
"Jadi apakah Fanya sudah ada perubahan? Apakah sudah siuman?" tanya Marina pada Satya.
"Belum. Aku nggak tau kenapa bisa begitu. Kasian Tuan Sakti. Dia sangat terpukul dengan kondisi istrinya." jawab Satya.
"Sayang, jika aku dalam kondisi seperti Fanya, kamu sedih juga nggak ya?" tanya Marina lagi.
Kali ini Marina memeluk Sakti dari belakang. Tangan Satya masih sibuk merapikan berkas di mejanya.
"Tentu saja aku akan sangat sedih. Bagaimana bisa bersikap seolah tak ada apa-apa, sementara pasangan hidup alias belahan jiwaku sedang dalam kondisi tak baik-baik saja." jawab Satya.
Satya beralih menghadap Marina. Ia memegang bahu Marina dan menatapnya dalam-dalam.
"Jika benar kamu berjodoh denganku, aku mungkin tak bisa menjanjikan apa-apa buatmu. Namun, aku akan berusaha sekuat tenaga membahagiakanmu dengan apa yang ku miliki. Bahkan jika nyawaku pun jadi jaminan untuk membahagiakanmu, aku akan merelakannya untukmu." ujar Satya.
Marina terharu dan memeluk Satya. Ia sangat nyaman berada dalam dekapan pria yang dicintainya itu. Satya pun sama.
"Mas Satya... aku sangat mencintaimu. Sebelum denganmu mungkin aku sudah tau rasanya cinta. Tapi kini, rasanya jauh lebih enak. Hmm... ternyata senyaman ini berpelukan dengan orang yang sangat dicintai." ucap Marina bahagia.
"Tumben memanggilku dengan sebutan 'Mas'? Tapi aku senang sih." kata Satya.
Marina melepas pelukannya. Ia tersenyum memandangi wajah tampan Satya.
"Kenapa dengan wajahku?" tanya Satya.
"Seperti biasa, Mas Satya selalu ganteng dan menggairahkan. Aku suka jenggot tipis-tipis di rahang kokohmu itu. Aku gemas meaki hanya memandangmu begini. Rasanya tak sabar ingin memiliki dan dimiliki kamu." ujar Marina menggoda Satya.
"Sampai saatnya itu tiba, percayalah, aku akan lebih dulu menerkammu bagaikan singa kelaparan yang bertemu mangsanya." kata Satya.
"Oh tidak! Aku takut!" seru Marina.
"Mama dan Papamu masih menetap di rumahmu?" tanya Satya.
"Iya masih. Tapi mereka sering pergi pagi pulang malam. Entah pergi kemana. Seperti anak muda yang sedang honeymoon saja kalo aku lihat. Ketika ditanya kemana, jawabnya pasti aku dikata kepo lah, mau tau ajalah. Jadi males kalo nanyain lagi." jawab Marina.
"Oh begitu. Aku ingin berkunjung ke rumahmu, tapi kok rasanya canggung juga jika bertemu mereka. Sejujurnya aku masih merasa takut jika aku tak sesuai ekspektasi mereka. Aku kan pria dari kalangan biasa, tak seperti dirimu yang luar biasa." ucap Satya sembari membetulkan anak rambut Marina.
"Tidak Mas. Mas Satya sudah sempurna bagiku. Papa dan Mama bahkan tak menstandarkan kriteria tertentu untuk calon suamiku. Tentunya sudah jauh-jauh hari, Mas Satya sudah terpilih dengan pertimbangan yang matang. Papa dan Mama pasti bisa merasakan hal positif dari Mas Satya. Aku yakin begitu kok!" kata Marina.
__ADS_1
Marina menyuruh Satya duduk di kursi kerjanya. Lalu Marina duduk di pangkuan Satya dan memeluknya.
"Bagaimana Mas Satya melihatku sekarang?" tanya Marina.
"Kamu cantik, seksi, pintar, memikat, menggoda, luar biasa!" kata Satya.
"Hah?" seru Marina tak percaya.
"Hanya kamu wanita yang berhasil menggodaku sejauh ini. Mungkin di luaran sana banyak wanita yang cantik sekaligus seksi, tapi sayangnya kurang pintar jika dibandingkan dengan dirimu. Lalu, aku sudah merasakan betapa luar biasanya dirimu. Kita kan hampir saja melakukan kesalahan terindah. Ingat tidak?"
"Mengenai kesalahan terindah, tolong jangan disebutkan lagi. Aku sangat malu Mas. Aku memang ikut menikmati alurnya, tapi aku malu mengakui rasanya." ujar Marina tertunduk malu.
