Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Aku Pikir Bayangan


__ADS_3

Satya dan Marina telah sampai di kantor Sakti. Sakti tampak puas dengan kinerja Satya yang berhasil menemukan pelaku pengirim pesan pada Fanya.


"Tapi maaf, aku sih seneng kalian akan cepat akur dan mesra lagi. Tapi gegara ini, aku jadi kecewa sama pacarku sendiri. Kamu harap berhati-hati jika ada penikung dari orang terdekat." seru Marina sewot.


"Maksudnya apa? Kalian sedang baik-baik saja kan?" tanya Sakti.


"Tidak. Hubungan kami nyaris hancur karena masalah ini. Tolong, kamu jaga baik-baik pacarmu. Jangan sampai ada kesempatan orang lain untuk mendekati pacarmu. Catat itu!" jawab Marina kesal.


"Aku pasti akan menjaga pacarku dengan baik. Hanya saja kemaren sempat ada kesalahpahaman yang tak berarti. Makanya, aku sangat berterima kasih pada kalian atas kerja keras kalian. Dan, semoga hubungan kalian semakin baik. Aku harap kita semua bisa mendapat kebahagiaan masing-masing." imbuh Sakti.


"Semoga saja Tuan." kata Satya.


"Baiklah. Aku pergi dulu. Sampai jumpa!" ujar Marina melangkah pergi meninggalkan ruangan Sakti.


"Ah tidak, tunggu!" cegah Sakti, membuat Marina berbalik.


"Ada apa lagi?" tanya Marina.


"Bukankah Satya harus mengantarmu dulu? Ayolah, aku sudah mengizinkan Satya mengantarmu pulang. Bahkan kalo kamu mengajaknya kencan semalaman, aku akan izinkan. Ini juga hari libur kan? Kalian pergilah!" perintah Sakti.


"Tidak!" seru Marina.


Sakti dan Satya menoleh ke arah Marina. Tak percaya.


"Aku sedang tidak ingin melihat wajahnya. Jadi, nggak usah menyuruhnya mengantarku pulang. Aku bisa pulang sendiri." ujar Marina.


"Tapi...." belum selesai Satya berkata, tapi Marina sudah keburu pergi.


"Kejarlah wanitamu!" perintah Sakti pada Satya.

__ADS_1


"Baik Tuan. Permisi!" kata Satya yang kemudian bergegas mengejar wanitanya.


Sementara di tempat lain, Fanya sedang uring-uringan sendiri. Ia masih kesal dengan Sakti. Bagaimana bisa dia tersenyum manis dengan wanita lain, meskipun sudah jelas bahwa wanita yang dimaksud sudah bersuami.


"Kenapa aku terus kepikiran dia sih? Kesel banget inget foto itu. Udah dihapus, masih kepikiran aja. Tapi mau sekesel apapun, kenapa juga aku masih kangen dia sih? Sebenarnya dia siapa sih?" seru Fanya berkeluh kesah.


"Aku di sini. Jadi, jangan kangen lagi." kata Sakti tiba-tiba.


"Ah, pasti hanya halusinasi. Lupakan." ucap Fanya yang melirik Sakti sekilas.


Fanya masih beranggapan bahwa Sakti adalah bayangan dari lamunannya. Padahal Sakti benar-benar datang di hadapannya.


"Ini adalah libur terakhir. Besok sudah hari Senin dan aku harus kembali fokus bekerja. Apalah bayangan Mas Sakti yang terus mengganggu. Lupakan. Ini hanya bayangan. Lihat, bayangan itu bahkan terua tersenyum manis menatapku. Seakan tau bahwa aku sedang merindukannya. Ehm, hanya sekedar bayangan. Bukan Mas Sakti yang asli. Tapi, aku ingin sekali memeluknya."


Fanya berjalan mendekati Sakti yang mematung di depan pintu kostan kamarnya. Benar saja, Fanya memeluk Sakti dengan begitu eratnya. Hampir saja Sakti berteriak karena sesak. Tapi ditahan agar kekasihnya bisa meluapkan rasa rindu padanya.


"Seperti memeluk Mas Sakti yang sebenarnya. Andai ini nyata. Tapi aku masih kesal dan cemburu dengannya." lirih Fanya.


"Bahkan bayangan pun bisa berbicara. Aku pasti mabuk." kata Fanya sembari mengusap pipi Sakti dan sesekali menciumnya.


"Ini aku." kata Sakti lagi.


Fanya masih belum sadar.


"Aku adalah kekasihmu. Kamu adalah wanitaku yang akan senantiasa aku cintai. Jadi, mana mungkin aku bisa berpaling darimu? Hatiku sudah penuh dengan bayanganmu. I Love you..." bisik Sakti.


