Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Itu Aku!


__ADS_3

Fanya menatap tajam ke arah Sakti. Sementara Sakti yang ditatapnya mulai harap-harap cemas dengan segala kemungkinan yang ada.


"Katakan, bagaimana kamu bisa mengenal cewek ini?" tanya Fanya menyelidik.


"Entahlah. Itu sudah lama sekali. Aku hanya melihatnya beberapa kali dari jauh. Foto itupun, aku dapat dari Papaku. Kamu tau, dulu Papaku adalah seorang fotografer. Jadi, banyak kejadian yang diabadikan oleh jepretan Papa. Termasuk mengambil gambar cantik itu." jawab Sakti jujur.


Fanya hampir mengumpat kesal, tapi ditahannya sambil mengelus dada.


"Untung saja semuanya cantik. Coba kalo nggak, itu sama aja nyimpen aib orang." gerutu Fanya.


"Maaf yah. Gara-gara foto itu kamu jadi salah paham. Seharusnya aku nggak nyimpen foto itu. Yasudah, aku akan buang semua foto itu. Lagipula foto itu tak sepenting kamu kok." ujar Sakti seraya mencoba mengambil foto di tangan Fanya.


"Siapa yang nyuruh kamu dengan santainya mau membuang foto ini? Jangan harap kamu bisa memusnahkannya yah! Aku menyukai semua foto ini. Terlebih Papamu sendiri yang mengambil gambarnya sendiri. Itu suatu momen yang langka dan pastinya akan jadi kenangan buat kita. Nilai historisnya benar-benar tak ternilai." kata Fanya mendekap foto usang itu erat-erat.


"Kenapa begitu?" tanya Sakti penasaran.


"Karena... Akulah cewek yang ada di foto ini." jawab Fanya.


Sakti langsung memeluk Fanya. Fanya langsung menitikkan air mata.


"Kenapa dunia sempit sekali? Seandainya aku tau bahwa kamu akan jadi orang kesayanganku, pada saat itulah aku akan menjadikanmu sebagai pacarku. Sehingga aku tak perlu menjomblo untuk sekian lama." ucap Sakti.


"Mungkin sudah takdir Yang Maha Kuasa. Oh iya Mas..." Fanya melepas pelukan Sakti.


"Di semua foto yang diambil oleh Papamu, bukankah terlihat aku sangat bahagia?" tanya Fanya sambil menatap foto usang dirinya.


"Iya begitulah. Makanya aku dulu suka melihatnya. Kalo sekarang, aku suka melihatmu." ujar Sakti sembari memeluk Fanya.


"Ah, kamu hanya modus aja Mas. Lepaskan aku!" seru Fanya mencoba melepaskan pelukan Sakti.


"Tidakkah suasana sedekat ini selalu ada di pikiranmu?" tanya Sakti yang mulai menatap intens ke arah Fanya.


Jarak mata mereka tak lebih dari 15 cm.

__ADS_1


"Tidak mungkin begitu. Menjauhlah sedikit Mas." cegah Fanya masih berusaha menjauhkan diri.


Sakti mengikis jarak di antara mereka. Bibirnya dipertemukan dengan bibir Fanya yang baginya terasa lembut dan kenyal. Awalnya Fanya mencoba melawan hatinya untuk menjauh dari Sakti. Menghindari kecupan yang diberikan Sakti. Tapi sayang, justru tubuh Fanya malah menikmati momen itu. Sampai-sampai ia menjatuhkan semua foto-foto yang tadi dipegangnya.


"Aku mencintaimu..." bisik Sakti pelan sesaat setelah menyudahi kegiatan panasnya itu.


Fanya tersenyum menatap kekasihnya yang rupawan itu. Ia lalu menciumi pipi Sakti sebelah kanan lalu kiri.


"Aku juga mencintaimu, Mas..." ujar Fanya serasa kembali melanjutkan kegiatan yang disukainya.


"Mmmhhhh.... Mas...." suara Fanya saat mulai merasa kehabisan oksigen.


"Suka?" tanya Sakti dengan tatapan penuh arti.


Fanya menggeleng, tapi respon tubuhnya mulai menikmati sentuhan Sakti.


"Baiklah." bisik Sakti tepat di telinga Fanya.


Sakti kembali memeluk Fanya dengan erat. Seolah merasakan dirinya sedang memeluk diri sendiri. Bukankah jika dua insan yang saling mencintai memang demikian?


"Iya Sayangku." balas Sakti.


