
Sakti menyadari Jayden yang sengaja curi pandang pada istrinya. Ia kesal tapi tak bisa meluapkannya dengan bebas.
"Begitu cintakah dia padamu? Sampai kamu menikah pun, dia masih cari perhatian denganmu." ujar Sakti dengan senyuman getir.
"Aku rasa tidak! Mana ada cinta. Dia hanya kesal saja, dulu pernah aku tinggalkan." kata Fanya sambil menggenggam jemari Sakti, berusaha meyakinkan Sakti.
Sakti pun tersenyum. Ia sangat tahu istrinya tak begitu menanggapi Jayden.
"Sebagai sesama pria, aku tau dan peka bagaimana pria itu masih menyimpan rasa padamu. Kau tau, dia sengaja menunjukkan kemesraannya agar terkesan sudah berhasil move on darimu. Tapi nyatanya tidak! Semua malah terlihat bahwa dia sangat cemburu." kata Sakti.
"Lalu bagaimana? Apa Mas akan diam saja?" tanya Fanya.
"Tidak juga! Apa yang sudah jadi milikku, akan aku jaga sampai aku mati. Tak peduli bagaimana dunia melihatku, aku akan mempertaruhkan segalanya termasuk nyawaku untuk menjaga milikku. Kamu adalah wanitaku, milikku. Aku takkan membiarkan dia menyentuhmu walau seujung kuku." jawab Sakti tegas.
"Hmm, boleh juga. Aku terharu dengan pernyataanmu. Lain kali, aku pasti dikurung nih." ujar Fanya.
"Siapa bilang? Aku selalu membebaskanmu. Hanya hatimu yang aku kurung agar nggak bisa lari ke lain hati lagi."
"Oh, jadi tubuhku bisa bebas berkeliaran?".
"Sesekali aku kurung juga di kamar. Ah, kalo ngomongin kamar, aku jadi nggak sabar untuk membawamu ke ranjang. Kita cek in ke hotel aja ya? Ada banyak hotel.bagus di sekitaran sini. Aku ingin memuaskanmu dan dipuaskan olehmu. Mau ya?" goda Sakti.
"Apa sih Mas? Ayo deh kalo gitu. Aku juga mau." bisik Fanya.
Mereka pun segera membayar tagihan makan dan meninggalkan restoran. Sakti melajukan mobilnya menuju hotel terdekat. Ada banyak rencana manis yang sudah ia pikirkan untuk dilakukan bersama Fanya.
"Ini hotelnya lumayan bagus ya Mas!" kata Fanya begitu sudah masuk ke kamar hotel.
"Lumayan sih. Yang penting bisa buat kita bersenang-senang sore ini." kata Sakti.
"Iya. Lebih baik kita mandi dulu yah. Aku keringetan banget ini." kata Fanya yang langsung melenggang ke kamar mandi.
"Tunggu aku!" Sakti pun mengikuti istrinya.
Fanya hendak melepas pakaiannya, tapi dihentikan oleh Sakti.
"Kenapa terburu-buru? Kita kan bisa bermain-main dulu?" kata Sakti menggoda.
"Apa maksudmu Mas? Kan lebih enak jika mainnya pas badan kita bersih dan wangi?" seru Fanya.
__ADS_1
"Oh jadi sudah tak sabar untuk main denganku. Ayolah kita mandi!" Sakti pun melucuti baju istrinya dengan cepat.
"Yah." kata Fanya malu saat tubuhnya sudah polos.
"Kita berendam dulu aja yah. Aku ingin menggosok tubuh indahmu itu. Aku ingin memandikanmu dengan penuh cinta." bisik Sakti di telinga Fanya.
"Yasudah. Aku ikhlas saja. Aku pasrahkan tubuhku ini padamu, suamiku sayang... Ingat yah, pelan-pelan aja." kata Fanya mengerling manja.
Sakti mengangkat tubuh kecil istrinya dan memasukkannya ke dalam bath up. Ia pun turut masuk ke bath up. Memeluk istrinya dari belakang yang menikmati segarnya berendam.
"Aku menyukai aktivitas ini!" Sakti meremas gunung kembar dengan gemas.
"Pelan-pelan Sayangku!" seru Fanya saat merasakan remasan suaminya. Ada rasa sakit dan geli, tapi ia pun menyukainya.
Sakti mengecup bahu Fanya dengan menambahkan gigitan kecil yang meninggalkan bekas yang tak sedikit.
"Aw sakit Sayangku!" rengek Fanya.
Justru semakin membuat Sakti semakin gencar menciumi tubuh Fanya. Sesekali tangannya bergerak nakal menjamah hampir keseluruhan tubuh Fanya.
