Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Doa dan Harapan


__ADS_3

Anita mengamati Fanya secara detail. Ia cukup kagum dengan paras cantik Fanya dibalik wajah pucatnya karena sakit. Tapi ia juga kesal setelah tau kenyataan bahwa wanita yang dipujinya itu adalah istri dari orang yang disukainya.


"Sejak kapan kalian menikah?" tanya Anita membuka percakapan.


"Belum genap setahun kok. Masih anget-angetnya." jawab Fanya.


"Oh begitu. Selamat yah. Aku ikut senang melihat teman SMA-ku dulu sudah menemukan pendamping hidup." kata Anita tersenyum kecut.


"Oh iya, terima kasih. Lalu bagaimana denganmu?" tanya Fanya.


"Maksudnya terkait pernikahan? Aku sudah pernah menikah. Tapi pupus juga oleh tragedi perceraian. Kini, statusku adalah janda. Kira-kira baru genap 3 bulan. Masih anget-angetnya juga kan yah?" jawab Anita.


"Apakah punya anak?" tanya Fanya lagi.


"Belum. Meski menikah sudah lebih dari 2 tahun, aku senantiasa menggunakan KB. Jadi, nggak bakal bisa hamil. Kecil kemungkinan hamil." jawab Anita.


Fanya menganggukkan kepalanya.


"Pasti berat yah bagimu menghadapi masa-masa sulit seperti itu. Aku turut prihatin." ujar Fanya.


"Ya begitulah. Tak mudah menghadapi omongan oramg mengenai statusku sekarang. Entah mengapa omongan orang lebih menyakitkan darupada kenyataan yang ku hadapi sekarang. Ku harap kalian berbahagia dengan pernikahan kalian. Semoga saja berakhir bahagia dunia akhirat!" kata Anita penuh penekanan, ia hampir menangis.


"Meski aku tak ingat dirimu semasa SMA, tapi aku ucapkan terima kasih atas doa tulusmu. Aku minta maaf karena tak ingat sama sekali tentangmu." ujar Sakti.


"Maaf ya Mbak Anita, Mas Saktiku ini memang kurang peka dengan keadaan sekitar. Dia hanya fokus pada hal yang disukainya. Sabar aja kalo Mbak minta diingat kembali." ucap Fanya.


"Iya tak apa. Aku juga bukan orang sepenting itu untuk diingat. Jangan terlalu dipikirkan. Bukan masalah besar kok. Lalu, bagaimana kalian bisa saling mengenal? Kamu bukan angkatan kami kan?" tanya Anita pada Fanya.


"Uhm, ceritanya panjang. Intinya kami mengenal secara tidak sengaja. Aku tertarik dengan Fanya setelah mendengar suara indahnya." jawab Sakti.


"Oh seperti itu. Baiklah, karena aku sudah cukup mengganggu waktu kalian, aku permisi dulu. Maaf sudah mengganggu kalian. Semoga kaiian selalu berbahagia!" ucap Anita.


"Tak apa. Terima kasih." balas Fanya.


Lalu Anita keluar ruangan dengan perasaan tak menentu.


"Dia benar temanmu, Mas?" tanya Fanya begitu Anita sudah tak terlihat lagi.


"Katanya begitu. Mungkin benar. Aku pun tak ingat dia siapa. Kamu juga tau kan, kalo aku mana peka kondisi sekitar. Aku hanya peduli dengan orang yang ku sayangi. Sampe aku nggak inget siapa aja temen sekolahku dulu." jawab Sakti.


"Iya sih. Kamu kan kurang peka." ujar Fanya.

__ADS_1


Sakti mencium kening Fanya. H


"Eh mana es boba pesananku?" tanya Fanya.


"Oh iya!"


Sakti segera mengambil es boba yang ia taruh di atas meja. Lalu diserahkan pada Fanya yang sudah tak sabar untuk menikmatinya.


"Minumnya pelan-pelan yah. Semoga saja es boba ini tak berdampak apa-apa buatmu." kata Sakti.


"Tak apa Mas. Aku pastiin aku akan baik-baik saja setelah meminumnya. Lagipula aku minumnya dikit aja kok. Cuma ngilangin rasa kepengenan doang. Ibarat orang hamil, namanya ngidam tuh." celetuk Fanya.


"Iya namanya ngidam."


Sakti ikut meminum es boba. Tapi tiba-tiba ia terpikirkan sesuatu.


"Tadi kamu bilang, ngidam? Apa kamu sedang ngidam? Kamu hamil?" tanya Sakti.


