
Satya keluar dari ruangan Sakti.
"Pak Sakti ada kan, Pak?" tanya sekretaris Sakti bernama Adel.
"Tidak ada." jawab Satya.
"Loh, bukannya tadi ada ya. Sama Bu Fanya juga kok tadi datangnya. Kapan keluarnya ya? Saya kok nggak lihat?"
"Yaudah, lanjutin kerja. Nanti kalo Pak Sakti sudah kembali, tolong kabari saya!" ujar Satya.
Satya kembali ke ruangannya. Disana sang kekasih cantik, Marina sudah menunggu.
"Sayang, cepet banget baliknya? Biasanya Sakti ngajakin rapat dulu." ucap Marina sambil memakai lotion.
"Dia nggak ada di ruangannya. Jadi aku cuma naruh berkas aja di mejanya. Makanya aku nggak lama di sana. Kamu nggak bosen diem aja di ruangan yang sempit ini?"
"Bosen dikit. Tapi kalo udah sama kamu, ya baik-baik aja. Kamu lanjutin aja kerjanya." kata Marina.
"Iya Sayang. Aku udh nyelesain semuanya kok. Aku pingin nyantai sama kamu aja." ujar Satya.
"Sini, duduk deketan aku!" Satya pun duduk berdekatan dengan Marina.
Marina menyandarkan kepalanya di bahu Satya.
"Rasanya nyaman dan damai bisa bersandar di bahu yang berotot ini. Beruntung yah aku punya pacar ganteng, tinggi, berotot, dan pekerja keras." kata Marina.
Satya memeluk Marina yang sudah memejamkan mata. Bukan tidur, tapi menikmati kebersamaan.
"Senyaman itukah?" tanya Satya.
"Iya. Senyaman ini. Lebih nyaman daripada bersandar pada bantal." jawab Marina.
"Lebih empuk daripada memeluk guling." bisik Satya.
"Ih nakal. Nggak boleh tau." kata Marina.
"Apanya? Aku nggak nakal. Hanya sedikit manja." goda Satya.
"Bagaimana bisa pacarku yang dikenal orang dengan sebutan si mode kaku, kini menjadi si mode manja di sampingku?" tanya Marina.
"Karena segala kekakuanku dalam hidupku, sudah luluh dengan pesonamu. Aku tak bisa jauh darimu. Ingin selalu memelukmu dan berada di dekatmu setiap waktu." jawab Satya.
Satya dan Marina tengah menikmati masa-masa keromantisan pacaran mereka. Sampai tak sadar bahwa Sakti sudah berada di ruangan yang sama.
"Ehmm..." Sakti berdehem.
__ADS_1
Sontak Satya dan Marina kaget. Lalu saling menjauhkan diri dan tertunduk malu.
"Sejak kapan Tuan Sakti di sini? Maaf, saya tak mendengar suara ketukan pintu dan kehadiran Tuan." ujar Satya.
"Kami tak melakukan sesuatu terlarang kok. Kami hanya berpelukan saja. Wajarlah, kan kangen." celetuk Marina.
"Aku tak mau membahas masalah kalian. Aku hanya mau mengembalikan berkas ini." kata Sakti yang menyodorkan dokumen.
"Ini sudah Tuan tanda tangani?" tanya Satya.
"Sudah. Cek aja." jawab Sakti.
"Tapi tadi Tuan pergi kemana?" tanya Satya lagi.
"Bukan urusanmu. Lagipula, semua dokumen sudah aku serahkan kembali padamu kan? Lanjutkan rencana selanjutnya. Oh iya, bermesra-mesraannya jangan melewati batas. Nanti saja pas kalian sudah sah. Takut ada setan lewat. Yaudah, aku pergi dulu!" kata Sakti yang berjalan meninggalkan ruangan Satya.
"Sakti kenapa sih? Gitu banget sama kita. Kayak dia nggak pernah gini juga pas dulu pacaran sama Fanya. Kesel aku." ucap Marina kesal.
"Dia takut pacaran kita melewati batas." ujar Satya.
"Tapi gapapa ah kalo sekedar pelukan gini yah. Biar hangat, kan AC di sini dingin. Ya kan sayang?"
"Iya Sayangku, Marina. Sini, aku peluk biar hangat. Mana mungkin aku membiarkan tubuh orang yang aku sayangi kedinginan walau si bawah AC. Tak akan!" seru Satya yanh langsung membuat gelak tawa Marina.
"Caramu bicara sangat lucu meskipun kaku. Gimana ya, aku semakin cinta deh sama kamu." kata Marina.
***
"Temanmu itu, rajin banget jagain pacarnya. Kayak nggak ada kerjaan aja. Setiap hari ke sini. Nggak bosen apa yah?" keluh Sakti.
"Siapa maksudmu, Sayang?" tanya Fanya yang sedang menyisir rambutnya yang sedikit basah.
