
Fanya tak merasa bosan berada di kantor suaminya. Ia tak merasa tertekan dengan anggapan aji mumpung. Ia hanya menikmati keadaan yang ada. Seperti saat ini, saat jam masih menunjuķkan pukul 10 pagi, Fanya merasa perutnya lapar.
"Aku lapar, Mas...!" keluh Fanya.
"Kamu mau apa? Aku pesankan sesuatu." kata Sakti.
"Tidak perlu. Bagi aku uang cash aja! Aku mau beli sendiri!" kata Fanya.
"Mau beli dimana? Di luar panas banget loh!" seru Sakti sambil melihat ke arah jendela.
"Aku mau makan di kantin. Pasti banyak makanan dan jajanan di sana. Boleh ya Mas!" pinta Fanya dengan gaya imutnya.
"Baiklah!" kata Sakti.
Sakti mengambil dompetnya. Diambilnya beberapa lembar uang seratus ribuan. Lalu diberikannya kepada Fanya. Fanya menerimanya dengan senang hati.
"Hati-hati yah!" seru Sakti mengingatkan.
Fanya hanya tersenyum sekilas pada Sakti. Lalu ia segera berjalan menuju kantin yang berbeda lantai menggunakan lift khusus. Sesampai di kantin, ia langsung memesan beberapa jenis makanan kesukaannya.
Sementara itu, seorang CS (Cleaning Service) tengah membersihkan lantai toilet. Berhubung ada panggilan masuk, maka CS segera mengangkat ponselnya untuk menerima panggilan. Karena keasikan bertelepon, si CS sampai lupa jika dirinya sedang mengepel dan pindah ke tempat lain.
Pada saat yang bersamaan, Fanya yang telah memesan makanan, menuju meja makan. Tanpa disangka, Fanya berjalan melewati lantai yang masih basah dan licin itu. Terjatuhlah Fanya dengan pantat yang menubruk lantai dengan keras.
Fanya berteriak kesakitan. Ia biasa jatuh, tapi kali ini jauh lebih sakit. Terlebih ia merasakan ada pendarahan. Fanya semakin histeris. Berhubung kantin masih sepi, jadi tak banyak yang tau. Fanya segera ditolong oleh penjaga kantin yang kebetulan melihatnya. Fanya berusaha menghubungi Sakti, tapi tak ada jawaban. Sepertinya Sakti sedang sibuk.
"Tolong bantu saya ke klinik atau rumah sakit terdekat! Ini sakit sekali..." pinta Fanya yang merasakan sakit.
"Baik Bu. Ibu tenang dulu ya. Saya akan membawa ibu menggunakan kursi roda. Teman saya sedang menuju ke sini!" kata penjaga kantin.
Akhirnya Fanya duduk di kursi roda. Penjaga kantin mendorongnya menuju lift khusus. Turun ke lantai satu menggunakan lift itu. Sesampai di lobby, sudah ada bodyguard yang standby . Fanya segera dimasukkan ke dalam mobil.
__ADS_1
"Apa Tuan Sakti tau?" tanya bodyguard pada penjaga kantin.
"Sepertinya belum. Tapi yasudahlah, kamu bawa saja Nona Fanya ke rumah sakit terdekat! Nanti saya yang mengabari Tuan Sakti. Hati-hati yah!" kata penjaga kantin.
Fanya segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sementara penjaga kantin menginformasikan keadaan Fanya kepada Sakti. Berhubung Sakti sedang melakukan zoom dengan klien penting, informasi hanya sampai kepada Satya.
Satya tak langsung memberitahukan pada Sakti. Ia takut akan mengganggu jalannya kesepakatan kedua belah pihak. Setelah Sakti selesai zoom, baru ia memneri tahu Sakti. Tanpa menunggu lama, Sakti didampingi Satya segera bergegas menuju rumah sakit yang diinfokan oleh bodyguard yang membawa Fanya.
Sesampai di rumah sakit, Sakti menuju ke bagian administrasi. Menanyakan dimana Fanya dirawat.
"Sayangku, kamu baik-baik saja?" tanya Sakti begitu melihat Fanya dengan selang infus di pergelangan tangannya.
Fanya hanya mengangguk. Ekspresi wajahnya terlihat sedih. Ada ketakutan untuk menceritakan apa yang sedang terjadi padanya.
"Lalu apa yang sakit?" tanya Sakti lagi.