"Ini kenyal dan empuk!" puji Sakti saat kembali menyentuh kedua gunung kembar kesukaannya.
Dengan malu-malu, Fanya membalikkan badannya. Kini, posisi mereka berhadapan. Fanya memberanikan diri mengecup bibir Sakti. Lama, hingga permainan saliva pun tak bisa terhindarkan lagi. Mengabsen setiap inci rongga mulut, hingga tak ada yang tersisa.
"Baiklah, jika itu maumu sekarang!" kata Sakti yang tanpa aba-aba langsung membopong tubuh Fanya.
"Kita mau kemana Mas? Bukankah harusnya kita mandi?" tanya Fanya.
"Sudahlah, ikut saja!" jawab Sakti, masih fokus menggendong tubuh Fanya.
"Tapi kan, kita belum selesai. Bahkan tubuh kita masih basah. Handuk mana handuk? Kenapa buru-buru sekali?" cerocos Fanya bingung.
Sakti langsung menyambar bibir Fanya yang banyak pertanyaan.
"Mas.... Ahh..." saat pertanyaan akan terlontar, tapi mulut sudah dibekap oleh ciuman memabukkan.
'Selalu saja begini. Mas Sakti sungguh pemaksa yang handal. Aku kewalahan menghalau serangan dadakan ini. Tapi ya sudahlah. Apapun yang terjadi, ya pasti kejadian kalo sudah dalam kuasa Mas Sakti. Ikuti permainannya ajalah. Toh, aku juga suka!' batin Fanya.
Sakti menaruh tubuh Fanya ke atas ranjang. Dengan hati-hati tentunya karena tak ingin menyakiti istrinya.
__ADS_1
"Lalu apa?" goda Fanya dengan suara sensual.
"Lalu apa?" tanya Sakti, mendekatkan wajahnya tepat di atas wajah Fanya yang tersenyum bahagia.
"Apa aku akan dibuat puas lagi?" tanya Fanya.
"Itu harus!" jawab Sakti.
"Sampai puas dan puas lagi?" tantang Fanya dengan nada sensual.
"Tentu saja!" jawab Sakti mantap.
"Lakukanlah Mas!" pinta Fanya menggoda.
Tak butuh waktu lama, Sakti langsung mengeksekusi Fanya. Fanya dibuat cekikikan karena geli oleh ulah nakal Sakti.
Tapi ada masalah yang datang. Tiba-tiba pintu hotel diketuk beberapa kali. Alhasil aksi Sakti dihentikan begitu saja. Sakti yang kesal, mengambil kimono yang tergantung di lemari. Dipakainya dengan cepat, lalu membuka pintu. Sementara Fanya bersembunyi di balik selimut tebal karena masih polos.
"Ada apa ya?" tanya Sakti pada petugas hotel dan beberapa polisi di belakangnya.
"Maaf menganggu waktunya Pak. Tapi kami meminta Bapak menunjukkan identitas Bapak dan pasangan Bapak yang ada di dalam." jawab petugas kepolisian bernama Adi.
"Untuk apa? Tadi saat cek in, saya sudah memberikan salinan fotokopi KTP saya. Apa ada lagi yang perlu dipertanyakan?" tanya Sakti dengan wajah kesal.
"Maaf Pak. Sebelumnya memang Bapak sudah memberikan salinan identitas Bapak. Tapi mengenai pasangan yang Bapak bawa sekarang ini, tentu saja perlu dipertanyakan. Jadi kami hanya memastikan saja, bahwa pasangan yang Bapak bawa adalah pasangan yang sah. Kami mohon pengertian dari Bapak." jawab petugas kepolisian bernama Adi.
"Ehm, baik. Tunggu!" kata Sakti.
Meski kesal, Sakti tetap kooperatif. Ia bergegas masuk ke kamar lagi. Mengambil bukti berupa kartu tanda menikah yang bentuknya seperti ID card, yang diperoleh saat ia menikah.
"Apakah ini cukup?" tanya Sakti sembari menyerahkan bukti yang ia bawa.
Polisi mengecek kartu tanda menikah yang diberikan oleh Sakti.
"Baik Pak. Terima kasih atas kerjasamanya. Maaf karena razia yang telah kami lakukan sudah menyita waktu Bapak dan istri. Sekali lagi, kami mohon maaf dan selamat melanjutkan aktivitas kembali!" ujar petugas kepolisian bernama Adi.
"Oke. Sampai jumpa!" kata Sakti yang langsung masuk ke kamar lagi.
Sakti kesal sebab waktu bercinta dengan istri tercinta, terganggu oleh ketukan pintu razia dari kepolisian.
__ADS_1
"Ada apa Sayang?" tanya Fanya yang muncul dari balik selimutnya.
"Ada razia." jawab Sakti lemas.