Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Permintaan Maaf


__ADS_3

Fanya menatap cermin. Dia sudah selesai ganti baju serta berdandan natural.


"Uhm, sepertinya sudah cukup. Setengah jam pasti sudah cukup membuat Mas Saktiku kelamaan menunggu. Ah sudahlah, bukankah semua gadis pasti akan memakan waktu yang lama hanya untuk berdandan? Terlebih dandan untuk acara berkencan. Iya sih hanya kencan biasa. Tapi kan, mana mungkin aku tak berdandan? Mana mungkin hanya membiarkan Mas Sakti kece badai sendirian sementara aku kucel sendirian? Enggak gitu kan konsepnya? Aku juga harus tampil yang layak agar Mas Sakti nggak malu. Ya kan?" gumam Fanya di depan cermin.


"Sayang, apakah masih lama?" seru Sakti dari balik pintu.


"Ya Sayangku. Sebentar lagi keluar!" balas Fanya.


'Kan, dia pasti sudah bosan menunggu seorang Fanya Asmara. Dandan minimalis aja lamanya berjam-jam. Gimana kalo tampil bak biduan?' gumam Fanya dalam hati.


Fanya menyambar tas selempang miliknya yang tergantung di balik pintu. Tidak lupa ia memasukkan ponsel dan dompetnya. Sesegera mungkin membuka pintu dan terlihat Sakti sudah tak sabar menunggu.


"Maaf lama ya Mas..." ujar Fanya sambil menangkup kedua tangannya, merasa bersalah.


"Tidak. Aku hanya tak sabar untuk bertemu denganmu. Hanya berbatas pintu saja sudah cukup membuatku tak sabar ingin bertemu denganmu. Bagaimana kalau kita..." belum selesai Sakti bicara.


"Ayo kita berangkat. Siang menjelang sore ini, aku ingin menghabiskan waktuku yang berharga. Aku ingin makan sepuasnya, jalan-jalan sepuasnya, dan kalo perlu bisa ditraktir belanja sepuasnya sama Mas Sakti. Boleh?" pinta Fanya manja di bahu Sakti.


"Boleh aja." ujar Sakti serius.


"Iyuh, dasar cewek gatel. Pantesan murahan, peliharaan sih. Matre banget. Jadinya ya gitu, liar dan gatel!" celetuk tetangga kostan Fanya yang statusnya bahkan simpanan suami orang.


"Maaf ya Buk. Anda itu terlalu ikut campur urusan orang. Saya sih nggak masalah Fanya ini matrelah, gatellah, liarlah. Yang penting dia itu mahal bagi saya. Jadi jangan bilang dia murahan. Toh manjanya dia juga cuma sama saya. Apa? Ibu iri apa gimana? Noh, minta sama suami orang yang melihara Ibuk! Sebelum bicara ngaca dulu yah, Anda itu sudah bener apa belum." penjelasan Sakti yang cukup menohok.


Seketika bibir tetangga Fanya yang julid itu menjadi kaku. Tidak bisa menyanggah apa yang sudah Sakti lontarkan. Bahkan ia mulai ambruk menjatuhkan diri. Kepahitan aib yang selama ini ditutupinya menjadi terkuak oleh orang asing tak dikenalnya. Bahkan parahnya, beberapa tetangga lain ikut mendengar pernyataan Sakti yang masih menusuk hatinya. Betapa malu rasanya.

__ADS_1


"Maaf, tapi Saya mengungkap kebenaran. Jadi, selama Anda bisa diam, seharusnya saya pun akan diam dengan segala rahasia terlarang Anda." ujar Sakti lagi.


"Sudah cukup. Ayo kita pergi." bisik Fanya.


Fanya menyeret Sakti pergi. Bukan karena dirinya tak suka dibela. Tapi karena merasa kasian dengan nasib tetangganya itu. Terlebih menjadi tontonan tetangganya yang lain yang ikut bergosip ria dengan suara yang bahkan sangat jelas terdengar.


***


"Sudah dong Sayang, jangan ngambek lagi. Aku nggak bisa tenang jika kamu seperti ini. Kamu mau apa? Aku bakal lakuin semua keinginanmu." ujar Satya memohon.


Marina masih bergeming. Dirinya tengah asyik scrolling jejaring sosial dengan cuek. Tanpa melirik Satya tapi fokus mendengar semua perkataan Satya yang merasa bersalah padanya.


