Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Cerita Saat Berendam


__ADS_3

Fanya dan Sakti sudah sampai di apartemen mereka. Fanya segera membersihkan diri ke kamar mandi. Sakti hendak menyusulnya, tapi pintu kamar mandi keburu ditutup oleh Fanya.


"Apa dia masih marah ya? Tapi masa iya? Bukannya tadi udah bisa diajak ketawa? Masa ngambek lagi?" tanya Sakti pada dirinya sendiri.


"Mas, tolong ambilin aku handuk!" perintah Fanya.


Sakti bergegas mengambil handuk di lemari, selanjutnya diserahkan kepada Fanya. Saat tangan Fanya terulur keluar, ia mengambil kesempatan langka. Ia memaksa masuk begitu saja.


"Aku mau mandi juga!" kata Sakti yang melepas pakaiannya.


Fanya hanya diam saja. Ia kembali menceburkan diri di bathtub yang sudah ia masukkan sabun hingga berbusa. Sakti mengikuti Fanya.


"Rasanya segar setelah melewati udara yang sangat panas di luar sana. Terlebih bisa berduaan denganmu. Oh iya, mau aku bantu gosok punggungnya? Aku akan memberimu pijatan yang lembut juga. Mau?" tawar Sakti.


"Terserah." jawab Fanya datar.


Sakti memposisikan dirinya di belakang Fanya yang sedang menggosok tangannya. Ia menggosok lembut punggung Fanya. Sesekali memberikan pijatan di area leher dan bahu Fanya.


"Enak bukan?" tanya Sakti.


Fanya hanya memggeleng tanpa berkata sepatah kata pun. Lalu Sakti bercerita banyak hal, tapi hanya respon anggukan saja dari Fanya. Sakti bukannya kesal, ia justru semakin gemas dengan istrinya. Ia menarik ke belakang tubuh Fanya. Hingga tubuh mereka berhimpitan.


Fanya yang kaget, ingin mengomeli Sakti. Tapi keburu mendapat bungkaman berupa ciuman dari Satya. Tak ada penolakan. Fanya hanya mengikuti alur kemana ciuman itu bermuara. Walau bagaimanapun, ia juga menyukai aktivitas ciuman dengan Sakti.


Saat keduanya sudah ngos-ngosan, Sakti menyudahinya. Ia hanya memeluk dan mengecup dahi Fanya. Fanya menurut saja.


"Setelah ini, aku ingin hubungan kita lebih romantis lagi, wahai gadis malamku!" bisik Sakti tepat di telinga Fanya.


Fanya membalikkan badannya. Mereka kini berhadapan. Fanya menyentuh wajah suaminya. Menyentuh telinga, hidung, lalu berakhir di bibir Sakti.

__ADS_1


"Aku sungguh menyukaimu. Mencintaimu. Sedikit saja kau buat aku cemburu, hatiku rasanya seperti ditusuk pisau tajam. Aku tak mau kehilanganmu..." kata Fanya pelan.


Sakti mengecup lembut pipi Fanya yang basah oleh percikan air.


"Sama sepertimu, aku tak bisa jauh darimu. Semalaman saja, aku uring-uringan nggak bisa tidur. Biasanya aku meluk kamu yang super empuk dan kenyal, eh semalam diganti sama guling. Rasanya nggak enak!" keluh Sakti dan kembali memeluk pinggang Fanya.


"Aku pun sama, Mas. Susah memejamkan mata jika berada di tempat asing. Terlebih tanpa kamu di sisiku. Aku sudah terbiasa menghirup aroma tubuhmu." kata Fanya.


Mereka saling mengungkapkan isi hati masing-masing. Kegalauan dan kegundahan selama perpisahan, meski hanya semalam saja.


"Mas, aku ingin travelling. Aku mau mencari suasana yang berbeda. Apa boleh?" tanya Fanya.


"Boleh. Tentu saja aku harus ikut." jawab Sakti.


"Kenapa begitu?" tanya Fanya lagi.


Sakti menatap lekat wajah istrinya. Ia menghela nafas.


Fanya merengut. Sebenarnya ia ingin travelling sendiri tanpa Sakti. Tapi niatnya yang sudah direncanakan matang bersama Marina, sepertinya pupus sudah.