Fanya mendonggak. Kemudian ia tersadar bahwa Sakti ada di hadapannya. Bukan bayangan yang ia pikirkan sebelumnya.


"Jadi, Mas Sakti ada di sini? Aku pikir tadi bayangan. Pantas saja seperti nyata. Aku bahkan sudah berbuat hal senonoh. Memeluk dan mencium Mas Sakti sesuka hati. Maaf. Sejujurnya, aku masih kesal." ujar Fanya tertunduk lesu.

__ADS_1


"Iya, aku di sini. Dan wanita yang ada di foto itu hanya istri dari klien. Nggak ada hubungan lain. Pelaku yang mengirim pesan itu adalah Sonia. Kamu inget kan cerita Bik Ani tentang Sonia? Aku tak tau dia dapet nomermu darimana, yang jelas dia pasti sudah menyiapkan beribu cara untuk membuat kita pisah. Percayalah, hatiku dan tubuhku adalah milikmu. Bahkan jika kamu memintaku menikahimu hari ini juga, aku sudah siap. Aku bersedia. Bagaimana menurutmu?".


"Mas Sakti..." Fanya kembali memeluk erat Sakti.


"Mas, ia aku mau menikah denganmu. Kapanpun Mas siap, aku ayo aja!" ujar Fanya.


"Hei kalian, bisa nggak kalo mesra-mesraan liat waktu dan kondisi. Ini masing siang dan banyak anak kecil yang berseliweran. Tolong dong dijaga attitude-nya. Mataku juga tercemar oleh ulah kalian. Jika mau dilanjutkan, jangan di tempat ini." teriak seseorang yang tak lain adalah pemilik kostan.


"Maaf Bu. Kami hanya reflek kangen aja." kata Fanya merasa bersalah.


"Nyadar dong. Masih ngekost aja udah belagu. Awas kalo diulangi lagi." seru Ibu kost sambil berlalu.


"Maaf, Ibu kost sebenarnya orangnya baik. Mungkin sedang sensi aja. Bulan ini aku belum bayar uang kost. Pasti dia kesal karena hal itu. Yasudah, kamu boleh pergi Mas. Daripada jadi bulan-bulanan dia." ujar Fanya.


"Tidak. Lebih baik kamu ikut denganku. Kita bisa kencan di akhir Minggu ini. Bagaimana? Bukankah ini rencana yang menyenangkan? Kita bisa nonton, makan, jalan-jalan, belanja, atau apalah untuk menyenangkan hatimu. Kamu mau kan?" tanya Sakti.


"Mau sih, tapi apa ini ide yang bagus? Aku masih menyimpan sedikit kesal padamu." kata Fanya.


"Gapapa kalo kamu masih kesal. Namanya perasaan juga nggak bisa dipaksakan. Makanya, aku ingin membuatku membuang rasa kesal itu dengan cara menyenangkanmu hari ini. Bukankah besok kita mulai LDR lagi? Ya kan?".


"Mas Sakti benar. Aku siap-siap dulu yah. Mas Sakti tunggu di teras. Aku mau ganti baju yang layak. Nggak mungkin aku kencan menggunakan daster yang usang begini. Aku nggak mau kamu malu dengan penampilanku".


"Meski begitu, kecantikanmu tak berubah meski kamu hanya menggunakan daster. Masih terlihat cantik di mataku." kata Sakti memuji kecantikan Fanya yang alami.


Fanya langsung menutup dan mengunci pintu kamar kostan. Sakti memilih duduk di bangku teras. Memainkan ponselnya yang terus berbunyi notifikasi pesan.


"Aduh, aku harus pakai baju yang mana nih? Perasaan semua baju-baju ini pernah aku pakai saat kencan dengan Mas Sakti. Apa bajuku memang sedikit yah? Apa tidak ada lagi baju yang layak dan belum pernah ku pakai saat kencan dengannya?" Fanya tampak pusing memilih baju.


Berkali-kali mengobrak-abrik isi lemari pakaian, tapi belum menemukan baju yang pas untuk kencan. Karena sudah frustasi dan terdesak durasi, akhirnya Fanya memilih memakai kaos pink ketat dipadukan dengan blazer warna kuning dan bawahan rok selutut warna hitam.

__ADS_1


"Mau bagaimana lagi, aku harus bergerak cepat. Mungkin aku bisa minta traktir Mas Sakti untuk beli baju lagi. Gapapa kan? Dia kan kaya. Hehe..." seru Fanya girang.


__ADS_2