
Waktu terus berlalu. Tiba saatnya hari pernikahan Marina dan Satya. Tiket restu yang pernah didapat, akhirnya dimanfaatkan dengan benar oleh Satya. Satya pantas bahagia mendapatkan wanita yang akan mendampinginya sebagai istri. Begitu pula dengan Marina yang akhirnya bisa menjadikan Satya sebagai suami.
Keduanya tengah duduk di pelaminan. Saling melempar senyum satu sama lain. Mencuri kesempatan untuk tersenyum, menikmati betapa bahagianya disatukan dalam wadah pernikahan sah. Semua yang hadir dalam undangan, rata-rata hanya dihadiri oleh keluarga besar Marina. Hanya beberapa orang saja perwakilan dari keluarga Satya.
Fanya dan Sakti tentu saja hadir sebagai tamu istimewa. Bagaimana tidak? Satya bisa menjadi dirinya untuk sekarang ini, adalah berkat kontribusi dan peran Sakti. Sakti tentu saja banyak membantu Satya untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik. Sakti jugalah yang senantiasa menguatkannya menghadapi kerasnya kehidupan.
"Aku sudah menduga bahwa kalian akan menikah. Tapi aku tak menyangka akan seperti ini. Pernikahan kalian meskipun dilakukan secara sederhana, tapi tak mengurangi kesakralan. Aku turut berbahagia untuk kehidupan baru kalian. Semoga, kalian selalu bahagia yah!" doa Fanya saat bersalaman dengan Marina.
"Terima kasih Fanya. Kamu baik sekali!" ujar Marina.
"Iya dong Miss. Dihari yang bahagia ini pasti aku datang untuk menyelamati kalian." kata Fanya.
"Oiya Miss, ngundang karyawan Cafe Monix juga nggak?" tanya Fanya kepo.
"Kenapa nanya? Aku pasti ngundang mereka semua lah. Tapi nggak tau deh mereka pada kemana. Aku belum lihat soalnya. Kenapa sih emangnya?"
"Gapapa. Aku cuma nanya. Kali aja Miss tega nggak ngundang mereka. Mereka kan karyawan rasa keluarga juga. Yaudah aku turun deh. Nanti panggungnya roboh kalo aku kelamaan di sini." kata Fanya.
"Fanya, jangan lupa makan! Inget, jangan pikirkan soal diet. Paling penting itu makan. Makan yang banyak yah. Aku sengaja pilihkan banyak menu favoritmu agar kamu makan. Makan yang banyak sampai kenyang!" pesan Marina.
"Iya deh iya! Mentang-mentang badannya langsing, ingetin mulu soal makan. Emang aku anak kecil? Aku mah nggak diingetin kalo laper ya makan." celetuk Fanya yang langsung menuju meja prasmanan.
Sementara itu, Sakti masih mengobrol dengan Satya. Sebenarnya masih banyak yang ingin Sakti bicarakan pada Satya. Berhubung Fanya sudah menyendokkan nasi ke piring, akhirnya mau nggak mau Sakti harus menyusulnya.
"Loh, kamu udah di sini aja, Mas?" tanya Fanya pada Sakti.
"Iya. Tadi dari panggung pelaminan, kelihatan kamu udah mau makan. Yaudah aku samperin kamu. Makan jadi enak kalo makannya barengan sama kamu." jawab Sakti.
"Halah bisa aja! Jangan harap minta aku yang ambilin ya Mas! Mas ambil sendiri. Aku mau ambil banyak soalnya. Entah kenapa hari ini nafsu makanku menggila." bisik Fanya.
__ADS_1
"Boleh banyak tapi sewajarnya yah. Malu dilihat orang. Kayak aku nggak pernah kasih kamu makan aja." omel Sakti.
"Biarin aja Nak Sakti. Toh makanan yang dihidangkan untuk dimakan. Gapapa Fanya, makan yang banyak yah! Jangan takut gemuk karena kamu masih kurus." kata Bu Arin.
"Ah Tante Arin yang baik hati. Terima kasih atas pengertian dan perhatiannya pada Fanya. Tapi kok Fanya jadi malu yah. Berasa disindir secara halus." ujar Fanya malu-malu.
