Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Kesalahpahaman Fanya


__ADS_3

Cukup lama Sakti dan Satya mengobrol seputar bisnis. Hingga akhirnya penjual bunga menghampiri Sakti.


"Mas, buket bunganya sudah jadi. Ada di meja kasir."


"Baik Pak."


Sakti beranjak bangun dari duduknya. Ia segera menghampiri meja kasir untuk membayar buket bunga yang dipesannya.


"Berapa semuanya?" tanya Sakti.


"Semuanya enam ratus delapan puluh ribu, Pak. Mau cash atau debit?" kata kasir.


"Debit aja." ujar Sakti sembari menyodorkan kartu ATM.


"Baik. Apa perlu ditambahkan ucapan sekalian?" tanya kasir.


"Boleh. Biar saya tulis sendiri kartu ucapannya." jawab Sakti.


Petugas kasir mengembalikan kartu ATM Sakti berikut sebuah kartu ucapan kosong untuk ditulis Sakti sendiri.


"Terima kasih ya Pak atas kunjungan dan transaksinya. Semoga pelayanan kami dapat memberi kesan baik untuk Bapak. Sampai berkunjung kembali!" ujar kasir yang sudah hafal kata-kata itu.


Sakti hanya mengangguk dan tersenyum sekilas.


"Sat, ayo!" perintah Sakti.


Satya mengikuti perintah Sakti. Ia berjalan membelakangi Sakti, tapi segera berlari ke depan saat membukakan pintu untuk Sakti.


"Padahal kalo sikapmu selalu memanjakanku begini, orang-orang akan menganggapku memperbudak dirimu." ucap Sakti saat memasuki mobil.


"Tidak, Tuan. Saya terbiasa melakukannya sejak dulu sebelum bersama Tuan." balas Satya.


"Oh iya. Yang katamu pernah kerja pada orang bule itu yah? Pas kamu masih remaja. Itu bukan sih?" tanya Sakti agak lupa.

__ADS_1


"Benar, Tuan. Entah keluarga itu masih ada atau tidak, yang jelas mereka sangat baik pada saya. Saya berharap bisa bertemu mereka lagi. Sayangnya, mereka menetap di luar negeri dan entah apakah ada rencana ke sini lagi atau tidak." jawab Satya sembari mengenang cerita masa lalunya.


"Oh oke. Semoga kamu segera bertemu dengan mereka. Ayo antarkan aku ke butik Mama. Aku mau kasih kejutan ke Fanya." kata Sakti.


Satya melajukan mobilnya. Meneruskan kembali perjalanan yang sempat tertunda sebab mampir ke toko bunga. Perjalanan tanpa diiringi obrolan karena Sakti memilih bermain game online dan Satya fokus menyetir.


"Tuan, kita sudah sampai!" ucap Satya.


"Eh, udah ya? Nggak sadar karena main game. Kamu mau masuk juga apa di sini aja?" tanya Sakti.


"Ah tidak, Tuan. Saya di sini aja. Saya doakan kejutan Tuan berhasil dan membuat istri Tuan bahagia." jawab Satya.


Sakti akhirnya turun dari mobil. Tak lupa membawa buket bunha mawar kombinasi untuk diberikan pada istri tercinta. Sungguh, Sakti tak sabar menunggu momen indah akan jadi nyata seperti khayalannya.


Sakti melangkahkan kakinya cepat. Sesekali ia menciumi buket bunga di tangannya. Ia paham orang akan berpikiran macam-macam. Tapi tak dihiraukannya.


Dari arah depan, seorang wanita cantik berjalan tergesa-gesa keluar dari butik. Saat itulah tabrakan tak bisa dihindarkan lagi. Alhasil tentengan paperbag yang dibawa wanita itu, jatuh. Isinya berhamburan dan berantakan.


"Ah maaf! Akan aku pungut kembali barangnya. Tapi tolong pegang bungaku dulu." ucap Sakti.


"Ini buat siapa bunganya? Buat orang yang disukai ya?" tanya wanita itu berbasa-basi.


"Iya." jawab Sakti singkat.


Sakti memasukkan barang-barang yang jatuh tersebut ke dalam paperbag. Setelah semua masuk, Sakti menyerahkan paperbagnya. Ia mengulurkan tangan kanannya untuk meminta kembali buket bunganya.


