Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Kesepakatan


__ADS_3

Selama Sakti menikah, otomatis Satya harua mengambil alih pekerjaan Sakti untuk sementara waktu karena Sakti harus cuti.


"Sayang, masih lama nggak sih? Bete ikh dari tadi belum kelar juga kerjaan. Katanya mau ngajakin aku kencan." keluh Marina yang sudah menunggu lebih dari sejam.


"Sabar ya. Aku juga maunya cepet kelar. Cuma kan kerjaan emang lagi banyak-banyaknya. Aku harus melakukan yang terbaik agar Boss Sakti nggak kecewa. Lalu, kita kan sedang bersama. Bukannya itu kencan yah." kata Satya yang sibuk menatap berkas di mejanya.


Marina mendekati Satya yang tak menatap dirinya. Lebih memilih menatap monitor dan berkas di mejanya.


"Yaudah, aku pijitin aja yah. Kasian pacarku lagi pusing ngerjain tugas malah aku gangguin. Kamu laper nggak? Aku pesenin makan dulu yah." ujar Marina perhatian.


"Bahuku sakit, boleh deh kalo dipijit. Lumayan bisa ngurangin rasa sakit. Aku belum laper." kata Satya.


"Kira-kira Fanya dan Sakti ngapain aja yah jam segini?" tanya Marina.


"Entah. Mungkin lagi bercocok tanam. Namanya juga pengantin baru. Banyak hal seru yang akan dilakukan." jawab Satya datar.


"Maksudnya belah duren? Pastilah kalo itu. Aku juga mau kalo udah sah menikah gitu. Mau tiap hari juga nggak masalah. Aku jabanin. Katanya kan nagihin, udah gitu ibadah juga kan. Nikmat banget kayaknya." ujar Marina sedikit berkhayal.


"Lantas mau secepatnya aku nikahin? Aku juga mau segera menikah denganmu. Tapi kan perlu nunggu orang tuamu balik ke sini." ucap Satya yang akhirnya menoleh ke arah Marina.


"Iya sih. Mereka belum tau kapan bisa kembali ke sini. Masih pada betah di luar negeri. Urusan bisnis dan bisnis. Sampe lupa nih punya anak gadis kesepian ini." sahut Marina memasang muka sedih.


"Jangan sedih. Wajahmu harus selalu tersenyum manis. Karena jika kamu tersenyum, kecantikanmu nambah seratus kali lipat." kata Satya, menarik tubuh Marina untuk duduk di pangkuannya.


"Aku ingin kamu segera menyelesaikan pekerjaanmu. Tapi sepertinya mustahil. Kamu kan harus bertanggung jawab atas pekerjaan ini. Nggak bisa asal-asalan karena sudah jadi kesepakatan. Aku sedih karena harus menunda waktu kencan kita. Uhm, tapi aku bangga padamu. Kamu komitmen menjaga tanggung jawabmu dengan baik. Padahal bisa aja kamu ngerjain asal-asalan. Sakti beruntung mempunyai kaki tangan yang setia sepertimu." ungkap Marina mellow.


"Lantas apakah kamu tak cukup beruntung memilikiku?" tanya Satya.


Marina tak menjawab. Ia langsung menyambar bibir Satya yang sudah bagai candu baginya. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher Satya. Perlahan ia ******* dan mengecap bibir Satya. Satya pun tak tinggal diam. Ia mengimbangi ciuman Marina dengan penuh cinta.


Lima menit sudah mereka berciuman. Hingga terdengar suara nada dering yang menghentikan aksi mereka.


"Ah, siapa sih yang telepon? Mengganggu saja!" gerutu Marina kesal.


"Ini Tio. Rekan kerja juga. Aku angkat dulu ya." kata Satya.

__ADS_1


Satya menerima panggilan dari Tio. Tio mengabarkan bahwa kondisi di kediaman Sakti aman terkendali.


"Nelpon cuma laporan gitu aja?" tanya Marina heran.


"Iya gitu aja. Itu udah informasi penting loh. Namanya kan bodyguard kan harus 24 jam jagain Bossnya. Gapapa yah kita nggak jadi keluar? Aku sulit meninggalkan pekerjaan ini." kata Satya.


"Iya gapapa. Kencan pun rasanya tetap kurang jika kita nggak..." Marina tak meneruskan.


"Jika nggak begini yah." ujar Sakti yang kemudian kembali menyambar bibir Marina dan meneruskan ciuman yang sempat tertunda tadi.


'Iya. Aku suka berciuman denganmu, Satya. Sejak perlakuanmu yang tiba-tiba menciumku tanpa persetujuanku, aku mulai menyukainya. Aku suka ciumanmu. Seperti sudah menjadi candu bagiku. Jangan salah sangka, aku pun juga sangat mencintaimu setelah mataku terbuka bahwa kamu juga sangat tampan. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.' batin Marina di tengah ciumannya.


