Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Menurunkan Ego Menaikkan Cinta


__ADS_3

Sakti menarik tangan Fanya dengan kasar. Membawa Fanya menuju ke mobil. Meski sakit, Fanya tak punya pilihan lain selain menurut. Banyak pasang mata yang menatap mereka. Namun tak dihiraukan oleh mereka. Sakti hanya berpikir demi melindungi Fanya. Sedangkan Fanya berpikir demi menjaga perasaan Sakti.


"Mas, ini tak seperti yang kamu pikirkan. Aku tak melakukan apa-apa. Aku hanya..."


"Maksudmu kau diam aja saat ketiga pria mesum itu menggodamu? Ditambah lagi dengan gaya berpakaianmu terbuka begini? Kamu sengaja membangunkan macan tidur? Kamu sengaja menggoda mereka dengan memamerkan tubuhmu? Begitu?" seru Sakti emosi.


Fanya menggelengkan kepalanya. Mencoba mengelak atas tuduhan Sakti. Tapi mulutnya seakan terkunci, tak sanggup menjelaskan secara detail. Yang ada ia hanya menangis sesenggukan.


"Masuk ke mobil!" perintah Sakti.


Fanya tersentak kaget, lalu memasuki mobil. Begitu pula dengan Sakti. Kini mereka sudah memasuki ke mobil.


"Tak ada gunanya menangis. Tetap saja, aku hampir gila bahkan sudah benar-benar dengan kelakuan bodohmu. Suami mana yang tak marah jika istri yang disayanginya tega menghianati kepercayaannya? Jawab!" bentak Sakti penuh emosi.


Fanya mengusap air matanya sendiri. Mencerna kembali perkataan Sakti. Ia menyadari kesalahannya. Tapi tetap saja tak mau 100% disalahkan tanpa boleh menjelaskan alasan.


"Aku bukan seperti itu. Aku tak tau, mereka tiba-tiba datang tanpa ku minta. Aku juga tak tau dimana Clara pergi. Dia hanya bilang mau pesan makanan di resepsionis." ucap Fanya.


"Bagaimana dengan baju yang kamu pakai itu?" tanya Sakti.


"Trus mengenai baju ini, ini baju Clara. Bukan punyaku. Akupun risih memakainya. Tapi bagaimana lagi, bajuku basah." jawab Fanya.


"Serius begitu ceritanya?" tanya Sakti dengan tatapan mengintimidasi.


"Iya, Mas. Mas kan tau sendiri, di rumah mana pernah aku berpakaian seksi begitu. Mana mungkin aku sengaja memakai pakaian kurang bahan begitu kalo pas keluar rumah? Nggak mungkin kan, Mas? Ini juga aku cuma terpaksa karena dipaksa Clara. Kalo reaksi Mas semarah ini, harusnya aku memilih kedinginan aja deh." ujar Fanya, menunduk lesu.


Fanya mengusap air matanya dengan tisu yang tersedia. Sesekali mengelap ingus yang sudah merembes dari hidungnya.


"Maaf, aku yang salah." kata Sakti pelan.


Fanya langsung menatap Sakti tak percaya. Hatinya sedikit merasa lega.


"Lain kali, aku tak akan begitu lagi. Aku kurang bisa menjaga diri. Maaf ya Mas." ujar Fanya.


"Sudahlah. Sini, mendekat padaku!" kata Sakti yang merentangkan tangannya.


Fanya mendekati Sakti. Segera berhambur dalam dekapan hangat suaminya.

__ADS_1


"Aku maunya sama Mas terus. Nggak mau dimarahin sama Mas. Aku sedih tau kalo Mas semarah tadi. Sekali lagi, maafin aku ya Mas..." kata Fanya manja.


"Iya Sayangku. Aku sudah nggak marah lagi. Ayo kita pulang! Aku sudah lelah. Pingin dimanjain kamu..." bisik Sakti dengan tatapan nakal.


"Akh, aku tau maksud pembicaraan ini. Ayo!" kata Fanya.


Fanya dan Sakti sudah berbaikan. Mereka sama-sama berbesar hati untuk menurunkan ego masing-masing. Suasana yang tadinya panas kembali mencair.


Sakti melajukan mobilnya perlahan. Membelah keramaian kota yang semakin malam semakin ramai. Ia menyalakan musik pop untuk menemani perjalanan mereka. Sesekali ikut bernyanyi untuk melepaskan sedikit penat. Bagaimana dengan Fanya? Ia malah tertidur pulas.


"Sudah sampai, Sayangku." ucap Sakti.


Namun sia-sia saja. Fanya tak menggubris. Ia masih tertidur pulas. Mungkin sudah terbuai mimpi hingga tak mendengar suara Sakti. Oleh sebab itu, Sakti berinisiatif menggendong istrinya saja.


