Cinta Gadis Malam

Cinta Gadis Malam
Pernikahan Fanya & Sakti


__ADS_3

Hari H yang ditunggu telah datang. Pernikahan yang ditunggu oleh Sakti dan Fanya sudah di depan mata. Pernikahan digelar di kediaman Sakti. Keluarga besar Sakti maupun Fanya, termasuk tamu undangan, sudah tampak berkumpul ramai.


Fanya juga berada di sana sejak semalam. Tapi kehadirannya tidak ditunjukkan ke Sakti. Mereka sengaja tidak diizinkan bertemu sama sekali, meski hanya melalui video call.


Fanya yang sudah memakai kebayanya, dirias oleh seorang MUA dengan dandanan yang natural. Selain agar terlihat kalem dan sederhana, Fanya memang tak menyukai dandanan bold alias menor.


Sakti sudah berada di antara para tamu dan keluarga, lebih tepatnya di hadapan penghulu. Suasana mulai tenang, lalu penghulu memberikan ucapan pembukaan sebelum memulai acara.


Hanya ada Sakti. Sementara Fanya masih disembunyikan di tempat yang aman dari pandangan Sakti. Lalu ijab qabul pun berlangsung dengan khidmat. Diakhiri dengan ucapan SAH dari para tamu yang hadir.


"Akhirnya, selamat ya Mas Sakti. Kamu sudah resmi menjadi seorang suami. Dan mempelai wanita, silakan tunjukkan pesonamu! Suamimu sudah menunggumu di sini." seru penghulu.


Tak lama kemudian, Fanya pun keluar digandeng oleh Bu Anya dan Bu Syakira. Ibu dan mertua yang siap sedia memberikan doa restu untuk anak-anaknya.


Kebaya putih rancangan Mama Sakti, terasa pas di tubuh Fanya. Selain itu, penampilan Fanya yang terlihat cantik memukau, berhasil membius Sakti. Sakti tak berkedip menatap Fanya dari saat menuruni tangga hingga sudah berada di dekatnya.


"Ciumlah istrimu!" ujar penghulu pada Sakti yang terpesona oleh kecantikan Fanya.


Dengan senang hati, Sakti mengulurkan tangannya kepada Fanya. Fanya meraih tangan suaminya seraya mencium punggung tangannya. Begitu Fanya mengangkat wajahnya, Sakti langsung mencium kening Fanya. Lama. Merasakan debaran cinta yang menggelora.


"Sudah, diteruskan nanti malam. Mari kita panjatkan doa." kata penghulu.


Saat pembacaan doa yang diaminkan para tamu undangan, Sakti mencuri pandang ke arah Fanya yang fokus menunduk.


'Dia begitu cantik. Bukan karena polesan make up natural, yang tidak seberapa tebal itu. Tapi berkat pancaran kebahagiaan akan penerimaannya untuk menjadi kekasih halalku. Juga, karena ketulusan menerimaku sebagai suaminya, pemimpin rumah tangga. Semoga dia tetap menjadi pribadi sederhana yang menyejukkan jiwaku yang dimabuk cinta.' batin Sakti.


Acara demi acara terlewati dengan lancar. Satu per satu, tamu undangan pamit pulang. Hingga tersisa keluarga besar Fanya dan Sakti saja.

__ADS_1


"Ma, aku dan Fanya langsung ke kamar aja yah. Capek nih kaki Sakti. Mau rebahan dulu. Boleh kan Ma?" rengek Sakti pada Mamanya.


"Iya Sayang. Bersihkan badan dulu yah. Baru boleh rebahan. Nanti biar Bik Ani yang antarkan makan malam untuk kalian. Fanya juga kelihatan capek. Yaudah, sana ajak istrimu ke kamar." kata Bu Syakira.


"Oke Mama. Mamaku memang keren!" bisik Sakti bahagia.


Sakti pun segera menggandeng Fanya untuk menaiki tangga. Mengajak Fanya segera masuk ke kamar mereka.


"Mas, keluarga kita masih rame loh. Mereka masih sibuk gitu. Masa iya kita ke kamar duluan? Nggak enak loh sama yang lain. Kita balik aja yuk ke bawah!" ujar Fanya bingung.


