
Sakti terus fokus mendengarkan cerita Fanya yang detail mengenai hubungan masa lalunya dengan Jayden.
"Maaf Mas. Aku punya masa lalu seperti itu. Hubunganku dengan dia bukan hubungan antara kekasih. Aku dan dia hanya sempat dijodohkan saja." ujar Fanya menundukkan kepalanya.
"Sudahlah. Itu juga hanya bagian masa lalumu. Bukan hakku untuk marah. Karena waktu itupun, aku belum mengenalmu. Aku kalah start dari Jayden itu. Aku ingin marah dan meluapkan kekesalanku. Tapi itu bukan salahmu. Bukan juga salah si Jayden itu." kata Sakti menahan getir di hatinya.
"Maafkan aku." lirih Fanya.
"Kamu tak salah. Takdir yang membawamu demikian. Jangan dipikirkan lagi! Ada aku yang akan selalu mencintaimu dan melindungimu." kata Sakti yang langsung mendekap istrinya.
"Terima kasih Mas. Sudah mau mengerti diriku." ujar Fanya.
"Iya. Siapapun orang yang pernah dekat denganmu, mereka hanyalah masa lalu. Akulah masa depanmu sekarang. Sudah kan ceritanya? Ayo kita cari makan. Sepertinya cacing di perut kita sudah berteriak kelaparan." canda Sakti.
"Ah, cacing di perut Mas Sakti kali ya." kata Fanya manyun.
Sakti kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia menyalakan musik pop untuk mencairkan suasana. Baginya, membuat bahagia Fanya adalah salah satu tujuannya. Jadi, sebisa mungkin Fanya harus bahagia apapun yang terjadi.
"Kamu suka lagunya?" tanya Sakti ketika mendengar Fanya ikut menyanyikan lagunya.
Fanya hanya mengangguk dan melempar senyum ke arah suaminya.
"Nah gitu dong. Senyummu itu bagaikan candu. Ehm, sehabis makan apa perlu kita melipir sebentar ke hotel?" tanya Sakti.
"Eh kenapa pula? Ngapain ke hotel? Kan bisa pulang ke rumah. Ada Mama mertua juga kan di rumah." jawab Fanya.
"Justru karena ada Mama. Ke hotel ngapain? Ya bercocok tanamlah. Ngapain lagi. Anggap aja bagian dari honeymoon. Masa iya kita honeymoon di kamar aja. Nggak asik." ungkap Sakti.
"Di hotel bukannya masuk ke kamar juga yah? Bukannya sama aja. Kalo aku sih yang penting udah bareng sama Mas Sakti, dimanapun terasa enak." kata Fanya polos.
"Sayangku, aku pun juga asal bersamamu, sudah nyaman sekali. Pokoknya enak aja rasanya. Ya tapi satu hal, kalo suasana dan keadaan sekitar mendukung kenyamanan, bukankah lebih bagus untuk mendukung percintaan kita. Biar proses bercocok tanamnya lebih asik dan memuaskan. Bukan begitu?" goda Sakti.
"Apa sih Mas. Udah ah bercandanya. Aku malu. Nah, makan di sana aja yah. Itu kayaknya tempatnya nyaman. Semoga aja makanannya enak." perintah Fanya.
Sakti memelankan laju mobilnya. Lalu masuk ke parkiran restoran yang ditunjuk oleh Fanya. Saat mencari lokasi parkiran yang pas, mata Sakti langsung menangkap sosok wanita yang dikenalnya. Lalu menoleh ke arah Fanya. Fanya pun menatap Sakti dengan tatapan heran.
"Ada apa Mas?" tanya Fanya kepo.
"Coba lihat ke depan!" perintah Sakti.
__ADS_1
Fanya menuruti perintah Sakti. Tapi tak tahu apa yang harus ia lihat selain beberapa pengunjung yang duduk di meja makannya masing-masing.
"Lihat apa ya?" tanya Fanya lagi.
"Kamu lihat wanita berbaju marun itu? Yang rambutnya warna coklat dan dikuncir kuda." Fanya langsung menatap dengan serius.
"Dia itu adalah Sonia. Wanita yang pernah Bik Ani ceritakan waktu itu. Dia juga yang sempat membuat kesalahpahaman di antara kita. Maksudku yang pernah mengirimkan gambar ke ponselmu waktu itu. Yang hampir membuatmu patah hati karena cemburu buta." kata Sakti.
