
Pagi kembali datang. Sakti yang bangun lebih dulu, tampak merapikan barang-barangnya. Ia berencana membawa Fanya pulang, sebab sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.
"Mas...." panggil Fanya.
"Iya Sayang. Kamu udah bangun? Padahal aku sengaja pelan-pelan rapiin barang." ujar Sakti.
"Aku haus, Mas." kata Fanya.
Sakti segera meraih segelas air putih yang sudah tersaji di meja kecil sebelah ranjang Fanya, kemudian diberikan kepada Fanya.
"Minumlah pelan-pelan!" kata Sakti.
Fanya meneguk perlahan, hingga air dalam gelas itu tandas olehnya. Ia benar-benar kehausan.
"Segar bukan?" tanya Sakti.
"Iya Mas. Terima kasih ya." jawab Fanya.
"Hari ini kita pulang yah? Dokter sudah mengizinkanmu pulang. Lagipula, tak enak berlama-lama di sini. Lebih baik aku merawatmu di apartemen, rumah kita. Biar bisa sekalian main 'itu'. Kalo di sini mana bisa?" kata Sakti menggoda Fanya.
"Dalam keadaan begini, masih sempet-sempetnya ngajakin main." tukas Fanya cemberut.
"Hahaaa... Ya nanti nungguin kamu sembuh dong. Aku mana tega nglakuin 'itu' pas kamu lagi sakit. Yang ada kamu tambah sakit." ucap Sakti.
"Yakali Mas mau maksain." kata Fanya.
"Yaudah kamu sarapan dulu gih! Mau disuapin apa makan sendiri?" tanya Sakti.
"Aku ke toilet dulu, Mas. Mau bersih-bersih dulu. Gosok gigi juga. Mana enak bangun tidur langsung makan." jawab Fanya.
"Oh yaudah, aku anterin!"
Sakti membantu memapah Fanya ke toilet. Fanya berpegangan pada bahu Sakti. Sebenarnya Fanya bisa sendiri. Namun sebagai suami siaga, tentu Sakti tak akan membiarkan Fanya melakukan sendiri. Terlebih Fanya masih terlihat pucat dan lemas.
"Hati-hati Sayangku!" seru Sakti.
Sejam kemudian, mereka sudah bersiap untuk meninggalkan Rumah Sakit. Sebelumnya Satya sudah mengiyakan untuk menjemput mereka.
"Satya mana nih? Katanya mau ke sini." ujar Sakti.
__ADS_1
"Loh, mau dijemput sama Satya?" tanya Fanya.
"Iya. Dia sekalian mau kasih berkas untuk aku tanda tangani. Gapapa kan?"
"Ya gapapa Mas. Terserah aja mau dijemput Satya atau kita pulang sendiri. Naik taksi juga nggak masalah kok. Yang penting kan ceritanya kita pulang bareng." kata Fanya.
"Oke. Kamu rebahan dulu aja daripada pusing. Aku mau telpon dia dulu. Macet apa gimana kok belum sampe juga." kata Sakti.
Tak lama Satya datang dengan nafas ngos-ngosan.
"Akhirnya datang juga." ujar Sakti yang tak jadi menghubungi Satya.
"Maaf Tuan, saya telat! Tadi ada kendala, ada kecelakaan di jalan. Karena darurat, saya membawa korban kecelakaan ke UGD terlebih dahulu. Maaf Tuan!" ucap Satya merasa bersalah.
"Lalu bagaimana keadaannya?" tanya Sakti.
"Beruntung nyawanya bisa tertolong. Maaf Tuan, Nona Fanya harus menunggu lama atas ulah saya."
"Aku gapapa Satya. Tindakanmu sudah tepat. Yang darurat memang harus didahulukan. Terlebih kamu ke Rumah Sakit juga, jadi bisa sekalian." kata Fanya.
"Oke, ayo segera berkemas. Kita pulang sekarang!" perintah Sakti.
"Pulang ke rumah. Ke apartemenku, tepatnya. Masa kamu lupa?" jawab Sakti.
"Oh iya ya. Maaf Tuan, saya sedikit jetlag." ujar Satya.
Fanya menaiki kursi roda. Sakti mendorong kursi roda Fanya. Sementara Satya bersiap dengan membawa tas berisi baju ganti Fanya dan Sakti.
"Mama mertua udah tau kalo kita pulang hari ini?" tanya Fanya.