"Udah gapapa. Aku udah izin Mama tadi. Kata Mama gapapa. Kita butuh istirahat, Sayang. Capek kan jadi pemeran utama. Saatnya kita istirahat. Yaudah yuk kita mandi dulu. Badanku udah lengket semua nih. Kita mandi bareng yah. Aku nungguin momen ini loh. Ayo, sini buka kebayamu dulu. Aku bantu yah!" ajak Sakti semangat empat lima.


"Ih, tapi aku masih malu. Aku mau ganti baju sendiri aja deh, Mas. Mas mandi duluan aja. Gantian. Abis Mas baru aku yang mandi." tolak Fanya.


"Mana boleh menolak ajakan suami? Tadi kan kata penghulu, selama ajakan suami bukan perkara yang menyesatkan, istri wajib mengikuti perintah suami. Dosa loh kalo menolak." ucap Sakti yang langsung bikin Fanya merinding.


"Balikkan badanmu! Aku akan membuka kancing kebayamu dengan hati-hati. Jadi bersabar yah!" ucap Sakti.


Sakti membuka kancing kebaya Fanya satu per satu. Sebenarnya ia bisa melakukan dalam waktu yang cepat. Berhubung penasaran dengan tubuh Fanya bagian dalam, ia sengaja berlama-lama.


"Susah apa gimana ya Mas? Kok lama banget?" tanya Fanya penasaran.


"Bukan susah. Tapi aku buat susah. Aku menikmati putih mulusnya punggungmu. Gapapa kan? Ini sudah menjadi ranah halal untukku. Aku mau menikmatinya. Memanjakan mataku yang puasa lama untuk bisa menatap keindahan ini." jawab Sakti.


"Yasudah. Tapi jangan kelamaan juga. Badanku juga udah mulai gerah, Mas. Pingin segera mandi basah." ujar Fanya.


"Baiklah. Tunggu beberapa saat. Lagipula, ini momen penting yang harus dilewati dengan penuh arti. Jadi bukan masalah jika dilakukan dalam waktu yang lama." kata Sakti.

__ADS_1


Lima belas menit kemudian, ritual membuka kebaya, termasuk menyingkirkan aksesoris siger pun telah selesai dilakukan. Kini Fanya yang hanya mengenakan dalaman, sudah bersiap untuk menuju kamar mandi.


"Aku duluan yah!" kata Fanya sambil mengedipkan mata ke arah Sakti.


"Tunggu aku!" seru Sakti yang melucuti pakaiannya sendiri, menyisakan boxernya.


"Ah, Mas lama...." goda Fanya yang berlari kecil menuju kamar mandi.


Mereka pun sudah sampai di kamar mandi. Fanya yang gugup, bingung harus berbuat apa dulu. Ia mematung memandangi suaminya.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Fanya.


"Pertama-tama..." Sakti mendekati Fanya yang sebeiumnya memasang jarak di antara mereka.


"Apa?" tanya Fanya.


"Aku akan buka pengaman terakhirmu!" kata Sakti sembari tangannya membuka pakaian dalam Fanya dengan hati-hati.


Fanya hendak menahan, tapi kemudian tersadar bahwa Sakti sudah resmi menjadi suaminya. Itu artinya, apapun yang Sakti lakukan pada tubuhnya adalah halal.


"Aku sedikit gugup." bisik Fanya.


Buru-buru Sakti menyambar bibir istrinya. Memberikan ciuman agar istrinya bisa sedikit tenang. Fanya masih belum membalas. Bibirnya masih kelu. Belum terbiasa dengan suasana seperti itu.


"Tidak masalah. Tapi ini bukan saatnya gugup. Kita hanya akan membersihkan diri saja. Mari kita nikmati pembersihan diri ini dengan penuh kebahagiaan. Soalnya, nanti akan ada sesi panas yang akan kita lalui bersama." ujar Sakti dengan tatapan nakal.


"Apa sih Mas." kata Fanya malu.

__ADS_1


Fanya dan Sakti pun mandi bersama. Mereka masuk ke dalam bath up yang sudah ditaburi oleh bunga mawar mewah. Sepertinya Mama Sakti sudah menyiapkan itu semua. Tentu saja, mandi bersama pun akan terasa lebih romantis dan spesial dengan kehadiran taburan bunga mawar mewah. Dipadu dengan aromaterapi yang memanjakan hidung. Bayangkan saja betapa wanginya!


__ADS_2