"Patah hati? Cemburu buta? Ah kamu lebay sekali Mas. Aku tak senaif itu sih. Cemburuku masih tahap wajar kok. Yaudah gapapa sih ada wanita itu. Nggak ngaruh juga soalnya. Kamu kan udah jadi suami aku. Trus kamunya juga cinta aku. Nggak ada lagi yang aku takutkan. Kamu pasti sudah menolaknya mentah-mentah sebelum sampai digoda olehnya. Ayo kita turun Mas!" kata Fanya.
Fanya melenggang dengan santainya. Menuju meja yang berdekatan dengan meja yang ditempati Sonia. Sonia panik saat melihat Fanya berada tak jauh dari tempatnya. Terlebih Fanya menatapnya tajam tanpa ampun.
"Sini Mas!" seru Fanya melambaikan tangannya pada suami tercintanya.
Sakti mengarah menuju Fanya berada. Ia melewati Sonia begitu saja seakan tak mengenalnya sama sekali.
"Mas aja yah yang pesan. Aku ngikutin selera Mas hari ini. Karena rasanya tak ada yang menselerakan diriku selain Mas." kata Fanya sengaja menggoda suaminya agar didengar oleh Sonia.
"Oke. Aku pilihkan ya." kata Sakti yang memilih menu yang tertera di daftar menu.
Selesai memilih menu, Sakti menyerahkan daftar pilihannya kepada waiter.
Sungguh, hati Sonia seakan teriris mendengar godaan Fanya untuk Sakti. Ia sudah berusaha melupakan Sakti. Tapi masih ada sedikit rasa yang tertinggal. Perih.
"Maaf sudah membuatmu menunggu lama." ucap Jayden yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat Sonia.
"Duduklah. Aku sudah pesankan makanan untukmu. Tapi jika kau tak berselera makanan itu, silakan pesan yang lain." ujar Sonia.
"Tak masalah. Aku akan makan apa yang sudah kamu pesan. Ngomong-ngomong, eh..." Jayden baru tersadar jika dirinya melihat Fanya yang juga menatapnya.
"Kamu di sini juga?" tanya Jayden pada Fanya.
Fanya merasa jengah dan hanya mengangguk. Lalu hanya fokus menatap Sakti saja.
"Kamu kenal dia?" tanya Sonia pelan.
"Kenal. Dia bagian dari masa lalu." jawab Jayden dengan suara yang cukup bisa didengar Fanya dan Sakti.
'Oh. Jadi dia juga yang jadi biang segala masalah.' batin Sonia.
__ADS_1
"Silakan dimakan, Jay!" kata Sonia.
Mereka pun makan dengan tenang. Hanya obrolan kecil tentang aktivitas hari ini saja yang mereka bicarakan.
"Maaf yah lama. Ini ya Kak, makanannya." kata waiter sambil menyajikan makanan dan minuman untuk Fanya dan Sakti.
"Gapapa Mas." ujar Fanya.
Fanya makan dengan lahap. Sesekali menyuapi dan minta disuapi Sakti. Sebenarnya Jayden sedikit kesal melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh Fanya dan Sakti. Mengingat ada Sonia juga, ia menahan kekesalan itu.
"Abis ini mau kemana?" tanya Jayden pada Sonia yang tampak kurang semangat.
"Entahlah. Aku ikut denganmu saja. Kamu bawa kendaraan pribadi kan? Motor?"
"Aku bawa mobil." kata Jayden.
"Aku tadi kesini naik taksi." ujar Sonia.
"Oke, kita naik mobilku saja. Aku akan mengajakmu jalan-jalan." kata Jayden.
"Kamu nggak ada kegiatan lain selain mengajakku?" tanya Sonia.
"Tidak ada. Hari ini aku lagi dibebastugaskan. Mungkin besok aku akan sulit dihubungi." jawab Jayden.
"Kamu berprofesi sebagai apa?" tanya Sonia kepo.
"Alah, aku hanya orang biasa yang ingin mendapat cinta." jawab Jayden sembari mencuri pandang ke arah Fanya yang kebetulan menatapnya juga.
"Kamu seorang polisi yah? Kelihatannya begitu. Apa aku benar?" tebak Sonia.
Jayden mengangguk dan mencuri pandang ke arah Fanya yang tak lagi menatapnya.
"Wow, profesi yang bagus. Idaman banget." puji Sonia yang tak begitu dihiraukan Jayden.
Jayden menyedot minuman dinginnya. Udara yang panas ditambah suasana hatinya yang semakin panas melihat kemesraan Fanya dan suaminya di depan mata.
"Baiklah, ayo kita pergi. Aku mau belanja aja. Temenin yah!" pinta Sonia manja.
"Oke. Ayo!" seru Jayden yang langsung menggandeng Sonia dengan mesra.
__ADS_1
Sengaja menunjukkan kepada Fanya bahwa dirinya baik-baik saja.