Wanita itu mengembalikan buket bunga dengan dosertai senyuman. Sakti pun membalasnya. Saat itulah Fanya lewat di sekitar mereka. Padahal jelas Fanya kesal melihatnya. Tapi ia tak melakukan apa-apa selain kabur.


Hati perempuan mana yang tak akan hancur jika melihat orang yang dicintainya, terlebih suami bermain api di depan mata sendiri. Entah benar atau tidak, menurut Fanya itu adalah kesalahan fatal. Salah karena telah meremukkan kepercayaan Fanya. Salah karena telah menghianati kesepakatan suci melalui ikatan pernikahan.


Ingin rasanya Fanya berteriak dan mengumpat sefrontal mungkin. Tapi ia masih sanggup menahan meski dadanya sudah bergemuruh sakit tak karuan.


"Kenapa masih diam di sini? Kok nggak masuk? Kalo tau masih mau di luar, harusnya tadi kamu ikutan belanja sama anak-anak. Pasti lebih seru kalo kamu ikut." ujar Henny.

__ADS_1


"Gapapa Kak. Kakak masuk duluan aja. Aku mau cari angin dulu sebentar. Mendadak kepalaku pusing. Aku mau beli obat dulu di apotik. Kakak kalo mau nitip, telpon atau WA aku aja." kata Fanya yang berlalu dari hadapan Henny.


Henny memutuskan masuk ke butik lagi. Ia masih punya PR yang harus diselesaikan secepat mungkin.


"Kan, itu bukannya Sakti ya? Mau cari Fanya apa gimana? Mana Fanya ilang gitu aja. Aku rasa tadi dia lihat suaminya. Eh tapi ngapain pake jalur menghindar? Apa lagi ada masalah ya mereka berdua? Ah bodo amat deh, aku mau masuk!" gumam Henny.


"Makasih yah udah mau bantuin aku ambilin barang-barang ini. Semuanya aman terkendali." ujar wanita itu.


Henny ingin sekali berprasangka buruk tentang wanita yang sedang bersama Sakti. Tapi segera ditepis oleh pertanyaan dari Sakti.


"Eh permisi, kamu temennya Fanya, kan ya? Apa Fanya ada di dalam?" tanya Sakti pada Henny.


Setelah Sakti menyebut nama Fanya, wanita yang membawa paperbag itu pun segera pergi. Pupus sudah niatnya untuk berkenalan lebih lanjut.


"Eh iya. Aku temennya Fanya. Tapi Fanya tak ada di dalam. Dia masih di luar." jawab Henny.


"Dia masih makan siang di luar?" tanya Sakti lagi.


Henny menggelengkan kepalanya seraya mengibaskan kedua tangannya.


"Bukan begitu, Pak. Tadi Fanya mau masuk kok, tapi tiba-tiba katanya mau cari angin dulu. Mungkin dia sedang banyak pikiran. Barusan banget. Ah!" Henny segera menepuk dahinya.


"Itu artinya, dia tadi udah di sini? Sudah mau masuk? Dia melihatku tapi pergi?" tanya Sakti.


"Iya benar. Begitu. Jadi... Aku rasa dia melihat Pak Sakti sedang mengobrol deh sama wanita cantik tadi. Trus ya, Pak Sakti bawa buket bunga segala. Perempuan mana pun pasti mikirnya Pak Sakti bakal kasih bunga ke wanita itu. Bukan kaleng-kaleng loh Pak. Wanita tadi itu cantik banget. Mana pakaiannya sekelas sekretaris bos mesum lagi. Yah, aku rasa Fanya sedikit cemburi melihat pemandangan tadi." jawab Henny.


"Kak Henny! Buruan masuk! Dipanggil Bu Syakira nih!" seru Gina dari pintu masuk.


"Iya! Tunggu!" balas Henny berteriak.


Henny menatap Sakti yang masih bingung.


"Sudah ya Pak. Sebaiknya Pak Sakti segera menemui Fanya dan menjelaskan apa yang terjadi. Logika wanita itu kurang peka dibandingkan pria. Jadi wajar kalo perasaan selalu dinomorsatukan. Semoga Pak Sakti bisa menjelaskan apa yang terjadi sebenar-benarnya. Ini cukup sulit, tapi semangat!" kata bijak Henny keluar begitu saja.

__ADS_1


"Oke terima kasih." balas Sakti.


Sakti memutuskan masuk ke mobilnya. Memilih menunggu Fanya dari mobil yang sudah diparkirkan Satya di area parkir butik.


__ADS_2