Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Kembalinya Fanya


__ADS_3

Sudah hari kelima Sakti menemani Fanya yang terbujur lemah di ranjangnya. Seperti hari-hari sebelumnya, Sakti selalu berharap agar Fanya segera siuman.


"Sayangku, sudah kesekian hari, kamu masih lemah begini. Kapan kamu kembali menemani hari-hariku? Aku tak bisa begini terus. Masih banyak PR yang harus ku selesaikan. Salah satunya merebut kembali perusahaan yang sudah diakuisisi oleh perusahaan J. Aku harus merebutnya kembali agar citra orang tuaku membaik. Kamu tau kan, betapa susahnya membangun citra yang baik demi sebuah nama. Aku ingin kamu segera pulih dan menjadi kekuatan nyataku." ujar Sakti.


Tiba-tiba tangan Fanya bergerak. Sakti tersentak. Lalu segera meraih tangan Fanya.


"Sayang, kamu sudah siuman? Kamu mendengar suaraku?" tanya Sakti.


Tak ada respon lagi. Fanya masih belum sadarkan diri.


"Apa aku salah liat tadi? Entah kenapa aku bisa berhalusinasi seperti itu. Apa memang aku terlalu berharap?" tanya Sakti pada dirinya sendiri.


Sakti pun berdiri, lalu melangkahkan kakinya ke luar ruangan. Tqpi sebelum sampai membuka pintu, sebuah panggilan mengagetkannya.


"Mas....!" panggil Fanya pelan.


Sakti segera membalikkan badan. Ternyata Fanya memang sudah siuman.


"Fanyaku....!!!" seru Sakti seraya menghampiri Fanya di ranjangnya.


"Mas...!" panggil Fanya lagi.


Sakti menangis, terbawa suasana karena sangat terharu sekaligus lega.


"Iya Sayangku." ujar Sakti.


"Aku haus. Tolong ambilkan minum!" pinta Fanya.


Sakti pun mengambilkan segelas air putih untuk Fanya. Fanya langsung meneguknya hingga tandas.


"Aku sangat kehausan. Seperti sudah beberapa hari tak minum. Tenggorokanku rasanya sangat kering." ujar Fanya.


"Ya. Memang sudah beberapa hari ini kamu tak sadarkan diri. Aku sangat khawatir dengan kondisimu itu. Untungnya kamu sudah sadarkan diri. Terima kasih." kata Sakti.


Fanya tampak berpikir. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi. Tapi ia seakan tak ingat apa-apa. Baginya tak ada kejadian aneh sebelumnya.


"Sudahlah, jangan diingat jika lupa. Aku sudah cukup lega melihatmu sudah siuman. Aku kabarin Mama dulu ya kalo kamu sudah sembuh." ucap Sakti.


Sakti segera mengirim pesan ke Mamanya bahwa Fanya sudah siuman.


"Mas, sudah berapa lama aku begini?" tanya Fanya.


"Kira-kira hampir seminggu. Lumayan lama. Sehari tanpa canda tawamu, rasanya sepi. Aku kangen banget sama kamu." jawab Sakti.


Fanya bangun dari rebahannya. Tapi perutnya terasa nyeri dan sakit.


"Kenapa perutku sakit? Seperti abis kena luka aja." gumam Fanya.

__ADS_1


Saat ia membuka baju yang dikenakannya, betapa kaget dirinya mendapati perutnya yang diperban.


"Loh, ada apa dengan perutku? Kenapa diperban? Sakit apa sebelumnya?" tanya Fanya.


Sakti mencoba menjelaskan secara detail dan perlahan pada Fanya. Fanya mendengarkan penjelasan Sakti. Ia hanya mengucapkan 'oh' setiap Sakti bercerita.


"Kenapa ekspresimu begitu? Apa kamu tak marah, setidaknya kesal gitu? Kan kamu yang terluka. Bagaimana bisa kamu bersikap biasa aja?" tanya Sakti.


"Ya mungkin sudah takdirnya begini. Pelaku itu mungkin sakit hati padaku kalo emang dia kenal aku. Tau mungkin tak sengaja karena bingung mencari pembalasan, jadilah aku yang kena imbas tusukan. Kan banyak juga cerita kayak begitu. Apa boleh buat?" jawab Fanya.


Sakti mengecup kening Fanya.


"Jangan terlalu baik. Karena kamu baik, kan jadi banyak yang jahatin kamu. Baik sih bagus. Tapi kalo terlalu baik, takutnya psikopat aja.