Satya mengakhiri ciumannya. Wajah Marina tampak kecewa.


"Kenapa?" tanya Marina.


"Aku kesulitan menahan hasratku. Jika diteruskan lagi, rasanya aku tak sanggup untuk menahannya lagi." jawab Satya ambigu.


"Menahan apa Sayang?" tanya Marina lagi.


Marina terharu mendengar jawaban Satya. Lalu ia memeluk Satya dan menepuk pundaknya.


"Terima kasih. Semoga kita segera berjodoh dan kisah cinta kita terus berlanjut sampai tahap menikah. Aku pun juga penasaran, bagaimana rasanya." kata Marina.


Marina turun dari pangkuan Satya.


"Lanjutkan pekerjaanmu. Aku akan menemanimu di sini. Aku rebahan di sofa aja yah." kata Marina.


"Baiklah." kata Satya.


Satya pun meneruskan kembali pekerjaan yang sempat tertunda. Diliriknya, Marina sudah rebahan di sofa dengan memainkan ponselnya.


'Maaf ya, seharusnya aku tak mengabaikanmu seperti ini. Tapi bagaimanapun, terima kasih atas pengertianmu. Kamu wanita idaman yang akan selalu aku perjuangkan.' batin Satya.


***

__ADS_1


Sementara di tempat lain, terdapat seorang wanita yang duduk di meja bar. Menyeruput wine dosis rendah dengan tatapan kosong. Dialah Sonia. Sonia tampak kecewa dengan keadaan yang ada. Dunianya seakan runtuh setelah tau kabar bahwa pria yang dicintainya menjalin hubungan serius alias menikah dengan wanita lain.


"Kenapa ini terjadi? Sekian lama aku terus berjuang mendekatinya, dia bahkan tak mau melihatku. Aku tak pernah terlihat olehnya. Tapi dengan wanita itu, perlakuannya berbeda. Dia langsung menjatuhkan hatinya dan bahkan sekarang, menikahinya. Dunia serasa kejam untukku. Salahku apa? Aku tak masalah kehilangan apapun, asalkan pria itu menjadi milikku. Tapi sia-sia saja. Aku sudah tak ada harapan lagi. Haruskah aku mati saja?" kata Sonia mengungkapkan kesedihannya.


"Jangan sedih lagi. Hidup itu terus berjalan. Lakukan sesuatu yang lebih berguna dalam hidupmu. Mungkin jodohmu bukan dia. Bukalah matamu dan lihatlah sekelilingmu. Carilah pria tampan lagi selain dia. Pasti ada!" kata seorang pria yang duduk di sebelah Sonia, menunggu minuman.


"Tidak ada yang seperti dia. Hanya dia..." ujar Sonia tambah sedih.


"Mungkin matamu masih tertutup oleh keegoisanmu sendiri. Bukalah matamu lebar-lebar. Lihatlah betapa indah warna dunia di sekelilingmu. Nanti pasti kau temukan kebahagiaan yang selama ini tertutup oleh ambisimu. Coba saja!".


Sonia lantas menoleh untuk melihat wajah pria yang berani menasehatinya itu. Sonia langsung meleleh setelah melihatnya. Pria di sebelahnya ternyata tak kalah tampan dari Sakti, menurutnya.


"Jangan terus bersedih. Lakukan banyak hal yang bermanfaat!" kata pria itu lagi.


"Ini Tuan minumannya. Jus orange racikan khusus seperti biasa." kata bartender yang menyodorkan minuman pesanan pria itu.


"Oke. Makasih." kata pria itu.


"Siapa kau?" tanya Sonia.


"Namaku Jayden. Kamu siapa?".


"Aku Sonia."


"Sonia. Nama yang bagus. Oya, kamu pasti akan menemukan kebahagiaanmu sendiri. Jangan terlalu larut dalam kesedihan." nasihat Jayden.


"Benar. Tapi kamu mana tau rasanya ditinggalkan." keluh Sonia.


"Aku pun begitu. Sudah sering ditinggalkan oleh wanita yang ku cintai. Tapi nyatanya, aku harus tetap sendiri seperti ini. Tapi yaudahlah, aku hanya merasa belum berjodoh saja dengan mereka." kata Jayden yang kemudian menyedot minumannya.


"Bagaimana kalo kita buat kesepakatan? Aku dan kamu, mencoba menjalani hubungan. Bagaimana?" tanya Sonia sambil mengulurkan tangannya pada Jayden.


"Menarik. Oke. Deal!" jawab Jayden yang membalas uluran tangan Sonia.


Keduanya pun tertawa.

__ADS_1


__ADS_2