Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Bertemu Lagi


__ADS_3

"Tolong turunkan aku, Mas. Aku mau duduk di sofa." ujar Fanya.


Satya sedikit menyingkir dari sofa. Ia memilih berdiri di samping Marina. Sakti menurunkan Fanya di sofa yang empuk dengan hati-hati.


"Kakimu kenapa?" tanya Marina kepo.


"Keseleo. Tadi kepleset. Tapi ini udah mendingan kok. Duduk aja. Ngapain berdiri. Biar pria-pria itu aja yang berdiri." jawab Fanya.


"Pasti sakit. Apakah sudah dipijat atau semacamnya?" tanya Marina.


"Sudah, Miss. Ini udah nggak terlalu sakit. Udah dipijit sama Mas Sakti. Kamu tau kan bagaimana suamiku?" hanya diangguki Marina.


"Oh oke. Butuh sesuatu?" tanya Marina.


"Tidak. Aku hanya ingin ngobrol aja denganmu. Kan sudah lama kita tak bertemu. Kamu sih, sibuk melulu godain Satya." tukas Fanya menyindir.


"Ya begitulah. Pacarku kan kaku, dingin, dan ekstra cuek. Yah sudah seharusnya aku menggodanya bukan? Siapa lagi yang akan menggodanya selain aku?" kata Marina.


"Iya deh iya. Marina kan pawangnya Satya. Titip Fanya ya. Aku mau rapat dulu sama Satya di ruang rapat." ujar Sakti.


"Lama nggak?" tanya Fanya.


"Lah tumben nanya." goda Marina.


"Paling sejam dua jam ya. Gapapa kan?" tanya Sakti pada Fanya.


"Iya Sayang. Sudah, kamu pergi rapat aja. Aku sama Marina mau ngobrol-ngobrol cantik. Oiya satu lagi, aku mau belanja online boleh? Tapi pake uangmu ya?" pinta Fanya memohon.


"Iya boleh. Pake aja sesukamu." ujar Sakti yang bergegas keluar dari ruangan Satya.


Fanya menatap punggung suaminya yang menghilang dari balik pintu.


"Kenapa?" tanya Marina.


"Gapapa. Aku hanya ingin melihatnya pergi. Aku sebenarnya bucin juga dengannya. Tapi kadang malu mengakuinya." jawab Fanya.


"Iya aku juga. Tapi aku sudah tak malu lagi. Kalo aku malu, hubunganku dengan Satya akan datar dan hambar. Yah kakimu lagi sakit sih ya. Seharusnya kita bisa shopping nih kalo kamu nggak sakit kakinya." kata Marina.


"Iya, aku juga pikir begitu. Tapi kan kita bisa belanja online. Tadi kamu denger sendiri, suamiku sudah mengizinkanku belanja kan?"


Marina menganggukkan kepalanya. Tersenyum kecut dan menyeruput minumannya.


"Beruntung kamu. Aku juga berharap nantinya Satya juga seroyal itu padaku." ujar Marina.


Fanya membetulkan posisi duduknya agar lebih nyaman.


"Lantas Satya sekarang pelit begitu?" tanya Fanya.


Marina menaruh gelasnya di atas meja. Ia menghirup nafas kasar.

__ADS_1


"Tidak. Dia sebenarnya royal juga kok. Cuma Aku kadang kepikiran, apa nanti kalo udah nikah dia masih sama atau berubah. Kadang suka takut mikirin hal begitu. Kalo suamimu kayaknya lebih perhatian dan sayang padamu ya?"


"Sayang bangetlah. Ini aja aku nggak dibolehin kerja, malah disuruh dia ikut kerja. Rela gendongin aku meski diliatin karyawan-karyawannya. Kamu tau kan, Mas Sakti nggak jauh beda dengan Satya. Kalo sikapnya romantis dikit kan pasti ngundang perhatian." ujar Fanya.


Marina mengulas senyum.


"Maaf ya, dulu aku sempet suka sama Sakti. Kalo si Satya nggak nyadarin aku, bisa jadi aku masih tergila-gila sama suamimu itu."


"Tak masalah. Darimu juga aku bisa kenal dengan Mas Sakti. Coba kalo aku nggak nyanyi di cafe Monix milikmu, mungkin aku belum kenal sama dia. Belum tentu bisa nikah sama dia juga kan?"


"Itulah lucunya takdir. Oh iya, aku lama tak mendengar kabar dari Rara. Dia kemana sekarang?"


"Clara namanya. Katanya sih sudah bertunangan dengan pacarnya, Robi."


Marina menggaruk jidatnya yang tidak gatal. Ia ingat bahwa Clara adalah selingkuhan Robi.


"Kamu pasti mikirnya gimana bisa mereka bertunangan ya? Kan Robi punya pacar bernama Dila." Marina mengangguk.


"Nggak tau gimana ceritanya, pokoknya Dila sama Robi putus gitu aja. Yah endingnya sudah pasti Robi terang-terangan ngakuin Clara sebagai pacarnya. Abis itu, mereka tunangan deh. Aku hanya tau sebatas itu. Clara juga jarang berkabar lagi sekarang. Sepertinya dia sibuk mengurus persiapan pernikahan. Liat aja dari status WA nya." penjelasan Fanya.


"Akh, semoga lancar dah sampe hari H." kata Marina.


Tiba-tiba ponsel Marina berdering. Ada panggilan masuk dari salah satu karyawannya.


"Iya halo. Ada apa?" kata Marina begitu menerima panggilan.


Marina tampak serius mendengarkan. Fanya hanya diam memperhatikan karena tak mendengar dengan jelas apa isi percakapan tersebut.


Marina memutuskan panggilan telepon. Wajahnya panik dan gusar.


"Ada apa?" tanya Fanya.