"Itu, si Marina. Temenmu kan? Setiap hari ke sini jagain Satya. Bucin amat dia." jawab Sakti.
"Kamu kenapa sih, Mas? Ngiri ya? Kalo mau aku manjain, ya tinggal bilang. Aku kan di sini standby rebahan di ranjang. Kalo mau tinggal bilang." kata Fanya menggoda Sakti.
"Kamu diem aja udah ngegoda gitu. Kamu istirahat aja ya. Aku tinggal kerja dulu. Kalo mau apa-apa bilang. Kakimu kan masih sakit, jadi harus meminimalkan gerakan kaki. Aku tinggal kerja ya, kamu tidur aja." kata Sakti.
"Iya deh. Semangat ya Sayangku." ujar Fanya yang langsung merebahkan tubuhnya di ranjang.
Sakti mengecup pipi istrinya, lalu keluar dari ruangan rahasia. Melanjutkan kembali pekerjaan yang tertunda.
Saat Sakti tengah mengecek proposal, tiba-tiba pintu ruangannya diketuk.
"Masuk!" seru Sakti.
__ADS_1
Masuklah Amel diikuti dua orang wanita yang berpakaian seksi.
"Maaf Pak Sakti, ini ada tamu dari Kahyangan Media." kata Amel.
"Iya." kata Sakti.
"Kalau begitu, saya permisi Pak." ujar Amel yang izin pergi meninggalkan ruangan Sakti.
"Silakan duduk!" kata Sakti mempersilakan tamunya duduk.
"Terima kasih." kata salah satu tamu.
"Perkenalkan, saya Firna dan ini asisten saya, Vindi. Kami perwakilan dari Kahyangan Media. Tujuan kami datang ke sini adalah menanyakan mengenai proposal yang telah kami ajukan sebelumnya." ujar Firna.
"Tidak banyak hal buruk yang saya temukan dalam proposal kalian. Hanya saya, masih kurang jelas bagaimana mekanisme kerja sama kita jika proposal kalian saya acc. Bagaimanapun, dana yang kalian ajukan bukan dana kecil. Orientasi dana yang kami salurkan, haruslah ada manfaat dan keuntungannya. Apa yang akan kami dapatkan jika saya acc proposal kalian?" tanya Sakti to the point.
"Kami bisa mempromosikan perusahaan Pak Sakti dengan biaya minim. Tentunya kami akan memberikan keuntungan berupa branding dan kepopuleran." jawab Firna.
"Hanya itu? Apakah cukup adil bagi perusahaan kami? Dana yang kalian ajukan tergolong besar loh. Bukan harga main-main. Hanya berupa branding dan kepopuleran? Lalu bagaimana dengan kesejahteraan karyawan di perusahaan kami? Apa yang bisa mereka dapatkan?" tanya Sakti lagi.
"Kami bisa menyediakan layanan VIP khusus untuk Pak Sakti jika sudah yakin acc proposal kami. Banyak agensi di bawah naungan Kahyangan Media dengan artis unggulannya. Pak Sakti tinggal pilih mau layanan dari siapa." jawab Firna serius.
"Selain itu, nggak ada penawaran lain?" tanya Sakti penasaran.
"Banyak peluang yang akan Pak Sakti dapatkan. Contohnya, Pak Sakti jika berminat jadi idola atau selebgram, kami bisa mewujudkannya. Atau Pak Sakti mau kepemilikan saham? Itu bisa diatur!" jawab Firna dengan mengedipkan matanya, dengan maksud menggoda Sakti.
"Bagaimana ya?" Sakti seakan bingung mau menjawab apa.
Buru-buru Firna membuka kancing kemejanya hingga terlihat belahan gunung yang mulus.
"Kamu sengaja menggoda saya?" tanya Sakti.
"Tidak Pak. Jangan salah paham. Saya hanya merasa sedikit gerah di ruangan ini. Oh ya, Vindi, tolong hubungi Pak Rahmat. Ingatkan apa yang sudah saya pesankan tadi!" ujar Firna memberi kode.
Vindi yang mengerti kode dari Firna, bergegas pamit dari ruangan Sakti. Hingga tinggallah Firna dan Sakti di sana. Sebenarnya masih ada Fanya yang standby menguping di ruangan rahasia.
"Oh iya, sampai dimana kita tadi?" tanya Firna dengan nada manja.
"Manfaat yang akan didapat oleh karyawan perusahaan kami jika kerja sama ini berlanjut." jawab Sakti tegas.
"Santai aja Pak Sakti. Begini...." Firna bangkit dari kursinya, mendekati Sakti.
"Pak Sakti, apakah saya berguna sekarang?" tanya Firna dengan sengaja menaikkan rok ketatnya, hingga paha mulusnya terpampang nyata.
Sementara Fanya dibuat harap-harap cemas di dalam ruangan rahasia.
__ADS_1