Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Satya Sakit


__ADS_3

Hujan rintik di tengah malam, Satya terbangun dari tidurnya. Kegelisahan membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak. Bayang-bayang kegagalan pernikahan terus menghantuinya.


Satya keluar kamar. Kerongkongannya terasa kering dan haus. Ia berjalan menuju ruang makan dimana dispenser berada. Ia menaruh gelas pada tempatnya dan menekan tombol air dingin. Lalu meneguknya sesegera mungkin.


"Panas sekali rasanya, padahal di luar sedang turun hujan." kata Satya sambil menatap jendela kaca transparan yang belum tertutup gorden.


Satya mengisi ulang air di gelasnya yang sudah kosong. Kemudian dibawanya menuju ruang tengah. Karena kantuknya sudah hilang, ia memutuskan untuk menyalakan TV. Bukan karena ingin, tapi lebih kepada bosan harus berbuat apa.


Sebenarnya ia sangat ingin menghubungi kekasihnya. Sayangnya, tengah malam bukanlah waktu yang tepat. Sudah pasti Marina sedang beristirahat. Jadi ia tak ingin mengganggu Marina. Berbeda cerita jika Marina yang menghubunginya. Selama 24 jam pun, dirinya siap.


Berkali-kali mengubah channel TV, tapi ternyata tak ada acara yang sesuai elspektasi. Tak ada yang menarik bagi Satya. Lelah memilih channel, ia pun mematikan TV nya. Memutuskan kembali ke kamarnya. Berharap bisa melanjutkan tidurnya kembali. Mengingat besok pagi ada rapat penting bersama petinggi perusahaan dan jajaran staf.


Satya terus merasa gelisah. Padahal biasanya tak begitu. Sesulit apapun masalahnya, tak sampai seperti ini. Mungkin karena berkaitan dengan hati, jadi rasanya lebih sensitif. Hingga akhirnya ia menelan obat tidur.


Pagi harinya, Satya terbangun oleh suara alarm yang terus-menerus berbunyi. Tubuhnya terasa lelah dan kaku. Rasanya seperti sehabis main bola. Terlebih kepalanya juga sakit dan pusing.


"Kenapa ini? Berat sekali rasanya. Aku kesulitan menopang tubuhku sendiri. Padahal hari ini ada rapat penting. Mana mungkin aku absen kerja? Tapi jika dipaksakan tetap kerja, mungkin akan lebih merepotkan banyak orang." kata Satya yang memegangi kepalanya.


Satya mengirim pesan kepada Sakti. Menjelaskan keadaannya saat ini. Keadaan dimana dirinya kesulitan menopang dirinya sendiri. Lemas dan hampir semua badannya dirasa sakit.


'Tak masalah. Istirahatlah yang cukup. Nanti aku kirim yang lain untuk memantau kondisimu sekaligus mengirimkan obat dan makanan.' begitulah isi pesan Sakti.


"Tuan Sakti sangat bijaksana. Aku mulai lapar nih. Tapi ada apa ya di meja? Aku masih punya stok makanan atau tidak? Minggu ini belum sempat belanja lagi." ujar Satya.


Dengan tubuh yang lemas, ia menghampiri meja makannya. Beruntung ia masih menemukan beberapa lembar roti tawar dan selai cokelat. Hanya itu saja yang tersisa.

__ADS_1


"Untungnya masih ada makanan. Ini pun sudah cukup. Setidaknya mengurangi laparku. Lalu apa aku panggil saja Marina ya? Dia pasti akan merawatku dengan senang hati di sini. Tapi.... Ah nggak perlu! Nanti ngerepotin dia. Kan dia juga banyak urusan di cafenya. Usahakan jangan janggu dia dulu." ucap Satya.


Satya mengambil dua lembar roti tawar. Mengoleskan selai cokelat kesukaannya. Jadilah sandwich untuk sarapan. Tak lupa, ia menyiapkan susu cair yang dItuangkannya ke dalam gelas.


Satya menikmati sarapan sederhananya dengan perasaan kacau. Hatinya masih dilanda galau mengenai perjodohan Marina dengan pria misterius.


Beberapa saat kemudian, bel apartemen kediaman Satya berbunyi.


"Siapa yang datang sepagi ini? Apa tukang laundry yang mengantar baju bersih? Tapi aku tak merasa pakai jasa cuci baju? Rencananya malah mau nanti sore ke tempat laundry." kata Satya.


