Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Obrolan Santai


__ADS_3

Dua mobil iring-iringan itu telah sampai di sebuah restoran rekomendasi dari Sakti. Sakti turun dari mobilnya lebih dulu, membukakan pintu untuk Fanya. Lalu menggandeng tangan Fanya. Fanya pun berusaha terlihat bahagia atas perhatian Sakti.


"Sakti, kamu romantis sekali!" puji Bu Arin setelah melihat adegan Sakti dan Fanya.


"Ah tidak, Tante. Saya hanya berusaha menyenangkan hati istri saya ini. Sungguh, saya bahkan jauh dari kata romantis." ujar Sakti yang masih setia menggenggam tangan Fanya.


"Mas Sakti memang selalu memperhatikan saya, Tante. Dia cuek, tapi sebenarnya ada sisi romantisnya juga." ujar Fanya jujur.


"Bagus, pertahankan itu! Demi kelangsungan bahtera rumah tangga kalian agar tetap harmonis sampai nanti. Oh iya, dua anak itu kemana?" tanya Bu Arin.


Bu Arin baru menyadari bahwa Satya dan Marina masih belum turun dari mobil.


"Apa yang mereka bicarakan di dalam sana?" tanya Pak Ilyas.


Semua fokus memperhatikan Satya dan Marina yang tampak berbincang di dalam mobilnya Pak Ilyas. Lalu Sakti melepaskan gandengan tangannya. Ia mendekati mobil Pak Ilyas. Kemudian mengetuk kaca pintu mobil. Alhasil perhatian Satya dan Marina ke arah Sakti berada. Buru-buru Satya keluar dari mobil itu.


"Kalian sedang apa? Om Ilyas dan Tante Arin sedang menunggu kalian. Ayolah!" tegur Sakti.


"Iya Tuan. Kami akan segera menyusul." ujar Satya.


Sakti pun meninggalkan Satya dan Marina. Ia eegera bergabung dengan Bu Arin, Pak Ilyas, dan Fanya.


"Silakan masuk Bapak dan Ibu! Apakah sebelumnya sudah reservasi tempat?" sapa waitress saat rombongan itu masuk ke restoran.


"Atas nama Sakti Dirgantara." balas Sakti.


Lalu waitress melihat catatan pemesanan.


"Atas nama Sakti Dirgantara. Silakan masuk ke ruang VVIP no 2." kata waitress itu dengan ramah.


Rombongan itu segera menuju ruang VVIP no 2 sesuai arahan waitress.


"Pencernaanku sedang tidak baik hari ini." bisik Fanya pada Sakti.


"Baiklah. Aku akan carikan menu yang aman untuk pencernaanmu." bisik Sakti.

__ADS_1


Mereka memesan menu makanan yang berbeda-beda sesuai selera masing-masing.


"Oh iya, Satya dan Sakti ini, hubungan kalian seperti apa? Saudara atau rekan kerja?" tanya Pak Ilyas di sela-sela makan.


"Kami rekan kerja, Pa. Tuan Sakti adalah boss Satya." jawab Satya.


"Bukan begitu. Meski hanya sebatas rekan kerja, tapi Satya sudah seperti saudara bagi saya yang notabene anak tunggal." jawab Sakti.


"Jadi begitu. Kamu orang baik Satya. Makanya banyak orang baik di sekitarmu!" ujar Pak Ilyas.


"Pa, nanti apa kita menginap di rumah Mari saja ya? Mama bosen nginep di hotel terus." kata Bu Arin.


"Boleh nggak sama Mari? Mama tanya anaknya dulu." ujar Pak Ilyas.


"Loh, kenapa harus izin Mari? Rumah Mari kan rumah Mama dan Papa juga. Mari bisa beli rumah itu pun juga setelah Papa mewariskan cafe Monix ke Mari. Rumah itu dibeli atas hasil untung dari cafe Monix. Mama dan Papa silakan menginap kapanpun di rumah itu. Pintu rumah Mari selalu terbuka untuk Papa dan Mama." kata Marina.


"Miss Marina memang terbaik pokoknya. Dia sangat baik kepada para karyawannya." kata Fanya.


"Kok kamu tau?" tanya Bu Arin.


"Dulu saya pernah jadi penyanyi di cafe Monix. Tentunya sebelum menikah dengan Mas Sakti." jawab Fanya.


Fanya pun langsung meleleh oleh pujian manis suaminya. Tanpa sadar ia pun mengecup pipi Sakti.


"Terima kasih!" ucap Fanya lembut.


"Waduh, mataku ternoda." ujar Marina.


Satya pun diam-diam menggenggam tangan Marina tanpa sepengetahuan siapapun. Tak ada yang tau, sebab tertutup oleh meja.


"Makanan di sini enak juga yah. Kira-kira mahal nggak ya?" tanya Bu Arin.


"Tenang saja, Tante. Tak semahal harga makanan di hotel bintang lima. Pokoknya Tante dan Om makan dengan tenang dan nyaman di sini ya. Saya yang traktir. Anggap saja sebagai perayaan pertemuan resmi kita semua. Saya sangat berterima kasih karena kalian mengizinkan Satya untuk dekat dengan Marina. Dalam artian kalian memberi restu untuk Satya. Terima kasih!" kata Sakti.


