
Marina menuju ruang kerjanya. Menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda setelah kedatangan Fanya. Sesaat ia meraih ponselnya. Banyak notifikasi pesan dan telepon dari kesayangan. Siapa lagi kalau bukan Satya.
Marina kembali menaruh ponselnya. Ia akan membalas pesan itu setelah menyelesaikan pekerjaannya. Karena ia sangat tau, jika sudah berkirim pesan ataupun bertelepon dengan Satya, akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar alias lama.
Tiba-tiba pintu ruangan kerjanya diketuk. Masuklah Fanya dengan menenteng gulingnya. Fanya terlihat kacau dengan rambut acak-acakan. Marina ingin tertawa, tetapi ditahannya. Ia ingat bahwa sahabatnya masih dalam mode galau.
"Kenapa nggak tidur dulu aja?" tanya Marina.
"Niatnya pingin tidur, tapi rasanya sulit memejamkan mata. Kamu taulah rasanya jadi aku." jawab Fanya.
"Enggak...." ujar Marina.
"Aku lelah memikirkan dia. Bahkan sekarang pun meski aku membencinya, masih saja aku memikirkannya." keluh Fanya.
"Sepertinya predikat bucin cocok untukmu sekarang." ucap Marina sambil mengetik di laptopnya.
Fanya merebahkan dirinya di sofa sambil mendekap gulingnya.
"Bener-bener deh. Kamu tuh kalo masih sayang dan cinta, nggak usah deh pake acara kabur-kaburan segala. Kan jadi repot kalo kayak gini. Apa perlu aku telepon Sakti sekarang? Pasti dia langsung menjemputmu ke sini. Gimana?"
"Jangan! Malu aku. Biarin aja." kata Fanya.
"Tutunin ego kamu. Lagipula belum tentu juga dia selingkuh atau apalah seperti dugaanmu. Mungkin hanya teman biasa, atau rekan bisnis, atau saudara jauh, atau...."
"Udah deh nggak usah diterusin. Aku mau tenangin pikiran di sini. Kamu lanjutin kerja aja." kata Fanya.
Marina membuang nafasnya. Bingung dengan apa yang sedang Fanya pikirkan. Tapi lebih bingung lagi bagaimana nantinya jika hal serupa menimpa dirinya jika sudah berumah tangga.
Fanya mencoba memejamkan matanya. Meski harus bolak-balk memposisikan diri karena kurang nyaman, akhirnya ia berhasil tidur juga. Marina lega melihat Fanya bisa istirahat. Setidaknya lelah pikiran Fanya akan sedikit berkurang.
Sejam kemudian menjelang pukul 12 malam, Marina menengok ponselnya. Ada pesan baru dari Satya.
__ADS_1
"Ternyata dia belum tidur juga. Apa masih berharap aku membalas pesannya?" ujar Marina.
Saat Marina akan membalas pesan dari Satya, muncullah notifikasi pesan dari Mama Marina. Sehingga Marina langsung membuka pesan dari orang tuanya itu. Mengabaikan lagi pesan Satya.
"APA????" pekik Marina kencang, tapi Fanya tak terganggu tidurnya.
Marina menutup mulutnya. Sadar jika dirinya akan mengganggu Fanya jika berisik lebih lanjut.
"Mama dan Papa akan menemuiku besok? Tapi kenapa? Apa ada sesuatu yang penting? Sudahlah, mungkin hanya kangen sama anak perempuannya ini. Iya, anggap saja begitu!" kata Marina mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Wajar saja Marina panik. Dirinya teringat akan maksud orang tuanya akan menjodohkannya dengan pria pilihan.
Keesokan harinya, Fanya sudah bangun lebih dulu. Biasanya ia akan memasak sarapan untuk suami dan dirinya. Kali ini, ia memilih melamun saja di balkon kamar Marina.
"Hei, sedang apa? Apa biasanya kegiatanmu di pagi hari memang bersantai begini?" tanya Marina.
"Eh, kamu udah bangun Miss?" kata Fanya balik tanya.
"Iya baru aja. Aku kesiangan hari ini. Nih susu coklat hangat sama sandwich! Lumayan buat sarapan di pagi yang cerah ini. ART ku sepertinya datangnya siang, jadi sarapan ini dulu yah." ujar Marina sambil menaruh nampan berisi susu dan sandwich di meja kecil.