Pintu ruangan Satya diketuk.
"Ah, aku akan menjauh darimu." kata Marina sembari berdiri dan menjauhkan diri dari Satya.
Marina berdiri mendekati jendela kaca yang tak ditutupi tirai, sehingga tembus pandang ke arah luar.
"Masuk!" seru Satya.
Masuklah seorang OB dengan membawakan dua kotak makan siang beserta minuman kemasan.
"Oh iya Mas Gilang, terima kasih." kata Satya.
"Tadi masih ada kembaliannya. Ini Pak!" kata Gilang seraya menyerahkan sisa kembalian.
"Buat Mas Gilang aja." ucap Satya.
"Beneran Pak? Terima kasih ya Pak. Kalo begitu, saya permisi dulu Pak. Silakan menikmati makan siangnya. Permisi!" kata Gilang yang segera berlalu.
"Kamu udah pesan dari pagi, Mas? Kok tau kalo aku mau datang? Apa sebenarnya satunya buat yang lain?" tanya Marina.
"Semenjak kamu sering datang ke sini, aku selalu pesan dua makan siang. Kalo kamu datang ya buat kamu. Kalo kamu nggak datang ya buat siapa aja. Bisa ku kasih ke OB atau siapalah itu." jawab Satya.
"Oh buat jaga-jaga. Yaudah, yuk kita makan aja kalo gitu. Mumpung masih hangat makanannya." ajak Marina.
"Ayo."
__ADS_1
Mereka menikmati makan siang berdua dengan diiringi obrolan santai.
...****************...
Sementara itu, Sakti masih menunggu Fanya bangun dari tidurnya. Sampai beberapa hari ini, Fanya belum juga sadarkan diri. Ada Bu Syakira juga yang ikut menemani.
"Kira-kira kenapa yah Fanya belum bangun juga? Apa ada yang salah dengan diagnosa dokter?" tanya Bu Syakira cemas.
"Mungkin jiwa Fanya masih terjebak di dunia lain, Ma. Sakti kangen Fanya, Ma." keluh Sakti.
"Mama juga kangen sama Fanya. Menurutmu, apa sebaiknya kita pindahkan dia ke Rumah Sakit lain atau kita bawa ke luar negeri?"
"Ide bagus, Ma. Tapi rasanya kita tak bisa bersabar. Rumah Sakit ini kan standar pelayanannya juga sudah bagus. Tak kalah dari luar negeri juga."
"Bener juga sih. Anggap aja saran dari Mama adalah angin lalu. Kamu terus berdoa yah untuk kesembuhan Fanya!"
"Iya Ma. Pasti!"
"Mama mau ke kantin. Kamu mau nitip beli apa?"
"Apaan aja deh, Ma. Sakti nggak bisa milih menu sekarang. Karena rasanya pasti sama. Hambar."
" Ya Tuhan, anak kesayangan Mama ini bener-bener sudah bucin sama istrinya. Yaudah Mama ke kantin dulu ya."
Sakti beralih duduk di sofa. Ia meraih ponselnya yang sebelumnya tergeletak di meja. Dibukanya beberapa pesan dari Satya yang berisi mengenai pekerjaan. Ia memang menyuruh Satya melaporkan segala hal yang berkaitan dengan pekerjaan.
Ia pun menelepon Satya setelah membaca ada pesan yang berisikan tentang masalah pekerjaan.
"Sat, siapa yang kamu perintahkan untuk mewakili perusahaan kita? Kamu tau kan, perwakilan dari perusahaan haruslah memiliki kemampuan bernegosiasi?" tanya Sakti.
'Saya menunjuk David dan Mirna, Tuan. Mereka sebelum ini sudah pernah ikut seminar bagaimana bernegosiasi dengan klien asing. Bahkan kemampuan bahasa asing mereka cukup bagus. Meski belum tau bagaimana nanti, tapi dengan memberikan kesempatan ini untuk mereka, setidaknya mereka.akan belajar menjadi lebih baik. Juga, akan memdorong motivasi buat yang lain agar bisa mengembangkan kemampuannya.' jawab Satya.
"Aku percayakan padamu! Apa ada kendala yang lain?"
'Sejauh ini permasalahan kecil sudah bisa saya atasi, Tuan. Sebisa mungkin saya akan menyelesaikannya sendiri agar Tuan tak direpotkan. Agar bisa fokus menjaga Nona Fanya.'
"Terima kasih atas pengertianmu."
__ADS_1
Sakti memutus panggilan telponnya. Ia menaruh kembali ponselnya, lalu kembali duduk di sebelah Fanya yang terbujur lemah.