"Yaudah nggak usah aja deh. Nggak sesuai ekspektasi. Lebih baik tidur aja di rumah. Sama aja kan?"


"Apa yang sedang kamu rencanakan? Jangan bilang mau kabur dariku?"


"Aku mau kabur kemana, Mas? Bahkan anak buahmu pun sudah tersebar di penjuru kota. Aku bisa kemana?"


"Oh iya sih. Mereka semua aku kerahkan demi menjagamu agar selalu aman meski di luar pandanganku. Namanya juga usaha. Aku akan pastikan orang-orang yang ku sayangi selalu dalam perlindungan." kata Sakti.


Fanya menyudahi berendamnya. Ia memakai kimono yang sudah ia siapkan sebelumnya.

__ADS_1


"Sudah selesai aja?" tanya Sakti.


"Iya. Aku mau istirahat saja. Kepalaku penat. Aku sudah siapkan handuk dan kimono untukmu. Jadi, jangan panggil aku lagi ya. Aku mau langsung tidur." kata Fanya.


"Ini kan masih siang. Kamu tumbenan tidur siang?"


"Namanya manusia ada kalanya berubah. Bunglon aja bisa berubah warna. Apa aku nggak boleh berubah meski hanya sekedar kebiasaan tidur siang? Lagipula aku izin cuti kerja hari ini ya khusus untuk istirahat. Nggak salah dong ya jika aku gunakan waktuku yang berharga ini untuk tidur siang?" kata Fanya sewot.


"Iya deh. Selamat istirahat Sayangku. Nanti aku nyusul yah!" ujar Sakti yang masih menikmati berendamnya di bathub.


Fanya keluar dari kamar mandi. Menutup perlahan pintu kamar mandi. Lalu memilih baju daster agar bisa tidur dengan nyaman.


"Kok baju daster yang kegedean itu udah nggak ada lagi ya? Perasaan aku menyimpannya di sini. Apa aku lupa naruh ya? Ah iya, aku inget banget di sini tempatnya. Kalo tidak ada, trus kemana? Masa dibuang sama Mas Sakti. Ah nggak mungkin! Siapa dia berani buang barangku?"


"Ya aku suamimu. Aku nggak buang barangmu. Aku hanya menggantinya dengan yang lebih cocok untukmu. Yang tidak ada di lemari, sudah aku sisihkan di box. Aku nggak tau dikemanain lagi. Yang pasti tidak aku buang ya. Aku mana berani membuang barangmu." ujar Sakti.


"Box nya ditaruh di gudang?" tanya Fanya.


"Iya, dimana lagi? Kamu pake baju yang lain aja. Kalo mau sih, boleh banget kalo pake baju dinas. Aku malah seneng banget." jawab Sakti.


"Siapa takut!" Fanya langsung mengambil lingerie berwarna merah menyala. Kebetulan desainnya sangat terbuka dan nampak kurang bahan sekali. Fanya segera menanggalkan komononya untuk digantikan dengan memakai lingerie itu.


'Waduh, gawat! Kenapa tadi aku iyain tantangannya Mas Sakti. Kan aku sendiri yang malu kalo kayak gini. Mana kebuka semua ini. Ini tuh sama aja kayak sedang telanjang. Tapi bedanya kayak pake potongan kain asal di beberapa titik. Menurutku ini sama aja kayak nggak pake baju. Beda tipis!' batin Fanya kesal dengan lingerie yang dipakainya.


"Wah, cantik sekali! Pas banget di tubuhmu." puji Sakti.


"Ini kamu yang beli apa siapa?" tanya Fanya melotot ke arah Sakti.


"Yang beli ya aku sih. Tapi minta rekomendasi pada pelayan toko sih. Aku sih mintanya lingerie untuk wanita berkulit putih, berdada montok, wajah cantik, dan seksi. Trus dikasihnya yang itu. Ya langsung aja aku beli. Lagipula, cocok aja tuh di badan kamu." jawab Sakti.

__ADS_1


"Kamu nggak ngerti, Mas. Kalo pake begini, aku takut bangunin singa lapar!" ujar Fanya.


"Lah aku disamain kayak singa lapar. Kalo lapar sih iya, bawaannya pingin mangsa kamu. Tapi kalo singa kan galak. Apa aku galak? Nggak kan ya? Aku mana ada galak.?"


__ADS_2