"Iya dong. Kapan juga aku pernah jahat sama kamu? Palingan pas dulu aku masih suka sama Sakti. Tapi kan itu dulu. Maaf yah!"
"Ya... Aku bahkan hampir melupakannya. Kamu ingetin lagi. Aku udah maafin kamu kok." kata Fanya.
Mereka menikmati sarapan paginya dengan obrolan santai. Membicarakan rencana jalan-jalan dan kuliner.
"Tapi apa nggak masalah ya jika kamu mutusin pergi jalan-jalan? Sementara aku yakin, pasti si Sakti lagi galau banget mikirin kapan kamu pulang." ujar Marina.
"Ah mungkin saja tidak. Dia tak selemah yang kamu kira, Miss. Dia pasti baik-baik saja tanpa aku. Ada aku atau tidak, baginya pasti sama saja. Dia..." belum selesai Fanya bicara, seseorang mengetuk pintu.
"Siapa? Apa ART mu?" tanya Fanya.
__ADS_1
Marina menggeleng. Ia beranjak dari tempat duduknya.
"Mungkin itu Satya. Aku buka pintu dulu ya? Kamu di sini aja." ucap Marina.
Fanya hanya menurut ucapan Marina. Ia kembali menyeruput sisa susu coklatnya.
"Siapa? Satya ya?" tanya Fanya begitu Marina kembali ke balkon.
"Iya ada Satya. Tapi anu, gimana yah bilangnya. Ah biar kamu lihat sendiri!" jawab Marina ragu.
Fanya mengerutkan dahinya. Bingung dengan jawaban ambigu Marina. Namun setelah Sakti menampakkan diri, ia langsung lemas.
"Kita harus bicara!" kata Sakti serius.
"Uhm, kalian bicara aja dulu. Aku turun ke bawah ya nemenin Satya. Permisi!" kata Marina.
Sejujurnya Marina khawatir jika pertengkaran antara Sakti dan Fanya akan terjadi. Mengingat betapa cintanya Sakti pada Fanya, ia pun jadi lega.
"Ayo kita pulang!" lirih Sakti.
Masih hening. Fanya memilih diam tanpa kata. Ia merasa belum menerima kenyataan. Hatinya masih terluka.
"Sayang, aku masih Sakti yang kamu kenal. Tak pernah sekalipun bermain api dengan wanita lain. Wanita bernama Mela itu bukan siapa-siapaku. Aku bahkan belum bertemu secara langsung dengannya. Maaf jika dalam arsip percakapanku dengannya, ada kata-kata yang kurang pantas bagimu. Aku hanya santai menghadapi balasan pesannya yang terasa menggodaku. Mana mungkin aku terang-terangan membantah pesannya. Yang ada nanti dia membatalkan MOU perjanjian. Tapi lain cerita yah kalo dia menggodaku secara nyata. Sudah barang tentu, aku menolaknya mentah-mentah. Aku masih tau diri kok, dimana posisiku." penjelasan Sakti.
Fanya masih diam. Ia tak mau mendengarkan penjelasan Sakti.
"Tolong percayalah, aku masih sama seperti dulu. Masih sangat mencintaimu. Kamu.bisa pesan mata-mata untuk mengintaiku 24 jam tanpa aku tau itu siapa. Aku akan senang hati jika kamu melakukannya. Asal itu bisa mengembalikan kepercayaanmu padaku."
Fanya beranjak dari kursinya.
"Sudahnkan bicaranya?" tanya Fanya.
__ADS_1
"Kamu mau memaafkanku kan? Mau pulang bersamaku kan? Aku kesulitan tanpamu. Biarlah kamu tak melakukan apapun, biar aku yang menyelesaikan pekerjaan rumah, kamu tak perlu capek-capek bekerja. Itu saja boleh kamu lakukan asal tetap bersamaku. Mau ya??"
"Aku masih mau di sini. Pulanglah! Aku belum ingin kembali. Percuma kamu ke sini, berlutut pun belum tentu aku mau memaafkanmu semudah itu. Hatiku terlalu sakit. Butuh waktu untuk penyembuhanku. Jadi, jangan paksa aku. Tolong kamu mengerti jika masih peduli dengan perasaanku. Aku lelah dengan semua ini. Tolong kamu pergi saja. Aku masih mau di sini!" kata Fanya dengan berlinang air mata.