"Uhm... atau kamu mau kita liburan ke luar kota atau luar negeri? Ayo, aku akan atur jadwal kita. Boss Sakti pasti menyetujui rencana kita kali ini. Apa kamu mau? Ayolah, jawab aku!" bujuk Satya lagi.


'Ah, dia tampan! Aku mana bisa marah padanya? Tapi aku masih sangat kesal mengingat dia kemungkinan akan terpesona dengan wanita lain. Termasuk Fanya sekalipun. Aku nggak rela. Aku masih ingin memberinya pelajaran. Biarin aja. Siapa suruh sudah membuat hati Marina terluka.' batin Marina.


"Aku bisa pergi liburan sendiri tanpa perlu kamu ajak. Jadi, stop mengajakku yang tak minat oleh ajakanmu. Ajak aja yang lainnya. Aku tak sudi." balas Marina bergeming.


Satya membuang nafas kasar. Dirinya hendak marah, tapi ditahan. Ia tak ingin lebih dalam menyakiti hayi kekasih kesayangannya itu.


"Yasudah, aku pulang deh kalo gitu. Kamu istirahat aja. Kamu butuh waktu sendiri kayaknya. Aku tinggal yah. Nanti jika sudah saatnya, aku akan menghubungimu lagi." kata Satya dan berlalu pergi.


Satya melangkah keluar dari kamar Marina. Saat pintu sudah tertutup rapat, Marina menyadari kegalauannya. Ia menyesal sudah berlaku cuek pada Satya.


"Kan, dia tega sekali meninggalkanku. Padahal hari ini dia libur terakhir. Besok sampai seminggu ke depan, pasti susah bertemu lagi. Kenapa secepat itu pergi? Harusnya dia berusaha sedikit lagi untuk membujukku. Kenapa langsung pergi?" omel Marina kesal.

__ADS_1


Sementara Satya tidak pergi begitu saja. Ia masih standby di depan pintu kamar Marina. Menunggu Marina keluar dari kamarnya.


"Mas Satya.... kenapa kamu jahat? Harusnya kamu jangan pergi dulu!" teriak Marina yang juga masih didengar Satya.


Marina terus uring-uringan kesal dengan keadaan. Dia terus merutuki kesalahan Satya. Kesalahan karena sudah salah bicara dan pergi begitu saja.


"Sayang!" panggil Satya begitu membuka pintu kamar Marina.


Marina menoleh ke sumber suara. Ingin rasanya berlari dan memeluk Satya. Tapi diurungkan. Harga dirinya terlalu tinggi untuk mengalah.


"Sayang, apa boleh aku di sini aja? Di luar masih panas. Males rasanya cepat-cepat pulang. Boleh ya, aku istirahat sebentar di sini?" pinta Satya memelas pada Marina yang sama sekali tak mau menatapnya.


"Ya sudah. Terserah aja." balas Marina, lalu merebahkan diri di ranjangnya.


'Syukurlah dia masih di sini. Berarti dia cukup peka.' gumam Marina pelan.


"Oh iya, aku tadi pesan pizza dan beberapa camilan. Sabar yah, sebentar lagi sampai. Nanti kita makan sama-sama. Meski kamu kesal padaku, anggap aja aku tak ada di sini. Jadi, kehadiranku sama sekali tak mengganggumu." ujar Satya.


Marina tak menoleh ke arah Satya. Ia berpura-pura terlihat sibuk dengan ponsel pintarnya. Padahal hatinya senang karena Satya tak jadi pergi.


"Sebenarnya aku sedih jika kamu kesal padaku. Aku sadar diri kok jika kata-kataku pada Sonia itu telah melukai hatimu. Jika aku berada di posisimu, pasti aku juga marah besar. Aku ngaku aku salah." kata Satya yang memilih duduk di tepi ranjang.


"Aku juga salah..." lirih Marina yang sudah beralih menatap Satya dengan intens.


Mereka saling bertatapan. Rasa kesal Marina pun luluh seketika, diganti rindu yang menggebu. Begitu pun dengan Satya. Satya bergegas mendekati Marina dan memeluknya. Erat sekali sehingga terasa sesak bagi Marina. Satya segera melonggarkan pelukannya. Buru-buru menyambar bibir ranum Marina dengan penuh cinta. Yah, mereka berciuman untuk saling memahami isi hati satu sama lain. Memang, dua hati perlu saling memahami dengan keterbukaan masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2