"Dari awal kenal Satya, kami memang sudah berniat menjodohkannya dengan Marina. Tapi belum sampai ke tahap itu, kami buru-buru ada urusan penting di luar negeri. Tapi karena mungkin takdir berpihak pada mereka, tanpa kami kenalkan pun, mereka sudah mengenal satu sama lain." kata Pa Ilyas.

__ADS_1


"Iya benar. Mama kan pingin punya mantu ganteng ya Pa. Beruntungnya Mari udah pinter pilih yang ganteng." kata Bu Arin.


"Kan Mari ikutin cara Mama. Mama dulu kepincut sama Papa kan karena Papa paling ganteng di sekolahan. Ya kan Ma?" tanya Marina.


"Udah sih jangan dibahas lagi. Nanti Papamu ke-PD-an lagi. Itu kan cerita zaman dulu kala. Sekarang gantengnya masih kelihatan juga sih." ujar Bu Arin malu-malu.


"Halah, Mama pake malu segala. Kalian pokoknya harus saling mengisi yah. Saling membahagiakan satu sama lain. Karena bahagia itu tidak diciptakan oleh salah satu pihak, tapi kedua belah pihak. Ingat, jika pun nanti ada perbedaan pendapat atau masalah yang datang silih berganti, tetaplah bersatu dan saling menguatkan. Cinta yang sebenarnya bukan mengenai seberapa banyak cinta itu diberikan, tapi seberapa kuat cinta itu disatukan dalam keadaan apapun. Kami sebagai orang tua, menginginkan anak-anak kami selalu bahagia bersama pasangannya. Jadi, jika ada masalah, tolong diselesaikan sebaik-baiknya. Kami percaya kalian, Sakti dan Fanya, serta Satya dan Marina. Kalian bisa mempertahankan cinta kalian dengan baik." penjelasan panjang Pak Ilyas.


"Wah, Papa hebat yah! Kata-kata motivator terselip dalam penjelasan Papa. Jangan-jangan Papa ini motivator juga yah?" tanya Marina.


"Tidak. Hanya bercermin dari pengalaman Papa menikah dengan Mamamu." jawab Pak Ilyas.


"Iya Sayang, kami banyak pengalaman tentang pernikahan dan mempertahankan cinta. Intinya, kalo cinta ya jangan gengsi bilang cinta. Jangan karena ego kalian mengesampingkan cinta. Nanti nyeselnya pasti di belakang. Penyesalan itu adalah hal yang merugikan. Sepatutnya dihindari." ucap Bu Arin menambahkan.


"Om dan Tante sangat bijaksana. Terima kasih atas nasihat yang berharga ini. Kami akan senantiasa mengingatnya. Sekali lagi, terima kasih." kata Fanya.


Sontak Sakti menggenggam tangan Fanya. Fanya pun tak malu lagi untuk membalasnya seraya tersenyum tulus untuk Sakti.


"Nah, kalian sudah berbaikan?" tanya Bu Arin.


"Loh, Tante tau kalo kami sedang bertengkar?" kata Fanya balik tanya.


"Taulah. Mamaku kan super Mama. Apa sih yang nggak dia tau?" jawab Marina.


"Iya Nak. Kalian harus selalu akur yah. Kalo ada masalah dibicarain baik-baik. Jangan pake acara kabur-kaburan. Pokoknya selalu bersama-sama. Mempertahankan kekokohan cinta itu lebih sulit daripada membangun cinta itu sendiri." kata Bu Arin.


"Ma, boleh Satya bertanya?" tanya Satya.


"Silakan." jawab Bu Arin.


"Apakah selain Satya, ada kandidat lain yang kalian jodohkan untuk Marina?" tanya Satya.


Pak Ilyas dan Bu Arin saling berpandangan.


"Entah ini jawaban yang kamu inginkan atau tidak, tapi kami harus berkata yang sebenarnya. Marina tadinya ingin kami jodohkan dengan kakakmu. Kakakmu yang sudah meninggal. Tapi jangan khawatir, namanya perjodohan kan bukan kewajiban yang harus dilaksanakan. Denganmu pun, jika Marina menolak, kami bisa apa? Kebahagiaan Marina lebih penting dari apapun juga. Satya, percayalah bahwa jodohmu pun sudah ditetapkan jauh hari sebelum kamu lahir. Jika memang itu adalah Marina, berarti memang nama Marina yang tertulis sebagai jodohmu kala itu." kata Pak Ilyas.

__ADS_1


"Oh jadi kakakku yang seharusnya bersanding dengan Marina." ujar Satya pelan.


"Ah, kakakmu jelek. Masih kalah jauh dari kamu. Meskipun ia masih hidup, aku akan tetap memilihmu kok. Kamu selain ganteng juga punya banyak keistimewaan. Bagaimana bisa aku melewatkanmu?" ujar Marina.


__ADS_2