"Ya Tuhan, sebegitu ngantuknya ya sampai aku bangunkan pun, kau tak menyahut. Malah semakin pulas saja. Oke, aku gendong yah!" ujar Sakti.


Dengan hati-hati, Sakti menggendong istrinya. Memasuki apartemen mereka seperti pengantin baru.


"Pak, kenapa dengan istrinya?" tanya petugas keamanan yang kebetulan sedang berpatroli.


"Baik. Selamat malam, Pak!" kata petugas keamanan dengan ramah.


"Malam!" balas Sakti.


Sesampai di dalam apartemennya, ia segera membaringkan Fanya di ranjang besarnya. Menaruh tas Fanya pada tempatnya, melepaskan sepatu Fanya dengan hati-hati, dan terakhir mengganti pakaian Fanya. Satu lagi, ia juga membersihkan sisa-sisa make up Fanya. Suami idaman!


"Sudah selesai. Dan tetap saja, dia tak sadar dengan apa yang sudah ku lakukan. Luar biasa! Aku gemas melihatnya seperti ini. Tapi apa daya, aku mana tega membangunkannya. Biar saja dia mengistirahatkan tubuhnya ini. Lagi pula, aku bisa menyerangnya kapan saja. Tentu saja saat dia sudah terbangun dan dalam keadaan sadar." ujar Sakti sambil tersenyum menatap iatri kesayangannya itu.


Sakti pun menuju kamar mandi. Membersihkan dirinya sendiri. Saat itulah Fanya terbangun dari tidurnya. Ia mengeliat merasakan betapa bebasnya dirinya menghirup udara segar. Wangi kamarnya yang selalu menyegarkan hari-harinya.


"Uhm, aku sudah di kamar aja. Ini mimpi apa nyata ya?"


Lalu Fanya mencubit pipinya sendiri.


"Aww sakit. Akh, ini nyata. Aku tidak sedang bermimpi. Aku sudah sampai. Dan Mas Sakti kemana ya? Apa dia yang mengganti pakaianku? Pakaian kurang bahan menjadi lingerie begini? Sama aja sih menurutku. Trus, wajahku udah bersih aja. Dia mengelap juga? Rajin sekali!" kata Fanya dengan wajah berbinar.


"Sudah bangun?" tanya Sakti yang baru saja keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Arah pandangan mata langsung tertuju pada Sakti. Dimana Sakti sedang mengenakan handuk yang membelit pinggangnya dengan rambut yang dibiarkan sedikit basah.


'Itu suamiku? Tampan sekali!' batin Fanya.


"Sayang....?" panggil Sakti lagi.


Kali ini Sakti lebih mendekatkan dirinya dengan Fanya. Ia menempelkan punggung tangannya pada kening Fanya.


"Tak panas. Masih suhu normal. Artinya kamu baik-baik saja." ujar Sakti.


"Iya, aku baik-baik aja Mas. Tapi tidak dengan detak jantungku yang kurang stabil ini." kata Fanya.


"Apa maksudmu? Apa merasakan sakit?" tanya Sakti panik.


"Bukan begitu, Mas. Sedari tadi aku melihatmu, rasanya jantungku tak biaa dikondisikan. Terus berdetak kencang tanpa bisa aku kendalikan. Inikah yang dinamakan cinta dalam cinta?" ujar Fanya menggoda Sakti.


Sakti menjitak kening Sakti. Pelan, tapi Fanya berpura-pura mengaduh.


"Sakit tau Mas...." rengek Fanya yang minta dipeluk dengan membentangkan kedua lengannya.


Sakti langsung memeluk Fanya. Memeluk seerat mungkin.


"Eh, tapi aku kan belum mandi ya. Aku mandi dulu deh, Mas. Biar kita sama-sama bersih." kata Fanya.


Sakti melepas pelukannya. Menatap tajam Fanya.


"Tak perlu. Sekarang adalah saatnya kita bermain. Permainan yang membuat tubuh kita memanas. Bagaimana?" tanya Sakti dengan tatapan serius.


"Permainan yang berujung ******* itu bukan sih? Aku mau kalo itu. Tapi dengan satu syarat!" pinta Fanya.


"Apa?"


"Uhm, aku mau Mas Sakti selalu mencintaiku dan menjagaku. Bisa?"


"Kan aku sudah berjanji sedari awal kita menikah. Yaudah ayo!" seru Sakti.


Sakti segera memulai permainannya. Tentu saja ada sedikit penolakan dari Fanya. Bukannya tidak mau, tapi permainan jika dimainkan secara biasa, rasanya kurang seru. Begitulah sampai keduanya berakhir lemas.

__ADS_1


__ADS_2