Satya hanya mengintip dari balik jendela kaca. Ia tak ikut masuk ke dalam kamar inap Fanya.
Sakti bersimpuh di lantai. Ia seperti kehilangan semangatnya. Buah hati yang diharapkannya akhirnya diambil lagi oleh pemilik-Nya.
"Maaf Mas..." lirih Fanya merasa bersalah.
"Bukan salahmu." ujar Sakti.
"Jika tadi aku tak ke kantin, mungkin bayi kita akan selamat. Tapi aku malah..." Fanya kembali menangis.
"Sudah ku bilang bukan salahmu!" teriak Sakti yang membuat Fanya merinding.
Sakti pun berdiri. Ia segera keluar kamar tanpa melihat Fanya lagi. Fanya semakin keras tangisnya. Antara sedih dan bingung. Pasalnya selama ini Sakti tak pernah sekalipun membentaknya.
"Maafkan aku Mas...." lirih Fanya.
__ADS_1
Fanya menyeka air matanya. Hatinya kalut menghadapi ujian keguguran. Terlebih baik dirinya maupun Sakti, sudah terlanjur bahagia dengan kehamilannya selama beberapa minggu ini. Namun jika takdir sudah berbicara demikian, Fanya juga tak ada kekuatan untuk mengubahnya.
Fanya meraih ponselnya. Mencoba menghubungi Sakti. Namun ponsel Sakti dimatikan. Fanya lalu menghubungi mama mertuanya, Bu Syakira. Tapi sebelum tersambung, Fanya segera mematikan panggilan itu. Ia tak kuasa menceritakan kegugurannya pada sang mama mertuanya itu.
"Aku harus bagaimana? Apa yang harus ku lakukan? Dalam keadaan begini, satu-satunya orang yang ku andalkan bahkan meninggalkanku tanpa alasan. Aku tau dia kecewa dengan keadaanku sekarang. Bukan aku yang meminta ini terjadi!" teriak Fanya.
Satya yang memantau Fanya dari balik kaca jendela, hanya bisa mengelus dada. Ia kasihan melihat istri bossnya yang sedang berduka. Ia pun menghubungi sang kekasih, Marina. Barangkali dengan kehadiran Marina, sedikit kesedihan Fanya akan terobati. Begitulah kira-kira apa yang dipikirkan Satya.
Setengah jam kemudian, Marina datang dengan nafas tak karuan. Ia berlarian melewati koridor hanya untuk segera menemui Fanya. Sebelum masuk ke kamar rawat inap Fanya, Satya menahan Marina. Mereka berpelukan untuk sesaat. Satya memberikan sedikit informasi mengenai apa yang terjadi pada Fanya.
Marina mengetuk pintu kamar dan masuk perlahan. Fanya menangis melihat kedatangan Fanya. Segera, Marina memeluk Fanya yang bersedih.
"Miss Marina..." lirih Fanya.
"Tenanglah Fanya, meski aku tidak paham sesakit dan seperih apa luka hatimu, tapi aku memahami rasanya kehilangan. Kamu wanita kuat! Pasti bisa melewati ujian ini. Bersabarlah!" ujar Marina sembari menepuk punggung Fanya.
"Sakti kemana?" tanya Marina.
Seketika Fanya melepas pelukan Marina. Ia kembali menangis. Marina kelabakan melihat labilnya emosi Fanya. Ia merutuki dirinya apakah telah salah bicara.
"Dia..." Fanya tak sanggup meneruskan kata-katanya.
Fanya terus menangis. Marina semakin bingung bagaimana caranya menenangkan Fanya. Alih-alih menasehati Fanya, ia segera keluar kamar menemui Satya.
"Sayang, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa saat aku tanya Sakti kemana, dia malah menangis sejadi-jadinya?" tanya Marina.
"Tadi aku belum memberitahumu ya. Tuan Sakti terpukul dengan berita keguguran Nona Fanya. Dia langsung pergi begitu saja setelah Fanya menceritakan kegugurannya." jawab Satya.
"Pria macam apa yang membiarkan wanitanya sedih seorang diri? Seharusnya dia menemani Fanya apapun yang terjadi." ujar Marina.
Marina kembali masuk ke kamar inap Fanya. Ia mencoba menenangkan Fanya dengan membuat Fanya tertidur. Setidaknya dengan tidur, Fanya bisa sedikit tenang dan tidak menangis lagi.
__ADS_1