"Siapa yang bilang hamil? Enggak ah. Aku lagi nggak hamil." jawab Fanya.


"Kapan terakhir kamu haid?" tanya Sakti.


"Apa biasanya kaku sering telat haid?"


"Tidak sih. Siklus aman dari 28 hingga 30 hari. Selalu seperti itu. Normal sih jatuhnya." kata Fanya.


"Fanyaku, sekarang sudah tanggal 5 November. Udah lewat satu bulan. Ada kemungkinan kalau hamil. Nanti aku beliin tespack yah!" ujar Sakti.


"Ah iya. Udah lewat satu bulan yah. Iya deh Mas, kamu beliin tespack. Aku sih nggak mau berharap, tapi kalo emang positif ya aku juga bahagia, Mas." kata Fanya sembari tersenyum.


Sakti memegang tangan Fanya. Memijat tangan Fanya dengan hati-hati. Ia ingin memberikan sentuhan lembut untuk mengurangi rasa sakit Fanya.


"Ya kita masih berusaha untuk mendapatkan rezeki anak. Nggak ada salahnya untuk berharap selagi kita berusaha mendapatkan hasil yang baik. Semoga saja usaha dan doa kita, membuahkan hasil yang baik juga." ujar Sakti serius.


"Permisi!" kata suster yang akan memeriksa kondisi Fanya.


"Eh suster, silakan masuk!" kata Sakti.


Sakti menyingkir, memberi ruang pada suster yang tengah bertugas.


"Kondisi Bu Fanya sudah semakin membaik. Tekanan darah juga normal. Semoga semakin membaik untuk selanjutnya yah." kata suster.

__ADS_1


"Suster, apakah ada pantangan makanan tertentu bagi istri saya. Mengingat dia baru saja siuman setelah tak sadarkan diri selama beberapa hari?" tanya Sakti.


"Menurut pengamatan saya, untuk sementara ini belum ada. Namun, untuk lebih pastinya, nanti dokter yang akan memeriksa. Kebetulan dokter yang bertanggung jawab menangani bu Fanya sedang dalam perjalanan ke sini. Mohon ditunggu ya Bapak dan Ibu!"


"Baik suster. Terima kasih infonya." ujar Fanya.


"Sama-sama Bu Fanya. Lekas sembuh yah!" kata suster sebelum meninggalkan ruangan.


Fanya memejamkan matanya kembali begitu suster sudah keluar ruangan.


"Kamu mau tidur lagi?" tanya Sakti.


Fanya membuka matanya. Menatap Sakti dengan menahan rasa kantuknya yang tiba-tiba datang.


"Iya. Aku cukup mengantuk, Mas. Mataku lelah rasanya. Boleh kan?"


"Boleh, istirahatlah! Tapi ingat, nanti buka mata lagi ya! Jangan pingsan lagi. Tolong kasihanilah diriku ini!" ujar Sakti.


Fanya menganggukkan kepalanya. Lalu kembali memejamkan matanya. Ia tak kuasa menahan kantuknya.


"Tidurlah Sayang! Aku akan menjagamu selagi kamu tertidur. Tapi rasanya, aku juga mengantuk. Apa aku tidur juga yah?"


Sakti tidur di samping Fanya dalam posisi duduk. Ia pun ikut memejamkan matanya.


"Aku akan menyusulmu tidur yah. Semoga kita bertemu dalam dunia mimpi. Selamat tidur Sayang!" kata Sakti.


Lalu keduanya tertidur. Tak lama setelahnya, Bu Syakira dan Henny pun datang.


"Lah, mereka malah tidur bareng gini." kata Bu Syakira.


"Mungkin mereka sama-sama lelah, Bu. Biarkan saja mereka." ujar Henny.


"Iya Hen. Kasian juga kalo dibangunin. Yang penting si Fanya udah siuman. Tadi Sakti udah ngabarin aku. Kita duduk dulu aja, Hen. Masa iya langsung balik. Setengah jam lagi kalo mereka masih tidur, yaudah kita balik ke butik."


"Baik Bu."


"Kamu sembari lihat proposal yang dibuat timnya Lusi ya. Aku butuh pendapatmu tentang itu. Barangkali ada kritik atau saran yang membangun."


"Iya Bu."


Setengah jam berlalu, tapi Fanya dan Sakti masih tertidur pulas. Akhirnya Bu Syakira dan Henny memutuskan untuk meninggalkan mereka. Kembali ke butik untuk melanjutkan pekerjaan.

__ADS_1


__ADS_2