Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Periksa Kehamilan


__ADS_3

Sakti mengantar Fanya periksa kehamilan di Rumah Sakit terdekat. Fanya akan melakukan USG untuk mengetahui kepastian tentang dirinya hamil atau tidak. Fanya masuk ke ruang periksa setelah namanya dipanggil. Sakti ikut masuk menemani Fanya.


"Selamat malam, Dok!" sapa Fanya.


"Malam Ibu Fanya dan suami. Silakan duduk!" balas Dokter.


Fanya dan Sakti duduk di kursi yang sudah disediakan. Dokter membaca informasi data diri pasien di catatan yang diberikan perawat.


"Ada keluhan apa?" tanya Dokter.


"Saya ingin USG, Dok. Memastikan kembali apakah saya benar-benar hamil atau tidak. Sebelum ke sini, saya sudah tespack dengan hasil positif." jawab Fanya.


"Baik. Mari silakan berbaring di tempat tidur!"


Fanya segera berbaring di tempat tidur. Dokter meminta Fanya menyingkap bajunya. Seorang perawat menyambanginya dan mengoleskan gel di perut Fanya. Lalu Dokter menempelkan alat USG di perut Fanya dan menggerakkannya perlahan.


"Nah Bu Fanya, dari rahim ibu sudah terlihat ada kantong janin. Jadi ibu benar hamil yah. Dari sini terlihat usia kehamilan baru menginjak 6 minggu." kata Dokter.


Sakti menggenggam tangan Fanya. Simpul senyum terpancar di wajah keduanya saat melihat layar monitor yang menampilkan gambar janin.


"Gambarnya lucu yah Mas." ujar Fanya pada Sakti yang tak henti-hentinya mengumbar senyuman.


"Tolong dijaga kehamilannya ya Bu. Banyak makan makanan yang bergizi dan cukup istirahat. Untuk suami Bu Fanya, tolong ikut memantau kesehatan Bu Fanya. Biasanya awal-awal kehamilan, mood ibu hamil sering berubah. Jadi harap dimaklumi saja ya Pak!" nasehat Dokter.


Lalu Sakti dan Fanya bergantian bertanya seputar kehamilan. Sakti cukup antusias menyimak setiap informasi yang disampaikan oleh Dokter.


"Lalu kapan saya harus kembali periksa?" tanya Fanya.


"Sebulan lagi saja yah jika tak ada keluhan. Jika sebelum itu ada keluhan, boleh ke sini lagi. Apa informasi yang saya sampaikan sudah cukup jelas?"


"Jelas Dok." jawab Fanya.


"Lalu, ini ada resep obat yang harus Bu Fanya tebus." kata Dokter.


"Terima kasih." kata Fanya.


Fanya telah selesai periksa.Selanjutnya ia ditemani Sakti menuju apotek untuk menebus obat yang sudah diresepkan oleh Dokter. Sebelum sampai ke apotik, mereka bertemu dengan Jayden yang berdiri di dekat toilet.


"Kalian?" tanya Jayden saat melihat Fanya dan Sakti.


"Kenapa kita harus ketemu lagi?" ujar Fanya kesal.


"Aku hanya menemani Sonia periksa kehamilan. Kalian periksa kehamilan juga atau apa?"


"Iya, aku periksa juga." kata Fanya.

__ADS_1


"Wow, selamat yah!" kata Jayden ikut senang.


"Makasih." ujar Fanya datar.


"Permisi. Kami mau pulang!" kata Sakti.


Sakti segera mengajak Fanya menjauhi Jayden. Ia tak ingin Fanya dibuat kesal hanya dengan melihat wajah Jayden.


"Apa salahku? Aku kan nggak mau ngajak ribut? Aku hanya bertanya. Tapi kenapa aku yang jadi bertanya-tanya. Salahkah aku yang bertanya?" kata Jayden.


"Sayang, ayo kita pulang!" ajak Sonia yang baru keluar dari toilet.


"Iya istriku. Ayo!" ujar Jayden.


"Barusan ketemu sama siapa?" tanya Sonia.


"Kamu melihat mereka?"


"Nggak lihat wajah mereka. Hanya tau kamu abis berbincang dengan mereka. Sepertinya saling kenal."


"Hanya kenalan lama yang periksa kehamilan juga di sini. Hanya saling nyapa saja kok. Mereka sepertinya juga buru-buru. Jadi, aku tak sempat mengenalkanmu pada mereka." jawab Jayden.


