sakti. Tetapi salah seorang sahabatnya bernama Kristian. Kristian yang pada waktu itu adalah saingan terberat Sakti dalam tim basket. Hubungan Sakti dan Kristian sangat baik. Keduanya bahkan sering menghabiskan waktu bersama untuk urusan sekolah.


Lalu kemanakah Kristian? Sakti pun memejamkan matanya kembali. Bukan tidur, tapi mengingat lebih dalam lagi. Kristian sahabatnya itu, ternyata sudah meninggalkan dunia alias mati. Kematian Kristian juga disebabkan oleh bunuh diri.


Sakti menghembuskan nafasnya. Ia ingat, alasan Kristian mengakhiri hidupnya tak lain adalah karena dirinya. Kristian marah besar pada kenyataan bahwa Bella, kekasihnya ternyata mendekatinya sebagai pacar hanya untuk mendekati Sakti. Tujuan cinta Bella adalah Sakti. Meski hanya rumor yang beredar, Kristian mempercayai itu semua. Sejak saat itu, Kristian memutus hubungan dengan Sakti secara sepihak.


Bella sebagai kekasih Kristian, bukannya menenangkan kekasihnya, justru lebih gencar mendekati Sakti dengan alasan membantu mengejar ketinggalan belajar. Sakti yang pada saat itu tak bisa menolak kebaikan Bella, hanya mengikuti alur saja. Semakin lama, Kristian semakin kehilangan arah. Ia memutuskan mengakhiri hidupnya begitu saja.


"Aku yang salah. Jika aku dan Bella tak pernah dekat sebagai teman, maka Kristian mungkin masih ada di sini. Dia pasti masih baik-baik saja dan hidup dengan baik. Dia pasti menjadi pebasket terkenal seperti cita-citanya. Aku cukup menyesal. Sungguh, aku teman yang buruk. Kenangan menyakitkan kematian Kristian sulit untuk diubah. Semoga Kristian memafkanku dari dunia barunya." lirih Sakti.

__ADS_1


Sakti semakin erat memeluk Fanya. Ia bersyukur sekarang memiliki teman hidup untuknya berbagi suka dan duka. Ia bisa bercerita apapun pada Fanya.


__ADS_2