"Ada masalah di cafe Monix. Aku harus segera ke sana?" jawab Marina.


Marina segera membereskan barangnya. Fanya ikut khawatir dengan sahabatnya itu.


"Aku boleh ikut nggak? Aku nggak bisa diam begini. Aku bisa kok jalan pelan-pelan." ujar Fanya.


"Tapi apa boleh sama suamimu? Pasti nggak diijinin. Kan aku udah tau seposesif apa dirinya terhadapmu." kata Marina.


Fanya mencoba berdiri. Ada sedikit nyeri di kakinya. Lalu ia mencoba berjalan secara perlahan.


"Aku bisa jalan meski pelan. Aku ikut kamu ya." pinta Fanya yang akhirnya diiyakan oleh Marina.


Tak lupa, Fanya mengirim pesan untuk suaminya bahwa ia ikut Marina ke cafe Monix.


Sesampai di cafe Monix, Marina memapah Fanya dengan hati-hati.


"Tinggalkan aku. Temui karyawanmu tadi. Aku gapapa sendiri." ucap Fanya yang memilih duduk di salah satu bangku.

__ADS_1


Marina menemui karyawan yang menelponnya tadi. Terlihat oleh Fanya, betapa seriusnya pembicaraan Marina dan beberapa karyawannya.


'Apa yang sedang terjadi ya?' pikir Fanya.


Marina akhirnya masuk ke ruang VVIP, dimana ada pelanggan yang sedang menunggunya.


"Permisi. Apakah benar Anda Tuan Jayden?" tanya Marina sopan.


"Ya benar. Aku mau ketemu penanggung jawab cafe ini!" jawab Jayden dengan angkuhnya.


"Iya Tuan, saya adalah penanggung jawab cafe ini. Perkenalkan, nama saya Marina. Apakah ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Marina berusaha sesopan mungkin meski memendam kekesalan.


"Di sini kan cafe sekaligus tempat konser mini ya? Sering ada penyanyi juga. Nah, sebagai tamu VVIP, masa aku nggak bisa request penyanyi untuk menghiburku? Tadi udah nanya ke salah satu karyawanmu itu, penyanyi tugasnya cuma nyanyi di panggung mini itu. Aku kan mintanya penyanyi yang mau menyervisku secara pribadi. Di ruangan ini. Masa nggak bisa? Tempat macam apa ini?"


Marina menahan segala jenia umpatan. Tapi wajahnya berusaha memasang senyuman terbaiknya.


"Menurut Tuan, cafe ini tempat seperti apa? Cafe ini hanya tempat makan biasa. Kalaupun ada penyanyi, yah itu hanya hiburan belaka di waktu yang sudah dijadwalkan untuk manggung. Bukan semata-mata mereka datang karena panggilan pelanggan. Kami tak menyediakan layanan seperti itu. Kami bersih. Jadi, jika Tuan berniat mencari layanan privasi yang seperti.pemikiran Tuan, silakan datang ke tempat karaoke plus-plus. Jangan datang ke sini!" seru Marina.


"Loh, kok kamu marah? Salahnya dimana coba?" tanya Jayden.


Marina mengambil gelas yang berisi air putih. Ia berniat menyiram Jayden dengan air itu. Tapi Fanya menahan tangan Marina. Marina menatap Fanya kaget. Fanya hanya menggelengkan kepalanya.


"Wow, ini bukannya salah satu penyanyi di sini? Aku mau dia menyanyikan beberapa lagu di sini. Dengan begitu, aku takkan bikin onar lagi. Aku mau dihibur hari ini!" seru Jayden berbinar.


"Harus dia?" tanya Marina tak percaya.


"Oke. Aku akan bernyanyi di sini, untukmu. Tapi setelah itu, tolong jangan berulah lagi di sini. Ku mohon, jangan bikin susah sahabatku. Kau mengerti?" tantang Fanya.


"Baiklah. Aku janji. Dan kau... "Jayden menunjuk Marina. "Tolong tinggalkan aku dan wanita cantik ini. Jangan lupa tutup pintunya."


"Tidak apa-apa. Tunggulah di luar." kata Fanya.


Kini tinggallah Fanya dan Jayden. Hening. Fanya menundukkan kepalanya. Bukan bingung harus berbuat apa, tapi lebih kepada kesal yang harus ditahan.


"Maaf. Aku hanya ingin bertemu denganmu. Itu sudah cukup. Kapan lagi kita bisa berduaan seperti ini? Aku kangen banget sama kamu. Sulit melupakanmu, Fanya. Aku sudah berusaha melupakanmu lewat Sonia, tapi rasanya susah. Seksi dan cantiknya Sonia, hanya lewat bagiku. Tetap dirimu yang aku inginkan. Bercinta dengan Sonia hanya pelampiasanku membayangkan dirimu bisa ku miliki sepenuhnya. Bagaimana aku menyikapinya?" kejujuran Jayden.


"Sumpah, aku muak dengan kata-katamu barusan. Lupain aku!" seru Fanya dalam ruangan kedap udara itu.


"Bagaimana bisa?"


"Bisa. Usahakan jangan memikirkanku lagi. Atau pikirkan bahwa aku sudah mengkhianatimu, sudah menjadi milik orang lain. Atau kalo perlu, anggap aku sudah mati. Mudah kan?" ujar Fanya berapi-api.


"Tidak semudah itu."


Jayden mendekatkati Fanya. Fanya bergerak mundur, tapi tertahan oleh dinding tembok.


"Mau apa kau?"


"Aku hanya ingin memastikan. Apakah rasamu sebenarnya seperti apa yang selama ini pkirkan. Aku mau mencobanya." ujar Jayden yang membuat Fanya bergidik ngeri.

__ADS_1


"Dasar psikopat!" seru Fanya.


__ADS_2