"Mas ini kenapa sih? Aku baik-baik aja kok. Gara-gara mimpi pasti, Mas jadi seperti ini." kata Fanya.


"Tidak Sayang, aku lebih seperti mengantisipasi aja. Kamu adalah salah satu sumber kebahagiaanku. Jadi selagi aku bisa membahagiakanmu, ya pasti akan aku buat dirimu bahagia. Pokoknya kamu bahagia, akunpun bahagia." kata Sakti.


"Lalu si pelaku bagaimana kabarnya?" tanya Fanya.


"Udah diurus sama anak buah. Biarin ajalah. Aku pusing, jadi nggak mau urusin pelaku itu. Anak buahku pasti akan memberinya efek jera yang tidak sedikit." jawab Sakti.


Sakti menggenggam tangan Fanya. Fanya masih fokus menatap Sakti.


"Mas, bukan dengan kekerasan kan pembalasannya?" tanya Fanya.


"Tidak! Biarpun mereka kumpulan mafia, tapi cara kerjanya bukan seperti mafia. Hanya berdasarkan kebenaran saja. Boleh bertindak asalkan dipastikan benar dan adil." jawab Sakti.


"Aku mau membeli makanan untukmu. Kamu mau apa?"


"Belum pingin makan. Tapi aku haus terus." kata Fanya.


"Aku akan beli minuman boba kesukaanmu. Mau?"


"Mau. Tapi yang rasanya hazelnut yah?" ujar Fanya.


"Iya, siap!"


Sakti segera menuju ke kantin Rumah Sakit. Dibelinya minuman boba sesuai permintaan Fanya.


"Mbak, beli dua es boba hazelnut yah! Yang size jumbo ya." kata Sakti saat memesan es boba.


"Baik Mas, ditunggu!"


Saat menunggu pesanan, Sakti dipanggil oleh seorang wanita.


"Siapa ya?" tanya Sakti merasa tak kenal.

__ADS_1


"Aku Anita. Teman SMA kamu dulu. Masa nggak ingat? Aku aja ingat kamu. Masa kamu enggak?" ujar Anita dengan penuh percaya diri.


"Anita? Uhm, aku ingetnya Anita si penjual donat di jalanan area SMA aku dulu. Anita yang lain nggak inget." ujar Sakti.


"Masa sih?" tanya Anita tak percaya.


"Iya emang nggak inget!" jawab Sakti.


"Aku Anita Sari, yang dulu pernah nembak kamu. Aku Anita yang tergila-gila padamu. Sampai sekarang!" ujar Anita.


"Nggak taulah. Aku nggak inget. Males juga buat inget-inget masa lampau. Masa depanku aja deh yang aku inget!" kata Sakti.


"Kok gitu sih? Jahat!" seru Anita manja.


"Mas, ini pesanannya. Dua puluh ribu!" seru penjual es boba.


Sakti menyodorkan uang lima puluh ribu pada penjual ea boba.


"Ada uang kecil dua puluh ribu aja Mas?"


"Tidak ada." jawab Sakti.


"Yah gimana ya, saya juga baru buka stand. Kalo nggak Mas bayar besok aja deh gapapa.


"Sekarang aja deh. Jadi nggak usah dikembaliin. Sisanya buat Mbak aja." ujar Sakti.


"Makasih ya Mas. Berkah buat Masnya!" seru penjual es boba.


Anita mengejar Sakti yang buru-buru mau kembali ke kamar perawatan Fanya.


"Ada apa lagi? Kan sudah ku bilang, aku nggak kenal. Nggak inget sama sekali!" tegas Sakti.


"Coba diinget lagi. Aku pingin kita bisa akrab. Dulu emang kita belum akrab, tapi untuk sekarang kita harus akrab yah!" pinta Anita manja.


"Sudahlah. Aku males ngeladenin kamu. Aku tuh udah punya istri juga. Nggak mau terlalu deket sama wanita." ujar Sakti yang membuat Anita melongo tak percaya.


"Ah, mana mungkin! No bukti \= hoaks!" seru Anita.


"Ikuti aku!" perintah Sakti.


Anita girang bisa jalan berdua dengan Sakti. Tapi tidak pada saat Anita berhadapan dengan wanita pucat yang terbaring di ranjangnya.


"Kenalin, dia istriku." ucap Sakti.


"Hah? Istri?" tanya Anita.


"Iya, aku istrinya. Kamu siapa?" kata Fanya balik tanya.

__ADS_1


"Oh. Aku temen SMA Sakti dulu. Salam kenal!" kata Anita mengulurkan tangannya.


Fanya dan Anita saling berjabat tangan.


__ADS_2