Akhirnya Satya tetap membuka pintu apartemennya. Ternyata ada Marina dengan membawa tas jinjing di kedua tangannya.


"Loh, kamu tau darimana apartemenku? Kamu kan belum pernah aku ajak main kesini?" tanya Satya.


"Aku tau dari Fanya. Bahkan Fanya juga yang kasih kabar bahwa kamu sakit." jawab Marina.


"Eh, aku boleh masuk kan? Maaf yah aku nyelonong gitu aja. Aku mau buatin sarapan buat kamu." kata Marina.


"Tak perlu, aku udah sarapan. Makan sandwich dan segelas susu. Itu sudah cukup. Aku tak bisa makan banyak di pagi hari." kata Satya.


"Oh begitu. Jadi aku datang disaat yang tidak tepat." gumam Marina.


"Kamu datang di saat yang tepat. Kamu bawa apa? Sepertinya barang belanjaan."


"Iya. Aku abis belanja bahan makanan dan beberapa camilan untukmu. Aku feeling kamu belum sempat belanja. Jadi ya aku mampir dulu ke swalayan sebelum ke sini. Gapapa kan?" tanya Marina.

__ADS_1


"Justru aku berterima kasih atas kepedulianmu padaku." jawab Satya.


Satya menarik tangan Marina. Mengajaknya menuju ruang tengah, dimana mereka bisa menonton TV sama-sama.


"Aku ingin sekali mengabarimu. Tapi aku juga takut mengganggumu. Apalagi semalam. Tengah malam yang hujan, masih saja membuat tubuhku kepanasan. Padahal AC juga sudah ku nyalakan pada mode dingin. Tubuhku panas tak jelas." cerita Satya.


"Separah itu? Mau cek kesehatan bersamaku? Aku dengan senang hati akan mengantarmu. Takutnya kamu kenapa-napa. Karena sakitmu dadakan tanpa gejaja yang jelas. Bagaimana?" tanya Marina.


"Tak apa. Aku hanya lelah jiwa saja. Kepikiran sesuatu." jawab Satya.


"Tentang perjodohan yang dibuat orang tuaku? Tapi kan itu masih belum jelas. Aku saja tak akan menerima perjodohan itu meski bakal dicoret dari KK. Aku rela jadi anak terlantar. Karena aku yakin, kamu pasti akan membiayai hidupku. Tak masalah jika sekalipun aset yang aku miliki sekarang, ditarik kembali oleh mereka. Aku sudah mantap memilih jalan itu. Datipada kehilangan seorang Satya Prawira yang sudah mencuri hatiku...." ujar Marina serius.


"Aku tak ingin kamu membantah orang tuamu. Aku ingin restu mereka untuk hubungan cinta kita." ucap Satya.


"Mungkin karena banyak cerita viral di pernikahan artis-artis kita, sehingga kamu terlalu mendalami ceritanya. Sampai-sampai lupa untuk menjaga kesehatan." ucap Marina.


"Aku galau jika tak dapat restu dari kedua orang tuamu. Aku terus kepikiran hal itu. Semalam pun sebenarnya aku susah tidur dan terpaksa menelan obat tidur dosis tinggi. Sekarang, kepalaku pusing tak tertahankan."


"Hah! Aku tak percaya ini terjadi. Seorang Satya Prawira bahkan menelan obat tidur hanya karena masalah percintaan. Apa itu mungkin?" tanya Marina.


"Mungkin. Dan itu terjadi padaku. Bahkan aku sampai absen kerja juga. Aku lemah bukan?" tanya Satya.


"Iya kamu lemah!" seru Marina sambil mengumbar senyum manis.


"Ingin aku marah dikata lemah oleh seorang wanita. Tapi jika yang mengatakan itu kamu, aku bahkan lupa bagaimana mengawali rasa marah itu sendiri. Ditambah ada gula manis dari senyumanmu yang membuat candu. Mana bisa aku marah. Terima kasih ya, aku cukup terhibur dengan kedatanganmu." ujar Satya.

__ADS_1


Marina pun memeluk Satya. Meski hatinya juga sakit saat melihat Satya dengan wajah pucat, tapi sebisa mungkin Marina menebar kebahagiaan. Dengan selalu tersenyum untuk mengurangi rasa sakit Satya. Siapa tau obat bagi Satya yang sebenarnya bukanlah pil ataupun tablet, tapi senyuman dan perhatian tulus dari Marina. Mari kita coba!


__ADS_2