"Oh gitu. Ayo deh kita pulang sekarang. Aku mau buru-buru istirahat. Udah capek dan pegal badanku!" kata Sonia sembari bergelayut manja pada Jayden.


"Antriannya banyak. Gimana nih Mas?" keluh Fanya pada Sakti.


"Kamu duduk di kursi tunggu aja yah. Biar Mas yang menunggu di sini." kata Sakti.


"Yaudah deh. Tapi aku juga lapar nih." keluh Fanya.


"Kalo gitu kamu ke kantin dulu aja yah. Tinggal lurus aja ke sana!" kata Sakti.


"Tapi barengan sama Mas Sakti aja deh. Nggak enak sendirian ke kantin. Gapapa aku sabarin aja menunggu antrian sama Mas." kata Fanya.


Lima belas menit kemudian nama Fanya dipanggil. Sakti maju untuk mengambil obat. Lalu mengajak Fanya ke kantin untuk membeli makanan.


"Kamu mau makan apa?" tanya Sakti begitu mereka sampai di kantin Rumah Sakit.


"Sebentar, aku liat menunya dulu."


Fanya melihat-lihat menu yang tersedia. Laparnya semakin menjadi saat melihat gambar makanan di buku menu. Semuanya tampak lezat dan menggugah selera.


"Aku mau steak ayam dan sate ayam. Kayaknya enak tuh!" ujar Fanya.


"Minumnya?"

__ADS_1


"Es teller."


"Ada lagi?"


"Aku mau roti bakar juga Mas. Roti bakar rasa coklat ya!"


"Oke, kamu tunggu di sini. Aku pesankan dulu!" kata Sakti.


Sakti hanya memesan makanan untuk Fanya. Dirinya tak lapar.


"Kok hanya pesananku aja Mas? Mas nggak pesan? Cuma pesan minum aja?" tanya Fanya begitu pesanan telah datang.


"Iya belum laper lagi. Kamu makan aja gih. Nggak usah peduliin aku." jawab Sakti sambil main games di ponselnya.


Fanya mulai mengeksekusi makanan di hadapannya. Ia benar-benar menikmati makanannya. Terbukti ia makan dengan lahap. Antara enak dan lapar, ia susah membedakan.


"Sudah habis?" tanya Sakti begitu Fanya menyelesaikan makannya.


"Iya Mas. Kenapa?"


"Gapapa. Apa masih mau nambah lagi?"


"Mas nih ngeledek ya? Aku sudah kenyang Mas. Kan sekarang yang makan dua orang, jadi jatah makannya jadi banyak! Harap maklum yah!"


"Padahal tadi pagi pas sarapan, nggak mau makan banyak-banyak. Takut gendut. Mentang-mentang udah ketahuan hamil langsung makan banyak!" goda Sakti.


"Namanya juga lagi hamil Mas. Harap maklum aja yah, mau bener atau salah." ujar Fanya.


Malam ini mereka tak pulang ke apartemen. Mereka memutuskan untuk bermalam di rumah Mama Sakti.


"Seriusan?" tanya Bu Syakira setelah mendengar cerita kehamilan Fanya.


"Iya Ma. Baru jalan 6 minggu. Masih kecil janinnya." jawab Fanya.


"Selamat ya Sayang. Akhirnya hari bahagia ini terjadi. Mama ikut senang mendengarnya. Tolong dijaga baik-baik yah kandungannya. Pokoknya kamu nggak boleh capek-capek. Kamu berhenti kerja di butik, ternyata ada hikmahnya. Bersyukur Mama dengan semua kejadian ini." ujar Bu Syakira.


"Iya Mama. Fanya akan menjaga kandungan ini dengan baik." kata Fanya.


"Sakti juga harus selalu standby yah. Ibu hamil tuh kadang suka kepengenan sesuatu alias ngidam. Kamu harus siaga 24 jam." ucap Mama Sakti.


"Iya Mama. Apasih yang enggak buat ibu dari anak-anakku kelak?" kata Sakti.


"Yaudah kalian istirahat aja. Udah malem ini. Besok kesiangan lagi kerjanya. Buruan pada masuk kamar dan tidur!" perintah Mama Sakti.


Sakti dan Fanya menuju kamarnya. Mereka mandi bersama dan langsung tidur.

__ADS_1


__ADS_2