"Belum. Nanti aku hubungi Mama. Kamu beneran sudah sehat kan? Takutnya aku maksain kamu pulang padahal luka bekas jahitan di perutmu masih sakit." ujar Sakti.
"Kalo sakit ya masih. Masih ngerasain yang namanya nyeri, Mas. Tapi kalo nggak dirasain ya nggak sakit. Nanti juga sembuh kok Mas. Yang penting kan aku nanti rutin minum obat dari dokter." kata Fanya.
"Oh iya Sat, tolong kamu tebus obat istriku ke apotek yah! Aku sama Fanya nunggu di mobil aja. Dan ini resepnya!" ujar Sakti sembari menyerahkan resep obat dan kartu debit miliknya pada Satya.
"Baik Tuan." kata Satya.
Sakti dan Satya pun berpisah. Dimana Sakti mendorong kursi roda yang dinaiki Fanya ke arah selatan menuju lobby Rumah Sakit. Sementara Satya ke arah timur menuju apotek.
__ADS_1
Sesampai di mobil, Fanya segera menyandarkan badannya yang lemas pada bahu Sakti.
"Rasanya badanku lemas tak bertenaga meski aku sudah sarapan sebanyak itu. Kenapa ya Mas?" tanya Fanya.
"Kamu masih dalam kondisi sakit. Wajar kalo lemas, Sayangku. Tidur aja kalo kepalamu pusing." ujar Sakti.
Satya pun memasuki mobil. Dia melihat Sakti dan Fanya tengah memejamkan mata.
'Aku kelamaan nih. Tuan Sakti dan Nona Fanya tidur kan jadinya. Yasudah, aku nyetirnya slow down alias kalem aja deh!' batin Satya.
Benar saja, Satya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sebisa mungkin menghindari polisi tidur. Ia ingin Sakti dan Fanya tak terganggu tidurnya.
Sepanjang perjalanan dilewati dengan keheningan. Satya tak berani menyetel lagu. Sesekali ia melirik ke arah belakang via spion depan. Ia senang melihat betapa harmonisnya rumah tangga Sakti dan Fanya. Hingga terbesit dalam pikirannya, akankah ia akan menjalani kehidupan sebahagia itu nantinya?
Pikiran Satya terus berkelana membayangkan apakah dia dan Marina memang ditakdirkan untuk menikah? Tentang restu, tentu saja sudah ia dapatkan. Tapi tetap saja, sebelum janur kuning melengkung, rasa was-was tetap menghantuinya. Ada ketakutan jika Marina bisa saja membatalkan pernikahan mereka nantinya.
Lalu ia tersadar, jika dirinya tak boleh berpikiran negatif. Karena dengan berpikiran negatif, berarti dirinya mendahului rencana Tuhan. Satya mengelus dadanya, mencoba menenangkan hatinya yang gundah gulana.
"Satya, kamu kenapa?" tanya Sakti yang membuat Satya kaget.
"Eh Tuan sudah bangun? Saya gapapa, Tuan." jawab Satya mencoba terlihat baik-baik saja.
"Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan? Tentang pekerjaan apa asmara? Atau hal lain? Tapi nggak mungkin! Pasti salah satu dari masalah pekerjaan atau percintaan. Ada apa?" selidik Sakti.
"Tidak ada Tuan. Saya tak terbebani masalah itu. Tuan silakan kembali tidur. Perjalanan masih jauh." ujar Satya.
Sakti merasa ada yang aneh dengan Satya. Tapi tak mau terlalu dipikirkan. Sebab ia tahu, Satya pasti mampu menyelesaikan sendiri masalahnya.
"Karena beberapa hari ini kamu disibukkan dengan pekerjaan, maka nanti kamu bisa ambil cuti beberapa hari. Aku juga akan memberikan bonus dan insentif untukmu." kata Sakti.
"Terima kasih Tuan." balas Satya.
"Tolong dipercepat saja laju mobilnya! Aku ingin segera istirahat di kasurku. Pegal duduk lama-lama di mobil." perintah Sakti.
"Baik Tuan." ujar Satya.
Satya melajukan mobilnya lebih kencang dari sebelumnya. Tapi tetap sesuai protokol menyetir. Harus tetap hati-hati.
"Yah segini cukup!" kata Sakti.
__ADS_1
Satya kembali fokus menyetir. Arah matanya fokus melihat jalanan. Meski jalanan ramai, tapi lali lintas masih tergolong lancar. Ia tak lagi melirik ke belakang. Takut kena gap oleh Sakti.