"Sudah ya. Aku takut kebablasan karena sakjng sayang dan cintanya aku sama kamu, Mas." ujar Fanya.


"Hmm. Iya aku pun merasa begitu. Bersamamu aku selalu merasa bahagia. Sebelumnya aku pun bahagia, tapi jelas tak sebahagia ini. Memang benar yah kata pujangga bahwa hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga." kata Sakti menebar senyumnya pada Fanya.


"Apa kita nikah aja ya biar bisa ngapain aja dengan bebas?" tanya Fanya mode serius.


"Pertanyaan bagus. Tapi kamu mau nikah sama aku?" kata Sakti balik tanya.


"Mau aja sih. Kan aku cinta kamu. Kamu nggak ada niat mau nikahin aku ya, Mas?" tanya Fanya menaruh curiga.


"Ada niat dan niat itu sudah bulat. Tapi aku perlu persetujuanmu. Terlebih atas izin walimu. Selebihnya, kita bisa menikah. Toh udah dapet lampu ijo dari Mama." jawab Sakti.

__ADS_1


"Kalo gitu, boleh deh kita nikah. Mas kapan ada waktu? Kita harus berkunjung ke keluargaku. Orang tuaku perlu tau tentang Mas. Mereka sih nggak terlalu pemilih siapa jodohku kelak. Cuma pingin aku bisa hidup dengan baik dan bahagia bersama pasanganku. Mau kan Mas?".


"Iya. Akhir bulan kita rencanakan ke tempat orang tuamu berada. Kita ajak Mamaku sekalian yah!" ucap Sakti serius.


"Boleh deh kalo Tante Syakira nggak keberatan. Tapi ya gitu, perjalanan jauh pasti super capek." ujar Fanya.


"Gapapa. Biar sekalian lamarin kamu buat aku. Mana ada kata capek. Justru Mama pasti seneng. Sebentar lagi putra semata wayangnya melepas masa lajang." kata Sakti sumringah yang akhirnya mendaoat cubitan dari Fanya.


Fanya mendapat notifikasi pesan dari nomer tak dikenal.


"Oh gitu ya. Semoga aja deh. Eh ini apa?" Fanya mulai gelisah melihat pesan yang baru dibukanya.


"Kenapa Sayang?" tanya Sakti penasaran.


"Liat ini. Ini bukannya kamu yah? Siapa wanita muda ini? Pacarmu yang lain apa salah satu fans kamu?" kata Fanya balik nanya.


Sakti merebut ponsel Fanya. Dilihatnya foto dirinya yang sedang memegang tangan seorang wanita dengan saling tatap dan tersenyum.


"Ini tak seperti yang kamu pikirkan. Dia istri dari relasi kerjaku. Kebetulan kami sedang..."


"Sedang berselingkuh gitu yah? Kok bisa-bisanya sih Mas? Aku gagal paham deh dengan caramu mempermainkan aku. Fix, aku kecewa. Yaudah sampaikan rasa terima kasihku pada Tante Syakira yang sudah bersedia memberiku penginapan gratis. Permisi!" seru Fanya sembari menyambar ponsel di tangan Sakti dan tasnya di nakas, lalu pergi begitu saja.


"Dia bukan siapa-siapa. Kami..."


"Sudahlah. Selamat tinggal. Jaga dirimu baik-baik. Sampai jumpa di kehidupan lain!" seru Fanya dengan nada kesal dan langsung membanting pintu kamar Sakti.


Sakti masih bingung dengan situasi yang berubah 180 derajat. Ia merebahkan tubuhnya ke ranjang demgan kasar.


'Kenapa bisa begini? Siapa yang mengirimkan foto itu? Sudah pasti Fanya akan salah paham. Padahal bukan seperti itu kejadian aslinya.' gumam Sakti.


Sakti lalu menghubungi Satya. Menceritakan detail masalah yang baru saja terjadi.


"Tolong selidiki siapa pengirim pesan itu. Aku nggak mau Fanyaku salah paham. Karena kan bukti gambar itu tak seperti kejadian aslinya. Aku kasih kamu waktu maksimal 24 jam. Nanti aku kasih bonus jika berhasil. Pastikan orang itu berlutut minta ampun di kaki Fanya. Siapapun yang sudah berani menyakiti wanitaku, dia harus mendapatkan balasannya." kata Sakti tegas.

__ADS_1


Sementara Satya yang menerima panggilan, hanya mengiyakan saja. Tidak berani beradu pendapat, terlebih menolak permintaan bossnya.


__ADS_2