"Gapapa. Ayo silakan dimakan! Tante seneng liat kamu banyak makan. Karena yang ada di pikiran Tante tuh kamu itu orangnya sedang menjalani diet ketat. Kamu tau nggak, Tante paling benci sama orang yang sok bergaya hidup diet." kata Bu Arin.
"Enggak Tante. Fanya nggak lagi diet kok. Selama bisa makan enak dan sehat, Fanya akan makan kapan pun. Iya kan Sayangku?" tanya Fanya pada Sakti.
"Ah iya benar. Fanya kan hobinya makan." jawab Sakti sekenanya.
Fanya menginjak kaki Sakti. Sakti hampir saja menjerit.
"Nggak gitu juga konsepnya!" bisik Fanya kesal.
"Makan yang banyak yah! Kalo gitu Tante mau ke sana dulu. Masih banyak tamu lain yang harus Tante temuin. Kalian jangan berantem. Berantemnya nanti malam aja di kamar." goda Bu Arin.
"Hampir saja aku malu di depan Tante Arin." gumam Fanya.
"Lagian mau makan aja nggak kira-kira." kata Sakti.
"Aku kan laper, Masnya! Tadi belum sempet sarapan. Masak pun tak sempat. Kita sama-sama kesiangan kan. Jadi buru-buru ke sini dan nggak sempet nyari sarapan dulu." ujar Fanya.
"Yaudah ambil itu lauknya!" kata Sakti.
Fanya memenuhi piringnya dengan aneka lauk yang disukainya. Setelahnya, ia dan Sakti mencari kursi untuk duduk. Mereka makan dengan santai. Sesekali mengomentari gaya berpakaian dan make up pengantin.
"Itu model pakaian mereka bagus banget loh, Mas! Selera Marina nggak pernah meleset. Dia pinter kalo masalah fashion." kata Fanya yang kemudian mengunyah kerupuk.
__ADS_1
"Kamu salah. Semua itu justru Satyq yang memilih." ujar Sakti.
Fanya menatap Sakti tak percaya.
"Emang semua itu Satya yang milih. Marina tinggal fitting dan terima beres aja. Kan akhir-akhir ini dia sibuk ngurusin kafenya kan?"
"Ya akhir-akhir ini dia sibuk dengan perluasan area Cafe Monix. Tapi aku nggak nyangka aja betapa pintarnya Satya dalam memilih model pakaian pengantin yang keren dan luar biasa. Salut aku sama dia!" puji Fanya.
"Emang dulu pakaian kita nggak sekeren pakaian mereka sekarang?" tanya Sakti.
"Lumayan keren. Kan pilihan kita berdua. Lagipula aku ingetnya bukan masalah keren atau nggaknya. Aku lebih menilai tentang kenangannya yang tak terlupakan. Pokoknya bukan masalah apa yang kita pakai. Lebih kepada apa yang kita rasakan pada saat itu. Contohnya kayak rasa jadi raja dan ratu sehari. Bukan perkara dandanannya kan? Pokoknya gitulah Mas. Aku susah jelasinnya. Kamu kan pinter, dengan lihat mataku saja pasti kamu akan tau apa yang akan aku omongin." jawab Fanya.
"Lah dikira aku itu cenayang. Nggak semua kode wanita aku paham ya Sayang." ujar Sakti.
"Oh gitu yah."
"Kamu mau nambah lagi ya?" tanya Sakti.
"Bukan Mas. Tapi aku mau jajanannya." jawab Fanya.
"Astaga, masih belum kenyang juga yah?"
"Iya Mas. Masih ada kepengenan mau makan. Pokoknya pingin cobain semua yang ada di sini. Maaf Mas, aku lagi pingin nih." kata Fanya.
"Gapapa. Makan aja yang kamu suka. Yang penting kamu jangan sampai sakit perut yah." nasehat Sakti.
"Iya Mas. Kalo gitu aku hunting jajanan enak dulu yah. Mas jangan kemana-mana."
"Aku di sini kok. Kalo pergi juga ngajakin kamu." kata Sakti.
__ADS_1
Sakti duduk sendirian, melihat Fanya yang sibuk wara-wiri mencari jajanan yang disukainya. Melihat Fanya antusias menikmati jajanan membuat Sakti tersenyum. Ia ikut bahagia meski hanya melihat senyuman bahagia Fanya.